Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Sunday, August 18, 2013

ANANTA PRAHADI PART 5


“Bi Eha, Bibi liat Anta?”, waktu menunjukkan pukul 8 pagi dan Bi Eha tampak kaget melihat penampakanku di meja makan pagi itu. “Mmmh, belum lihat mbak… mungkin masih tidur di kamarnya”, Bi Eha tampak canggung. “Anu Mbak Tania, Bi Eha belum sempat bikinin Mbak kerak nasi… kan biasanya Mbak Tania bangun jam 12 siang. Mbak Tania mau nunggu ngga? Biar Bibi bikinin dulu kerak nasinya?”, dengan sedikit gugup Bi Eha menanyaiku. Seperti biasa, mulutku menjawabnya dengan sangat ketus. “Ga usah! Emangnya mukaku ini keliatan kaya orang kelaparan yah?! Kalau biasa ngasih aku makan jam 12 ya udah jam 12 aja nanti, ga usah sok baik deh! Bibi aja sana yang makan!! Lagian, ko kayanya sekarang badan Bibi keliatan kurus?! Gemukin lagi ah Bi! Aku ga suka liatnya!”, sambil berlalu kulihat wajah Bi Eha tampak melongo kaget melihatku berbicara seperti itu. Sejak pertama kali bertemu Bi Eha, mulutku tak pernah berkata manis kepadanya. Bisa jadi, kata-kataku barusan merupakan kalimat termanis yang pernah didengarnya. Entah kenapa pagi ini aku lebih perhatian padanya, mungkin karena sms semalam… entahlah.

Kulangkahkan kakiku menuju paviliun Anta, kepalaku melongok kesana-kemari mencoba menembus isi jendela kamarnya. “Antaaaaa… woyyy bangunnnnn!!!! Antaaa bangunnnnn!!!”, mulutku berteriak-teriak meneriakkan namanya. Tak ada jawaban, hening seperti tak berpenghuni. Sepertinya Anta sudah pergi dan beraktivitas sejak tadi pagi, tumben dia tak mengunjungi kamarku… padahal biasanya dia selalu meminta ijinku jika akan bepergian kemana saja. Meski aku sedang terlelap pulas, biasanya tanpa ragu dia akan membangunkanku demi mendapat ijin bepergian dariku. Kemana dia ya? 

Akhirnya kuputuskan untuk kembali menemui Bi Eha yang masih asyik berkutat dengan menu sarapan pagi ini. “Bi!! Anta ngga ada di kamarnya ah! Kemana dia Bi? Masa Bibi ga lihat dia sih tadi pagi?”, dengan kening yang dipenuhi kerutan kutanyai Bi Eha. “Suwer neng, Bi Eha ngga liat Mas Anta sejak tadi pagi… eh malahan sejak subuh neng! Kan tadi Bibi udah beres-beresin rumah sejak jam 5 pagi!”, Bi Eha tampak bersemangat membela dirinya. “Terus Anta kemana dong?!”, sambil berlalu kugumamkan pertanyaan itu. Bi Eha berceletuk pelan, “Ke… rupuk”. Kupalingkan wajahku cepat sambil memelototinya, lalu kuacungkan kepalan tanganku ke arahnya, “HEH!”.


Aku tengah berdiri diatas hamparan rumput yang luas, menghirup udara yang begitu dingin menusuk di kulit. Kicauan burung terdengar riang disekelilingku, dimanakah aku ini? Aku begitu merindukan suasana seperti ini. Bandung kota tempatku tinggal tak lagi punya tempat seperti ini, terlalu banyak bangunan yang menyita hamparan rumput hingga tak pernah lagi kurasakan udara sesegar kali ini. Kubiarkan lamunanku menguasai diriku yang sedang begitu bersemangat, menatap kosong kemana saja tanpa menyadari ada sebuah titik berwarna putih jauh diujung sana. Lama kelamaan akhirnya mata ini menangkapnya juga, terus memicing menatap titik itu yang kian lama kian membesar. Titik putih itu mulai membentuk sebuah sosok, mataku terus menerus berusaha menelanjangi sosok itu. Hatiku mulai resah, karena sosok itu semakin dekat, menuju kearahku. Aku tak percaya atas apa yang kini sedang berdiri begitu dekat didepanku, mataku tak henti berkedip mencoba menjawab tanda tanya besar dihatiku. Apakah ini mimpi?

Tak perlu menunggu lama atas jawaban itu, karena tiba-tiba sosok itu menjawabnya. “Bukan Tania, ini bukan mimpi…”. Sosok itu adalah Pierre, laki-laki yang benar-benar mengacaukan hidupku belakangan ini. Laki-laki yang paling kubenci sekaligus kusukai. Wajahku tersipu malu mendengarnya berkata seperti itu, jelas ini tak seperti biasanya. Pelan dan terus tersenyum aku membalas jawabannya, “Ini lebih dari sekadar mimpi”. Pierre tersenyum begitu indah, kulihat sebuah kebahagiaan dimatanya yang semakin berseri. Tanpa berkata apa-apa lagi dia mendekatiku seolah hendak memelukku, tapi bukan itu yang dia lakukan. Tangan kanannya tiba-tiba menarik sebelah tanganku, mengajakku pergi bersamanya. Aku tak kuasa untuk menolaknya, asalkan bersamanya aku rela dibawa kemanapun kakinya melangkah. Aku bermetamorfosa menjadi Tania yang berbeda jika didekatnya, dan aku mensyukuri itu. Pierre telah mengubah segalanya, bahkan aku berhasil melupakan amarah dan kesalku kepadanya… yang kuinginkan sekarang adalah melangkah bersamanya.

Entah kemana dia akan menuju, tangannya masih begiu erat menggenggamku. Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar begitu jelas ditelinga, “Mbaaaaak… Mbak Tania… Mbaaaak!!!!”. Kutolehkan kepalaku ke arah suara itu berasal, kuhentikan langkahku karenanya. “Mbak Taniaaaa bangunnnn!!!! Ibu nyariin Mbak tuh!! Mbak Mbak Mbak Mbak bangun bangun bangun bangun!!!!”. Mataku tiba-tiba terbuka lebar, karena suara itu benar-benar pekak ditelingaku. “Setan!! Apa-apaan sih kamu?! Bisa lebih sopan kan kalau bangunin orang?!”, kupelototi adikku Tiara yang kini tengah berjalan-jalan mengelilingi kamarku. “Iya Mbak, maaf. Tapi aku udah bangunin Mbak daritadi loh, susahnya bukan main. Bangun gih Mbak, Ibu nungguin Mbak di kamarnya. Katanya sih penting banget…”, kulihat Tiara tampak sungkan menatap wajahku karena kini dia mencoba mengalihkan pandangannya dengan cara melongok ke arah luar jendela kamarku. “Aku ngga suka cara kamu Tiara!! Kalau kamu berani kaya gini lagi, aku akan sangat marah!! Pergi kamu dari kamar ini!!”, aku berteriak-teriak seperti orang gila kini. Tiara tampak cemberut, mulutnya bersungut-sungut kesal. Sambil meninggalkan kamarku, kudengar dia meracau pelan. “Ya Alloh sembuhkan penyakit Mbakku ini…”

Sambil malas-malasan kuangkat juga tubuhku dari atas tempat tidur. Rupanya aku melanjutkan tidurku tadi pagi, tak terasa kini waktu menunjukkan pukul 5 sore. Perasaanku sore itu begitu campur aduk, disatu sisi aku bahagia bisa bertemu Pierre dan meyakini bahwa itu bukanlah mimpi. Namun disisi lain aku harus menerima kalau ternyata itu hanyalah mimpi. Tanpa mandi, tanpa berganti pakaian, kulangkahkan kakiku menuju kamar Ibu yang katanya ingin bertemu denganku. Selama hidup satu atap dengan keluargaku, harus kuakui aku hampir tak pernah bertatap muka dengan mereka. Hanya Anta dan Bi Eha yang sering berkomunikasi denganku, sementara yang lainnya tidak. Sepertinya mereka memang enggan berbicara denganku meski mereka adalah Ibu, Ayah, dan Adikku sendiri. Tanpa mengetuk pintu aku menerobos masuk ke dalam kamar tidur Ibuku, kulihat dia sedang duduk sendiri di beranda kamarnya. “Halo Bu, ada apa? Lain kali jangan ganggu aku tidur ya. Ayo cepat ada apa Bu?”, kujatuhkan tubuhku diatas tempat tidur. “Kebiasaan, anak perempuan jangan tidur melulu nanti susah dapet rejeki!”, Ibu berdiri meninggalkan kursinya lalu mendekatiku. “Pekerjaanku membutuhkan banyak waktu untuk tidur, dan uangku lebih banyak daripada orang-orang yang waktu tidurnya sedikit karena dipakai untuk banting tulang cari uang”, kini kupejamkan mataku. “Jangan begitu Tan, kalau kamu lebih teratur pasti uang dan rejekimu juga lebih banyak daripada sekarang”, suara Ibu mulai terdengar kesal. “Buat apa banyak uang? Gaya hidupku tak seperti kebanyakan orang. Tanpa uang pun sepertinya aku akan tetap hidup bahagia. Hidup normal dengan caraku”, kubuka kedua mataku dan seharusnya Ibu tahu kalau emosiku sekarang mulai tersulut. “Memang tak ada habisnya berbicara denganmu Tan, kamu orang yang selalu merasa benar dan sangat egois. Masih untung si Anta itu mau bekerjasama denganmu, Ibu ragu apakah ada laki-laki yang mau jadi suamimu! Yang mau jadi suamimu ya paling-paling si Anta itu, yang seumur hidup akan terus kamu injak-injak”, tanpa menatapku mulut Ibu terus bergerak kesana-kemari mengeluarkan bunyi-bunyian yang semakin memancing rasa marahku. “Demi Alam Semesta dan segala isinya maafkan Ibuku yang berkata asal seperti tak pernah belajar! Ibu! Jadi maksud Ibu itu apa? Mau Ibu itu apa?! Ibu berbicara seolah tak pernah mengenalku!!! Aku ini anakmu! Dan kau harusnya jadi orang paling mengerti aku! Ibu mau aku pergi dari rumah ini?! Baik kalau memang itu mau Ibu!!”, emosiku kini memuncak. “Astagfirullah Tania! Jangan berkata seperti itu pada Ibu! Ibu tak pernah bermaksud seperti itu!! Tolong jangan seperti itu Tania…”, Ibu tiba-tiba saja meraung, menangis, dan terjatuh. “IBUUUUUU!!!!!”, aku berteriak kencang. Aku yang begitu marah kini mulai panik, walau dianggap sebagai wanita aneh… namun aku tak pernah kuat melihat orang menangis, terlebih orang itu adalah Ibuku sendiri. Kuangkat tubuhnya, dan kini tangannya merangkul tubuhku begitu erat… memelukku seakan melarangku untuk melakukan hal bodoh. “Tania, maafkan Ibu… Tolong jangan berpikir untuk pergi dari rumah ini. Ibu bersyukur masih tahu keberadaanmu meskipun kita tak pernah saling bicara. Ibu merasa tenang berada satu atap denganumu.”, tanpa berhenti menangis Ibu memelukku semakin erat. “Iya Bu, santai aja”, meski khawatir pada keadaannya aku masih tetap saja ketus.

Ibu kini terbaring diatas tempat tidurnya, disampingnya ada aku dan Tiara yang tadi tiba-tiba menerobos masuk ke dalam kamar Ibu saat mendengar teriakanku. Tanpa ragu aku mulai kembali menanyai Ibu, “Bu, sebenarnya maksud Ibu menemuiku itu untuk apa sih?”. Ibu tersenyum menatapku, “Ibu kangen kamu Tania, rasanya sudah sangat lama tak banyak berbicara denganmu”. Kupalingkan wajahku ke arah beranda, “Oh…”. Tiara tiba-tiba ikut berbicara, “Iya Mbak, kita semua kangen sama Mbak. Ayah juga semalam bilang gitu. Kita jarang berbicara kan Mbak? Dan sedihnya, kami hanya mendengar teriakan-teriakan Mbak saja diatas sana, atau suara pecahan benda-benda yang kami tak pernah tahu apa itu”. Kupalingkan sedikit wajahku pada Tiara, “Sebenarnya kalian tinggal datang dan menanyaiku, jangan terlalu drama lah”. Ibu memegangi tangan Tiara, aku tahu betul maksudnya adalah agar Tiara tak lagi berbicara mendebatku. “Seharusnya Ibu tak seperti ini, maafkan Ibu ya Tan. Karaktermu memang seperti ini sejak dulu, dan Ibu harus menerima itu. Termasuk kamu juga Tiara, Mbakmu ini memang begini”, kepala Ibu mengangguk sambil tak henti menatap Tiara, Tiara membalasnya dengan senyuman. “Bu, memang aku ini kenapa? Apakah aku ini kurang waras dimata kalian?”, kuturunkan nada bicaraku berusaha membuat percakapan Ibu dan anak ini menjadi lebih kondusif. “Kamu sangat waras, bahkan mungkin lebih waras daripada kami. Hanya saja kamu terlalu istimewa, hingga terkadang kami yang biasa saja tak bisa memahami sebenarnya siapa kamu, apa maumu”, Ibu tak henti tersenyum menatapku. “Lalu aku harus bersikap bagaimana agar kalian bisa memahamiku?”, kembali kubertanya. “Mungkin kau harus mencari seseorang yang bisa menyeimbangkan keistimewaanmu, membuatmu lebih dimengerti oleh banyak orang. Menambal kekuranganmu dengan kelebihannya, begitupula sebaliknya…”, wajah Ibu kini tampak lebih serius, diikuti oleh Tiara yang kini mengangguk-angguk seolah paham betul apa yang sedang Ibu bicarakan. Kutatap wajah mereka satu persatu, wajah Ibuku… lalu kemudian wajah adikku, Tiara. “Kalau menurutmu seperti itu Bu, dan kau menganggap ucapan Ibu benar, Tiara. Maka kalian telah membohongiku. Ternyata aku tak seistimewa itu. Jika aku seorang yang istimewa, tentu aku tak punya kekurangan. Dan tentu saja, aku tak perlu penambal yang kubutuhkan untuk menambal segala kekuranganku. Ibu, Tiara, kalian tahu apa yang kubutuhkan? Yang kubutuhkan adalah orang yang sama istimewa sepertiku. Bukan sebagai penambal kekurangan, tapi dia dan aku akan menjadi dua orang istimewa yang membuat sebuah hidup yang jauh lebih istimewa daripada orang-orang pada umumnya. Aku bukan orang setengah, dan aku tak perlu laki-laki setengah yang akan membuat hidup kami menjadi 1 jika bersatu. Aku adalah satu, dan aku akan bersatu dengan orang berangka satu yang akan membuat kami menjadi 2 jika disatukan. There is no Two become One, There’s Two become Two”, aku berdiri santai lalu mulai melangkahkan kakiku keluar dari kamar Ibu. Masih jelas kuingat bagaimana wajah Ibu dan Tiara yang tampak melongo kaget mendengar kata-kata yang baru saja keluar dari mulutku.

“Maafkan aku Bu, aku sebenarnya tidak ingin menyakiti perasaanmu. Tapi beginilah aku, Ibu tahu aku memang seperti ini sejak dulu… dan hati kecilku selalu berharap seandainya Ibuku bisa memahamiku lebih dari siapapun.”


Bersambung.


15 comments:

  1. akhirnyaaa kalimat2 teh risa yg bikin saya kepincut sama tulisan2 teteh kembali juga :)) ayo teteh d posting cepetan atuh lanjutanny

    ReplyDelete
    Replies
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. astaga,, tania, karaktermu sungguh-sungguh menyebalkan. Hebat banget keluarganya dan Anta ya.. ayo teh, lanjut :D

    ReplyDelete
  3. aaaaa jatuh cinta sama teh risaa
    lanjutannya teh ....

    ReplyDelete
  4. dan ternyata serumah sama orang tuanya...
    kirain cuma tinggal bertiga anta sama bi eha..

    ReplyDelete
  5. ih si tania pikasebeleun, tapi rame.. lanjut teh :)

    ReplyDelete
  6. antanya ngilang di part ini. lanjuuut

    ReplyDelete
  7. Mahluk yang anehh. tp seruu.. lanjut teteh geulis

    ReplyDelete