Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, September 11, 2014

Lentera

Sedang duduk manis di atas kursi tepat di meja kantor saya, sambil menghabiskan menu catering makan siang, tiba-tiba terdengar rekan kerja memanggil saya. "Sa, Risa? Ada Abah Iwan! Cepet kesini!". Bergegas saya habiskan makanan, lalu berlari ke arah stage outdoor Padepokan, o iya... mungkin banyak yang belum tahu, saya bekerja sebagai staf pns di Padepokan Seni Mayang Sunda, disbudpar kota Bandung.

Abah Iwan Abdulrachman bagi saya adalah seorang inspirator. Sejak kecil, mata, kepala, telinga, dan pikiran saya banyak sekali dipengaruhi berbagai macam karyanya. Ayah saya mengidolakan beliau, berbagai quote menarik yang terucap dari Abah Iwan banyak dikutipnya dan diceritakan kembali kepada anak-anaknya untuk dijadikan pelajaran dan bekal untuk hidup kami. Lagu-lagu hasil karya Abah Iwan pada akhirnya pun banyak mengispirasi hasil karya saya. Melati Putih adalah salah satu karyanya yang berhasil saya dan band saya aransemen ulang, dan memasukkannya ke dalam album story of peter repackage. Dalam berbagai kesempatan, pada akhirnya saya banyak dipertemukan dengan Abah Iwan. Namun kali ini berbeda, bulan September ini tanggal 26, kantor  dan dinas tempat saya bekerja menyelenggarakan konser tunggal untuknya, dan saya berperan serta untuk ikut menjadi panitia dalam pagelarannya. Tak ada yang lebih mencerahkan bulan September saya selain acara berjudul "Lantera di Mayang Sunda" ini.

Siang itu Abah datang dengan mengayuh sepedanya, konon dia baru saja menempuh perjalanan dari Jatinangor dengan menggunakan sepeda. Matanya berkeliling melihat bagaimana kondisi panggung tempat kelak konsernya akan digelar. Awalnya dia pesimis, "Takut ngga banyak yang dateng", ujarnya. Dengan tegas saya berkata, "Abah, harus optimis. Abah itu pengagumnya banyak, anak muda sekarang banyak sekali yang mengidolakan Abah. Saya malah takut membludak sehingga tak bisa tertampung di stage indoor". Begitulah kurang lebih awal perbincangan kami siang itu. Dilanjut dengan bersenda gurau bersama rekan PNS yang lain, dan membahas serius tentang bagaimana persiapan acara nanti. Pembicaraan mengerucut kepada judul yang dipilihnya, 'Lantera', yang merupakan bahasa sunda dari kata 'Lentera'.

"Tahu tidak kenapa Abah pilih judul Lantera untuk konser Abah nanti?", tanyanya kepada saya. Saya terdiam grogi, mau jawab takut salah. Dengan mantap dan bersemangat beliau menjelaskan kepada saya, dan kami semua yang ada disitu.

Coba bayangkan kalau kita berada didalam hutan, gelap sekali tak ada cahaya apapun disana. Lalu tiba-tiba ada sebuah Lentera jauh didepan sana, cahaya kecilnya yang mantap tak terusik oleh angin bahkan badai sebesar apapun, akan berarti untuk kita melangkah menapaki jalanan hutan yang gelap. Lentera lebih tangguh dibandingkan obor sekalipun. Obor memang lebih terang dan menyala, tapi akan padam jika terkena angin yang besar. Lain halnya dengan Lentera, dia tetap berdiri kokoh bahkan jika disimpan diujung perahu dalam lautan badai, cahayanya tetap menyala sehingga mampu menerangi nelayan yang sedang melaut.

"Ingat, Lentera tak bisa sembarangan dinyalakan, seseorang harus meminyakinya terlebih dahulu, membersihkan setiap detil dari ornamennya, dan yang paling utama adalah mengatur pijarnya", kata-katanya membuat kami semua mengangguk-angguk terdiam, entah kagum, entah kurang mengerti. Beliau melanjutkan lagi percakapannya...

Bayangkan jika setiap manusia di muka bumi Indonesia ini memiliki Lentera-Lentera sendiri dalam dirinya, bayangkan jika tak ada manusia yang kehilangan arah karena memiliki Lentera sendiri dalam hatinya, bayangakan jika negara ini diterangi oleh 200 juta lentera, atau bahkan lebih. Coba bayangkan, betapa menyalanya Indonesia, betapa terangnya kita di mata dunia. Jangan pernah mengharapkan sebuah Lentera untuk menerangi seluruh negeri ini, tak ada yang seperti itu. Lentera akan menyala sangat terang jika berkumpul dengan Lentera-Lentera lainnya...

Siang itu, setelah kata-katanya itu terucap. Lagi-lagi sosoknya semakin mengagumkan di mata saya, tak hanya saya, mungkin juga di mata beberapa rekan kerja saya di Padepokan Seni Mayang Sunda.

Kalimat itu terus berputar di dalam kepala saya, bagi saya... Tak usah bagi negeri ini, minimal untuk kehidupan saya... Lentera itu sedang berusaha saya nyalakan agar lebih terang, agar tak lagi tersesat.






Wednesday, September 3, 2014

Rencana Ajaib Tuhan

Sudah hampir satu tahun, aku mengabaikan segala sesuatu yang berhubungan dengan tulisan asalku, ceracau kacau balauku, dan berbagai kisah tak pentingku disini. Aku tahu, aku terlalu asik dengan duniaku yang lain hingga tak sadar bahwa dunia kicauanku ini adalah asal muasal dimana segalanya dimulai.

Rasanya sudah berpuluh tahun, bukan hanya satu tahun.


Terlalu banyak perubahan dalam hidupku dalam satu tahun ini, bisa kubilang... Ini adalah tahun yang campur aduk buatku. Segalanya mulai tercapai, segalanya mulai menjadi kenyataan. Namun, Jalanan tak semulus yang kumau, Tuhan rupanya punya banyak rencana ajaib untuk aku. Tak baik mengumbar hal buruk, akan kuceritakan beberapa hal menyenangkan yang telah kulalui belakangan ini.


Setelah buku ketigaku, rupanya tanganku yang gatal ini akhirnya berhasil menelurkan sebuah buku fiksi pertamaku berjudul "Ananta Prahadi", kisahnya banyak kalian baca disini... Tapi akhir kisahnya bisa kalian selesaikan dalam buku itu. Betapa aku menginginkan hidup yang sempurna seperti Tania. Bagi kalian mungkin dia adalah seorang monster, tapi bagiku dia adalah kesempurnaan. Sering aku berandai-andai, seandainya aku bisa bersikap seperti Tania, ah sudah lupakan.









Kalian bisa mendapatkan buku ini di toko-toko buku besar.


Bulan Mei kemarin, aku berhasil melakukan perjalananku. AKHIRNYA! Hanya itu yang bisa terucap dari hatiku. Bahagia, tentu saja. Akhirnya kesempatan untuk mewujudkan keinginan "Peter, Hans, Hendrick, Will, Janshen, bahkan Marianne, dan Norma". Kami pergi ke Belanda. Mereka bersenang-senang, aku juga tak luput bersenang-senang... Senang karena akhirnya aku bisa mewujudkan mimpi mereka. Tak banyak yang bisa kuceritakan dari perjalanan kami tempo hari. Mereka hanya tak ingin aku kembali berkoar tentang mereka.






Apa lagi yang harus kutulis, ya? Rasanya grogi, seperti baru pertamakali berkenalan.Mmmmh, Kalian masih mau melihat kicauanku disini?


Sekarang aku sedang tersenyum sendiri membaca kembali tulisan-tulisan lamaku sendiri disini, halaman demi halaman. Membuka sejuta kenangan bagaimana dan dimana aku menuliskannya. Hidupku terlalu cepat berubah.


Tuhan punya banyak rencana ajaib untukku, lagi-lagi kalimat itu kembali menyeruak. Kupikir akan begini, kupikir akan begitu, ternyata tak semuanya berjalan seperti yang kumau.


Semoga kita semua bahagia. Aku, kamu, mereka, kalian, semua bahagia...




Wednesday, December 4, 2013

(12.12.13) SUNYARURI...


Peter, Hans, Hendrick, Janshen, William, Norma, Marianne…

Aku berjanji, ini adalah tulisan terakhirku tentang kalian. Jangan membuatku khawatir lagi, tolonglah. Kupikir kalian kini mulai membenciku, kupikir kalian kini tak lagi peduli kepadaku… 

Jangan menghilang dariku, aku begitu kesepian.

Mereka bilang ini alam kesepian, sunyi… tak ada apapun yang bisa kulihat, bahkan kudengar dari mulut kalian. Mereka yang lain mulai berdatangan… sementara kalian tetap hening bagai tak pernah saling mengenal.

Gerbang yang lama kubuka kini akan kututup lagi, entah sampai kapan.

Sampai jumpa di 12 Desember 2013, jika kalian memang masih menganggapku sahabat, datanglah. Akan kukenalkan kalian pada alam baruku, Sunyaruri.



Tiket bisa dibeli di @omuniuum 45rb
info: silahkan cek www.sarasvatimusic.com
twitter: @sarasvatimusic


Saturday, November 9, 2013

ANANTA PRAHADI PART 11 (HANYA SECUIL.. HEHEHE)


Pierre masih terduduk merengkuhkan badannya dibawah kakiku, sambil memegangi sebuah kotak berisi cincin berwarna hitam dan mengarahkannya kepadaku. Entah perasaan apa ini, rasanya wajahku terbakar karena kini terasa begitu panas daripada sebelumnya. Bibirku bergetar hebat, entah karena terharu atau mungkin marah. Perasaanku campur aduk saat ini, kuarahkan tatapanku pada Anta, dan kulihat dia seolah menganggukkan kepalanya kepadaku. Tapi tatapan itu, tatapan yang Anta beri kepadaku bukanlah tatapan mata seorang Anta saat sedang mendukungku melakukan sesuatu. Bagiku, anggukan kepalanya merupakan sebuah isyarat bahwa ini adalah sebuah kesalahan. Kuangkat tanganku tinggi-tinggi, aku bisa melihat bagaimana Ayah, Ibu, Tiara, bahkan semua orang yang ada di meja makan ini membelalakkan matanya seolah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.

“Tidak!!!!”, aku berteriak sangat keras pada Pierre, sementara tangan yang tadi kuangkat tinggi berhasil membuat kotak berisi cincin di tangannya berhamburan hingga terjatuh. Pierre tampak kaget atas reaksiku ini, wajahnya kini menengadah kearahku, tatapan matanya nanar seolah bertanya, “Kenapa Tania, kenapa?”.

“Kau ini gila! Aku pikir kamu mengerti aku, benar-benar memahamiku! Aku ini wanita bebas! Aku tidak suka diikat oleh hal semacam ini!! Kau boleh menyayangiku, aku juga tidak keberatan mulai menyayangimu. Tapi untuk hal seperti ini, sungguh sangat menjijikkan Pierre!”, tanpa menunggunya berkata-kata, aku meneriaki Pierre dengan segala pendapat yang ada di dalam kepalaku. Aku kembali berteriak, namun kali ini dengan sedikit terengah. “Tidak, Pierre! Terimakasih untuk tawaran baikmu ini, untuk saat ini aku tidak tertarik! Pergi kau dari rumahku! pergi!”, wajahku terasa lebih panas dari sebelumnya, dan air mata menetes dengan cepat. Aku tak mengerti apa yang sedang terjadi, karena di tengah kemarahanku ini tiba-tiba saja hatiku terasa begitu sakit menatap Pierre yang kini tampak menundukkan kepalanya sedih.


Hay teman-teman, ini Risa, maksud saya… ini saya menulis atas nama Risa hehehe. Mungkin selama ini kalian menunggu-nunggu, kapan sih ananta prahadi part 11 muncul? Dan saya yakin, sekarang kalian sedang membenci saya karena hanya menulis secuil bagian part 11 ini. Terimakasih telah membaca karya tulis iseng saya ini dan mengikutinya sejak part 1 hingga kini, ini adalah tulisan nonfiksi pertama saya… makanya, saya sempat tidak percaya diri untuk membiarkan teman-teman membacanya. Tapi terimakasih, ternyata respon kalian cukup positif terhadap tulisan Ananti Prahadi ini.

Saya sengaja menuliskan beberapa ringkasan tiap Partnya di blog ini, memancing respon kalian terhadap kisah Ananta Prahadi ini. Setelah tahu respon kalian positif, akhirnya saya menyetujui kisah ini dibukukan oleh sebuah penerbit. Tidak akan lama lagi kok, setelah buku saya “Sunyaruri” rilis, kalian akan segera bisa membaca buku “Ananta Prahadi” yang berencana akan di rilis awal tahun depan.

Masih ada sekitar 10 part setelah part 11 ini, semoga kalian sabar menunggunya yah. Sementara itu, kalian bisa membaca “Sunyaruri” dulu yang akan terbit bulan desember, buku terakhir dari kisah persahabatan saya dengan Peter Cs.

Kalian penasaran kan apa yang terjadi pada Tania, Ananta, Pierre, Sukma, bahkan Bi Eha? Tunggu nanti bukunya rilis yaaa… Btw, rasanya ingin ngacak-ngacak meja makan deh dengan kelakuan si Tania yang kebangetan!!! Uuurgh saat menulisnya pun saya merasa kesal oleh perempuan sinting itu!!! à penulis mulai gila.



Sampai jumpa nanti dengan Ananta Prahadi,
Risa Saraswati 




Thursday, October 10, 2013


Keluh.


Aku sedang ingin mengeluh
Belakangan kudengar tembok kembali berkeluh
Dia bilang, kenapa dirimu begitu rapuh? Padahal dulu kau tangguh


Aku hanyalah manusia, jawabku
Kau bukan manusia seperti ini, jawabnya lagi…


Aku sedang ingin menangis
Lalu angin perlahan mengikis
Berbisik pelan, tak sudi kami melihatmu meringis…


Aku ini hanyalah mahkluk yang lemah, ujarku.
Ya, tapi kelemahanmu tidak untuk hal-hal sekecil ini, ujar mereka.


Kalian bermulut besar
Hanya bisa melihat sisi seseorang secara kasar
Kenali aku dengan benar!!!


Dan maka aku akan memahami semua kata-kata kalian tanpa berpikir bahwa kalian semua hanyalah tembok dan sekumpulan angin



Thursday, October 3, 2013

ANANTA PRAHADI PART 10


Dalam kegelapan langit malam ini, mataku terus memicing ke segala arah, mencari setiap rumah sakit yang ada di kota ini. Beratus jalan kulalui, berpuluh lorong Rumah Sakit kutelusuri, sedang perasaan bersalah tak juga menyurut dari dalam diriku. Betapa buruknya diriku ini sebagai sahabat untuk Ananta Prahadi, seharusnya aku tahu apa yang terjadi kepadanya saat ini. “Tuhan… kemana lagi aku harus mencarinya…”, bibirku bergetar, air mata tak juga berhenti mengalir. Waktu sudah menunjukkan pukul 2 dini hari, tak ada satupun pertanda keberadaan Anta, Sukma, maupun Tiara. Tak pernah kurasakan rasa putus asa begini besar, seperti keputusasaanku malam ini.  Telepon genggamku tak berhenti berdering. Ibu, Ayah, Pierre, terus menerus menghubungiku sejak tadi. Tak satupun kupedulikan, aku sedang tak ingin diganggu… aku hanya ingin menemukan Anta.

Aku terduduk kini, di salah satu sudut lorong Rumah Sakit. Yang aku tahu, di Rumah Sakit inilah adikku Tiara sedang menjalankan Coas untuk menyelesaikan sekolahnya di fakultas kedokteran. Harapanku saat ini adalah melihat sosok Tiara, Sukma, dan Anta disini. Aku yakin mereka pasti ada disini. Rasa lelah tak terelakan, waktu menunjukkan pukul 4 pagi kini. Tanpa terasa, aku tertidur sambil menelungkupkan kepalaku dan menempelkannya rapat pada kedua paha yang sengaja kutekuk untuk menghalau udara dingin. Saat tengah terlelap, tubuhku dikagetkan oleh dekapan hangat tubuh seseorang. “Anta?!”, refleks kubuka kedua mataku sambil merentangkan kedua tanganku. Dekapan itu mengendur, menjauh beberapa sentimeter dari tubuhku, namun kemudian terasa kembali mendekat lantas kembali memeluk tubuh dinginku. “Ayo kita pulang, Tania. Saya tidak mau melihatmu sakit. Anta pasti akan datang, tak usah khawatir. Kamu bisa menunggunya di rumah”, suara hangat Pierre meruntuhkan pertahananku untuk tak lagi menangis saat itu. Air mata lagi-lagi mengalir deras dari kedua pelupuk mataku, “Pierre, I’m tired of crying, but I cannot hold the tears back. I’m too confused, Pierre. I don’t want to be like this, such a horrible person”. Pierre menyunggingkan senyumnya menatapku, sambil perlahan mengusap pelipisku yang mulai membeku, “Go on and cry, Tania. God creates tears to cry. And God created me to see those tears flowing out of your eyes…”.  

Bibirku tersenyum menatap wajahnya, dan membiarkan tanganku dibimbingnya untuk berdiri dan meninggalkan lorong Rumah Sakit itu. Entah kenapa, kaki ini terasa begitu kaku saat dipaksakan untuk berdiri. Tanpa sadar, bibir ini mengerang menahan sakit saat rasa ngilu menjalar dari kedua kakiku, mungkin mereka masih kaku karena terlalu lama terdiam dalam posisi duduk. Pierre tampak kaget melihat kondisiku, tanpa bertanya dia mengangkat tubuhku dan menggendongnya dengan cepat. Awalnya aku menolak, namun Pierre tak bergeming pada penolakanku, dia terus menggendong tubuhku dan membawaku pergi meninggalkan lorong itu. Kupeluk tubuhnya erat, beberapa orang menatap kami dengan tatapan aneh dan nyinyir, namun kami tak peduli. Tak ada sepaah kata pun yang terucap dari mulut kami, saat Pierre mulai mengendalikan mobil yang sejak tadi menemaniku menjelajah setiap sudut kota Bandung, untuk pulang. Tangan kirinya tak henti mengelus rambutku yang berantakan, sementara aku hanya terpaku membiarkan mataku kosong menembus pikiran-pikiran tentang Anta yang mungkin saja tak pernah akan kembali lagi.


Ibu dan Ayah tampak lega melihatku akhirnya muncul di ruang tamu rumah, mata Ibu tampak sembab akibat menangis, sementara Ayah tersenyum ramah menatap Pierre, seolah berkata “Terimakasih telah membawa putriku pulang”. Pierre tidak pulang pagi itu, dia memutuskan untuk menemaniku di kamar hingga aku benar-benar bisa tertidur. Tubuhku berbaring lemah di sisi Pierre yang tak henti mendekapku di atas tempat tidur, “Tidurlah Tania, saya yakin sahabatmu itu akan datang lagi… Saya akan menjagamu dari segala mimpi buruk yang sedang menimpa hidupmu”.




Rasa sakit menjalar di seluruh tubuhku siang itu, seperti baru terbangun setelah bertahun-tahun tak sadarkan diri. Sudah tidak ada Pierre disisiku, mungkin dia sudah pulang saat aku tertidur. Sekilas kutatap wajahku saat sedang melewati cermin kamar, astaga… buruk sekali kondisinya, bengkak hingga nyaris tak membentuk wajah seorang perempuan. Aku terlalu banyak menangis malam tadi, hingga rasa-rasanya mataku ini terlalu lelah bahkan untuk dipakai berkedip. Hampir saja kubuka mulut untuk meneriakkan nama Bi Eha, aku hanya butuh segelas air putih untuk menghilangkan dahaga di tenggorokanku yang terasa mulai sakit. Namun kuurungkan, sepertinya lebih baik aku turun saja ke dapur… bertahun-tahun aku menyiksa Bi Eha dengan teriakan-teriakan kasarku, sungguh siang itu aku merasa tidak enak akan sikapku kepadanya selama ini. Meski lunglai, kulangkahkan kakiku menuju dapur yang ada di lantai bawah, berat sekali. Suasana bagian bawah rumah kali itu terasa lain dari biasanya, sepi sekali. Kulongokkan kepalaku mencari seseorang yang mungkin bisa kuajak bicara, namun nihil. Kulanjutkan langkahku, mengambil sebuah gelas lalu mengisinya dengan air putih. Aneh, pikirku. Bahkan Bi Eha yang selalu ada di dapur ini pun siang itu tak terlihat penampakannya. Tanganku masih memegangi gelas, mulutku masih meneguk air putih yang ada didalamnya, saat tiba-tiba suara Bi Eha mengagetkanku dari arah belakang hingga air yang sedang kuminum berhamburan ke segala arah keluar dari mulutku. “Mba Tania!!! Aduh Bi Eha kaget suganteh siapa, kirain Bibi ada maling!!!!”, Bi Eha beteriak dengan suara keras. “Astaga Biii… aduh aduh, tuh kan jadi berantakan air minumnya…”, tanganku sibuk mengambil Tissue untuk mengeringkan bagian depan bajuku yang basah.  “Yang lain kemana ya, Bi?”, aku mulai menanyainya. Bi Eha tampak canggung mendengar pertanyaanku, namun dia akhirnya menjawabnya… pelan dan terdengar hati-hati. “Semua ada di kamar kang Anta, Mba…”


Gelas yang sejak tadi kupegangi tiba-tiba saja meluncur cepat dari tanganku, jatuh dan pecah, saat dengan kasar bertubrukan dengan lantai marmer dapur. Tanpa berkata, aku berlari menuju paviliun Anta.


“Antaaaa!!!!!”, bibirku berteriak sambil membuka pintu paviliun kamarnya dengan paksa. Pintu itu terbuka lebar, dan benar saja… seluruh anggota keluargaku tampak berkumpul disana, termasuk Anta, dan Sukma. Mereka tampak mengelilingi tempat tidur Anta, dan mundur saat mulai mendekati tempat tidur itu. Hatiku berdebar kencang, aliran darahku terasa berhenti sesaat saat kulihat tubuh sahabatku tampak terbaring lemah disana, air mata mulai menetes lagi. “Antaaaa!!! Kenapa kamu Anta?!”, bibirku kembali berteriak. Tubuhku bergerak lebih cepat dan memaksakan diri untuk ikut terbaring disisi tubuh lemahnya. Ibu, Ayah, Tiara, Sukma berusaha mencegahku, namun tak kupedulikan. Bibirku terus memanggil namanya, “Anta kenapa sih kamu, Anta?!!? Bangun Anta! Aku rindu sekali Antaku!!!”. Pelan namun tetap kurasakan, tangan Anta perlahan bergerak lalu menyentuh tanganku yang sejak tadi berusaha menggerakkan tubuhnya. Lirih sekali dia berbisik, “Teteh Tatan kesayang Anta, Anta pulang…”. Air mata kini mengalir deras, tak kupedulikan bagaimana nyinyirnya tatapan Sukma melihat kami bersikap seperti seolah tak pernah berjumpa berpuluh tahun. Mungkin anak itu kesal melihat keakraban kami, karena kini tangannya benar-benar menyentuh pundakku sambil berucap, “Sudah teh, jangan mengganggu Anta! Dia butuh istirahat! Bukan drama semacam ini!”. Bisa kulihat bagaimana ekspresi kedua orangtuaku atas ucapan Sukma yang begitu sinis terhadapku, namun kekagetan itu tak terlihat dari wajah Tiara bahkan Anta. “Iya mbak, biarin Anta istirahat dulu”, Tiara membela Sukma. Hampir saja mulutku berteriak meneriaki mereka, namun urung saat melihat Anta tersenyum lemas menatapku sambil menganggukkan kepalanya pelan. Tubuhku mundur beberapa langkah, “Anta, kamu ngga boleh kaya gini lagi ya… aku tak kuat menahan beban sendirian…”, bibirku mengucap kalimat itu.




Akhirnya Tiara menceritakan apa yang telah terjadi pada Anta, rupanya gegar otak ringan akibat terjatuh dari tangga tempo hari lah penyebabnya. Rasa sakit kadang menjalar di kepalanya, hanya saja kemarin anak itu tak tahan lagi menahan sakit. Aku baru tahu, ternyata Sukma dan Tiara sudah saling mengenal. Rupanya Sukma adalah seorang calon perawat yang mendapat tugas di Rumah Sakit tempat Tiara Coas, dan memang Sukma lah yang berinisiatif untuk menghubungi Tiara pada waktu itu. Aku paham betul alasan Sukma tak menghubungiku, bisa kulihat dengan jelas di matanya kebencian dia terhadapku. Sikap Sukma begitu baik pada anggota keluargaku yang lain, bahkan pada Bi Eha. Namun kepadaku, seperti biasa, sangat ketus dan galak. Aku tak keluhkan hal itu, yang ku pedulikan kini hanyalah kesehatan Anta. Beruntung kini anak itu mau kembali tinggal di paviliun rumahku, walaupun kini ada Sukma yang tinggal di paviliun lainnya di rumah ini. Ayah dan Ibu memutuskan untuk membiarkan keduanya ada disini, setidaknya sampai kesehatan Anta benar-benar pulih.


Pierre datang siang itu, membawa beberapa bungkus makanan untuk makan siang keluargaku. Wajahnya tampak sumringah saat melihat aku yang siang itu tampak lebih periang dari biasanya. “Pierre!!!”, aku berteriak sambil berjingkrak menuju ke arahnya. Tanpa menunggu kata-kata lain meluncur dari mulutku, dia berbicara, “Ya! I Know Tania, Anta sudah kembali bukan? Benar kataku kan?”, sambil tak henti terkekeh menatapku. “Ya Pierre! Dan aku sangat bahagia!!! Terimakasih telah menjagaku semalaman!!!”, kulingkarkan kedua tanganku di lehernya. Dia kembali terkekeh, “Jangankan malam ini, seumur hidup menjagamu pun aku bersedia, Tania…”. Kami berdua tak tahu ada dua pasang mata memandangi kami siang itu dari arah kamar, pemilik dua pasang mata itu keluar dari kamar dan mulai mengusik kami dengan berbicara, “Ehmm… jadi maksudmu kau akan melamar Tania dan menjadikannya isteri, Pierre?”, Ayah melintas di sekitar kami diikuti Ibu yang kini tersenyum lebar. Wajah Pierre merah padam, sedang mulutku mulai meluncurkan kata-kata tampikkan pada mereka. “Ayah! Ibu! Kalian menguping pembicaraan kami ya? Aku akan menikah dengan nanti kalau Tiara sudah menikah duluan dan punya 4 anak!”, entah apa yang kuucapkan namun kini kulihat semua orang yang ada di sekelilingku tertawa mendengar apa yang baru saja kuucapkan, termasuk Pierre. “Enak saja!!! Aku menikah nanti 10 tahun lagi! Kalau menungguku selama itu, mungkin Mbak sudah terlalu tua dan bau tanah!”, Tiara tiba-tiba muncul dan ikut bersuara. Ibu angkat bicara, “Hush! Sembarangan kalian ini!”, namun bentakkan Ibu memecahkan gelak tawa yang cukup lama, mungkin bisa dibilang ini adalah momen langka di keluarga ini. Suasana hari itu lain dari biasanya, aku merasa keluarga ini menjadi lebih hangat dari sebelumnya. Hatiku berbisik kecil, “Tuhan terimakasih telah mengembalikan Anta ke dalam hidup kami… hanya dia yang bisa merubahku menjadi seorang perempuan yang lebih baik”.




“Sukma, boleh aku berbicara empat mata saja dengan sahabatku?”, malam itu aku meminta ijin kepada Sukma. Wajah ketus itu kembali muncul, “Ada apa ya, Teh?”. Aku terdiam memikirkan kata-kata sopam untuk menjawabnya, kurasa anak ini berhasil membuatku takut. “Mmmh… aku hanya ingin melepas rindu dengannya”, hati-hati sekali aku berbicara. Sukma terlihat mengernyitkan keningnya, “Bisa besok lagi kan? Kang Anta masih belum bisa banyak bicara, harus bener-bener bedrest!”. Aku mengangguk pelan, kutatap wajah Anta yang masih terbaring lelah sambil memejamkan matanya. “Baiklah, besok aku kesini lagi ya… mmmh, kalau kamu tak keberatan, ijinkan aku menggantikan kamu menungguinya… Boleh?”, kupasang wajah penuh harap. “Teteh ngga mengerti apa-apa soal medis, sudah biar saya saja yang menunggui dia”, Sukma tampak berang mendengar permintaanku barusan. Tanpa kembali bertanya, kubalikkan tubuhku untuk pergi meninggalkan paviliun itu. Namun baru beberapa langkah aku berjalan, tiba-tiba kudengar suara itu.

“Teteh Tatan… Mau kemana? Udah disini aja sama Anta, insyaallah walaupun ngga mandi 2 hari… Anta mah tetep kasep dan wangi…”, pelan sekali, namun suara itu berhasil membalikkan tubuhku kembali, dan menarik banyak air mata haru untuk memenuhi bola mataku. Sukma tampak gusar, namun kulihat Anta meremas tangannya sambil mengedipkan sebelah mata menatapnya, seolah sedang berbicara, “Kau keluar saja, aku baik-baik saja bersama Tania”. Aku begitu bersemangat mendekati tubuh lemah Anta, sementara Sukma tampak kesal meninggalkan kami berduaan disana. Kuremas tangan Anta dengan lembut, lagi-lagi air mata menetes saat kurasakan detak nadinya begitu lemah. “Jangan sakit Anta, aku tak kuat melihatmu seperti ini. Aku ingin melihatmu kembali cerewet dan ceria, aku ingin melihatmu bahagia…”, mulutku terus berbicara. Anta menatapku sambil tersenyum, “Teteh Tatan kesayangan Anta kenapa jadi cengeng begini? Anta bahagia sekali Teh, bisa kembali ketemu Teteh… bisa merasakan udara rumah ini, senang sekali. Kalau masalah cerewet, tenang aja… 2 hari lagi juga teteh Tatan bakal pusing mendengar Anta cerewet”. Aku tertawa kecil mendengarnya berbicara seperti itu, kata-kata yang keluar dari mulutnya belakangan ini sangat kurindukan. Dan bagiku, ini adalah sebuah momen berharga yang sangat mahal. “Anta, bolehkah aku tidur disini, malam ini?”, mataku kembali berkaca-kaca menatapnya. Dia tertawa mendengarnya, “Astagfirullah si Teteh mah sok aneh-aneh wae… Boleh atuh Teteh…”. Aku tersenyum lebar, lalu memeluknya sambil sesekali mengencangkan pelukan itu. “Terimakasih Anta…”. Namun tiba-tiba dia menjerit lemah, “Nyeri teteh!! Jangan keras-keras teuing meluknya!”. Kami tertawa lepas setelahnya, saling berbisik berkata tentang apa saja hingga tertidur sampai keesokan harinya.




Pagi ini Bi Eha memasak banyak sekali makanan, bahkan beberapa jajanan pasar tampak berwarna-warni menceriakan suasana meja makan. Anta sudah lebih sehat, dia ikut duduk berkumpul mengelilingi meja makan besar rumah ini. Ada Ayah, Ibu, Tiara, Sukma, Aku, dan sebentar lagi Pierre akan datang untuk ikut sarapan bersama kami semua. Suasana begitu hangat, aku tak henti tertawa berbincang dengan seluruh anggota keluargaku. Sekali-kali Anta berkelakar polos dan lucu dengan khasnya, membuat kami semua tertawa. Sukma masih saja tak ramah terhadapku, namun dia masih bisa bersikap sopan dan ikut tertawa jika Ayah, Ibu, atau Tiara berceloteh. Bahagia ini baru pertama kali ku rasakan, selama ini aku selalu menganggap keluargaku kaku dan dingin. Namun kini aku mengerti, sebenarnya mereka adalah keluarga yang sangat menyenangkan, hanya aku saja yang menutup diriku dari mereka semua. Bisa kulihat mata Ibuku tampak berseri-seri bahagia menatap perubahan diriku yang mungkin baginya cukup signifikan. Sungguh aku menyukai diriku yang sekarang, dan lagi-lagi untuk pertama kalinya aku merasa mencintai hidupku.

“Halo semua, selamat pagi…”, Pierre datang dan langsung menyapa semua orang yang ada di ruang makan. Matanya langsung menatap ke arah Anta, “Bagaimana kesehatanmu sekarang, Anta?”. Anta tersenyum kaku, menatap ke arahku lalu menatap ke arah Pierre. “Baik Pierre, sudah sehat… tapi belum seganteng kamu sih… Kumaha atuh?”. Semua yang ada disana tertawa mendengar komentarnya, tak terkecuali Sukma yang sejak tadi tak banyak bicara. Kupukul manja tangan Anta, “Dasar anak kampung”, ucapku sambil tertawa. Pierre terlihat berbeda pagi itu, entahlah… sepertinya ada yang lain dari penampilannya hari itu. Kupersilahkan dia duduk disampingku. Kebahagiaanku sempurna, disamping kiri ku ada Anta, sementara di sebelah kanan ada Pierre. Mataku menyipit menatap Pierre, “Ada yang beda dari kamu, Pierre. Apa ya?”. Pierre tampak bingung, “Apa ya? Mmmh… kumis? Saya baru cukur tadi pagi”, jawabnya gugup. Kugelengkan kepalaku. Anta ikut berbicara, “Karang nya ilang satu yah?”. “What? Karang? Apa itu?”, Pierre tampak bingung. Kami kembali tertawa. Sekarang semua ikut berbicara, menebak sesuatu yang lain dari penampilan Pierre pagi itu. Gelak tawa kembali terdengar, semua tampak antusias ikut menebaknya. Aku terdiam sejenak saat yang lain masih mencoba menebak, lalu kemudian mataku terbelalak senang. “AKU TAHU AKU TAHU!!!!! Kamu membawa tas!!! Tas kecil itu!!! Kamu tidak pernah bawa tas kan sebelumnya?”, aku tertawa senang. Tiara mencibirkan bibirnya seolah kecewa atas jawaban dari tanda tanya besar yang sejak tadi coba dia tebak. Pierre tertawa keras kali ini, tampak senang melihat reaksi kekecewaan semua orang yang duduk di atas meja makan rumahku. “Ya! Kamu benar Tania, saya senang ternyata kamu tahu apa yang berbeda dari saya. Seumur hidup saya memang jarang sekali membawa tas apalagi tas kecil seperti ini!”, Pierre mengangkat tas kecil itu lalu memperlihatkannya kepada kami semua. Aku ikut tertawa, “Hahaha aku hebat ya! Apa itu isinya Pierre?”.


Tiba-tiba saja Pierre berhenti tertawa, wajahnya menegang bagai ketakutan.


Pierre yang sejak tadi duduk di sampingku tiba-tiba berdiri di sampingku, sementara tangan kanannya meremas bahuku dengan cukup keras. Tangannya membuka tas yang dibawanya, lalu mengeluarkan isi di dalam tas itu. “Mungkin ini terlalu cepat, dan saya tidak punya pengalaman untuk ini. Mama saya bilang, di negara ini, untuk mengungkapkan hal ini harus diketahui oleh seluruh keluarga. Mmmh… saya pikir, mmmmh saya pikir…. Ini momen yang sangat tepat… mmmh…”, Pierre terbata-bata. Aku cukup kesal melihat tingkah anehnya itu, “Ngomong yang bener woy!”. Ibu memelototiku, sementara Anta tampak menahan tawa saat melihat ekspresiku yang tiba-tiba menunduk takut karena tatapan mata Ibuku.


“Tania, maukah kamu menjadi istri saya?”, Pierre mengeluarkan kotak yang sejak tadi dipegangnya, lalu membuka isinya yang ternyata sebuah cincin berwarna hitam.


Aku terpaku… begitu juga semua orang yang ada di ruangan makan pagi itu…


 bersambung.

Thursday, September 19, 2013

ANANTA PRAHADI PART 9


Hari ini terasa begitu kelabu bagiku, entahlah… rasanya suara Anta dini hari tadi masih terus menghantuiku. Ada apa sebenarnya dengan anak itu? Pikiran jahatku mengenai tunangannya yang menyebalkan mulai menguasai. Terakhir kulihat wajahnya, anak itu terlihat sangat lugu dan polos, aku bahkan menganggapnya seperti anak-anak perempuan cengeng yang selalu minta dilindungi oleh kekasihnya. Berani benar dia berbicara setidaksopan itu kepadaku, kepalaku terus menghujatnya. Ah, tapi sudahlah… yang terpenting adalah Anta sudah bersikap normal kepadaku, dan dia tidak marah seperti yang kubayangkan sebelumnya. Mataku menerawang jauh keluar jendela kamar yang pagi itu kubuka lebar-lebar, sambil menghirup udara dingin kota Bandung aku terus melamunkan apa yang sedang terjadi belakangan ini di hidupku. Eh, nanti dulu… Darimana Anta tahu bahwa kini aku dekat dengan Pierre? Bahkan sebelumnya aku tak pernah bercerita kepadanya soal kedekatan kami ini. Aku mulai curiga, jangan-jangan sebenarnya Pierre dan Anta bersekongkol untuk mengelabuiku?! Nafasku tiba-tiba menderu, emosi menyeruak tanpa sebab. Kuambil telepon genggamku, dan menekan nomor Pierre, kecurigaanku ini membutuhkan kepastian.

Aku lupa pada kemanisan Pierre semalam, karena suaraku langsung meninggi saat suaranya terdengar di sambungan telepon sana. “Pierre!! Jelaskan kepadaku, apa kau bersekongkol dengan Anta? Aku tahu, sebenarnya kau dan Anta tengah bekerjasama untuk suatu hal yang tak aku tahu! Iya kan?”, tanpa basa-basi kuberondongi Pierre dengan banyak pertanyaan. “Wait, tunggu Tania. Apa itu ber kongkol? I don’t get it. What’s wrong Tania? Saya baru saja bangun”, Pierre agak kesal padaku, terdengar dari nada bicaranya. “Dengar baik-baik. Apakah kamu bekerjasama dengan Anta? Apakah kamu sebenarnya tahu apa yang terjadi pada hidupku dan Anta belakangan ini?!”, emosiku kian meledak. “Dengar baik-baik Tania, saya tidak pernah merencanakan suatu hal bersama Anta! Saya tidak berbicara dengannya selain saat bersamamu. Dan dengar Tania, kesedihanmu terhadap Anta membuat saya muak! I’m sick and tired of it! Sepertinya kamu jatuh cinta kepadanya? Is it right?”, Pierre menjawab pertanyaanku dengan sangat marah, aku tak pernah mengira jawabannya akan seperti ini.


Seumur hidup, baru kali ini aku berusaha merajuk pada seseorang, dan orang itu adalah Pierre. Semenjak kemarahannya tadi pagi di telepon, perasaanku mendadak sedih tak karuan. Perasaan bersalah menyergapku setelahnya, apalagi setelah Pierre menutup sambungan telepon tanpa menungguku menjawab pertanyaan konyolnya. Berulangkali kucoba menghubunginya lagi, namun tak satu kalipun teleponku diangkat olehnya. Aku sudah kehilangan Anta, dan aku tak ingin kehilangan lagi orang yang kali ini telah membuatku benar-benar jatuh cinta.

Kini aku berdiri di depan kamar hotelnya, masih di hotel yang sama seperti waktu itu. Sudah berkali-kali kutekan bel di pintu kamar itu, namun nihil… tak ada jawaban dari dalam sana. Akhirnya kuputuskan untuk menuju resepsionis menanyakan keberadaan penghuni kamar itu. Betapa kesalnya aku saat resepsionis hotel mengatakan kepadaku bahwa sudah satu minggu lamanya tamu hotel bernama Pierre Renard tak lagi menginap di hotel itu. Kemana dia? Dengan kesal aku tak berhenti memikirkannya. Rasanya kebebasanku yang selama ini kujunjung tiba-tiba hancur dirobohkan oleh dua laki-laki brengsek!!! Tapi aku tak bisa berpura-pura tak peduli pada mereka berdua.

Tiba-tiba saja wajah Dania melintas, dan aku ingat, kemarin kami sempat bertukar nomor telepon. Kutelepon Dania, demi mencari keberadaan Pierre, meski sebenarnya hati kecilku merasa malu akan hal ini. Bagiku, ini seperti masalah cengeng yang menjijikkan. Tapi tidak bagi perasaanku, aku ingin Pierre tahu bahwa aku begitu peduli kepadanya… Jauh melebihi peduliku terhadap Anta. Eh, tapi apa benar seperti itu? Hmmm entahlah, setidaknya Pierre masih bisa kugapai, sementara mengenai Anta, aku benar-benar buta. “Halo, Dania?”, dengan ragu kusapa Dania yang terdengar sangat ceria siang itu. “Haiiii Mba Tania!!! ada apa menelponku? Hihi…”, jawab Dania dengan gaya khasnya. “Hmmm… mmmh… kamu tahu dimana Pierre?”, dengan malu akhirnya kuucapkan juga pertanyaan itu. “Kasih tau ngga yaaa? Kasih tau jangan yaaa? Mau tau? Atau mau tau bangetttt?”, Dania terus cekikikan. “Serius!”, jawabku ketus. “Yah… calon kaka ipar galaknya minta ampun nih hihi. Iya deh, kak Pierre lagi bantu Mama masak tuh di dapur…hihi. Sini deh mba!! Kita coba masakannya kak Pierre enak atau ngga hehehe”, dengan cueknya Dania mengundangku datang ke rumahnya. “Oh, jadi dia ada di rumahmu. Tidur disana juga?”, masih dengan ketus kutanyai dia. “Iiiiih masa ngga tau sih? Udah seminggu kali Mba. Rumah kami kan rumahnya Kak Pierre juga. Udah-udah sini deh Mba, daerah jalan Hegarmanah yah… ngga jauh dari supermarket Setiabudi. Nanti aku jemput Mba, oke?”, dengan polosnya Dania terus bercerocos. “Mmmh, aku boleh minta satu hal dari kamu?”, dengan sedikit memohon aku bertanya. “Apa itu?”, Dania mulai terdengar kebingungan. “Tolong, jangan bilang Pierre kalau aku mau datang. Please?”, setengah berbisik aku bertanya. “Yayyyyyy!!!! Aku suka surprise!!! Ya ya ya ya aku ngerti!!! Okeeee Mba Tania cantikku!”, Dania kini berteriak-teriak seperti orang gila. Namun tiba-tiba Dania berhenti tertawa, lalu bertanya serius padaku, “Astaga! Mba! Apa ini hari ulangtahun kak Pierre?”. Tanpa menjawabnya, kuputus sambungan telepon dengan kasar. “Dumb blonde!”, bibirku menggerutu.


Cuaca siang ini cukup panas, tapi tidak terasa panas saat kakiku berdiri tepat dibawah pohon beringin yang berdiri tegak dan rimbun di depan halaman rumah Mama Pierre dan Dania. Sejak tadi Dania memaksaku untuk masuk, tapi aku menolaknya, karena aku ingin berbicara 4 mata dengan Pierre terlebih dahulu. Kuminta Pierre menghampiriku disini, namun sudah 10 menit aku berdiri, dia tak kunjung datang. Halaman rumah ini begitu luas, dengan hamparan rumput hijau beratus-ratus meter persegi. Aku yang sejak tadi berdiri akhirnya memutuskan untuk duduk diatas rerumputan ini. Entah kenapa, rasanya seperti pernah mengalami suasana seperti ini… namun entah dimana itu, benar-benar terasa seperti Dejavu.

Sosok yang sejak tadi kutunggu akhirnya muncul dari kejauhan, mengenakan kemeja putih dan celana putih santai, melenggang tanpa alas kaki. Hatiku berdegup kencang, menanti reaksi terburuk dari seorang Pierre yang tadi pagi terdengar cukup marah kepadaku. Lambat laun sosok itu semakin mendekat, dan ekspresi wajahnya kini bisa terlihat lebih jelas. Hatiku meleleh saat wajah itu mengembangkan senyum khasnya menatapku, tak seperti yang kuduga sebelumnya. Tanpa berkata-kata dia terus mendekatiku, tak sedetikpun membiarkanku mengucap sapa. Tangannya terbuka lebar didepanku, lalu mendekap tubuhku dengan sangat erat. Bayangan tentang mimpi waktu itu langsung menyentak, ya… benar! Kejadian ini pernah terjadi dimimpiku! Aku ingat sekarang. Pierre terus menerus memelukku kencang tanpa melepasnya, sesekali tangan kananku mencubit sebelah pipiku memastikan kalau ini bukanlah sebuah mimpi. Tidak, ini bukan mimpi, Tania.

“Thankyou Tania, terimakasih. Saya pikir kamu tidak akan datang, namun ternyata saya salah. Maaf kekasaran saya pagi tadi, saya tidak bersekongkol dengan Anta.. hehe sekarang saya tahu arti kata jelek itu hehe. O iya, saya tak pernah merasa cemburu pada Anta, setiap orang bebas menentukan perasaannya, termasuk kamu, Tania. Dan maaf, saya tidak angkat telepon kamu. Saya hanya ingin tahu, apakah kamu peduli pada saya atau tidak. Saya tahu, kamu tidak pernah tahu dimana saya tinggal, dengan siapa saya tidur, karena kamu tak pernah sekalipun bertanya tentang semua itu kepada saya. Dan kedatanganmu kesini, meyakinkan saya bahwa kamu peduli pada saya…”, Pierre mendekapku lebih keras setelahnya. Dan aku membalas dekapan itu, tanpa sadar bibirku berkata, “Tidak hanya peduli. I’m in love with you Pierre…”. Sepertinya Pierre terkejut pada kata-kata yang baru saja terlontar tanpa sadar dari bibirku. Dekapannya mengendor, dan kini matanya terlihat berbinar tepat didepan wajahku. Mataku terpaku saat matanya terus menelusuk jauh masuk kedalam retinaku, wajahnya terus mendekat sementara wajahku diam mematung. Siang itu, kami berciuman untuk pertama kalinya. Dan ini adalah ciuman pertamaku, aku bahagia… hanya itu yang bisa kuungkapkan. Rasanya seperti melayang, dan aku ingin terus melayang karena tak sedetikpun perasaan ini membiarkan segala masalah masuk kedalamnya.

Hingga malam menjelang, aku masih bertahan di rumah Mama Pierre. Aku, Pierre, Dania, dan Mamanya, memutuskan untuk memasak bersama. Gelak tawa mewarnai sepanjang hari itu, lagi-lagi Pierre membawa banyak tawa ke dalam hidupku. Aku benar-benar menikmati rasanya menjadi seorang manusia, karena selama ini aku terlalu larut menjadi seorang manusia planet. Pierre, dan keluarganya mampu menarikku untuk menginjakkan kaki diatas tanah dan memperkenalkan betapa indahnya memiliki sebuah keluarga. Meski keluarga mereka bercerai berai, tapi hubungan ketiganya begitu hangat dan akrab. Mama Karni, mama Pierre dan Dania, adalah sosok seorang Ibu yang sangat bijaksana dan lembut. Hatiku terus menerus berbisik lirih, seandainya Ibuku seperti dia… seandainya keluargaku seperti keluarga ini


Aku pulang ke rumah dengan wajah ceria, tak seperti biasanya. Entahlah, aku mulai membuka pikiranku tentang kehidupan normal bersama keluargaku di rumah. Ingin rasanya memperbaiki kondisi hubunganku dengan mereka, aku ingin nyaman tinggal di rumah seperti saat berada di rumah Mama Karni. Dengan riang kulangkahkan kakiku menuju rumah, Pierre tak mengantarku pulang karena aku datang ke rumahnya dengan mengendarai mobilku. “Halooo Buu, Tiara? Yahh?”, Aku berteriak-teriak memanggil seluruh anggota keluargaku. Nihil, tak ada jawaban dari setiap sudut rumah. Mataku terus berkeliling  mencari keberadaan mereka, namun tak berhasil kutemukan. Akhirnya kuputuskan untuk mencari Bi Eha, satu-satunya penunggu rumah yang biasanya tak pernah susah dicari. “Bi Ehaaaaa, Biiii… Halooooo Bi Eha genduuuutttt, dimana keberadaanmu Bi Ehaaa???”. Dari arah halaman belakang kulihat Bi Eha berlari tergopoh-gopoh menghampiriku. “Waslap non Mba Tania? Aya naooon?”, Bi Eha tampak terengah mengatur nafasnya. “Kemana orang-orang?”, tanyaku. “Ada ko Mba, Ibu sama Bapak ada di dalam kamar, mungkin sedang di balkon Mba… Coba aja cari di dalam kamar…”. Tanpa ba bi bu kutinggalkan Bi Eha yang nampaknya masih berbicara denganku, samar kudengar dia mengumpat. “Uh dasar tuan putriiiii…”

“Bu… Ayah?”, kulongokkan kepalaku ke dalam kamar orang tuaku. “Tania!!!”, Ibu tampak terkejut melihat kemunculanku. Ayah sama terkejutnya seperti Ibu, keduanya tiba-tiba menghampiriku dengan cepat. aku cukup heran dengan sikap mereka, “Loh loh loh loh, ada apa Bu? Yah?”. Ayah tampak serius, sementara Ibu terlihat khawatir menatapku. “Tadi Tiara mendapat telepon, entah siapa itu. Namun sepertinya telepon itu cukup genting Tan, karena Tiara langsung buru-buru pergi meninggalkan rumah ini. Tanpa berganti pakaian, tanpa membawa tasnya…”, Ibu menyerocos cepat. Kupotong kata-katanya, “Oke oke, lalu apa hubungannya denganku? Mungkin saja dia memang mendapat telepon dari rumah sakit tempat dia Coas kan Bu? Kayanya itu hal yang wajar deh!”. Ayah menggeleng-gelengkan kepalanya resah, membuatku mulai merasa khawatir. “Sebelum pergi, kami sempat menanyai Tiara tentang telepon itu. Dia bilang, ini ada hubungannya dengan Anta, Tan”.

Bagai petir disiang hari, aku merasa tersambar hebat mendengarnya. Perasaan bahagiaku mendadak luluh karena hal ini, badanku bergetar, air mata mulai berjatuhan. “Tiara pergi kemana Bu? Yah? Kemana diaaaa?????”, aku berteriak-teriak setelahnya. Perasaan bersalah menggelayut hebat di hatiku, kenapa hari ini aku bisa melupakan Anta? Dan kenapa Anta tak menghubungiku? Kenapa harus Tiara yang dia telepon? Kenapa bukan aku? Lalu apa yang terjadi pada Anta? Kenapa aku tak tahu apa-apa?

Badanku ambruk seketika, Ayah dan Ibu membopongku untuk berdiri sambil tak henti mereka mencoba menghiburku, meski mereka tahu itu percuma. “Yah, kemana Tiara yah? Kemana dia Yah? Aku harus mencarinya!!! Tolong beritahu aku, toloong!!!”, aku menangis sejadinya. Kedua orangtuaku bahkan tak tahu kemana perginya Tiara, mereka bilang mereka sudah mencoba menghubungi tempat anak itu Coas, namun Tiara tak ada disana. Ibu masih mendekap tubuhku, Ayah masih sibuk menghubungi Tiara. Aku yang sejak tadi menangis tiba-tiba berdiri, menghapus air mataku, lalu berlari keluar rumah. Kedua orangtuaku tampak kaget melihatnya, mereka mencoba menahanku… namun tak berhasil, aku mendobrak pertahanan mereka yang coba menghalangiku. “Aku harus mencari mereka! Aku harus tahu apa yang terjadi pada Anta…”, bibirku terus menggumamkan kata-kata itu.


Bersambung.