Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, July 2, 2013

ANANTA PRAHADI part 1


 “Hola Halo!!!! Nama saya Anta! Nama lengkap saya Ananta Prahadi. Umur saya 17, saya pindahan dari kota Subang, single, tampan dan pandai bersih-bersih rumah!!! Insyaallah kalau berteman sama saya kalian ngga akan rugi, soalnya saya juga hobi bersih-bersihin rumah orang!”, seisi kelas tertawa kegelian mendengar perkenalan anak baru pindahan dari Subang ini. Di tengah anak-anak muda di kota ini yang sudah sedemikian modern, rasanya kedatangan Anta menjadi sebuah angin segar untuk kami semua yang tak terbiasa dengan sikap kedaerahan milik Anta. Seketika itu juga Anta menjadi primadona dalam sehari, sikapnya yang sangat “sunda” dan polos membuat kami semua orang merasa senang berada di dekatnya. Senyum tak pernah absen dari bibirnya, kata-kata yang keluar dari sana pun selalu saja bisa membuat yang lainnya tertawa. Anta adalah mahkluk pembawa kebahagiaan, itu yang orang-orang bicarakan dibelakangnya. Diam-diam, aku yang tak pernah bisa berteman dengan siapapun akhirnya sering memperhatikan Anta.

Orang bilang aku adalah perempuan aneh, bahkan orangtuaku pun berkata seperti itu kepadaku. Aku lebih suka berdiam diri di kamar dibandingkan harus berinteraksi dengan orangtua, adik, dan kakakku. Aku lebih suka menyimpan uang-uang pemberian ayahku didalam kotak bekas biskuit yang kemudian ku kubur di halaman belakang rumah, dibandingkan harus menyimpannya di bank seperti yang keluargaku lakukan. Aku lebih suka memakan nasi basi yang dijemur dan dikeringkan setiap harinya dibandingkan harus memakan makanan enak yang biasa dimakan orang lain. Aku lebih suka mematikan semua listrik yang ada di kamarku dan menggantinya dengan lampu petromax atau dengan lilin-lilin yang kusebar diseluruh ruangan kamar. Dan aku hanya akan mengerjakan hal-hal yang ku anggap penting, termasuk pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh sekolah. Aku hanya akan mengerjakan tugas yang memang menarik dan berguna, jangan harap aku akan mengerjakan tugas “Mengarang” untuk bahasa Indonesia karena bagiku imajinasi adalah sebuah omong kosong. Untuk apa membuat sesuatu yang di karang jika hal-hal yang realistis saja masih banyak yang menarik untuk diceritakan. Umurku kini 19, seharusnya sudah duduk di kelas 3. Namun 2 tahun aku tinggal kelas akibat kuatnya sikapku dalam mempertahankan idealisme ini. Kecaman kudapat dari mana-mana dan dari segala arah, lalu reaksiku? Sungguh, aku tak peduli.

“Awas si gila lewat… sssh ssssh nanti ditonjok loh kalo berisik… sssh sssh…”, bisikan-bisikan seperti itu memang sudah menjadi makanan sehari-hari buatku. “Boooo…. Boooo….”, kugerakan mataku keatas dan kebawah sambil menjulurkan lidah saat melintasi mereka yang sejak tadi terlihat mencibirku. Wajah kaget dan ngeri tergambar jelas diwajah mereka, ya… inilah aksi si gila yang tak boleh mereka anggap remeh. Selama hampir 3 tahun bersekolah di sekolah ini rasanya hanya interaksi seperti itu yang biasa kulakukan dengan siswa lainnya. Tak sedikitpun terbersit keinginan untuk menjalin pertemanan apalagi persahabatan dengan mereka semua. Duniaku sudah begitu menyenangkan, untuk apa berbagi dengan orang lain? Toh nantinya aku pun akan berakhir sendirian dalam kuburku.

“Teh Tatan, boleh saya duduk di sebelah teteh?”, laki-laki periang bernama Anta ini tiba-tiba saja mengusikku yang sedang sibuk melukis pemandangan di dalam kepala, tentu saja tak kugubris dia. “Teh Tatan? Teh ?? Diam tanda setuju yah inimah setuju artinya”, dia lantas mengangkat tasku di kursi sebelah lalu menaruhnya di lantai sebelah kiri tempatku kini duduk. Aku terus berdiam diri, tak bisa kubiarkan anak ini merusak lukisan pemandanganku yang sebentar lagi selesai. “Pertama, namaku Tania. Kedua, aku tak pernah menikah dengan Abangmu jadi jangan panggil aku dengan sebutan teteh. Ketiga, kau boleh duduk disini selama mulutmu terkunci rapat dan tak mengeluarkan kata-kata tidak penting. Keempat, jangan pernah berbicara denganku.”, kuteriakkan keras-keras peraturan yang kubuat untuknya setelah lukisan di kepalaku selesai kubuat sehingga beberapa siswa di kelas memalingkan wajah dan perhatian mereka ke arahku. Anta tersenyum lebar, “Si Teteh Tatan galak yah, saya jadi takut… tapi ngga apa-apa lah okey Anta nurut sama aturan-aturan yang teteh buat hehehe”. “Tania!!!!”, teriakku lagi. “I.. i.. iya Tantan Tan… Tan… Tania”, dengan gaya gugup Anta mencoba mengajakku bercanda, dan tentu saja… tak berhasil membuatku tertawa. Mulutku bersungut-sungut kesal, beberapa teman kelas berusaha memperingatkan Anta agar berhati-hati terhadapku dengan cara berbisik.


Sudah hampir 6 Tahun aku bersahabat dengan Anta, sejak pertamakali dia memaksa duduk di kursiku. Tak ada yang berubah dengan diriku, begitupula dengannya. Aku masih tetap wanita aneh, dan Anta masih menjadi seorang laki-laki culun.  Bangku kuliah sempat ku kenyam, sudah pasti atas paksaan ayahku yang ingin agar aku bersekolah sama seperti saudara-saudaraku yang lain. Hanya cukup satu tahun untuk aku bertahan mempelajari seni murni di sebuah universitas,  setelah itu… aku memutuskan untuk menyalurkan bakatku di rumah saja. Ayah membuatkanku sebuah studio terbuka di lantai 4 rumahku, menghadap langsung pada pegunungan yang terbentang diluar sana. Tak ada hal lain yang ingin kulakukan selain menuangkan lukisan di dalam kepalaku ke atas sebuah kanvas, hasilnya tak terlalu buruk… terbukti dari peminat lukisanku yang cukup banyak. Tapi seperti biasa, aku tak bisa menjual isi kepalaku pada sembarang orang… ada beberapa persyaratan khusus bagi calon pembeli lukisan-lukisanku.
1.   Pembeli hanya orang-orang yang menggunakan sapaan “Saya & Kamu”, bukan “Lo & Gue”, atau “Aku & Kamu” pada saat memperkenalkan dirinya untuk pertama kali kepadaku.
2.   Pembeli dilarang keras menanyakan makna dibalik lukisan yang kubuat.
3.   Tidak boleh ada kata-kata yang mengisyaratkan bahwa lukisanku mirip lukisan seniman lain.
4.   Tidak satupun boleh menatap nyinyir kepadaku seperti teman-teman sekolahku dulu lakukan kepadaku.

Jika semua persyaratan itu lolos, maka untuk selanjutnya adalah urusan Anta yang melakukan penawaran mengenai harga lukisan-lukisanku. Anta sudah tahu betul apa yang aku mau, 6 tahun pertemanan ini membuatnya bisa benar-benar mengerti seorang Tania yang begitu egois dan memiliki dunia sendiri. Anta tidak berkuliah, dia tak punya cukup uang untuk melakukan hal itu. O iya, kedua orangtuanya sudah meninggal dan dia sama sekali tak punya sanak saudara. Paman yang membawanya ke kota ini dan membiayai sekolahnya pun kini telah tiada, maka Anta memutuskan untuk menerima tawaranku saat aku menawarkannya untuk tinggal di paviliun belakang rumahku dan menjadi orang yang mengurus lukisan-lukisanku. Anta masih ceria seperti pertama kali mengenalnya, seluruh anggota keluargaku selalu terhibur olehnya. Kadang aku merasa bahwa satu-satunya hal baik yang bisa kulakukan untuk keluargaku adalah membawa Anta menjadi bagian dari keluarga ini, setidaknya mereka terlihat senang.

Selama berteman dengan Anta, pertanyaan mengenai tingkat kenormalan kami selalu saja menjadi tanda tanya besar di lingkungan pertemanan kami. anta pernah bercerita kepadaku, sebagian besar mereka penasaran dengan cara berkomunikasiku. Dan Anta selalu menjelaskan dengan kata-kata hiperbola khasnya, “Teh Tatan itu yah, mahkluk Tuhan paling langka yang harus kita lestarikan. Mungkin di dunia ini hanya ada satu jenis mahkluk hidup semacam teteh Tatan!! Dan saya Anta, sebagai manusia yang beradab dan menjunjung tinggi pelestarian budaya maka bertindak sebagai pelestari teteh Tatan. Tuhan memang mengutus saya untuk menjaga teteh Tatan. Jadi maaf, saya tidak bisa bersih-bersih di rumah kalian karena saya sudah di buking sama teteh Tuhan untuk menjaga teteh Tatan”. Beberapa di antara mereka juga mencurigai adanya percik asmara antara aku dan Anta, lagi-lagi Anta yang menjelaskan kepada mereka… haha mana punya waktu bagiku untuk mengklarifikasi masalah tidak penting seperti itu. Tak perlu kutunjukkan bagaimana peduliku pada Anta karena dia pun tahu aku tak pernah begini baik kepada orang lain. Ibu pernah mendatangi kamarku, dia sangat penasaran pada hubunganku dengan Anta. Menurutnya, Anta bukan laki-laki yang terlalu hebat ataupun terlalu unik namun mengapa aku yang seperti ini bisa berteman dengannya? Pertanyaan ibu kujawab dengan kalimat pendek. “Tuhan menciptakan Anta untukku Bu”.


“Teteh Tatan, uang teteh yang ada di tabungan saya sudah semakin banyak. Punya rencana untuk dicairkan? Sayang loh, itu bisa dipakai untuk membeli barang-barang yang teteh mau..”, setengah berlagak serius Anta duduk disampingku yang tengah bersantai duduk di sofa teras ruang melukisku. “Sudah ku bilang, panggil aku Tania! 6 tahun berteman tak cukup ya untuk membuatmu sadar kalau aku tak suka dipanggil Teh atau Teteh atau Mbak atau apapun itulah…”, tampangku agak kesal saat menjawab pertanyaan Anta. “Biar bagaimanapun, umur Teteh itu lebih tua daripada saya. Saya harus menyantuni teteh dong… harus sopan teh.. sopann..”, Anta berbicara nyerocos sambil tertawa. “Yang harus disantuni itu kamu, bukan aku. Yang yatim piatu itu kamu kan? Hahaha”, aku tahu Anta sudah terbiasa dengan gaya becandaku ini yang memang kadang terkesan kurang ajar. “Ah, si teteh mah… selalu aja kaya gini. Ini uang mau dikemanain tetehhh???”, Anta kini menunjukkan wajah kesal sambil terus menatap kedua mataku bagai anak anjing kelaparan. “Sebagian belikan kanvas dan alat-alat lukisku, sebagian untuk beli keperluan hidupmu. Sebagian besarnya masukkan ke dalam tabunganmu, aku titip dulu.”, kuangkat tubuhku dari sofa dan bermaksud masuk ke dalam kamarku untuk tidur siang. “Eh si teteh yah, terus aja di titip ke tabungan saya. Sudah menumpuk teh numpuk banget!”, Anta berusaha menarik tanganku namun kuhempaskan kasar cengkramannya, jika sudah seperti ini Anta mengerti aku takkan pernah bisa dia ganggu lagi.


Baru saja 10 menit mataku terpejam, suara ketukan pintu kamar terdengar begitu mengganggu telingaku. “Mbaak, mbak Taniaa… mbak Taniaaa… cepat keluar mbak cepat keluar mbakk!!!”, ini pasti suara Bi Eha pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah orangtuaku. “Yaa? Ada apa bi Eha?”, aku tak akan membuka pintu kamarku sebelum aku tahu seberapa penting aku membuka pintu kamarku untuk orang lain. “Anta mbaaak… Antaaaa… jatuh barusan dari tangga, tolong mbaaa bawa Anta ke rumah sakit. Anta ngga bangun bangun Mbaa…”, bi Eha terdengar sangat histeris… kata-kata yang keluar dari mulutnya pun berhasil membuatku terkejut hebat dan segera melompat dari tempat tidurku, membuka pintu kamar dan berlarian menuju lantai 1 rumahku. “Antaaaaaaa… Alam semesta selamatkan Anta!!!!!”, aku berteriak teriak meneriakkan kata-kata itu saat beberapa orang anggota keluargaku mengerumuni Anta yang tergenang darahnya, entah darah dari bagian tubuh yang mana tapi anggota keluargaku yang didominasi kaum hawa tak ada yang berani memegang tubuh Anta karena ketakutan. Ku angkat tubuh Anta yang terlelap bagai sedang bermimpi… entah darimana datangnya kekuatan ini karena kini benar-benar kedua tanganku berhasil mengangkat tubuhnya, darah berceceran dilantai sehingga sekarang aku tahu kepalanya lah yang telah mengeluarkan banyak darah. “Tiara! Cepat setiri mobilku!! menuju rumah sakit terdekat! Bi Eha! Ikut aku!”, tiba-tiba saja mulutku mengomando adik dan pembantuku untuk membantuku menyelamatkan Anta.


Sudah 23 hari lewat 17 jam 13 menit 6 detik tubuhnya terbaring tak sadarkan diri di rumah sakit, sahabatku satu-satunya tak juga tersadar. Sudah selama itu pula kupindahkan sebagian furniture kamarku ke ruang rumah sakit tempat dia terbaring. Aku tak peduli pada biaya yang harus kukeluarkan untuk menyelamatkannya, aku tak peduli pada kanvas-kanvas kosong yang seharusnya kulukisi dengan gambar-gambar baru, aku juga tak peduli pada larangan menginap di rumah sakit oleh kedua orangtuaku yang mengkhawatirkanku jika terus menerus menunggui Anta. “Hhhh, Anta… Anta… bangunlah bodoh! Aku sudah lelah menangis, ternyata betul mengeluarkan air mata itu rasanya menyakitkan. Bangunlahh…”, kubisikkan kata-kata itu di telinganya. Sejauh ini respon paling positif yang dilakukan olehnya hanyalah menjentikkan jari telunjuknya, sungguh menyebalkan. Belum pernah aku sebegini peduli pada orang lain selain diriku sendiri, pernah beberapa kali kakak dan adikku masuk rumah sakit dan tak pernah sekalipun kutengok mereka atau bahkan menanyakan kondisi kesehatan mereka kepada kedua orangtuaku. Namun kali ini berbeda, Anta sudah menjadi bagian penting dari diriku… tanpa harus banyak berbicara dia sudah mengerti betul bagaimana cara menghadapiku. Anta terkena gegar otak akibat benturan kepala yang terlalu keras menyentuh lantai, kulit kepalanya robek hingga harus menerima beberapa jahitan. Jahitan di kepalanya sudah hampir mengering, namun kondisi Anta masih dalam keadaan koma. Ibuku hampir putus asa melihat kondisi Anta yang semakin lama semakin mengkhawatirkan, sedangkan aku sebaliknya… aku yakin akan selalu ada keajaiban untuk seseorang baik hati seperti Anta.

“Kepada Ibu Tania, Ibu Tania, Ibu Tania dari Pondok Hijau… Diharapkan untuk segera datang ke ruang A1. Kepada Ibu Tania, Ibu Tania… Diharapkan untuk segera datang ke ruang A1”,  suara panggilan dari operator yang memanggil namaku begitu jelas memekakkan telinga, aku sedang membeli sarapan untuk mengisi perutku di kantin Rumah Sakit saat itu. Kutinggalkan makanan yang belum sempat kubayar, berlarian menuju kamar A1… kamar tempat Anta terbaring tak sadarkan diri. Aku yakin, ada sesuatu yang terjadi kepada Anta. “Ya Sus??? Dok? Ada apa ini??”, kepanikanku semakin menjadi saat melihat beberapa suster dan seorang dokter sedang mengelili Anta. “Mbak Tania tenang dulu, mari kemari… mungkin ini saat yang Mbak nanti”, wajah dokter begitu sumringah… begitupun para suster. “Anta?!!! Anta?!!! Kau bangunnn??? Antaaaa!!! Terimakasih alam semesta!!!”, aku berteriak histeris melihat Anta tersenyum begitu lebar melihatku. “Teh Tatan…”, bisiknya lemah. “Mbak, Mbak Tania jangan terlalu aktif di sekitar Mas Anta yah… kepalanya masih butuh penyesuaian. Jangan terlalu dibebani oleh pikiran-pikiran dan obrolan yang terlalu berat yah, masih beruntung Mas Anta ini karena dia tidak kehilangan ingatannya”, dokter tersenyum sambil mengedipkan matanya kepadaku. “Kapan kami boleh pulang?”, pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. “Kami? Hahaha, mbak Tania bisa pulang kapan saja… tapi mas Anta, nanti dulu yah… tunggu sampai kondisinya membaik”, lagi-lagi dokter itu mengedipkan matanya. “Dok… Dok… te.. rimaka… sih ya Dok…”, Anta ikut bersuara… suaranya masih sangat lemah, yang membuat aku heran adalah tetesan-tetesan air mata di wajahnya disertai senyuman getir yang biasanya tak pernah Anta sematkan di bibirnya, mungkin dia sedang dalam kondisi dramatis melankolis akibat kesembuhannya… sudahlah.

Anta tak banyak bicara, namun matanya terus menerus memandangiku entah apa maksud dari tatapannya itu. Aku lebih banyak bicara kepadanya, menceritakan isi kepalaku dan rencana-rencana setelah dia diijinkan pulang nanti. Aku bilang padanya, “Anta, setelah kau pulang nanti… kita gunakan uang tabungan hasil penjualan lukisan untuk jalan-jalan ke transylvania. Aku selalu penasaran dengan negara itu, aku ingin bertemu Dracula!”. Anta tersenyum menatapku, “Iya Teteh… Ayo! Anta mah ikut aja kemana teteh pergi”.



18 comments:

  1. Replies
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. Bagus teh cerita lahnya... ada emosi waktu membacanya... ^_^ keren lah... oh iya ini fiktif atau cerita base on true story?

    ReplyDelete
  3. teteh selalu interesting cerita"nya. Transylvania...!! most interesting too.. terusiiin teh ceritanyaaa. ditunggu kelanjutannya.. xoxo ^^

    ReplyDelete
  4. ayooo teteh terusin lagi ceritanya ... saya penasaran teh ^_^

    ReplyDelete
  5. OMG, aku (ups, saya) ga suka karakter tania, tapi terus lanjut baca cerita ini, dan menunggu.. :)

    ReplyDelete
  6. Waiting for 2nd Part :) semangat teteh :D

    ReplyDelete
  7. Suka sekali teh sama ceritanya:)
    Ceritanya hidup dan bikin penasaran sama kelanjutannya.

    ReplyDelete
  8. wah akhirnya post cerita juga :) ditunggu lanjutannya ya teh

    ReplyDelete
  9. Penggemar cerita teh Risa menyatakan two thumbs up!!

    ReplyDelete
  10. ..pengen liat lnjutanya lagi..😆

    ReplyDelete
  11. Sukaaaa.... ngena banget, terharu. :')

    ReplyDelete