Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Sunday, September 1, 2013

ANANTA PRAHADI PART 7


Aku masing tercengang mendengar apa yang diucapkan oleh Anta, hatiku berdebar kencang dan kuyakin tak lama lagi emosiku akan kembali meledak… seperti biasanya. Benar saja, hanya membutuhkan 1 menit untuk menunggu ledakkan itu. “Apa kau bilang? Tunangan?! Hal bodoh apalagi ini? drama apa yang sedang kau mainkan Anta?! Dimana kau temukan wanita KAMPUNGAN ini?!”, aku berteriak-teriak kini… sedang kedua tanganku menegang sambil tak henti menunjuki mereka. Tepat setelah kata-kata itu kulontarkan, tiba-tiba saja aku melihat sebuah tatapan yang tak pernah kulihat selama ini darinya. Tatapan itu begitu menusuk jantungku, tatapan seorang laki-laki yang begitu marah dan jijik terhadapku. “JANGAN MENERIAKI DIA! Teteh boleh saja meneriaki saya dengan sesuka hati! Tapi perempuan istimewa ini belum terbiasa mendengar teriakan dan cacian itu! Kalau Teteh menghormati saya, maka hormati juga dia! Dia sudah menjadi bagian hidup saya sekarang! TOLONG HARGAI ITU!”, Anta meneriakiku dengan sangat marah. Aku dibuatnya kembali tercengang, sungguh tak pernah aku menyangka sahabatku Anta mampu meneriakiku seperti itu. Roda dunia sedang berputar, dan aku merasa sedang berada diputaran terbawah, terjepit dan terhimpit. Belum sempat kubalas teriakannya, Anta yang emosi menarik tangan perempuan bernama Sukma itu dan membawanya pergi meninggalkanku yang kini bersimpuh di lantai kamar paviliunnya. Airmataku berjatuhan hebat, tangisku mulai pecah.

Rupanya Ibu dan Tiara mendengar teriakan-teriakan kami, dengan tergopoh-gopoh mereka mendatangiku yang masih belum beranjak dari atas lantai. “Tania apa yang terjadi nak?!”, Ibu coba meraih dan mengangkat tubuhku. Kuhempaskan tangan Ibu, “Tidak! Tidak terjadi apa-apa! Sudah lepaskan aku Bu! Aku bukan anak manja!”. Kini giliran Tiara yang mencoba mengajakku berdiri, “Mbak sudah mbak jangan nangis lagi, ayo bangun Mbak… ga usah cerita apa-apa juga gak apa-apa. Tapi tolong Mbak berhenti menangis dan keluar dari kamar ini, ya Mbak?”, dengan sangat hati-hati Tiara berusaha membujukku. “Diam kamu anak sok tau!!! Pergi kamu dari sini!! Tolong, Ibu juga pergi dari sini! Aku sedang ingin sendiriann!!!!”, tanganku menunjuk ke arah pintu depan paviliun Anta, dan mereka berdua menuruti kata-kataku… pergi meninggalkanku. Aku kembali sendiri, dan masih menangis dan meraung bagai binatang yang sedang melolong karena terluka. Kepalaku dipenuhi berbagaimacam pikiran, kebanyakan berisi kemarahan dan kebencian mendadakku terhadap Anta.


“Mbak Tania, Mbak! Bangun Mbak!”, suara Bi Eha yang terdengar cukup panik berhasil membangunkanku dari tidur. Lagi-lagi aku tertidur, namun tak ingat mulai kapan mataku terpejam karena tubuhku masih tertidur diatas lantai kamar Anta, sepertinya tadi aku menangis hingga ketiduran. “Apa sih?! Jangan ganggu aku!”, kujawab Bi Eha dengan sangat ketus. “Mbak, itu Mbak… si Bulepotan dateng mba, di ruang tamu mbak!”, sambil terengah Bi Eha terus berbicara. “Siapasih bulepotan?!?!”, aku membentaknya. Namun tak lama setelah ku bentak Bi Eha tiba-tiba saja mataku melotot, dan bayangan Pierre melintas dengan cepat. “Astaga Bi Eha! Si Pierre yah? Aduh gimana ini aduh...”, dengan panik aku berlari keluar paviliun Anta, dan seketika itu juga aku lupa pada kejadian tadi siang.

Awalnya kaki-kaki ini mengendap kecil menuju ruang tamu, namun saat mendengar suara Pierre sedang bercakap-cakap dengan seseorang, mereka mempercepat langkahku untuk segera melihat sedang bersama siapa dia disana. Dengan kaus hitam dan celana jeans sobek dia sedang duduk di sofa ruang tamu, berbicara serius dengan Ayah. “Hai Pierre”, kucoba untuk berpura-pura santai sambil melemparkan tubuhku ke atas sofa tepat disebelah Ayah. “Tania!”, dengan sedikit berteriak Pierre menyapaku penuh semangat. Ayah tampak kikuk melihatku duduk disampingnya dengan wajah kusut, “Oke Pierre, Tania sudah ada. Nice to meet you Pierre…”, Ayah mengangkat tubuhnya lalu berjalan meninggalkan kami tanpa melihat ke arahku. Untuk beberapa saat tak satupun kata mampu keluar dari mulutku dan Pierre, bahkan mata kami tak berani untuk saling bertemu. Dalam keheningan akhirnya aku angkat bicara, “Ikut aku ke studio”.


“Tania, boleh saya bicara maaf padamu?”, Pierre membuka topik pembicaraan saat kami  berdua mulai memasuki studio lukisku. “Tunggu, jangan sekarang!”, jawabku ketus sambil terus berjalan ke arah luar studio. Diluar studio aku melihat 2 kursi dengan posisi tak beraturan, bahkan aku masih melihat 2 gelas berisi kopi dingin. Pikiranku kembali teringat pada Anta, kursi itu baru kami duduki kemarin. Disanalah aku memeluk tubuhnya erat sambil terus bercerita dan mendengarkan segala petuah-petuah sok bijaknya. Kopi yang tak sempat kami minum pun posisinya belum berubah, 2 gelas kopi itu menjadi saksi indahnya persahabatanku dengan Anta kemarin malam. “Sudah bisa bicara?”, pertanyaan Pierre membuyarkan lamunanku. “Belum”, kududukkan tubuhku diatas kursi lalu menyelimutkan selimut yang sengaja kubawa keluar dari dalam studio, menutupi tubuhku. “Sekarang sudah?”, lagi-lagi manusia Albino itu menanyaiku. “Penting ya?”, jawabku. “Sangat!”, dia menjawabnya dengan antusias. “Awas kalau tidak penting!”, kupejamkan kedua mataku sambil mendongakkan kepala menatap langit malam ini yang tampak sepi tanpa bintang.

Pierre tampaknya tertarik untuk mengikuti gayaku, karena kini dia duduk disampingku sambil mendongakkan kepala. “I’m sorry…”, ucapnya pelan. “Untuk?”, jawabku tanpa menoleh kepadanya. “Untuk tidak memahami kamu…”, bisa kulihat dari sisi mata kananku dia kini sedang menatap arahku. “Kamu bukan Ibuku, juga bukan Ayahku. Tak perlu memahamiku, susah!”, ucapku sambil mulai memandangi langit dengan mata telanjang. “Tidak susah, karena ternyata saya bisa paham sekarang…”, dia kembali berbicara. “Paham apa?!”, wajahku kini berbalik menatap wajahnya dengan tatapan kesal. “Mmmh jangan cepat marah, nanti cepat tua hehe. Mmmh… saya paham, kalau kamu ternyata cukup memperhatikan saya…”, senyumnya mengembang lebar. Emosiku mulai terkena percikan amarah, “Apa maksudmu?! Bule gila! Enak aja!!! Jangan ngomong macem-macem! Mana mungkin aku perhatiin kamu!”, dadaku terengah naik turun. “Kalau sedang marah kamu lucu sekali, Tania.”, tangan kanannya menyentuh tanganku… dan saat itu juga kuhempaskan dengan sangat kasar. “Berengsek! Dasar laki-laki jahat! Pasti kau nakal dan suka mempermainkan wanita! Aku yakin itu! Kau harus ingat satu hal, aku bukan wanita yang bisa kau permainkan! Ooooh… Jadi, kepentinganmu kesini hanya untuk begini?! Membuatku marah?! Iya?! Pergi!! Aku tak ingin melihatmu lagi!”, entah darimana datangnya amarah ini karena sekarang emosiku begitu meledak seperti banteng mengamuk. Dan entah darimana asalnya air mata ini, karena mereka kini kembali meluncur jatuh membasahi kedua belah pipiku. Bayangan tentang Anta kembali bersliweran, mericuhkan isi kepalaku bahkan ricuhnya lebih besar dari kekecewaanku pada Pierre yang saat itu pernah membuatku begitu kesakitan. Perasaanku benar-benar dipermainkan, dan kali ini sakitnya terasa berlipat-lipat.

“Tania…”, Pierre hanya bisa berbisik pelan. Dia terlihat kebingungan, namun tampak bersedih melihatku marah dan menangis disisinya. Bukannya meninggalkanku, dia malah mendekatkan kursi yang dia duduki agar semakin dekat dengan kursiku. Tanpa ragu dia rapatkan tubuhnya ke tubuhku. Aku tak begitu menyadari saat tiba-tiba tangannya mendekap memeluk tubuhku kencang sementara tangannya sibuk mengelusi rambut dan kepalaku. Pertahananku lumpuh dalam dekapan Pierre, rasa marah dan emosi yang begitu menyiksaku melemah secara perlahan. Tanganku membalas pelukannya, dalam pelukan Pierre aku terus menangis…

“Tania, jangan bersedih… saya tahu kamu sedang memikirkan sebuah hal yang membuatmu begitu marah. Im here for you… Tania, jangan jadikan saya musuh kamu. O iya, salam kenal untukmu dari wanita yang waktu itu kamu lihat di lift. Kami baru saja bertemu setelah 20 tahun terpisah, dia adik perempuan saya. Kamu harus berkenalan dengannya, dia anak perempuan yang sangat menyenangkan”, Pierre berbisik pelan ditelingaku sambil tak henti mengusap rambutku.

Aku tak peduli Pierre, tapi terimakasih telah berusaha menjelaskan semua ini untukku. Yang kubutuhkan adalah sebuah pelukan seperti ini, pelukan yang biasanya kudapat dari Anta.


Bersambung.


15 comments:

  1. Harus banyak lebih bnyak orang yg baca coretan kaya gini..harusnya akhirnya biarin tania meninggal aja deh

    ReplyDelete
    Replies
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. cerita ttg cinta2an nih teh? tumben hehehe

    ReplyDelete
  3. AAAAAAAAAKKKKKK........... PIERRE... >.<
    Teh Tatan ini perlu disuruh puasa marah-marah kayanya mah :|
    galak bet jadi orang

    ReplyDelete
  4. Aduhhh bersambung maning bersambung maning...

    ReplyDelete
  5. yaahh bersambung lagi,, sampe part brapa ne Teh..
    ngga sabar ney nunggu kelanjutannya
    ditunggu ya kelanjutannya, Buruaan Teh !!
    hehehehe...

    ReplyDelete
  6. ini siluman banteng maunya apa sih??!! hahahaha

    jangan lama2 teh ndut :)

    ReplyDelete
  7. baguuus banget jalan ceritanya..
    cerita bersambung selalu bikin penasaran..:))
    ditunggu lanjutannya ya teh :)


    salam EPICENTRUM
    jangan sungkan buat mampir juga ya :)

    ReplyDelete
  8. Teh mau nanya dong ;)
    Ini bakal dijadiin buku juga yaa?

    ReplyDelete