Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Wednesday, August 7, 2013

ANANTA PRAHADI PART 3



“Mba Tatan, siapa itu yang kemarin datang? Ganteng sekali mba, Bi Eha baru loh liat laki-laki seganteng itu! Kirain cuman ada di tipi-tipi aja yang kaya gitu teh mba, ga kuat Bi Eha mah liatnya…”, Bi Eha tiba-tiba muncul dikamarku dan mulai membukakan tirai kamar satu-persatu, sinar matahari mulai mengganggu mataku. “Ga kuat kenapa atuh Bi Eha teh?”, Anta menyusul dibelakangnya. “Ga kuat pengen ngawin!”, suara tawa mereka berdua mulai bergelegar membuat ribut kamarku. “DIAMMMMMM KALIAN SEMUA BERISIIIIIKKKKKKKKK!!!”, aku berteriak-teriak sambil menutup kepalaku dengan bantal. “Eh ada macan ngamuk Bi, sana Bi Eha pergi biar saya yang menaklukan si macan ngamuk!”, Anta memberi kode pada Bi Eha disusul gerakan secepat kilat Bi Eha meninggalkan kamar yang tampak kaget mendengar teriakkan marahku pagi itu. Anta sekarang tampak tersenyum sumringah disisi tempat tidurku, “Selamat pagi teteh Tatan yang cantik, baik budi, ramah, dan gemar berteriak… bangun yu! Pagi ini saya mau ajak Teteh ketemu Pierre si bule kasep itu, dia mau presentasi galerinya yang di swiss itu teh! Yu?!”. Mataku melotot hampir keluar, “Apa?! Ketemu si Albino itu lagi? Ngga mau!!! Aku malas!”. Anta yang kurang ajar mulai menariki selimut yang sejak tadi menutupi tubuhku, “Eh ari si teteh jangan begitu, kita harus menyambut rejeki kita dengan bahagia dan lapang dada. Swiss teh!! Swiss!! Abis itu kita kan bisa jalan-jalan!! Ke itutuh mmmh ke mana? Eta geuning yang tempat drakula tea. Hayohhhh!! Teteh Tatan sudah berjanji sama Anta mau bawa Anta kesana!”, Anta terus berteriak dengan penuh semangat. Jika sudah begitu, aku tak bisa menolaknya. Anta berhasil membangunkanku pagi itu dalam keadaan kesal dan marah, namun tetap saja tubuhku bergerak bangun dan bersiap atas keinginannya. Mungkin hanya Anta yang bisa membuatku seperti ini, sampai detik ini aku menganggapnya sebagai manusia ajaib yang bisa menaklukanku si macan betina.

“Anta, kenapa sih kamu ngotot banget mempertemukan aku dengan si Albino itu?”, kukemudikan setir mobilku menuju tempat kami janjian dengan Pierre. “Teh, jangan sembarangan menyebut nama orang. Namanya Pierre, bukan Albino!”, wajah Anta kini tampak serius menatapku. “Iya, iya sorry… Pierre deh bukan si Albino. Kenapa sih Ta? Kenapa kamu semangat banget sama proyek dia?”, dengan sedikit kesal kutanyakan kembali pertanyaan itu. “Gini Teh, sebagai menejer marketing Teteh… menurut Anta sekarang ini adalah waktu yang tepat untuk Teteh melebarkan sayap sebagai pelukis yang berbakat. Selama ini meskipun karya teteh sudah cukup mahal dan diminati orang seindonesia, tapi kan belum pernah ada peluang yang pas untuk membawa karya-karya teteh ini ke dunia internasional? Nah, sekarang si Pierre Pierre ini memberikan celah yang bagus untuk Teteh menuju kesana. Anta juga pilih-pilih atuh teh, menentukan kira-kira cocok atau ngga dengan teteh. Kemarin-kemarin juga kan ada peluang ke Singapur, Cina, Seattle, semuanya Anta tolak karena kerjasamanya pasti ga akan sesuai dengan teteh Tatan. Si bule ini orangnya sangat baik, dan kerjasama yang ditawarkannya juga oke! Makanya, sok atuh teh agak dibuka matanya lebar-lebar, coba kenali si bule ini karena dia memang orang yang sangat baik!”, Anta tersenyum lebar menatapku dari kursinya. “Hmmm… cukup rasional. Tapi ini keinginanmu yah Anta! Aku hanya ikut peranmu saja, kalau bukan karena kamu… aku malas sekali harus sampai seperti ini!”, tiba-tiba wajah Anta yang pucat pasi saat di Rumah Sakit melintas dikepalaku, perasaan kasihan terhadapnya muncul begitu cepat. “Iya teteh, pokonya teteh mah ikutin aja jalan ceritanya yah! Insyaallah barokah!”, Anta mulai tertawa senang. Tanganku mencubit pergelangan tangannya dengan sangat keras hingga dia mengaduh kesakitan, hatiku terasa tenang melihatnya bisa tertawa dan mengaduh seperti hari ini. Semoga selamanya bisa seperti itu.

Si Albino itu tengah duduk di sebuah kursi yang menghadap langsung ke pemandangan hutan, sebenarnya memang tempatnya duduk adalah spot favoritku di restoran hotel ini. Aku sering mengunjungi tempat ini untuk sekadar makan malam bersama keluargaku ataupun Anta, dan si Albino ini ternyata sudah 1 minggu menginap di hotel ini… katanya sih tujuannya mengunjungi kota ini hanyalah agar bisa bertemu denganku. “Halo Pierre, kami datang tepat waktu kan?”, Anta menyapanya lebih dulu disusul kemudian aku yang langsung menarik kursi disebelah si Albino. “Hai!”, kusunggingkan senyum seadanya. Si Albino memalingkan wajahnya kepadaku sambil melepas kacamata hitam yang sejak tadi dipakainya, “Hai! Selamat pagi Tania!! Ka..mu cantik dipagi ini…”. Entah kenapa tiba-tiba aku merasa malu dengan sapaannya barusan, terlebih kini wajahnya benar-benar dekat dengan wajahku dan kini aku bisa melihat bagaimana tampannya laki-laki ini. Astaga! Sepertinya baru pertama kali ini dalam hidupku menyebut seorang laki-laki dengan sebutan tampan, meski dalam hati sekalipun. Namun reaksiku selalu diluar dugaan, karena kini sebuah sendok makan sudah berada ditangan kananku dan kulemparkan tepat menyentuh kepalanya dengan cukup keras hingga dia terlihat kaget dan kesakitan, “Kalau bicara jangan dekat-dekat yah! Tidak sopan!!! Aku tidak suka laki-laki rese penggoda! Dasar Albino!”. Entah kenapa aku harus bersikap seperti itu, hati keclku merasa malu melakukannya karena sebenarnya aku cukup senang melihat wajahnya begitu dekat dengan wajahku. “Hush!!! Tuh geura si teh Tatan mah, bener-bener kelakuannya teh kaya binatang! Udah ah jangan malu-maluin Anta atuh Teh! Kan tadi janji mau bersikap baik! Wajar atuh da dia mah Bule, mungkin Bule mah emang gitu cara ngobrolnya!”, Anta memarahiku yang kini hanya tertunduk diam. “Saya tidak apa-apa kok, sakit sedikit. Maafkan saya kalau tidak sopan Tania, mohon maaf sepenuh hati”, si Albino tersenyum menatapku. Benar kata Bi Eha, wajahnya begitu tampan… bagai dipahat malaikat. Seberkas senyum terukir lagi diwajahku, aku tak tahu kenapa padanya aku jadi begitu murah senyum?

Pertemuan dengan si Albino hari ini cukup membuatku berkesan. Benar kata Anta, penawaran kerjasama yang ditawarkan olehnya memang tidak merugikanku, bahkan sangat menguntungkan aku. Terlebih lagi, dia bersedia menerima karya-karya yang memang kupilih sendiri untuk galerinya. Sepanjang sore  hingga malam tanpa sadar aku terus melamunkan sosok si Albino, selain tampan… dia juga sangat ramah, dan selera humornya cukup bagus, tidak menyebalkan seperti laki-laki pada umumnya. “Teh, teteh lagi seneng yah?”, Anta yang sejak tadi menemaniku melamun menatap langit-langit kamar mulai berbicara. “Ngga, biasa aja! Kenapa emang?”, tanpa menatapnya aku terus memandangi langit-langit kamar dengan posisi terlentang diatas tempat tidur. “Malam ini ini teteh keliatan sumringah pisan, beda dari biasanya. Lagi mikirin apa sih?”, Anta mulai menanyaiku. “Mikirin kamu dong! Siapa lagi?”, aku tertawa ringan. “Tah kan, ini teh bener-bener ga biasa loh. Selama mengenal teteh belum pernah Anta ngeliat teteh kaya gini”, Anta mulai bangun dari posisi terlentangnya. Aku masih saja tak mau bergerak dari posisi terlentangku, “Anta… si Albino itu, lumayan juga yah…”. Aku tak tahu apa yang terjadi setelah itu karena Anta tak lagi bersuara, sedangkan aku sepertinya tertidur sangat lelap. Kepala dan mimpiku malam itu dipenuhi sosok-sosok si Albino yang cukup mengusik perhatianku…

“Selamat pagiii Anta!!!! Hey bangun hey bangun bangun bangunnnn!!!!”, kurecoki tempat tidur Anta pagi itu. Entah setan apa yang sedang merasukiku, karena sudah sejak pukul 7 tadi aku terbangun dan memberanikan diri untuk mandi dengan menggunakan air dingin, tak pernah kurasakan sensasi seperti ini sebelumnya! Luar biasa menyenangkan. Anta tampak bingung melihat kehadiranku yang tiba-tiba, “Teteh, ari teteh kenapa? Ih aneh kaya nugelo. Mau apa teteh teh kesini?”. Kutarik selimut yang menutupi kaki Anta, “Bangun!!! Temani aku yu?! Aku ingin ketemu si Albino! Hehehe…”, kututupi wajah dengan kedua tanganku. “Ya ampunnnn subhanallah alhamdulillah wasyukurillahh!!! Terimakasih ya Alah ternyata si teteh Tatan teh wanita normal, kirain selama ini dia teh kantong keresek yang kelakuannya luar biasa dan ga suka laki-laki!”, Anta tiba-tiba loncat dari tempat tidurnya lalu duduk dibawah tempat tidurnya dengan posisi kedua tangannya mengarah ke atas seolah sedang berbicara kepada Tuhan. “Heh berisik!!! Cepetan mandi dan cari tau dimana si Albino sekarang! Bilang aja kamu ngajak dia sarapan! Kamu ya! Bukan aku!”. Entah kenapa aku merasa begitu bahagia pagi itu, senang rasanya membayangkan akan bertemu Pierre lagi… mmmmh, bahkan aku lupa dengan sebutan Albinonya. Sepertinya aku sedang jatuh cinta, belum pernah sebelumnya kurasakan rasa seperti ini, begitu cepat timbul dan tumbuh di dalam hatiku, meledak-ledak dan tak terkendali… aku tak pernah mengalami sensasi seperti ini.

“Aduh teh, si Pierre ngga ngebales-bales sms Anta. Kumaha atuh? Mungkin dia masih tidur teh jam segini mah, kan kita ngga janjian sama dia buat ketemu lagi hari ini teh! Kumaha atuh yah?”, Anta tampak kebingungan. Aku tersenyum sangat lebar, “Kita datangi aja kamarnya yu? Beliin makanan aja buat sarapannya dia… gimana?”. Anta tampak melotot mendengar apa yang baru saja terucap dari bibirku, “Ih takut gini ih sama teteh Tatan yang sekarang, kaya kucing yang lagi kumincir (birahi). Beneran ini teh Teteh Tatanku? Bukan ucing gering kan?”. “Euh!!! Cepat ah jangan banyak bacot, yu kita cari sarapan buat Pierre…”, wajahku tertunduk malu menyebut namanya. Anta kembali bereaksi, “Pierre pierre ah! Si Albino biasanya juga!!!”.

Aku dan Anta sudah berdiri di depan kamarnya, dengan sebungkus kupat tahu ditanganku. Entah kenapa harus kupatahu yang kupilih, Anta yang memilihnya. Karena katanya, bule pasti jarang makan kupat tahu, Aku sih menurut saja. Sudah 5 menit ini Anta menekan bel kamarnya, namun tetap tak ada jawaban dari dalam sana. “Bener ga sih ini kamarnya? Jangan-jangan dari tadi kita berdiri di depan kamar kosong?!”, aku mulai kesal. “Ih bener Teteh, nih kan lihat kartu namanya! Kamar 315 kan bener?”, Anta menunjukan tulisan di balik kartu nama Pierre. “Atau mungkin dia udah pulang yah Anta?”, kutekuk wajahku kebawah… sedikit perasaan kecewa muncul. Sekarang sudah hampir 15 menit berlalu dan masih saja belum ada jawaban dari dalam kamar itu. Kesabaranku mulai habis, akhirnya kuputuskan untuk menggantungkan bungkusan kupat tahu itu pada gagang pintu kamar no 315. Aku tak peduli dia ada atau tidak, yang pasti pagi ini aku cukup kecewa karena tak berhasil bertemu dengannya. Kutarik tangan Anta dengan keras, “Pulang yu! Cintaku bertepuk sebelah tangan! Setan! Albino setan! Bule setan!”. Anta menurut saja ketika tangannya kutarik dengan kasar, mulutnya tampak mengumpat kearahku, “Si macan jadi deui... heuh”. Kami terus berjalan melewati lorong-lorong kamar, kamar 315 memang berada agak jauh dari posisi Lift.  Dengan serampangan aku terus berjalan cepat, sekali-kali kutendang tempat sampah yang ada di pojok-pojok lorong kamar. Saat berada di depan lift, kutekan-tekan semua tombolnya dengan kasar. Anta hanya terdiam memaku disampingku, dia tahu aku sedang sangat kesal dan tak bisa diganggu. Pintu lift terbuka, saat hendak kulangkahkan kakiku kedalamnya… Anta menarik tanganku dengan keras agar mundur. Aku yang sejak tadi menunduk kesal mulai marah dan memalingkan wajahku pada Anta, namun Anta memberiku isyarat agar menatap lurus kedalam lift. Saat itulah kulihat Pierre ada disana, sedang tak sadar dengan keberadaan kami yang tengah berdiri didepannya. Disanalah kulihat Pierre sedang memelukki seorang perempuan muda, dan perempuan itu membalas pelukannya dengan sangat kencang.

Untuk beberapa detik aku hanya terpaku, namun selanjutnya emosi menguasai kepalaku dengan sangat cepat. Mulutku meneriakkan satu kata, “BERENGSEKK!!!!”. Lalu mulai membalikkan badanku sambil berlari menuju tangga darurat…

Aku tak peduli pada siapapun yang mungkin melihatku seperti orang gila pagi itu. Sambil berlari menapaki tangga-tangga darurat, air mataku berjatuhan hebat seperti hujan. Hatiku terasa sangat sakit…

Bersambung.





8 comments:

  1. Replies
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. Duh... Nungguin part-part selanjutnya asli bikin geregetan euy! Semangat mbak ris!! =D

    ReplyDelete
  3. Part selanjutnya mba.part selanjutnyaaaaaa...... :D

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya Kehidupan Seperti itu punya Tujuan dan hubungannya dengan Filsafat KeTuhanan itu apa?? :(

    ReplyDelete