Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Sunday, August 25, 2013

ANANTA PRAHADI PART 6


Kejadian kemarin sore masih berdengung-dengung di kepalaku. Bayangan tentang kedua orangtuaku, Tiara, dan kata-kata yang keluar dari mulut Ibu seolah sedang menghantuiku pagi ini. Sepertinya semalaman ini aku tidak bisa tertidur dengan nyenyak, karena beberapa kali mataku terbuka lebar untuk memastikan pukul berapakah itu. Sekali-kali kulongokkan kepalaku ke arah paviliun Anta, hanya untuk memastikan apakah dia sudah datang atau belum. Namun lampu depan paviliun itu tetap padam seperti sedang tak berpenghuni. Kemana Anta? Aku terus bertanya-tanya sendiri, sementara nomornya tak bisa kuhubungi sama sekali. Tenggorokanku kering kerontang, kuangkat tubuhku untuk mengambil gelas dan air putih yang selalu tersedia disebelah tempat tidurku. Badanku rasanya sakit sekali, entah karena salah posisi tidur atau karena telalu banyak angin yang masuk ke dalam pori-pori kulitku, aku baru sadar… semalaman jendela kamarku terbuka bebas. Dalam keadaan lemas kuteguk air putih di mug milikku bagai binatang yang sedang kehausan, saat itulah suara bising itu kembali muncul… tepat dibelakang telingaku, disertai sebuah pukulan dipunggungku. “Hayohhh!!!!”, suara itu mengagetkanku, sekaligus membuat semua air yang masuk ke dalam mulutku kembali berhamburan membasahi baju yang kukenakan.

“ANJRIT!!!”, mulutku sontak berteriak kaget. Kulihat Anta sudah berdiri tegap sambil tersenyum-senyum seperti orang gila didepanku. “Teteh Tatan kesayangan Anta selamat pagiiiii!!!!!”, dia kembali berteriak dengan gaya khasnya. Mataku kini mulai memasang ancang-ancang untuk melotot karena kesal, “Heh!!! Lihat nih airnya jadi tumpah semua!! Jangan ngagetin gitu dong!! Ga sopan banget sih! Udah ilang, tiba-tiba dateng ngagetin! Setan!”. Anta tertawa puas, “Ih angger si teteh mah, memang sengaja Anta ngagetin Teteh Tatan biar ngga ngantuk lagi hehehe. Teteh, jangan marah yah kemarin Anta Teh pergi ngga bilang-bilang ke Teteh… ada urusan keluarga mendadak di Subang”, ucapnya sambil menyodorkan saputangan untuk membersihkan sisa-sisa air di bajuku. Kutepis sapu tangan itu, “Halah alesan! Kupikir kau sudah yatim piatu ga punya sanak sodara. Jangan ngarang deh!”. Anta kini berlutut didepanku, kedua tangannya memegangi kakiku dengan erat. “Aih jangan marah atuh Teh, suwer Anta ketemu sama sodara Anta. Ya memang Anta yatim piatu, tapi Anta kan masih punya sodara disana. Maaf ya tetehku yang cantik dan judes… sok atuh Anta harus ngapain biar teteh ngga marah?”, matanya terlihat memohon sedang mulutnya merengek seperti anak kecil. Aku mulai terkekeh melihat tingkahnya, kutarik kedua tangannya sambil memeluknya dengan sangat keras. “Antaaaaaaaaaa!!!!!! Aku rindu sekali padamuuuu!!! Banyak hal yang terjadi kepadaku 2 hari iniiiii!!! Aku kangen sekaliiiii Antakuuuu”, aku berteriak-teriak seperti orang gila sedangkan Anta kini hanya terdiam kebingungan melihat reaksiku yang tak biasa.

Hari itu, aku dan Anta duduk berduaan di atas rooftop kamarku. Kuceritakan segala hal yang sejak kemarin ingin kuceritakan kepadanya. Tak henti tanganku terus memeluk tubuhnya, sementara dia hanya mengangguk-angguk mendengar semua ceritaku. Angin dan cuaca mendung kota Bandung hari ini membuat segalanya tampak dramatis, dua cangkir kopi susu yang 5 menit lalu masih mendidih pun kini terlihat sudah mendingin… dan mereka sama sekali tak kami sentuh. “Teh, kenapa harus pura-pura sih? Anta yakin si Pierre itu pasti punya alasan kenapa dia menghubungi teteh lagi. Ngga tau kenapa ya Teh, tapi perasaan Anta mah bilang kalau dia tuh sebenarnya ga ada apa-apa sama si cewe rambut panjang kaya kunti itu. Makanya waktu itu datang ke sini juga… Nah sekarang teteh pikir yah, kalau dia ga punya perasaan apa-apa ke teteh, ngapain atuh dia harus dateng kesini buat menjelaskan sesuatu ke teteh?”, mata Anta kini menerawang jauh ke perbukitan di depan kami sedangkan aku tertawa kecil mendengarnya menyebut kata kunti. “Dan Teh, untuk masalah Ibu… sebenarnya Anta ngga bisa terlalu masuk, karena ini masalah pribadi keluarga teteh. Tapi Teh, ini mah yah pemikiran dari Anta si anak yatim piatu ya Teh. Coba teteh posisikan diri teteh di Anta, dan rasakan bagaimana kerinduan Anta terhadap orangtua Anta yang udah ga ada. Ingat Teh, suatu saat Ayah dan Ibu teteh juga bakal ngga ada… dan saat itu terjadi, Anta yakin akan ada sebuah penyesalan di hati teteh kenapa dulu ngga begini kenapa dulu ngga begitu. Mumpung sekarang keduanya masih ada dan sehat wal afiat, coba robah keadaan kaku ini Teh… Mereka adalah harta teteh yang paling berharga, termasuk Teh Tiara yah. Dan sebenarnya hanya mereka yang bisa mengerti Teteh, jauh melebihi pengertian Anta ke Teteh. Saran Anta sekarang untuk kedua masalah teteh, coba buka mata, hati dan telinga teteh… jika semuanya terbuka, Anta yakin teteh Tatan akan melihat semua ini adalah sesuatu yang harus dipertahankan…”. Aku hanya terdiam meresapi semua kata-kata Anta yang terdengar begitu dewasa, sedikit perasaan malu terselip didalamnya. Namun kini yang kulakukan untuk menanggapi kata-katanya adalah mengangkat tanganku lalu memukulkannya dengan keras di punggungnya, “Sok Tau kamu!”. Anta menarik tubuhnya dari tubuhku, lalu tangannya menjambak rambutku dengan keras, “Dasar si batu!!!”. Kami berdua kembali berpelukan, tertawa mentertawakan diri kami sendiri. Aku bahagia berada disisi Anta, dan kulihat begitupun sebaliknya.

“Teh, coba pinjem HP teteh!!”, Anta tiba-tiba mendekatiku yang sejak tadi begitu asik membubuhkan warna pada lukisan baruku. Lukisan “Anta” yang sejak kemarin kugarap dengan sengaja kusembunyikan dulu, aku tak ingin Anta tahu bahwa aku melukis sosoknya. “Mau ngapain?!”, kugenggam telepon genggamku kini dengan sangat erat seolah tak ingin direbut olehnya. “Siniin ah! Mau nebeng sms, Anta ga ada pulsa!!”, dengan cekatan dia merebut telepon genggam itu. “Ah dasar orang susah! Pulsa aja ngga punya, huh!”, kupalingkan wajahku kembali berkonsentrasi pada kanvas. “Nih Teh, nuhun”, Anta menaruh telepon genggam itu kembali pada tempatnya sebelum akhirnya dia keluar meninggalkan studioku.

Telepon genggamku tiba-tiba berbunyi, tanda pesan masuk. “Antaaaa!!! Tuh ada balesan woy!”, aku berteriak-teriak memanggil Anta. Dia balas meneriakiku dari luar studio, “Tolong dibales tehhhh!”. Hatiku mulai merasa tak enak, pasti ada sesuatu yang ga beres nih. Dengan cepat kuambil telepon genggamku, lalu mulai membaca pesan itu.

Pesan Baru : Manusia Albino
I know its you Tania, saya ingin bertemu kamu segera. Bisakah?

Mulutku berteriak kencang, “Antaaaaaaaaaaaaaa!!!!!!!!!!”. Samar kudengar balasan dari teriakanku diluar sana, “Hahahahahahahahahaha sukurinnnnn!!!!”. Tanganku bergetar hebat membaca pesan itu, konsentrasiku pada lukisan pun buyar seketika. Anta sialan itu telah mengirimkan sebuah pesar untuk Pierre, tanganku sibuk membaca pesan apa yang sudah dikirim olehnya.

Pesan terkirim : Manusia Albino
Hai Pierre, maafkan saya… Betul ini nomor saya… Tania.

Tanganku masih bergetar, namun memberanikan diri untuk menekan tombol balas.

Kepada : Manusia Albino
Halo Pierre, ya ini Tania. Buat apa bertemu saya?

Terkirim.

Pesan baru : Manusia Albino
there’s something to explained.

Balas kepada : Manusia Albino
See you at 7 pm, in my studio.

Tanganku kini mulai berkeringat, tak percaya atas apa yang baru saja kulakukan. “Gila gila gila!!!! Ngapainnnnnn coba Taniaaaa?!?!?! Akkkkkks!!!! Harusnya ga usah dibales gituuuuuu aaaaaaaa!!!!!!!! Sialannnn!!!”, aku berteriak-teriak sendirian seperti orang gila. “Antaaaaaaa sini heyyyyy Antaaaaaa Anak Ontaaa!!!”, tiba-tiba aku berlarian sambil terus berteriak-teriak keluar studio lalu menuruni anak tangga dengan begitu cepat. Kulihat ada Tiara dan Ibu disana dibawah sana sedang duduk berdua, mereka tercengang melihatku berteriak-teriak. “Sadar Tania!!!”, Ibu meneriakiku. Tak kugubris teriakannya karena kini aku mulai membelokkan tubuhku ke arah paviliun Anta. “Antaaaaaaaa Antaaaaaaa Antaaaaaaaaaa Antaaaaaaaaaaa”, kugedor-gedor pintu paviliunnya dengan semangat 45. Anak itu membukakan pintu kamarnya dengan wajah penuh senyuman, aku yang sejak tadi tak sabar menemuinya segera berhamburan masuk ke dalam paviliun itu. “Antaaaa kamu gila kamu gilaaaa!!! Tapi aku suka kegilaanmu!”, kupeluk tubuhnya dengan penuh kegembiraan. Anta sedikit mengaduh karenanya. “Aduh Teh ih sakiiit…”, dia mendorong tubuhku pelan. “Terimakasih yah Anta, aku cukup senang… hehehe. Tapi aku harus bagaimana? Aku harus pake apa Anta??? Huhu aku tegang sekali ini!”, kali ini kugoyang-goyangkan bahunya dengan keras. “Teh… Teh… sadar ih jangan kaya nugelo!!!”, Anta menepis tanganku dari bahunya. Aku tertawa-tawa sendirian, sementara Anta tak sedikitpun tertawa.

Entah dari mana datangnya dia, karena kini disebelah Anta tiba-tiba saja berdiri seorang perempuan kecil berkerudung, wajahnya cukup cantik namun terlihat sangat lugu. “Siapa dia?!”, tawaku terhenti karenanya. Wajah Anta tampak pucat pasi melihat reaksiku. “Oh Teh, mmmh kenalin ini Sukma. Mmmh… Teh, dia tunangan Anta…”. Bagai petir disiang bolong, kata-kata dari mulut Anta yang baru saja kudengar berhasil membuatku mematung hingga beberapa detik, mataku kembali melotot, emosiku terbakar cepat…

Segala kegembiraan yang baru saja kurasakan mendadak lenyap. Terimakasih Anta atas kata-kata yang kauucapkan.


Bersambung.




17 comments:

  1. Teteh,cepetan bikinin terusannya atuh,penasaran bgt,,hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. mau dibawa kemana cerita ini? bisa banget bikin penasaranya teh.

    ReplyDelete
  3. tania sia alien nyasar..hahahaha
    orang aneh tingkat dewa apa ya :P
    keren teh nduuut! terusiiiiiiiiiiiiiiiinnnnn! ;)

    ReplyDelete
  4. Wahh makin seru aja dari part ke part.. tp teh ini cerita fiktif atau true story??nuhun

    ReplyDelete
  5. asli lah teh ceritanya nyebelin. bikin penasaran

    ReplyDelete
  6. tetehhhhhh terusin ceritanya ihhh!!!!!

    ReplyDelete
  7. Tehh aduhh ituu crtanyaa biking ganahann .. Azzzz

    ReplyDelete
  8. Teh lanjutin bizzza keleeeuusss tehhhhhhhh.... Penasaaaaaaaraaaaaaaaaannnnnnnnnn :|

    ReplyDelete
  9. Cerita mistery bukan sih...???
    Sprti yg biasa teh risa bikin!!!

    ReplyDelete
  10. wwwooowwww...gk kebayang cerita nya bisa nyampai kesini. wwooww...wooowww...wooowwww...wooowww.......

    ReplyDelete
  11. aaaaa edun pisan ieu ceritanyaa~~ :D

    ReplyDelete
  12. Sempet berkaca2 tadi teh.., pas bagian akhirnya nyesek. :(

    ReplyDelete