Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, April 9, 2013

saya wanita Dove, and i love it!


Wanita Indonesia terkenal dengan keluwesannya, lemah lembut, dan tentu saja kecantikannya. Dengan kulit sawo matang, rambut hitam terurai, menjadi ciri khas fisik wanita bangsa ini. Bandung adalah satu diantara banyak kota di Negara ini dengan populasi wanita cantik yang cukup banyak, bisa dilihat dari banyaknya pusat perbelanjaan, salon-salon kecantikan dari yang paling sederhana sampai dengan yang paling mewah. Dan saya adalah salah wanita yang beruntung lahir di Bandung, karena tentu saja kota ini adalah kota yang sangat cocok untuk saya dalam memfasilitasi segala perawatan tubuh dari ujung kaki hingga ujung kepala. Saya lebih suka pergi ke salon dibandingkan ke tempat tempat memanjakan fisik lainnya, keluhan saya adalah pada bagian rambut. Rambut saya terlalu lurus untuk dimodifikasi atau diotak atik, makanya saya sangat membutuhkan campur tangan orang-orang salon, hairdryer, hingga obat-obatan pengeriting rambut… niatnya sih ingin membuat rambut lepek saya menjadi bervolume. Tapi sayang, semua yang saya lakukan di salon ternyata membuat rambut saya menjadi rusak, kering, dan rontok. Dan untuk mengembalikannya menjadi sehat lagi ternyata sangat mahal, itupun tidak maksimal karena kini rambut saya mengalami kerontokan parah meski terlihat sehat dari luar.

Sebuah email masuk ke dalam handphone saya di minggu kedua bulan Maret, rupanya Dove mengadakan sebuah acara di kota Bandung yang cukup menarik minat saya… dan saya masuk ke dalam list orang yang diundang untuk datang ke acara itu. Ini akan menjadi sebuah acara yang mengasikan!!! 

Kamis 28 Maret 2013, bertempat di Aula Pusdikom Cimahi saya datang ke acara yang bertajuk #iDoveit #SisterHoodBdg. Saya dan beberapa sahabat saya yang datang ke acara agak terkaget-kaget karena saat memasuki gedung tempat acara tersebut digelar, rupanya dresscode untuk acara itu adalah pakaian berwarna putih sementara saya sendiri memakai terusan berwarna hitam sedang sahabat-sahabat saya mengenakan pakaian berwana cerah. Wall of fame Dove terpasang tepat di depan gedung, kami tak melewatkan kesempatan untuk berfoto disitu hehe. 





Beberapa counter produk Dove berada di kanan kiri pintu masuk gedung. Ratusan perempuan duduk di meja-meja berwarna putih yang telah disediakan, tampak serasi dengan pakaian yang mereka kenakan. Baiklah, kami duduk di kursi paling belakang, berharap tidak menjadi pusat perhatian karena salah kostum.



Rupanya di atas panggung yang terletak diujung gedung tengah berlangsung sebuah seminar dengan narasumber seorang Psikolog dan beberapa perempuan Dove yang penuh inspirasi, mereka berbicara tentang kecantikan terutama inner beauty seorang perempuan serta hal-hal yang bisa menjadi menjadi inspirasi. Ratusan perempuan yang menjadi peserta acara tampak begitu antusias, tak terkecuali saya dan sahabat. Suasana semakin ramai saat pembawa acara mulai membagikan banyak hadiah dari games yang digelar disela-sela seminar. 

Saatnya yang saya nanti tiba, yaitu Hair Grooming! Tatkala seorang hair expert menaiki panggung dan membagi pengetahuan tentang rambut. Penjelasan tentang struktur rambut, masalah rambut, solusi, hingga tatanan rambut tanpa harus ke salon merupakan hal yang sangat menarik untuk disimak, jika menatap wajah perempuan yang hadir di acara itu tampaknya tak ada satupun yang tak fokus mengikuti setiap penjelasan dan praktik yang disampaikan oleh hair expert tersebut. Sesi Hair Grooming diakhiri dengan peragaan model yang rambutnya telah di make over singkat oleh hair expert.

Selama acara, peserta dipersilahkan untuk memotret segala kegiatan yang berlangsung hari itu dan menguploadnya di Twitter, untuk yang beruntung maka akan mendapatkan hadiah. Saya dan sahabat termasuk peserta yang aktif mengupload foto karena twit kami lagi-lagi masuk ke dalam big screen yang ada di atas panggung. Sayang saya dan sahabat kurang beruntung memenangkan hadiah untuk kontes twit foto hihi, tapi kami senang hari itu karena rasanya sangat berbeda saat banyak perempuan berkumpul dalam satu acara dan dengan leluasa bisa berbagi banyak keluhan terutama soal rambut dan kecantikan tanpa harus malu dan ditutup-tutupi, terlebih lagi saat datang ke acara itu dengan sahabat… terasa lebih dekat dan menyenangkan.

O iya, ada beberapa booth Dove yang dipenuhi banyak peserta saat kaki kami melangkah pulang. Rasa penasaran selalu saja menggelayut, kami tak mau ketinggalan. Ternyata itu adalah booth tempat mengecek tingkat kerusakan rambut, sempat terucap kata bertaruh dengan sahabat saya… kami begitu percaya diri rambut kami sehat dan tak mungkin terkalahkan. Walau pernah rusak dan sedang dalam keadaan rontok, saya sendiri begitu yakin bahwa rambut saya sehat! 




Alangkah kecewanya saat alat tes menuliskan kerusakan rambut saya ada di tingkat 6 dari 10 tingkat kerusakan rambut, begitupula rambut sahabat saya. Hasilnya adalah seri! Kami tertawa namun tetap khawatir tentang kondisi rambut kami yang ternyata rusak jika diperiksa hingga ke dalam. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli sebuah paket komplit perawatan rambut Dove yang tentu saja di hari itu di bandrol dengan harga istimewa.




Pengalaman hari itu sungguh berbeda dari pengalaman yang biasanya saya dapat,  mendapat banyak pengetahuan tentang hal-hal baru, menambah beberapa teman baru, dan tentu saja mempererat hubungan pertemanan saya dengan sahabat saya. Betapa beruntungnya bisa menjadi bagian dari acara Sisterhood Dove.  Saya wanita Dove! And I love it! :)

Friday, February 22, 2013

Aku tidak gila...


Tuhan telah menciptakan begitu banyak mahkluk istimewa di muka bumi ini, dan dia adalah satu diantara sekian banyak mahkluk istimewa yang Tuhan cipta, beruntungnya aku karena mahkluk itu kini menjadi sosok yang begitu menyayangiku. Namanya Draka, aku mengenalnya  selama belasan tahun... Saat orangtuaku mulai mengijinkanku berjalan keluar rumah, dan saat itulah Draka datang untuk pertama kalinya. Seorang laki-laki dewasa yang selalu mengawasiku dan membimbingku saat kedua orangtuaku disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan mereka. Ya... Draka ada disana, di tengah waktu-waktu yang hilang antara aku dan kedua orangtuaku.


"Ka, aku mau minta ditemenin jajan!!!"

"Ka, aku bingung mau pilih sd yang mana..."

"Ka, anak kelas 2D itu nakal sekali!! Selalu gangu aku!!!"

"Ka, aku susah tidur... Malam ini datang ke rumahku yah!! Aku rindu saat saat kecil dulu, rasanya ingin dibacakan lagi cerita pengantar tidur olehmu... Tenang aja, mama papa ku sedang ke luar kota..."

"Ka, besok aku ulangtahun ke 17. Aku mau hadiah hadiah hadiah!!"


Begitulah Draka, 80% kehidupanku diisi oleh dirinya. Hampir semua keputusan yang kubuat selalu diputuskan bersama-sama dengannya. Sosoknya tak pernah berubah, selalu bijaksana... Dewasa... Penuh senyum. Dia datang dan pergi begitu cepat, saat aku membutuhkannya. Tak seperti kedua orangtuaku, yang mungkin hanya mengisi 5 % kehidupanku. Tanpa bimbingan Draka, mungkin aku tak akan bisa kuat dan bertahan seperti saat ini. 

Draka berumur 22 tahun, dan aku kini 19... Umur yang sepadan untuk saling mengasihi, dan begitu sepadan jika aku memang harus terus bersamanya. Selama aku hidup, tak pernah ada satupun orang yang bisa benar-benar berteman denganku... Mereka bilang aku aneh, aku gila, aku egois. Hanya beberapa orang saja yang datang menemuiku saat pekan ujian, biarpun aneh... Prestasiku di bidang akademis cukup membanggakan, semua berkat Draka yang selalu rajin mengajariku banyak ilmu. Draka merupakan mahasiswa perguruan tinggi ternama kota ini, teknik informatika adalah jurusan yang diambilnya. Papa memintaku meneruskan jenjang pendidikan S2 kelak di Amerika, padahal sekarang saja aku baru duduk di semester 2. Entah kenapa rencana Papa itu membuatku semakin merasa jauh dengan Papa, aku benci dia yang tiba-tiba merencanakan hal yang tak aku inginkan, padahal selama ini aku menentukan banyak pilihan tanpa campur tangannya. Betapa hebat menjadi orangtua, mereka bisa seenaknya mengatur jalan hidup anak-anaknya. Yang kuinginkan adalah segera menyelesaikan kuliahku dan pergi bersama Draka...

"Ka, aku mau pergi ke tempat foto copy, ngecopy banyak tugas kuliahku. Kamu mau ikut? Aku ga akan bawa mobil, mau jalan kaki ajah... Ke komplek sebelah." Draka menggelengkan kepalanya, "Kamu pergi sendiri saja ya? Aku ga temenin gapapa ya? Kan masih siang, ga akan ada apa-apa, ngga usag takut...". Aku tersenyum membalasnya, " Yeeey siapa bilang aku takuttt?!?! Kan aku daritadi juga ga bilang gitu weeeks, yaa kali aja kamu mau romantis-romantisan sama aku jalan berdua hihi. Ah siapa juga yang mau liat ya ka?!?! Ya udah tunggu aku ya, aku pergi bentar ko." 


Draka sedikit tertawa geli melihat tingkahku, aku memandangnya sebelum pergi sambil terbahak melihat reaksi wajahnya... Betapa aku menyayanginya... Betapa beruntungnya aku memilikinya...


Gerah sekali siang ini, berkali kali kuusap peluh yang membasahi keningku sementara tangan kiriku membawa beberapa lembar berkas data yang akan ku fotocopy. Masih tinggal beberapa blok lagi namun rasanya terasa begitu berat karena udara yang begitu pengap mencucurkan banyak keringat. Jalanan perumahan ini tak biasanya seramai ini, motor dan mobil bersliweran dengan kecepatan tinggi, lagi-lagi menghambat perjalananku. Rambutku yang terurain panjang mulai beruraian menutupi mata sebelah kanan akibat terpaan debu yang terhempas mobil yang barusan melaju cukup kencang melintas disampingku. "Astaga!! Bisa ngga sih nyetirnya santey woy!!!!", aku berteriak cukup keras disertai acungan jari tengah tanganku ke arah mobil itu. Tanganku kembali membetulkan posisi rambut ke posisi seperti biasanya, tangan kiriku rupanya agak kerepotan memegangi banyak berkas, hingga satu persatu berkas ditanganku mulai berjatuhan. "Huh!!! Sialan!!", kupunguti berkas itu satu persatu, salah satunya jatuh tepat ditengah jalanan. Aku memang pemarah dan tidak sabaran hingga tanpa pikir panjang badanku melompat ketengah jalan.


Sebuah mobil yang sedang melaju di jalan itu dengan kecepatan yg sama seperti mobil tadi tiba-tiba tampak begitu jelas di depan kedua mataku. Mataku terbelalak kaget, begitupula mata pengendara mobil itu yang sama kagetnya sepertiku. Suara benturan tubuhku dengan mobil itu terdengar begitu jelas sesudahnya... Tak terelakan. 


"Draka...", hanya kata itu yang mampu keluar dari mulutku.


"Ti, Titi... Bangun sayang...", wajah Draka memenuhi mataku saat ini. "Ka, aku dimana? Kenapa aku?", dengan perasaan bingung aku mencoba menebak-nebak yang sebelumnya terjadi kepadaku. "Kamu masih disini, jalanan menuju tempat foto copy", jawaban Draka sama sekali tak memuaskan rasa ingin tahuku. Kutatap suasana disekitarku, masih dalam posisi terbaring... Astaga, begitu banyak orang mengelilingiku, sebagian menangis memandangku... Sisanya sibuk hendak mendekatiku dan mengangkat tubuhku. Benar saja, beberapa laki-laki bertubuh besar kompak mencoba mengangkat tubuhku. "Ka, apa-apaan sih orang-orang ini?! Aku ga kenapa napa ko mereka sibuk banget sih?!", aku berusaha mengelak sementara Draka hanya diam memandangiku dengan wajah sedihnya. "Loh ka! Ka! Ko gini sih?! Ka! Ka! Mereka ko maksa ngangkat tubuh... Ku...", tenggorokanku tercekat setelahnya.


Kulihat tubuhku diangkat oleh mereka, tangisan orang-orang disekelilingku semakin pecah. Mataku menatap lurus pada Draka, yang dilakukan Draka hanya menganggukkan kepalanya ke arahku... Sambil terus menunduk perih. Saat itulah aku tersadar... Tubuhku dibawa pergi, sedang entah apa aku sekarang ini karena bisa kulihat tubuhku pergi meninggalkanku sementara aku masih terkulai lemas diatas jalanan... Dan mereka semua, tak menyadari keberadaanku...

"Ka...?!", tanpa menjawab pertanyaanku Draka terus menerus mengangguk seperti mengiyakan pertanyaan yang belum sempat terlontar dari mulutku.


"Mama... Pa...", saat itulah kepalaku mulai dipenuhi sosok kedua orangtuaku, perasaan bersalah karena belum banyak menghabiskan waktu dengan mereka tiba tiba saja muncul. Draka menggenggam tanganku seolah tahu apa yang ada di dalam kepalaku.


"Mereka akan baik-baik saja... Begitu pula kamu, aku benar-benar bisa menjagamu kini", senyumnya merekah membuatku mulai mengangkat kepalaku menatapnya. "Ka, mereka semua salah ya Ka... Mereka bilang aku gila, mereka bilang aku aneh karena sering berbicara denganmu... Ternyata kamu benar-benar ada dan sekarang benar-benar bisa kusentuh", tanganku mula antusias memegangi wajah Draka. Draka hanya tersenyum sambil mengusap-usap rambutku. "Akan kutunjukkan banyak hal yang pasti kau ingin tahu..."


Kulangkahkan kakiku, melangkah menuju tempat dimana seharusnya aku berada. Draka yang selama ini mereka bilang teman imajinerku lah yang membimbingku untuk terus berjalan tanpa harus menatap kebelakang. Terimakasih Tuhan telah menciptakan mahkluk istimewa sepertinya, dan menjadikanku mahkluk pendampingnya yang akan mengikuti langkahnya entah sampai kapan...


Mama... Papa... Aku baik-baik saja, Draka benar-benar bisa kalian andalkan... Suatu saat semoga bisa kukenalkan dia pada kalian.

Saturday, December 1, 2012

Tentang Maddah Dan Cara Mendapatkannya...


Saat kuceritakan banyak hal tentang “Mereka” yang menjadi sahabat-sahabat kecilku dalam sebuah karya tulis berbentuk buku yang kuberi judul “Danur”, kebahagiaanku adalah ketika kalian semua mengerti apa yang ingin kusampaikan, mengerti bahwa sesungguhnya “Mereka” tak sama seperti apa yang kalian pikirkan sebelumnya. Peterku tak jahat seperti sosok-sosok hantu penuh dendam yang biasa kalian lihat di tayangan layar kaca maupun layar lebar, Williamku berhati besar seperti tokoh-tokoh pria pendiam idola remaja masa kini, Hans & Hendrick-ku selalu saja merasa bahwa mereka benar-benar nyata dan hidup hingga seringkali melakukan hal-hal yang manusia biasa lakukan, Janshenku masih saja menangis dan meringis saat hantu-hantu berwujud kuntilanak datang mengganggunya.


“Aku ingin kalian tahu bahwa mereka masih saja hidup dalam bayangan masa lalu mereka yang gelap, tapi mereka hanyalah anak-anak kecil yang mencari jawaban tentang hidup yang terlalu singkat…”


Keberatankah “Mereka” yang telah kutelanjangi dalam buku Danur? Pertanyaan itu seringkali muncul dari kepala kalian, dan jawabanku adalah “Tidak”. Sahabat-sahabatku tak tahu apa sebenarnya yang kutulis tentang “Mereka”, mereka bilang “Kami malas sekali membaca buku tebalmu… rasanya pusing melihat huruf-huruf kecil itu…”. Dan aku tak benar-benar tahu pusing seperti apa yang mereka rasakan, hehe… mereka selalu membuatku tertawa.


“Yang kami tahu sekarang adalah pembaca bukumu yang selalu memanggil-manggil nama kami dan ingin bermain dengan kami! rasanya menyenangkan Risa! Mereka semua tak takut pada kami, sungguh menyenangkan!!!!”


Tanganku tergugah untuk kembali menulis cerita-cerita dan teman-teman baru yang muncul disekelilingku. Banyak hal yang baru kuketahui tentang sosok-sosok baru, dan mereka tak keberatan untuk kembali kuceritakan dalam sebuah karya tulis.

Selama 3 bulan kutuliskan kisah sosok-sosok baru itu, juga kutuliskan bagaimana situasi hubungan pertemananku dengan sahabat-sahabat kecilku kini, saat ragaku semakin bertumbuh sementara raga mereka tetaplah sama seperti kali pertama aku mengenal mereka. Tak hanya dikepala kalian, bahkan kepalaku kini juga dipenuhi “kenapa begini” dan “kenapa begitu” tentang keberadaan mereka. Ada sosok Marianne, Norma, Norah, Ivanna, Canting, Dira, dan banyak lagi sosok baru lainnya yang membuatku semakin bertanya-tanya..


 “Normalkah sebenarnya hidupku ini?”


Anak keduaku telah lahir di awal bulan November, kuberi judul “Maddah” yang kuambil dari saduran bahasa Arab yang artinya “dibaca panjang”. Kudefinisikan “Maddah” sebagai perpanjangan dari buku pertamaku “Danur”.  Kembali kutelanjangi kehidupan pribadiku bersama “Mereka”, bukan untuk menyelewengkan kepercayaan kalian tentang keberadaan mereka… aku hanya ingin kalian membaca kisah-kisah mereka, itu saja. Aku tergugah dengan penuturan mereka yang merasa pernah punya kehidupan, dan memberikan banyak pandangan baru tentang hidup. Aku harap kalian bisa merasakan apa yang pernah kurasakan… itu saja.

Bersama tim mandiri kali ini dan bantuan sposor (Djarum Black Mild), kuterbitkan “Maddah” tanpa memakai nama besar Penerbit. Dibantu oleh Maria M Lubis sebagai Editor, Isa panic monsta sebagai ilustrator, Herry Sutresna sebagai Designer buku, dan Iit Sukmiati sebagai Proof reader. Jika kalian semua bertanya-tanya “Sudah adakah Maddah di toko buku besar”, kujawab “Belum dan mungkin Tidak akan Ada”, karena tidak ada nama besar perusahaan penerbit pada kelahiran anak keduaku ini.


“Selamat datang di kehidupanku… kehidupan sahabat-sahabatku… kehidupan yang mungkin akan membuat kening kalian mengernyit…”


Maddah
Harga : Rp. 40,000
Bisa dibeli langsung ataupun dibeli online di toko “Omuniuum” (@omuniuum)
Alamat Omuniuum :
Jl Ciumbuleuit 151-B, Bandung
(seberang kampus UNPAR)
Nomor Telepon: 022 2038279




Pesan Online:

Bisa via email ke omuniuum@gmail.com / order@omuniuum.net
Atau via sms kirim ke 087821836088 dengan format ini :
Nama:
Alamat dan telepon
:
Nama produk : MADDAH

Monday, November 26, 2012

Hampir Satu Bulan Nishkala Sarasvati


Hampir satu bulan berlalu… dan ungkapan terimakasih ini belum sempat kutulis disini.


Hampir satu bulan berjalan… dan kenangan itu masih saja menempel dengan sangat jelas dikepalaku… bahkan di kepala kalian… ah, tak usah melibatkan kalian… kenangan di kepalaku saja sudah cukup jelas untuk menceritakan kembali betapa menyenangkannya malam itu, malam “Nishkala Sarasvati”.


Satu bulan aku bersama keluargaku di Sarasvati mempersiapkan segalanya untuk malam persembahan kami, berlatih hampir setiap hari menggarap komposisi lagu-lagu baru di album “Mirror” yang akan diperdengarkan untuk kali pertama di malam Nishkala. Keringat dingin bercucuran setiap membayangkan malam Nishkala yang semakin dekat, rasa panik menggelayut saat kerikil-kerikil mulai bermunculan. Namun di satu bulan itu pula, aku dan keluarga Sarasvatiku mulai mengenal banyak hal baru yang sebelumnya tidak pernah kami rasakan, pengalaman, kerja keras, dan arti sebuah keluarga.


Satu bulan bertukar pikiran dengan banyak orang-orang kaya pengalaman, memecahkan banyak solusi untuk mewujudkan segala mimpi kami di malam Nishkala nanti, betapa banyak hal yang baru ku ketahui… betapa banyak hal yang kini lebih kami mengerti…


Malam itu datang, semua yang terbaik yang bisa kami lakukan dikerahkan untuk mewujudkan sebuah malam tak terlupakan.


Satu bulan mungkin tak akan cukup untuk mewujudkan mimpi sebesar ini


Namun…


Satu bulan telah membuat aku dan keluarga Sarasvati lebih memahami sesuatu yang kalian sebut “Kerja Keras”


Satu bulan telah membuka mata hati kami untuk memiliki mimpi yang sama


Satu bulan telah menyadarkan kami tentang arti ketulusan…


Satu bulan telah mengilhami kami banyak hal untuk terus berkarya…


“Nishkala Sarasvati” adalah kesatuan mimpi kami semua yang telah diwujudkan dalam satu bulan paling berharga di hidup kami, aku… dan keluargaku di Sarasvati.


Beribu terimakasih kuucapkan, mewakili keluargaku di Sarasvati kepada…


PT. Djarum yang tak pernah berhenti mendukung mengapresiasi karya kami ini dari waktu ke waktu.

Pak Herman & Mba Vita, bahagia… rasa hormat… kasih sayang… dan cinta kami untuk kalian yang tak pernah lelah memotivasi kami agar terus berjalan…

Asthie Wendra, mas Donny DSS, kang inyo, Pa Albert dan semua team yang telah merangkai mimpi demi mimpi Sarasvati menjadi sesuatu yang nyata dan bisa dirasakan oleh banyak orang.

Anindito Bayu dan Riana Rizki, dua orang kreator cerdas yang mampu mewujudkan isi buku Maddah kedalam sebuah Lorong dimana siapapun yang datang di malam Nishkala mampu merasakan keberadaan “Mereka” dan melihat secara visual bagaiman kira-kira kondisi mereka.

Syauqy Lukman, Acay Yaca, dan semua team dibalik Sarasvati yang tak pernah lelah membimbingku dan keluarga Sarasvati untuk terus melanjutkan mimpi kami dalam sebuah kondisi yang jauh lebih menyenangkan…

Iit dan Mas tri beserta Omuniuum yang ikut bekerja keras membantu kelahiran Maddah dan Mirror di malam Nishkala Sarasvati.

Cholil Mahmud, Imelda Rosaline, Kiki Chan, Dewa Budjana, Mario Ginanjar, Ida Widawati, Trah project & Trah Tradisi, Teater dan Paduan Suara SMKI 10, Amy, team penari Tradisional, team orchestra, siska harpa, team Jendela Ide, terimakasih untuk waktu yang sudah kalian dedikasikan untuk sarasvati dan malam Nishkala.

ACE, TOSAVICA, Screamous, RSCH, Oz Radio, Ardan Radio, PJTV, Adity Shoes, yang tak henti memberi dukungan kepadaku dan Sarasvati.


Dan Terimakasih tak terkira kami persembahkan pada kalian semua yang ikut berpesta menikmati malam persembahan Nishkala Sarasvati di tanggal 1 November 2012.


Hampir satu bulan… namun masih melekat dikepalaku, kepala keluargaku di Sarasvati, dan aku yakin… juga melekat erat dikepala kalian…

Wednesday, November 7, 2012

Letter from Elizabeth

Dear Risa,

He saw me, Risa.  I know he did.

I came into the room to fix my hair, as is still my habit, in spite of the rot and decay that mar my once beautiful face. 

He did not startle as i entered, but continued to read his book, his gait as straight and tall as the tree from which I often watch him.  The only sign he was aware of my presence in the room was a raising of the small hairs on the back of his long white neck and a slight intake of breath as he turned the page of his book.

I couldn’t help myself, i went up to him.  I stood behind him and looked at the book he was reading, attempting to peer over his shoulder and read.  It seemed a dry text, lacking the mirth of my old novels.

He shut the book, and placed it on the dressing table, and i felt sure he would leave the room, leaving me to my eternal lonliness.  But he turned back towards me, and held out his hand.  I swear my dead heart skipped a beat.

I took his hand with my lifeless fingers.

He smiled.

He turned and led me to the bay window, which let in sunlight and birdsong.  I twirled to an imaginary audience, and we waltzed through the dappled shadows that fell across the floor.  I danced and twirled, feeling almost mortal again, laughing with the joy of this human contact somewhere just beyond my fingertips. 

I was beautiful again, just for a second.  No blood stained my cheek.  No hollows darkened my eyes.  No bruises attested to the attrocity i fared in those Japanese hands, which I still shudder to think of.  For a second, just a second, there was no war, no death, no pain.  Only a man and a woman dancing in silence.  Just for a second, happiness.

He led me back to the dressing table, bowed, and pressed his lips to kiss my hand.

In that moment, my dead heart knew that even the bonds of death could never break my love for him. 

I will follow him forever, standing always by his shoulder as he reads.  I will sit by his bed as he sleeps, watching the dreams race across his furrowed brow. I will count the moments of his life, as youth passes into age, waiting for the time where his mortality passes into darkness; the moment when, in death, he and I shall finally become one.

While other lovers are parted by death, he and I shall be united by it.

I have seen the sadness which hides in the corner of his eye.
I have seen the tenderness which lingers in his touch.
I have felt what it is to love, and nothing and no-one shall come between us.


Yours,
Elizabeth.

Saturday, October 13, 2012

SAMPAI JUMPA DI MALAM JUMAT...














SASANA BUDAYA GANESHA BANDUNG
1 NOVEMBER 2012
DIMANA ALBUM KEDUA SARASVATI BERJUDUL "MIRROR"
DAN BUKU KEDUA SAYA BERJUDUL "MADDAH"
UNTUK PERTAMA KALINYA DIPUBLIKASIKAN KEPADA KALIAN SEMUA...

TIKET KONSER : RP. 50.000
TIKET PRESALE : RP. 75.000 DENGAN BONUS BUKU "MADDAH"

SAMPAI JUMPA DI MALAM JUMAT 1 NOVEMBER 2012 NANTI TEMAN...

SAATNYA KITA DAN "MEREKA" BERADA DITEMPAT YANG SAMA MENIKMATI MALAM YANG MENYENANGKAN BAGI KITA SEMUA...

SAMPAI BERJUMPA DI NISHKALA SARASVATI CONCERT.

UNTUK INFO TIKET:
HUBUNGI OMUNIUUM
( @Omuniuum )

Tuesday, October 9, 2012

NISHKALA SARASVATI

Tak pernah sekalipun aku bermimpi sejauh kenyataan hari ini, saat kubuka mata pagi ini… aku tengah berdiri diantara banyaknya manusia-manusia hebat yang mengelilingiku. 

Tangan mereka terbuka lebar, membentangkan begitu banyak harapan yang selama ini tak kudapatkan ditempat manapun. Tak usah berteriak memanggil, tak usah berlari kencang memeluk, tak usah menengadah tuk mengiba, karena dengan sendirinya semua datang mengangkatku perlahan bersama-sama mencoba tetap bertahan dalam besarnya rinai yang mulai beriak. 

Kutatap sosok mereka satu persatu, mereka bukan sekumpulan manusia berpakaian selaras yang berkumpul karena banyak memiliki persamaan. Mereka muncul dari berbagai latar belakang yang berbeda, memegangku erat hingga tanganku tak bisa terlepas dari dekapan mereka, jiwa kami yang tak selalu sama ikut melebur dalam ikatan perasaaan yang kusebut “Keluarga”. Tak akan pernah ada yang mempu menerjemahkan bagaimana bisa aku berada ditengah keluarga ini, bagaimana bisa nafas kami sejalan meski langkah kami berhamburan…

Di sisi lain hidupku kulihat sesuatu yang tak pernah kalian bisa lihat, dan aku menganggap “mereka” adalah bagian dari hidup yang tak mungkin kulepaskan. Salahkah jika aku menganggap “mereka” yang tak bisa berpijak diatas tanah adalah manusia-manusia lain dari dimensi yang berbeda denganku saat ini? Tak ada satupun manusia yang mampu menembus tembok, tak ada satupun manusia yang mampu muncul dalam hitungan detik tepat disampingku seperti “Mereka”… tapi “mereka” memiliki kisah yang sama sepertiku, sama seperti kalian. Lagi-lagi, tak ada yang mampu menjelaskan bagaimana harus mendefinisikan sosok mereka, lagi-lagi tak ada satupun yang bisa menerjemahkan dengan lugas mahkluk seperti apa mereka…

Sebuah persembahan lain datang kembali, menggabungkan segala unsur yang tak bisa dengan akal sehat manusia mampu diterjemahkan. Keluargaku yang kusebut “Sarasvati” berkumpul memadukan kesatuan melodi dari berbagai latar memperkenalkan anak kedua kami yang beri judul “Mirror”. Sahabat-sahabat kecilku yang tak kasat mata berkumpul dalam uliran-uliran kata yang kurangkai dalam sebuah buku yang kuberi judul “Maddah”. Kami semua berkumpul malam itu, bersatu memadupadankan kesatuan melodi dan uliran kata yang akan kami persembahkan untuk kalian.

Tak perlu berpikir jauh bagaimana kami bisa bersatu, tak selamanya akal dan pikiran kalian harus ikut menjawab banyak pertanyaan-pertanyaan kritis yang ada didalam kepala kalian. Tak usah kujelaskan segala sesuatunya dengan jelas… sebuah bahasa menyebutnya sebagai “Nishkala”, dimana terkadang kita akan mengerti segala sesuatunya tanpa harus memikirkan. “Nishkala” membawa kita menemukan jawaban-jawaban itu… jauh diluar batas pikiran kalian.

Sampai jumpa tanggal 1 November 2012 di kota Bandung kawan…
Hari persembahan kami untuk kalian semua, hari dimana manusia dan roh berkumpul dan melakukan banyak hal menyenangkan tanpa harus berpikir banyak tentang realita hidup yang sesungguhnya.

Hari persembahan itu bisa kalian sebut “Nishkala Sarasvati”.


Risa Saraswati