Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Wednesday, May 9, 2012

Diorama.


Cerita ini terinspirasi dari sebuah lagu hebat milik seorang sahabat bernama “Tulus” berjudul “Diorama”.



Pagi-pagi sekali sudah kuinjakkan kaki di bandara  Schönefeld, Berlin - Jerman. Udara sedang sangat dingin, biasanya reaksiku agak berlebihan atas udara dingin negara ini, namun hari ini aku sedang tak bisa merasakan apapun selain perasaan sakit di dalam hatiku. Aku benci kembali kesini, tapi lagi-lagi Ayah dan Ibu memaksaku untuk segera pulang ke kota ini, menyelesaikan sisa sekolahku. Entah sampai kapan aku bisa bertahan melakukan semua keinginan mereka, entah sampai kapan aku bisa terus bungkam atas semua keinginan-keinginan hatiku. Seharusnya aku bisa kembali berontak setelah semua kejadian yang begitu menyiksa hidupku. Empat hari yang lalu adalah hari kematian seorang wanita yang paling kusayangi,  baru kali kemarin aku berani berontak atas keinginan Ibu yang tak mengijinkanku pulang ke tanah air untuk mengikuti prosesi pemakaman dengan alasan “Sayang uang dan waktu”. Arum bukan orang lain bagiku, juga bagi Ayah dan Ibu. Dia adalah kakak perempuanku, dan Ibu melarangku pulang mengantarkan kepergian Arum ke tempat peristirahatan terakhirnya…


Arum hanya setahun lebih tua dariku, dia bukanlah anak kandung Ayah dan Ibu. Saat berumur 1 bulan, Ayah dan Ibuku mengadopsinya dari sebuah panti asuhan. Orangtuaku lama tak memiliki anak, mereka mengadopsi  Arum dengan tujuan bisa memancing anak… mitos klasik bangsa ini. Namun entah kenapa mitos itu kebetulan berhasil terbukti kepada keluargaku, karena tak lama setelah Arum hadir ditengah mereka, Ibuku berhasil mengandung. Lahirlah aku, tepat setelah Arum berumur 1 tahun.  Meskipun bukan saudara kandung, sejak kecil kami seolah tak bisa terpisahkan. Arum menjadi seorang kakak, sahabat, dan pelindung bagiku… seringkali Arum yang pemberani membelaku yang lemah dan penyakitan dihadapan teman-teman sekolahku yang kerapkali mengusik dan menggangguku. Ya, aku memiliki kelainan jantung sejak lahir, keadaan tak sempurna ini membuat fisikku lebih lemah dan kurus daripada anak-anak pada umumnya. Jika mereka mulai mengejekku, maka Arumlah yang akan menghadapi mereka.


Sejak kecil Arum selalu bercita-cita menjadi seorang dokter, sementara aku ingin menjadi pengacara. Permainan favorit kami berdua adalah berimajinasi menjadi apa yang kami inginkan, bersikap seolah-olah Arum adalah seorang dokter dan aku adalah pengacara. Sedikitpun Arum tak pernah meremehkanku, sebagai anak yang lebih tua, dia selalu membimbingku dengan baik. Tapi anggapan Ayah dan Ibu selalu saja negatif terhadap Arum, aku yang cengeng sering menangis akibat cedera saat fisikku melemah dan tak sengaja terjatuh… Dan Arum lah yang menjadi sasaran kemarahan Ayah dan Ibu. Mereka bilang, Arum tak becus menjagaku. Aku yang lemah dan sangat penurut pada kedua orangtuaku hanya bisa diam tak berusaha membela Arum, aku hanya bisa menyaksikan Arum terisak menangis dan menenangkannya saat Ayah dan Ibu pergi meninggalkan kami.


Kami semakin dewasa, perlakuan Ayah dan Ibu kepada Arum semakin terlihat tak adil. Bagaimana tidak, saat umur Arum 10 tahun dan aku 9 tahun, Ayah dan Ibu sudah menceritakan pada Arum bahwa dia hanyalah anak yatim piatu yang diadopsi oleh mereka, seolah menekankan pada Arum bahwa dia tak punya hak untuk memiliki banyak keinginan karena Arum hanyalah anak pungut. Ayah dan Ibu juga menjelaskan bahwa aku lebih punya banyak kesempatan untuk mewujudkan apa yang kumau daripada Arum. Sejak saat itu, Arum yang kukenal periang dan pemberani berubah menjadi seorang anak perempuan pendiam yang tak punya banyak impian. Saat-saat inilah dimana aku mulai berusaha menjadi seseorang yang bisa mengerti posisinya, jika sedang dihadapan Ayah dan Ibu, kami tak pernah saling bicara. Tapi jika mereka tak ada, aku selalu berusaha menguatkan Arum agar tetap semangat menjalani hidup, dan tetap menganggap Ayah dan Ibu sebagai orangtuanya. Usahaku selalu membuatnya kembali tersenyum, walau senyumnya kembali pudar saat Ayah dan Ibu kembali mengucapkan kata-kata tidak enak untuknya. Aku marah pada kedua orangtuaku, jika memang mitos itu benar… seharusnya mereka berterimakasih kepada Arum karena telah membuatku hadir ditengah kehidupan mereka.


Arum bermetamorfosa menjadi seorang wanita yang sangat cantik, sejak dulu aku selalu mengagumi kecantikannya. Saat mencari pasangan, aku selalu terlebih dulu membandingkan kecantikan Arum dengan wanita-wanita lain yang mendekatiku. Tak pernah kutemukan wanita yang bisa menandingi kecantikan dan kebaikan Arum, maka sampai detik ini aku tak pernah sekalipun berpacaran. Begitupula dengan Arum, aku tak pernah melihatnya berpacaran, tapi aku tahu alasannya… Ayah dan Ibu melarang keras Arum menjalin hubungan dengan laki-laki. Aku pernah menguping pembicaraan mereka, mereka bilang akan menghentikan semua dana sekolah Arum jika mereka tahu Arum memiliki seorang pacar. Untuk hal ini aku tak melihat kesedihan di mata Arum, dia bilang “Jika sudah ada kamu, untuk apa aku mencari pacar lagi Abi?”, dan aku hanya diam memaku mendengar perkataannya.


Diam-diam aku merasa jatuh cinta kepadanya, tak ada wanita yang lebih baik dari Arum. Kecantikannya, kesantunannya, kepintarannya, membuatku semakin jatuh cinta kepadanya dari hari ke hari. Namun aku tak bisa banyak mengungkapkan apa yang kurasakan, aku sangat takut kepada Ayah dan Ibu. Apa jadinya jika mereka tahu apa yang terjadi dengan perasaanku? Bukan reaksi mereka terhadapku yang kutakutkan, melainkan reaksi mereka terhadap Arum. Aku tak mau Arum terusir dari keluargaku, dia hanya seorang diri di dunia ini… aku tak mau dia menderita karena peraaanku.


Sepertinya Arum juga memiliki perasaan yang sama terhadapku, perhatiannya kepadaku semakin terlihat berbeda. Dulu tak pernah kulihat dia malu-malu berbicara denganku, namun kini pipinya selalu bersemu merah jika mataku memandangi matanya saat berbicara. Aku tahu betul sepertinya ada perasaan lain dari sekedar perasaan saudara antara aku dan Arum. Tapi aku menyangkal semua perasaan itu atas alasan kedua orangtuaku yang juga orangtua angkatnya. Aku benar-bear tak mau membuatnya semakin menderita… aku yakin, ada laki-laki lain yang juga bisa membahagiakan Arum, membasuh luka hatinya akibat perlakuan kedua orangtuaku.


Suatu hari kudengar Arum menangis tersedu-sedu seolah menahan sakit yang begitu dalam di taman belakang. Tubuhnya tersandar pada sebuah pohon mangga yang cukup besar sehingga mampu menyembunyikan tubuhnya, aku yang mendengar tangisan itu tahu betul bahwa itu adalah tangisan Arum, dan pohon itu merupakan tempat favorit dia saat sedang kecewa atau bersedih. “Arum, kamu kenapa?”, tanyaku sambil mencoba membalikan tubuhnya berusaha melihat apa yang sedang terjadi padanya. Kulihat mata Arum bengkak dan dipenuhi air mata, dia tak menjawab pertanyaanku. “Kenapa Rum? Ayo ceritakan padaku!”, aku berusaha menanyainya lagi. Namun Arum hanya menggelengkan kepalanya pelan sambil terus menangis. “Abi, tolong peluk aku, aku butuh kekuatan darimu..”, akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutnya. Sekitar 15 menit kami berpelukan dibalik pohon mangga itu, tak ada siapapun yang bisa melihat kami… kepalaku berpikir keras apa yang terjadi kepadanya kini, sementara Arum terus terisak memeluk tubuhku kencang.


Aku patung mereka patung

Cangkir teh hangat namun kaku dan dingin

Meja-meja kayu mengkilap

Wajahmu dibasahi air mata yang dilukis


Tak lama setelah hari itu, tiba-tiba Arum memutuskan untuk melanjutkan kuliah di sebuah akademi sekertaris. Padahal yang kutahu, Arum bercita-cita untuk menjadi seorang dokter sejak kecil, dan hampir di setiap jenjang pendidikan yang dia jalani, Arum selalu berhasil menorehkan prestasi dengan predikat sebagai siswa teladan karena kepintarannya di bidang pendidikan. Aku tak habis pikir atas keputusan Arum, namun dia hanya tersenyum saat kutanyai alasan atas pilihan mengejutkannya. Arum semakin pendiam… tak lagi banyak bercerita kepadaku.




Ayah dan Ibu kembali membuatku murka, saat lulus sma aku memutuskan untuk masuk fakultas hukum di sebuah universitas di kota ini yang sudah sejak lama kuincar. Namun mereka tiba-tiba saja memutuskan agar aku masuk ke fakultas kedokteran di sebuah perguruan tinggi ternama di Berlin, Jerman. Dengan sedikit marah aku berusaha menolak keinginan mereka, mereka terlihat was-was pada kemarahanku, karena tahu aku tak punya jantung yang sempurna untuk menampung emosi yang tak stabil. Walau tahu aku keberatan atas keputusan mereka, toh pada akhirnya aku kalah dari mereka yang telah lebih dulu mempersiapkan segalanya sudah sejak lama. 


Arum tidak mengantarku ke bandara saat itu, aku tahu dia tak akan kuat melepas kepergianku dalam jangka waktu yang cukup lama. Tapi semalam sebelum kepergianku untuk pertama kalinya ke Jerman, Arum mendatangi kamarku. Ditangannya dia membawa beberapa buku tentang kedokteran, buku-buku itu adalah koleksi Arum yang dibelinya sendiri sudah sejak lama saat cita-citanya untuk menjadi seorang dokter masih begitu bulat. “Mungkin ini bisa membantumu melupakan pengetahuanmu tentang ilmu hukum, kau tidak akan punya banyak waktu untuk memikirkan hal lain. Buku-buku ini sangat menyita waktu, tapi cukup mengasikan”, dengan mata berkaca-kaca Arum berusaha tersenyum mengatakan hal itu kepadaku. Aku menatapnya lekat, saat itu dia masih mengenakan seragam kuliahnya, memakai apapun selalu pantas untuk Arum. “Arum, kau tidak akan meninggalkan aku kan?”, entahlah… kata-kata itu tiba-tiba keluar dari mulutku. Dia menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, “Tidak, mungkin kau yang akan begitu”. Arum membalikkan badannya sambil berusaha meninggalkan kamarku dengan cepat, tanganku tiba-tiba bergerak menahan tangannya sambil memeluknya dari belakang. Kudengar tangis Arum pecah, sepertinya dia sudah tak kuat menahan tangis sejak tadi.


“Tunggu aku pulang ya Arum… aku berjanji suatu saat akan mengajakmu pergi dan meninggalkan semua skenario yang sudah dibuat Ayah dan Ibu, aku berjanji akan membuat cerita baru dimana hanya ada aku dan kamu didalamnya”, baru kali itu aku berani berkata jujur pada Arum. Arum tetap diam membelakangiku, tangannya berusaha melepaskan pelukanku sambil terus menangis. “Lepaskan aku Abi…”, Arum pergi kamarku saat pelukanku terlepas dari tubuhnya sambil terus menangis meninggalkanku yang juga hanya bisa menangis, menangisi keadaan kami.



Tubuh kaku tidak bergerak

Ingin hapus air matamu tapi aku tak bisa

Patung-patung kayu mengkilap

Pikiran mereka kosong memikul peran




Sudah 4 tahun berlalu, seharusnya aku sudah bisa pulang ke tanah air dengan gelar sarjana kedokteran. Namun Ayah dan Ibu kembali memaksakan kehendak mereka untukku agar melanjutkan lagi pendidikanku ke jenjang selanjutnya. Sejak 4 tahun meninggalkan tanah air, hanya 2 kali aku pulang. Sebenarnya bisa saja aku pulang beberapakali dalam setiap waktu liburku, tapi Orangtuaku terutama Ibu selalu menyuruhku tetap diam di negara ini, menghabiskan waktu liburanku untuk berlibur berkeliling negara-negara di Eropa. Aku bosan, aku rindu Arum, tapi aku tak kuasa melawan kehendak keduanya. Setiap pulang, Arum selalu tampak lebih ceria.  Dia tak memperlihatkan sikap seperti dulu saat terakhirkali kami bertemu, Arum banyak mengumbar senyum, tak ada lagi tetesan air mata diwajahnya. Selama ini komunikasi kami terjalin lewat email, tidak terlalu sering namun kami sama-sama tahu apa yang sedang kami kerjakan. Tak pernah ada lagi bahasan mengenai perasaan kami, yang aku tahu… dia sudah mulai menikmati pekerjaannya sebagai seorang sekertaris di perusahaan besar. Aku tak lagi menanyainya tentang perlakuan Ayah dan Ibu terhadapnya. Aku senang melihatnya begitu bahagia…


Namun berita mengejutkan datang 4 hari yang lalu, Arum pergi meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Tanpa sakit, tanpa kabar, Arum meninggal tiba-tiba. Aku hanya bisa terdiam sesaat setelah mendengar berita itu, memaksa Ibu untuk mengijinkanku pulang saat itu juga, dan untuk pertama kalinya menentang keinginannya agar aku tetap tinggal disini. Betapa terkejutnya aku saat tahu bahwa Arum meninggal karena bunuh diri dengan meminum berpuluh pil obat yang membuatnya overdosis, betapa bodohnya aku membiarkan dia yang kusayangi melakukan hal bodoh seperti itu tanpa tahu secuilpun masalah yang sedang menderanya.




Lelah sekali badanku saat ini, kepalaku tak bisa mencerna apapun, tak mampu berfikir jernih. Dadaku terasa sakit, walau sudah menjalani banyak pengobatan, tapi jantung ini masih terasa sakit jika mendapati banyak hal mengejutkan yang membuatku drop. Semangatku untuk hidup seolah hilang, lunglai lelah kupaksakan melangkah saat mulai memasuki apartemen kecilku di pinggiran kota Berlin. Wajah Arum terus menerus membayangiku, aku tak tahu apa yang akan kulakukan nanti jika tokoh utama dalam skenario masa depan hidupku kini tak bisa lagi ikut berperan.


Keadaan di dalam lobi apartemen terasa lebih hangat daripada saat berjalan diluar. Penghangat ruangan terpasang didalamnya, rasanya sudah tak sabar untuk masuk ke dalam kamarku untuk tertidur atau melakukan apapun yang bisa mengenyahkan perasaan sakitku atas kehilangan orang yang paling kusayangi. Sebelum menaiki tangga menuju lantai 3 tempat kamarku berada, kutengokan kepalaku mengintip kotak surat yang berjejer di sepanjang lobi. Kukeluarkan kunci kotak surat bertuliskan nomor kamarku, nomor 301. Kulihat setumpuk surat yang ditujukan padaku, kuambil surat-surat itu tanpa melihat darimana saja surat-surat itu berasal.


Sebelum memutuskan untuk tidur dan beristirahat, kuminum 1 butir obat penenang. Aku tak bisa terlelap jika harus memaksakan tidur tanpa meminumnya. Namun obat penenang tetap tak bisa membuatku tenang, diatas tempat tidur pun mataku terus memandang ke segala arah, kepalaku terus memperlihatkan sosok Arum, gelisah memikirkan segala kesedihan yang sedang menimpaku, dan penasaran atas apa yang sebenarnya terjadi kepada Arum. Mataku bertabrakan dengan tumpukan surat yang kusimpan diatas meja belajar, akhirnya kupaksakan untuk memeriksa surat-surat itu.


Surat-surat berisi tagihan internet, apartemen, dan listrik mendominasi tumpukan surat itu. Satu-satu kulempar ke lantai, kesal karena tak ada surat yang menarik untuk kubaca. Lalu tanganku melempar sebuah amplop coklat tanpa nama perusahaan, mataku menangkap hal menarik darinya. Kuambil amplop itu kembali, sebuah nama orang yang paling kusayangi terlihat jelas dibagian belakang amplop yang menandakan nama pengirimnya. “Arum sastrawijaya”, sebuah nama dengan nama belakang sama sepertiku. Tenggorokanku terasa kering tercekat, keringat dingin menjalar ditubuhku, tanganku bergetar tak sabar untuk membuka dan melihat apa yang ada didalam amplop ini.

Isinya sebuah surat dengan tulisan Arum diatasnya…



Untuk Abimanyu Sastrawijaya,

Abi, maaf aku pergi meninggalkanmu tanpa memberimu kabar terlebih dahulu. Aku sudah tak kuat lagi mengikuti semua skenario yang Ayah dan Ibu rancang untukku. Mereka sangat baik memberikan peran kehidupan yang layak kepadaku, tapi rupanya aku tak tahu diri karena berharap ada peran lain yang lebih menyenangkan daripada peran yang mereka beri untukku. Aku lelah untuk berangan, aku lelah untuk bermimpi, aku lelah berperan menjadi orang lain.

Jika nanti Tuhan bertanya kepadaku mengapa aku bodoh mengakhiri hidupku? Aku akan menjawab “Hukumlah aku Tuhan, karena ternyata aku tak mampu menahan beban yang seharusnya bisa kuangkat”. Lalu aku akan berkata, “Jika kau kelak menghukumku, bolehkah aku memintaMu untuk membebaskan adikku , kekasihku ‘Abi’ dari peran yang sebenarnya tak ingin dia jalani?”.

Aku sudah kehilangan mimpiku untuk menjadi seorang dokter karena mereka, aku sudah kehilangan cita-citaku karena mereka, dan aku tak siap kehilangan kamu karena mereka…  dua orang baik hati yang telah membuatku menjadi seorang anak yang memiliki orang tua. Ayah dan Ibu menjodohkanku dengan seorang laki-laki tua rekan bisnis Ayah yang diam-diam mengincarku sudah sejak lama, aku tak ingin menjalaninya namun aku tak mampu menolak keinginan mereka. Mungkin aku bodoh Abi, tapi aku yakin kaupun tak akan bisa membawaku pergi dari semua ini. Aku bahagia berkat mereka karena dengan mengangkatku menjadi putri mereka, maka aku bisa mengenalmu sejak kecil dan  menjadi bagian dari hidupmu,  ingin rasanya selalu berterimakasih kepada Ayah atau Ibu dan membalas segala kebaikan mereka. Namun permintaan mereka kali ini terlalu berat untuk kulakukan, aku memang bodoh mengakhiri hidupku seperti ini… tapi aku lebih baik menjadi seorang yang bodoh daripada terus menerus mengikuti skenario yang telah mereka buat.

Maaf jika membuatmu sedih dan marah, aku tak ingin kesehatanmu menurun akibat perbuatanku ini. Aku terlalu menyayangimu Abi, dan aku tak mau kehilangan dirimu. Kita berdua berada di situasi yang salah, namun kini tak ada waktu untuk berandai-andai kembali ke masa lalu. Masaku telah habis dimakan lelah yang tak kunjung hilang, namun aku yakin kau lebih kuat daripada aku… kau lebih pintar daripada aku… kau akan melanjutkan hidupmu dengan tenang.

Maafkan aku Abi, jangan merasa bersalah atas apa yang terjadi padaku. Aku selalu ingin bercerita kepadamu, tapi bagaimanapun kau harus tetap tenang berada jauh dibelahan dunia yang lain. Aku tak ingin membuatmu resah, bebanku hanya akan membuatmu merasa tertekan. Aku ingin kau mampu bahagia mulai detik ini, meski tanpa aku.

Suatu saat  nanti mereka bisa menjadi sutradara yang baik, kau hanya perlu sebuah keberanian untuk mengubahnya. Jika aku menyerah karenanya, tolong berjuanglah agar tak seperti aku… kau adalah Adik yang sangat kusayangi, kau adalah Kekasih yang sangat kucintai…


Jangan pernah lupa menyebut namaku disetiap doa-doamu Abi…

Arum Sastrawijaya


Tanganku bergetar membaca surat pendek yang ditulis tangan oleh Arum, kini aku baru tahu semua cerita yang disimpannya rapi dariku. Betapa banyak beban yang dipikul oleh perempuan baik hati ini sejak lama, dan betapa hebatnya dia mampu bertahan sampai sejauh ini. Aku tak membenarkan tindakannya untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tapi kini aku tahu jawaban dari semua tanda tanya besar dikepalaku. Seandainya aku menolak keinginan Ayah Ibu dan tetap teguh untuk ekolah hukum di tanah air, seandainya bisa kubela Arum dihadapan mereka, seandainya aku lebih berani menyatakan perasaanku kepadanya, seandainya… seandainya… seandainya…

Aku hanya bisa terdiam, meratapi kepergiannya…


Sakit hatimu karena aku
, Sakit membekas dalam jadi bagian sejarah

Tak ada kesempatan untuk berkilah…
Untuk selamanya masa itu menguasaimu


Harusnya cerita ini bisa berakhir lebih bahagia

Tapi kita dalam diorama

Harusnya sisa masa ku buat indah menukar sejarah

Tapi kita dalam diorama



26 comments:

  1. Replies
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. Dalam diorama kita berperan
    Lari dan sembunyi dalam diorama
    Tertawa dan menari dalam diorama
    Tidak semua mengerti dengan diorama
    Seribu wajah dengan seribu diorama
    Dioramamu dan aku yang mungkin akan bersatu dalam satu diorama
    Peranmu busuk, tapi ku suka
    Asalkan kamu sadar dengan dioramamu, aku terlahir kembali

    ReplyDelete
  3. Imaginer! tulisan ini sangat keren, seakan membawa saya larut dalam cerita dalam "diorama" ini.
    Degup jantung saya bergetar hebat ketika pelan.. pelan.. sambil sesekali mengucek mata membaca ini surat dari Arum Sastrawijaya.
    Hebat teh.. :)

    ReplyDelete
  4. whuaaa, keren teh, terima kasih selalu menginspirasi :)

    ReplyDelete
  5. mhm.. mnyentuh sangad... di tunggu yang lainnya teh.. :)

    ReplyDelete
  6. ceritanya bagus, teh, konflik pergolakan batin banget.. mantap!

    ReplyDelete
  7. ketika "cinta" berada tidak pada tempatnya, ketika mulut di paksa untuk berkata tidak padahal hati mengatakan iya,,,

    bersyukurlah bagimu yang berada pada posisi serba pasti,,,
    katakanlah jika itu memang benar adanya,,,
    lepaskan dirimu dari belenggu diorama itu,,, jika memang itu bisa kamu lakukan

    ReplyDelete
  8. teh. ceritanya keren banget.
    ehm. boleh ngg teh kalo aku bikin bahan film pendek? hehe.

    reply me please @ Liliansilvestrin@yahoo.com

    di tunggu balesannya yah teh. hehe

    _Lia

    ReplyDelete
  9. setalah aku baca2, postingan2nya sangat bagus, menarik dan bermanfaat,,terus menulis,,karena dengan menulis kita bisa mengembangkan imajinasi kita dan menjadikan kita lebih kretaif..serta kadang bisa menghibur orang lain.. ^_^

    oia salam kenal
    kalau berkenan silahkan mampir ke EPICENTRUM
    folloback juga ya buat nambah temen sesama blogger,,tukeran link juga boleh,,makasih..^_^

    ReplyDelete
  10. bagus ceritanya... ditunggu yang selanjutnya

    ReplyDelete
  11. teteh, ceritanya sangat bagus. teteh menginspirasi saya dalam menulis :)

    ReplyDelete
  12. baru ketemu blog ini dan baru berkesempatan membacanya sekarang. bagus :''). mungkin memang seharusnya kita berani untuk berkata tidak. :'')

    ReplyDelete
  13. cerita hantunya lagi atuh teehhh rissa sayang..:)

    ReplyDelete
  14. kereeeeennn,, terharuu baca'y.. :'(

    ReplyDelete
  15. awalnya udah jatuh cinta sm lagunya sejak lama, dan ketemu ini bacanya sampai menintikkan air mata

    ReplyDelete
  16. Kelopak ini tulus menitikan air mata untuk diorama-mu Arum...

    ReplyDelete
  17. cerita ini rasanya menusukku,
    membelenggu tubuhku seakan cerita ini mengalir deras di pikiranku... :((

    ReplyDelete