Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, July 25, 2013

ANANTA PRAHADI PART 2






Walaupun sebenarnya Anta yang dirawat di Rumah Sakit, tapi rasanya seperti aku yang  baru saja sakit. Sepulangnya Anta ke rumah, kini giliran badanku yang merasa remuk redam… mungkin karena berminggu-minggu menemani Anta di Rumah Sakit dengan ruang yang sangat terbatas, kamar, wc, lalu kemudian kantin. “Hoammmm aku ngantuk sekali, Bi Eha… tolong liatin Anta di kamarnya ya! Siapa tau dia butuh sesuatu. Aku mau keatas! Ngantuk!”, kulangkahkan kakiku menaiki anak tangga menuju kamar. “ Beres Mba, laksanakan! Tapi Mba Tania, jangan lupa makan ya… Bi Eha takut nanti malah Mba Tania yang sakit”, Bi Eha menimpali perkataanku. “Berisik!”, hanya itu yang keluar dari mulutku.

Sudah beberapa hari ini Anta pulang ke rumah, Dokter mengatakan kondisinya sudah lumayan membaik… hanya saja semua orang di sekitarnya harus ekstra hati-hati menghadapi Anta yang cedera otaknya masih belum sembuh secara total. Kuperintahkan seisi rumah ini untuk mengingat hal itu, tak satupun orang kubiarkan menggerecoki Anta yang kini jadi semakin pendiam. Heran, anak itu benar-benar berubah… mulutnya tak lagi bawel, sikapnya tak seceria dulu, tapi tak mengapa… mungkin lama kelamaan dia akan kembali normal. Beberapa kali aku dibuat kesal oleh sikap Anta yang selalu bengong jika kuajak bicara, tak bisa kuungkapkan kekesalanku ini padanya. Alhasil, beberapa kanvas lukisanku hancur berantakan karena kubanting… Yaaa… ini kulakukan untuk meluapkan kekesalanku menghadapi Anta.

“Tok tok tok”, suara pintu kamarku diketuk pelan oleh seseorang. “Masuk!”, mataku baru saja akan terpejam… membuat emosiku agak tersulut karenanya. Pintu kamar terbuka sedikit, kulihat sesosok laki-laki kurus dan pucat berdiri disana, mataku terbelalak kaget melihat sosok itu. “GILAAAA! Untuk apa kamu naik kesini Anta?!!! SINTING! Dasar ngga becus si Bi Eha, harusnya dia saja yang kemari!!”, aku berteriak sambil berlari menghampiri Anta. “Ng… Ngga apa-apa ko teh. Anta boleh masuk?”, dengan polosnya dia menanyakan hal itu. “Kamu ini otaknya dimana sih? Biasanya juga kamu nyelonong masuk ke kamar ini. Aduh! Kalo kamu jatuh lagi gimana?!”, kupapah tubuhnya dan mendudukkannya di tempat tidurku. “Terimakasih teh, teh… Anta kesini mau ngeliat lukisan-lukisan baru teteh…”, wajahnya terlihat dipaksakan tersenyum. “Ga ada, aku berhenti melukis”, dengan ketus kujawab pertanyaannya. Tanpa menunggu dia bertanya, kujelaskan padanya bahwa aku tak akan melukis hingga kondisi kesehatannya membaik. Kepalanya tertunduk resah, “Teteh jangan gitu… beban Anta semakin berat”. Mataku melotot menatapnya, “Heh! Udik, baru sekarang kamu mikirin beban heh? Harusnya kamu sadar, dengan kamu sakit begini ya kamu memang menjadi bebanku. Tapi kalau kamu sembuh, kamu ga lagi jadi beban dan aku bisa melukis lagi. Jadi aku mohon nih padamu, denger ya! Ini baru pertama kalinya aku memohon sama orang lain. Jadi, aku mohon… lekaslah sembuh!! Aku menderita melihat kamu begini menyedihkan”. Matanya tiba-tiba saja menoleh ke arahku, terlihat berkaca-kaca. “Teteh tolong stop teteh… jangan bilang hal seperti ini lagi ya teteh…”, Anta menatapku dengan penuh harap. Aku tercengang melihat sikap Anta siang itu, tak pernah sekalipun kulihat dia menangis seperti ini selama aku mengenalnya. Dia benar-benar berubah, tanda tanya besar mengisi kepalaku tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Anta yang kukenal.

Anta meninggalkan kamarku lunglai, menolak untuk kupapah. Sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu, wajahnya menatap ke arahku sedih. “Teteh, jangan sakit ya… Teteh banyakin makan, bosen Anta teh liat badan teteh kaya tengkorak hidup… model bukan, peragawati bukan, tiang listrik bukan, ngapain atuh teteh teh badannya mesti kayak begitu?”. Segurat senyum terukir diwajahnya, sementara aku yang sejak tadi kebingungan atas sikap Anta sontak tertawa terbahak-bahak mendengar perkataannya barusan. “Yaaaayyy!!!! Si udik sudah kembaliiiii!!!!”.


Keadaan Anta sudah jauh lebih baik kini, sikapnya yang sempat menjadi aneh kini kembali seperti dulu lagi. Aku kembali melanjutkan kegiatan melukisku sedangkan dia kembali sibuk  memasarkan lukisan-lukisanku itu pada kolektor yang sudah lama menanti lukisan baru dariku. “Teh, tahh kalau yang ini Anta suka pisan! Bagus teteh ih… lihat, ada binatang-binatang lucunya kaya kelinci… teteh teh kalau ngelukis yang kaya gini atuh teh, kaharti teteh… maksudnya mudah dimengerti apa maksudnya…”, Anta memandangi kanvas yang sedang kububuhi warna. “Heh seenaknya banget sih kamu! Dilarang komentar!! Enak aja, masa yang kaya gini kamu bilang kelinci?!! Dasar Udik! Ini tuh gambar meteooor Anta, hey INI METEOR”, kubisikan keras-keras kata-kata itu di telinga Anta. “Masa meteor adanya di tanah, ah dasar lieur seniman mah… teu ngarti…”, Anta membalikan tubuhnya dan segera berlalu dari hadapanku, sementara bibirku ikut mengumpat sambil mencibir mengantarnya pergi dari studioku. Hatiku tertawa melihat sikap Anta yang begitu lugu dan polos, lagi-lagi di dalam benakku tersirat rasa bersyukur pada Tuhan karena telah mempertemukan aku dengan Anta yang kini menjadi manusia paling berarti di dalam hidupku. Meski tak ada percik cinta dalam hubungan kami, tapi 100 persen aku yakin bahwa dia adalah segalanya bagiku lebih dari keluargaku sendiri.

Aku masih sering melihat Anta melamun sendirian di teras paviliunnya, tatapan matanya kosong, seperti malam ini saat tak sengaja kupergoki dia tengah melamun. Kuperhatikan dia lama dari atas studio, bertanya-tanya sebenarnya apa yang sedang dia lamunkan. Ketakutanku hanya satu, aku takut dia tidak merasa betah lagi tinggal di rumah ini dan bekerja bersamaku. Tak kubayangkan betapa kelimpungannya hidupku tanpa Anta, hanya dia satu-satunya orang yang bisa menghadapi segala kekuranganku dengan sabar. Aku tak ingin mengganggunya, biasanya kulempari dia dengan benda kecil apapun dari atas sini untuk membuyarkan lamunannya namun kali ini kuputuskan untuk mengawasi saja sampai berapa lama dia mampu bertahan melamun seperti orang stress. Diam-diam tanganku mengambil kanvas kecil, lalu mulai melukis apa yang sedang kuperhatikan. Kulukis dia yang sedang duduk termenung jauh disana, begitu lama hingga lukisanku selesai pun dia masih memaku tak bergerak. Ada apa dengan Antaku?

“Teh, siang ini Anta mau ketemu klien yah… dia tertarik buat bawa beberapa lukisan buat dijual di galerinya dia, alhamdulillah galerinya ada di Swiss. Semoga penawarannya menarik teh, kan lumayan yah… nanti teteh sama saya bisa terbang kesana beli cokelat yang banyak!”, matanya begitu berbinar saat menceritakan apa yang akan dilakukannya hari ini padaku. “Halah Anta, ga usah majang lukisan di pameran juga kita bisa pergi ke Swiss! Jangan kaya orang susah ah!”, bibirku selalu menggerutu seperti itu menanggapi kata-katanya. “Eh ari si Teteh, lumayan atuh gratis ari Teteh! Sekalian bisa cari jodoh nanti disana ih Teteh inimah cocok pisan buat Teteh, Teteh mah harus nikahnya sama Bule atau kalau orang sini mah harus sama nugelo sekalian”, kulihat wajah Anta kini terlihat kemerahan menahan tawa. “Ehhh siah, sialan kamu Anta!!! Kalau cuma orang gila yang mengerti aku, berarti kamu juga gila!!!! Ya udah sana pergi lah, kamu ngerusak imanjinasiku… menyebalkan. Sana sana sana!”, sambil cemberut kuperintahkan dia segera pergi meninggalkan studio. “Teh, teteh harus lihat ini klien yang punya galerinya… kasep pisan teteh campuran Prancis sama Cigondewa..”, Anta masih sempat menggodaku sesaat sebelum keluar dari studioku. Akhirnya dia benar-benar pergi sambil tertawa puas mentertawakanku setelah kulempar dia dengan mug yang ada disebelahku. “Apa lagi yang pecah mba Taniaaaaaaaaaaaa??????”, suara bi Eha terdengar sama dari bawah sana, dia memang sudah terbiasa dengan suara-suara lemparan benda dari dalam Studioku. “Hatinyaaaaa biii…”, Anta berteriak menanggapi pertanyaan Bi Eha dari luar studio sambil diiringi gelak tawa mereka setelahnya. Aku berteriak sangat keras, “Setannnnnnnnnn!!!!”.


“Teh Tatan, ini kenalin… namanya Pierre. Dia yang saya ceritaan waktu itu, pemilik galeri di Swiss yang ingin bawa lukisan teteh ke galerinya”, dengan senyum khas miliknya Anta sangat sumringah membawa laki-laki setengah bule itu ke studio. Saat itu aku tengah menyelesaikan lukisan yang sudah seminggu ini kugarap, “Diam, jangan banyak bicara dulu silahkan keluar tunggu disana, aku sedang serius”, tak kubiarkan kepalaku berlama-lama menatap keduanya karena kini kedua mataku sudah terfokus lagi pada kanvas yang ada di depanku. “Heuh, angger dia mah. Maaf mister yah, Tania memang begitu kalau sudah asik melukis. Kita ngobrol saja diluar ya? Sambil nunggu dia beres melukis?”, kulihat sekilas Anta membawa laki-laki itu pergi dari studio menuju teras luar, entah apa yang mereka lakukan disana.

“Ya, ada apa?”, kulangkahkan kakiku malas-malasan mendekati keduanya yang tengah asik berbincang di teras studio. “Wow, cepat sekali, sudah bereskah lukisan Tania?”, setengah terbata laki-laki itu bertanya sambil tersenyum menatapku. “Sudah. Hai, Tania…”, jawabku sambil menglurkan tangan kiri kepadanya. “Tehh ih yang sopan! Pake tangan kanan!!”, Anta tiba-tiba saja menepis uluran tanganku dan mengangkat paksa tangan kananku. “Hahaha sudahlah tidak apa-apa, halo Tania… nama saya Pierre. Senang akhinya bisa berjumpa dengan kamu pelukis idola saya”, Pierre kembali tersenyum riang sambil tak melepaskan tangan kananku yang sejak tadi disambut oleh kedua tangannya. Kuhempaskan tangannya dengan kasar, “Ada apa ya anda kesini?”. Anta mulai menengahi kami, “Teh, jangan gitu ah. Dia ini datang kesini mau milih lukisan teteh yang mau dipajang di galerinya nanti. Ya mister ya?”. Laki-laki bernama Pierre itu kembali tertawa pada Anta, “Panggil saya Pierre…hahaha”. Tiba-tiba saja emosiku terpancing membuat keduanya terlihat kaget dan berhenti tertawa, “Enak saja pilih-pilih!!! Aturan dari mana itu??? Hanya saya bisa menentukan mana yang akan kamu bawa ke galerimu!!! Kamu pikir siapa kamu bisa seenaknya memilih?!! Kalau kamu masih mau ambil silahkan, kalau tidak suka dengan aturan saya ya silahkan pergi juga! Saya tidak butuh yang seperti ini!”. Pierre tampak shock dengan sikapku, namun kulihat Anta segera mencairkan rasa kagetnya dengan cara mengerdipkan sebelah matanya pada Pierre dan menarik laki-laki itu menjauh dariku, membisikkan sesuatu di telinganya. “Bencong!”, umpatku.


11 comments:

  1. cerita ny bikin penasaran teh ,
    bagus pisan uy :D

    ReplyDelete
  2. aih teh kenapa bersambung lagi?lagi seru ceritanya itu teh :(

    ReplyDelete
  3. next nya jangan lama-lama :( seru nih

    ReplyDelete
  4. ihh, tania nyebelinnn.. tp penasaran :D

    ReplyDelete
  5. jangan lama-lama dong jeda nya teh... :O

    ReplyDelete
  6. sambungan ceritanya kapan kak???
    *nungguin*

    ReplyDelete
  7. klo cerita bagus ky gini ga adakata rugi buat baca n share ma yg lain ga ky blog lain.. kebanyakan iklannya dripada cerita bagusnya

    ReplyDelete
  8. Enaknya aku, eh saya tinggal baca tanpa menunggu krn udah komplit semua serie Antanya

    ReplyDelete