Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Sunday, September 8, 2013

ANANTA PRAHADI PART 8


Sudah satu minggu tak ada kabar yang kuterima dari Anta. Dan kerinduanku akan kehadirannya semakin memuncak, namun aku tak kuasa merendahkan harga diriku untuk sekadar mengiriminya pesan atau telepon bertanya tentang kabar dan keberadaannya. Begitupun sebaliknya, rupanya kini anak itu punya harga diri begitu tinggi terhadapku, dan aku yakin ini semua pasti perbuatan wanita kampungan itu. Namun dibalik kepergiannya, ada sebuah hikmah yang kuambil. Kini hubunganku dengan Pierre cukup membaik, bahkan lebih dari baik. Hampir setiap hari Pierre menggantikan posisi Anta, menemaniku melukis di dalam studio. Tapi tetap saja, aku belum bisa sepenuhnya memperlakukan dia layaknya perlakuanku terhadap Anta. Sedikit demi sedikit Pierre mampu menghapuskan kesedihan yang belakangan ini cukup memusingkanku.

“Mba Tania, mas bule sudah datang tuh mba!”, Bi Eha meneriakiku dari bawah sana. Dengan sigap kuambil tas gendongku dan segera turun untuk menemui Pierre yang hari itu memang berencana menjemputku untuk pergi bertamasya. Ini adalah idenya, menurutnya aku harus pergi menikmati matahari kota ini sebelum kulitku membusuk jika terus menerus mendekam di dalam studio. “Mba, Mba Tania… tapi si Mas Bule dateng sama cewe cantik loh Mba… Mba gak apa-apa?”, dengan setengah berbisik Bi Eha memberitahuku. “Iya, aku tahu. Jangan bergosip lah! Jangan mikir macam-macam!”, kujawab Bi Eha dengan ketus. Bi Eha terlihat kecewa melihat reaksiku, dia percepat langkahnya untuk mendahuluiku dan membukakan pintu bawah untukku. “Silahkan menjemput pangeran bulemu Mba Tania…”, dengan senyum jahil Bi Eha menatapku. “Berisik!!!!”, aku cukup gusar dengan tingkah lakunya yang kini semakin berani terhadapku.

“Selamat pagi Tania…”, dengan senyum khasnya Pierre menatapku penuh sumringah, berlebihan memang.  “Pagi…”, jawabku santai. “Dan ini…?”, kutatap dari atas sampai telapak kaki, sosok wanita yang ada di sebelah Pierre. “Nah, ini dia Dania. Dia adik perempuanku”, Pierre memegangi tangan wanita itu seolah memaksanya untuk berjabat tangan denganku. “Tenang kak, aku pasti akan bersalaman dengannya”, sambil tertawa wanita itu melepaskan genggaman tangan Pierre lalu mengarahkan tangannya kepadaku. “Halo Mba Tania yang cantik, kenalkan namaku Dania. 22 Tahun, masih kuliah, sudah punya pacar tapi hampir putus karena ternyata pacarku bau ketiak. Seumur hidup merindukan kakakku ini yang selama ini hanya mengenalinya dari cerita Mama. Dan aku senang sekali hari ini diajaknya datang kemari, katanya mau dikenalkan sama calon pacarnya dan diajak tamasya bersama!”, anak perempuan ini terus berbicara tanpa henti dengan nada bicara riang dan memekakkan telinga. “Kau ini gila yah?”, sambil tersenyum sinis kujabat tangannya dengan kasar. “Sedikit, tapi tak segila kakakku yang sepertinya sedang tergila-gila padamu, Mbak. Hihihihi…”, Dania kini cengengesan tak karuan. “Shut up Dania!!! Kau membuatku malu!!!”, kini Pierre yang tampak gusar akan sikap adiknya. Aku tersenyum geli melihat kakak beradik ini, keduanya terlihat aneh… dan sejujurnya aku selalu menyukai orang-orang tidak konvensional seperti mereka. Kulihat kini keduanya ikut tertawa bersamaku, mungkin mentertawakan diri mereka sendiri, kami seperti sekumpulan manusia-manusia aneh pagi itu.

“Jadi kita mau kemana?”, akhirnya aku angkat bicara. “Ya, kemana kita?”, Pierre bertanya kembali padaku, membuat kedua mataku kini menonjol keluar karena kaget, seharusnya dia tahu akan kemana kami hari ini. “Kemana kita?”, Dania ikut bicara. “Kaliannnnnnnnnn!!!!!”, aku berteriak meneriaki mereka dengan kesal. Mereka berdua kini kembali tertawa, mentertawakanku yang terlihat begitu kesal. “See? That’s my girl, Dania. Seperti Banteng yang selalu siap mengamuk hahaha”, Pierre berbicara satu arah pada adiknya. “Apa? Banteng katamu?”, aku kembali berteriak, kali ini meneriaki Pierre. Dania maju satu langkah dan kini dia berdiri diantara kami, “Hahahaha! Sudah, cukup! Karena aku adalah anak gaul kota ini, biarkan aku membawa kalian berdua ke tempat-tempat seru!!! Ini tamasya kan? Outdoor kan? Serahkan padaku!!!”. Pierre mengedipkan sebelah matanya ke arahku, tanpa kusadari bibirku membalas kerlingannya dengan senyuman. Tak bisa kuabaikan bagaimana pipiku kini terasa memanas, lantas merona… karena kerlingan itu.

Dalam kesedihanku akan kepergian Anta, ada kebahagiaan yang dicipta Pierre untuk hidupku. Hari ini, aku, Pierre, dan adiknya Dania yang sempat kucemburui, telah melewatkan beberapa jam istimewa bersama-sama. Dania mengajak kami melintasi jalanan berbukit di daerah Lembang, lalu mempertontonkan kepiawaiannya berkuda, dan tak lupa mengajak kami untuk ikut berkuda bersamanya. Tanpa kusadari, sepanjang hari ini aku terus tertawa tanpa henti. Sepertinya baru kali ini bisa kunikmati saat-saat menyenangkan, yang rasanya saat bersama Anta pun tak sampai begini senang. Tanpa canggung, Pierre mulai berani menggandeng tanganku, dan tanpa sungkan aku mulai memeluk tubuhnya saat udara dingin Lembang menusuk di kulitku. Pierre memberikan suasana baru dalam hidupku, dan adiknya, Dania, membawakanku sebuah jawaban bahwa tak semua teman perempuan itu menyebalkan. Dalam gelak tawa tadi siang, hatiku bersedih memikirkan seandainya saja hubunganku dengan Tiara bisa seperti mereka, sulit rasanya membangun sebuah jembatan untuk menjembataniku dengan keluargaku.


Dania tertidur kelelahan di dalam mobil, sedang Pierre tampak bersedih mengantarku pulang malam ini. Dengan lunglai dia berjalan malas-malasan di halaman rumahku.  “Kau kenapa sih?”, aku cukup terganggu melihat sikapnya. “Sedih”, jawabannya tak membuatku puas. “Atas apa?”, seperti biasa… nada bicaraku mulai ketus. “Saya sedih hari ini berakhir. Saya bahagia sekali melihat kamu dan Dania bisa akrab dan tertawa bersama, ingin rasanya mengulang kembali beberapa jam kebelakang”, wajahnya menunduk ke bawah hingga tak bisa kulihat bagaimana matanya berbicara. Sambil tersenyum aku mulai memegangi jemari tangannya, “Kan masih ada besok?”. Pierre mengangguk pelan, “Tapi kamu wanita yang susah ditebak, saya tidak tahu apakah besok kamu akan ceria atau murung seperti biasanya. Dan hari ini kamu terlihat sangat ceria. Bolehkah saya minta agar kamu selalu seperti ini?”, diangkat wajahnya kini menatap lurus ke arah mataku, dengan tatapan memohon dan penuh harap. “Aku tak bisa janji, Pierre. Kita lihat saja nanti… jika aku bisa terus ceria dan bahagia disisimu, berarti kamu berhasil menaklukanku”, aku mulai mengacak-ngacak rambutnya dengan tanganku sambil tak berhenti tersenyum. Bisa kulihat betapa senangnya dia mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari bibirku, entah apa yang kupikirkan karena tak biasanya aku berkata demikian manis pada orang lain, bahkan kepada Anta yang bertahun-tahun kukenal. Satu minggu ini terasa bagai 1 tahun bagi perkembangan hubunganku dengan Pierre, dia datang disaat yang sangat tepat… saat aku kehilangan sebuah pegangan yang bisa saja menjerumuskan aku masuk ke dalam lubang kesendirian yang lebih dalam. Dia bukan laki-laki berengsek seperti apa yang selama ini kutujukan kepadanya, sebaliknya… dia begitu sopan memperlakukanku. “Bye Pierre, terimakasih untuk hari ini…”, kubalikkan tubuhku saat akhirnya waktu berpisah dengannya malam ini tiba.  Pierre hanya mengangguk pelan sambil tak berhenti tersenyum. Namun tiba-tiba dia memanggil namaku, “Tania…”. Kubalikkan kembali tubuhku menatapnya, “Ya?”.

“Tak perlu menjadi orang lain saat bersama saya, kamu bisa ceritakan apapun pada saya. Bersikap buruk pada saya pun tidak apa-apa jika memang itu dirimu yang sebenarnya, saya akan menerima itu. Kamu harus tahu, saya selalu menyukai kamu… sejak kita belum saling berkenalan. Dan saya mulai menyayangi kamu, sejak kita saling mengenal. Dan kamu harus tahu, happiness is here… only when you’re near. Whatever you are, I just want to be near you…”

Mataku berkaca-kaca mengiringi kepulangannya malam itu, terharu akan kata-kata yang diucapkannya barusan untukku. Seumur hidup, rasanya baru kali ini merasa begitu jatuh cinta pada seorang laki-laki. Dan betapa beruntungnya aku karena dia adalah laki-laki yang baik, dan menanggapi respon cintaku dengan sangat indah. Dalam haru ini aku mulai tersenyum, namun tiba-tiba membayangkan sosok Sukma… tunangan Anta. Kali ini aku tak marah mengingatnya, karena aku berpikir mungkin Sukma juga sama baiknya seperti Pierre. Dan tak menutup kemungkinan bagi Anta merasa bahagia sepertiku karena sikap manis Sukma padanya. Sepertinya aku harus merubah sikapku pada mereka… aku harus berhenti menjadi sesosok monster egois.


“Ha… halo… Anta?”, dengan canggung kutelepon Anta malam itu. Bukan suaranya yang kudengar di ujung telepon sana, melainkan suara lembut seorang perempuan. “Siapa ya? Ada perlu apa?”, suara perempuan itu balas bertanya padaku. Ada perasaan kesal dalam benakku, sepertinya tidak mungkin Anta tak menyimpan nomor teleponku di telepon genggam miliknya. Dan dalam hatiku berkata, seharusnya perempuan ini tak perlu lagi berbasa-basi menanyakan siapa yang sedang berbicara dengannya jika namaku tertera di layar teleponnya. “Aku, Tania. ini pasti Sukma kan?”, kucoba tetap sopan pada perempuan ini. “Ya, saya Sukma. Ada perlu apa ya Teh Tania?”, kembali dia mengulang pertanyannya, namun kali ini dengan nada bicara judes. “Aku ingin berbicara dengan Anta, bisakah?”, meski begitu sulit menahan kekesalan ini tapi aku tetap mencoba sopan padanya. “Tidak bisa, dia sedang tidur. Maaf ya teh. Lain kali saja telepon lagi!”, Sukma begitu ketus menjawab permohonanku. Dada ini terasa berdebar hebat, kekesalan mulai memuncak. Namun tiba-tiba saja sekelebat bayangan Pierre dan segala sikap manisnya membayangi kepalaku, menahan segala emosi yang hampir meledak. Bukan amarah yang keluar dari mulutku untuk menjawab keketusan sukma melainkan, “Baiklah, jika dia sudah terbangun… mmmh nanti ataupun besok, tolong bilang padanya aku mencarinya. Aku hanya ingin memohon maaf kepadanya, juga kepadamu, Sukma. Maaf telah bersikap kasar kepada kalian, sungguh aku hanya ingin menjadi seorang sahabat yang baik untuk Anta. Dan semoga kita juga bisa bersahabat ya, sukma…”. Aku menunggu jawaban darinya, berharap Sukma akan memberikan sebuah reward untuk usahaku bersikap sopan kepadanya. Namun jawabannya diluar dugaanku, “Baik, akan saya sampaikan pesan Teteh pada Anta. Tapi untuk bersahabat dengan Teteh, kayanya akan sulit buat saya. Saya hanya perempuan kampungan yang tak pantas berteman dengan seorang tuan putri angkuh seperti Teh Tania. Terimakasih untuk penawarannya, Teh”. Lalu kemudian telepon itu ditutup dengan kasar, tanpa menungguku menjawab perkataannya. Aku terdiam sendirian, mematung bagai tak bernyawa. Seharusnya jika mendapat perlakuan seperti ini, aku akan melemparkan semua barang yang ada disekelilingku dengan sangat brutal. Seharusnya aku berteriak-teriak kalut seperti biasanya. Namun semua itu tak kulakukan. Saat ini aku hanya ingin menangis, dan meyakinkan diriku bahwa dia bersikap seperti itu karena kesalahan dan keegoisanku saat pertamakali mengenalnya. Dan jauh di lubuk hatiku aku berpikir jangan-jangan sikapku selama ini juga seperti itu kepada semua orang, lalu kini aku sedang merasakan bagaimana rasanya menghadapi seseorang yang memiliki sikap buruk sepertiku. Maafkan aku Tuhan, sungguh aku ingin sebuah kesempatan untuk memperbaiki sikapku…


Kubenamkan wajahku diatas bantal tempat tidurku, masih tak percaya atas kasarnya sikap Sukma kepadaku. Kepalaku terus menerus bertanya, “Kenapa kau tak mendampratnya, Tania? wanita itu sangat kurang ajar terhadapmu!!!!”. Namun hatiku berkata lain, “Kau harus menerimanya, Tania. Sikap perempuan itu tadi, adalah sebuah cerminan untukmu yang memiliki sikap seperti itu juga. Dan kau tak pernah sadar telah menyakiti banyak perasaan orang lain”. Air mata menetes di pelupuk mataku, lagi-lagi aku bertanya-tanya bagaimana mungkin seorang aku berubah menjadi wanita dramatis yang cengeng? Tapi malam ini, aku sangat menikmati perasaan ini sambil sesekali memikirkan harus bagaimana kini aku bersikap. Pikiranku melayang kemana saja, terkadang Anta muncul didalamnya, kemudian Pierre, Dania, Tiara, Sukma, Ibu, Ayah… bahkan kadang Bi Eha. Hidupku ini memang begitu sepi ya? Tidak banyak orang yang kukenal selain mereka.

Suara telepon tiba-tiba mengagetkanku, terdengar begitu keras di telinga saat aku mulai hendak tertidur setelah lama melamun. Kulihat layar telepon genggamku cepat-cepat, ada nama Anta disana. Awalnya aku hanya bengong, namun segera tersadar bahwa aku harus segera mengangkat panggilan telepon itu.

“Antaaaa!!!!!!”, suaraku terdengar melengking saat akhirnya telepon itu kuangkat. Diseberang sambungan terdengar suara yang begitu kurindukan, “Teh Tataaaaaaannnnnnnnn!!!! Gusti nu agung sono pisan teteh!!! Anta kangen pisan sama teteh Tania kesayangan Anta!”, suara Anta tak kalah nyaringnya dengan teriakanku. “Terimakasih Alam Semesta untuk kebahagiaan ini! Antaaaaaaaaaa cepat pulaaaaaaaang!!!! Aku rinduuuuuuuuuuuuuuu!!!! Lekas pulang, bawa saja tunanganmu itu untuk tinggal bersama kita!” , air mata benar-benar berurai hebat kini, kebahagiaan ini tak bisa kugambarkan dengan kata-kata apapun.

Tiba-tiba Anta tak lagi berteriak disambungan telepon, hening sekali. “Halo? Halo? Anta? Halo? Anta!”, aku mulai cemas. Kupikir sambungannya memang terputus, namun ternyata tidak, karena kini suara itu muncul lagi namun dengan nada bicara yang lebih pilu daripada sebelumnya.

“Belum bisa sekarang teteh, tapi nanti Anta akan datang… kalau semuanya sudah beres. Teteh sehat ya, jangan lupa untuk terus melukis… Titip salam untuk Pierre, teh…”

tut… tut… tut…

kali ini benar-benar mati, tak ada lagi suaranya.



Bersambung.




14 comments:

  1. ditunggu lnjutannya teh risa.. sangat dinanti :):)

    ReplyDelete
    Replies
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. Teh ceritanya asik banget teh, kaya pacar saya banget teh sosok tania nya hihihi

    ReplyDelete
  3. Teteh .. Diantos tehh .. Part 9 na :D

    ReplyDelete
  4. kalo baca dialog Tania sama Anta, berasa beneran lagi denger orang teriak-teriak. hahahahahahah

    ReplyDelete
  5. mmm,,,ditunggu selanjutnya teh Risa

    ReplyDelete
  6. Kyanya sukma marah" sama anta gara" tlponan sma tania haha atau pulsa anta sdkt lagi :Dv saking pnasarannya jdi mikr sana sini

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. mana lagi mana lagi?!kyaaa udah terpatung baca marathon dari awal,dan masih bersambung.........penasaran teh cepet atuh :'(

    ReplyDelete
  9. teh lanjutannya dunk,please
    di tunggu banget he he he
    penasaran√

    ReplyDelete