Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, March 1, 2012

Tentang Ruth. (Part 1)


Panggil saja namaku “Ruth”, umurku 16 tahun, anak perempuan pertama dari 10 bersaudara. Konon Papaku yang memberikan nama itu, saat Ibuku tengah mengandung di bulan yang ke delapan. Belum sempat aku melihat wajahnya, papa sudah memutuskan untuk pulang ke negara asalnya. Ibuku bilang, sebenarnya papa sudah memiliki sebuah keluarga kecil di Netherland, dan Ibuku hanyalah pemuas rasa rindu terhadap istrinya saat dia masih bertugas disini.

Ibuku memutuskan untuk menikah lagi dengan laki-laki yang pernah dicintainya jauh sebelum akhirnya terjerumus kedalam cinta papa, maka lahirlah kesembilan adik-adikku setelahnya. Ibu begitu mencintaiku, tapi tidak dengan Bapa tiriku… dia menatap mataku seolah sedang melihat sosok seorang penjajah, karenanya pula kesembilan adikku tak pernah sedikitpun bersikap ramah kepadaku. Aku tak mengenal Bapa, saudara, kakek, atau nenek. Bagiku hidup ini sangatlah sepi, hanya ada aku dan ibu.

Ditempat ini, aku hidup bagaikan mahkluk aneh. Mereka menyebutku “anak Indo”, sebuah istilah yang menggambarkan sosok campuran antara dua bangsa, Indonesia dan Eropa. Mungkin ada beberapa keluarga yang memiliki darah serupa denganku, tapi tidak ditempat ini, sebuah perkampungan terpencil yang letaknya cukup jauh dari pusat pemerintahan. Disini aku terlahir menjadi sesosok mahkluk menjijikkan yang dibenci oleh siapapun, mereka menganggapku sama dengan seorang penjajah.

Jika Tuhan memberikan aku sebuah keajaiban, aku ingin merubah semua yang ada di diriku ini… aku ingin menjadi sama seperti adik-adikku yang lain, adik-adik yang tampan dan cantik dengan wciri khas manusia melayu.

Ibu selalu ada disisiku, memberikan kekuatan sambil tak henti berbisik, “Ruth, kau akan menjadi orang hebat…”.

Satu hal yang aku benci dari Ibu, dia tak pernah mau mengakui bahwa pernah ada cinta antara dia dan Papaku. Semua orang di kampung ini selalu menganggapnya korban dari kebejatan bangsa Netherland, padahal beberapa kali sempat kumelihat Ibu melamun sendirian didalam kamarnya yang suram, meneteskan air matanya sambil sesekali membisikkan sebuah nama… Anthony, nama Papaku. Seandainya Ibu mau mengakui perasaannya, mungkin orang tak akan memperlakukan aku dengan begini buruk, memperlakukanku seolah aku adalah buah hasil perkosaan seorang penjajah kepada Ibuku.

Oh... Ini tak adil bagiku… Tetapi mungkin aku akan merasa lebih sakit lagi jika semua orang menganggap Ibuku seorang pengkhianat karena telah mencintai seorang penjajah.

Nasib buruk selalu berpihak kepadaku… serangan Nippon seketika menyerbu tanah ini, mereka mengincar semua yang berhubungan dengan bangsa Netherland. Aku adalah satu-satunya wanita yang merasakan kekhawatiran berlebih dibandingkan yang lainnya. Ibu, Bapa, dan semua adik-adikku bisa tetap hidup tenang… karena mereka semua benar-benar memiliki darah murni bangsa ini. Sementara aku, wajahku saja benar-benar tak mencirikan seorang anak melayu meski sedikitpun aku tak tahu bagaimana hidup sebagai seorang bangsa Netherland, semua darah yang Papaku punya jatuh padaku… tak menyisakan sedikitpun kemiripan dengan bangsa Ibu. Hanya Ibu yang ikut resah dengan kedatangan Nippon, dia takut anak perempuan indo-nya menjadi korban dari kekejaman Nippon. Ibu tak pernah berhenti memeluk dan mengusap kepalaku, dia berkata “Ruth, kamu akan baik-baik saja. Ibu akan melindungi kamu hingga tetes darah yang terakhir”.

Aku ingat malam itu aku tidur lebih cepat dari biasanya, sudah beberapa hari ini aku tidak bisa tidur, bayangan tentang Nippon yang katanya sudah banyak membunuh bangsa Netherland di kota terus menerus membayangiku. Jika mereka menemukanku, aku yakin betul… aku akan mati ditangan mereka. Namun malam ini, mataku beratt sekali… tanpa menunggu lama, aku tertidur dengan cepat… tak seperti biasanya…

Tiba-tiba saja suara Bapa membangunkan tidurku yang baru malam ini bisa nyenyak, “Heh anak setan! Bangun kamu!”. Sebuah buntelan kain dilemparkannya ke arahku, “Ada apa pa? Bapa kenapa bangunin saya?”, aku masih merasa sedang berada di alam mimpi. “Cepat pergi kamu dari sini! Kau hanya anak pembawa sial! Sana pulang ke negaramu! Aku tak sudi melihatmu disini mencelakai istri dan anak-anakku!”, suaranya setengah berbisik… mungkin takut Ibu terbangun karenanya. “Tapi saya ini kan anak Ibu dan Bapa juga? Saya tidak tahu harus pergi kemana Pa…”, air mataku mulai berjatuhan setelah kini akhirnya benar-benar tersadar bahwa dia tak mengharapkanku ada disini. “Pergi saja lah! Jangan banyak bicara, atau kau mau kubunuh? Cepat pergi sebelum Istriku terbangun!”, ditariknya tanganku dengan sangat kasar. Malam itu, dingin… gelap… aku berjalan sendirian meninggalkan Ibu, satu-satunya tumpuan hidupku untuk terus bertahan… tak sempat aku berpamitan padanya… tak tahu kemana arah yang akan kutuju…

Aku masih berjalan sendirian saat tiba-tiba kudengar derap langkah kaki yang cukup banyak dan bersemangat, tubuhku refleks bersembunyi dibalik pepohonan yang cukup besar, sementara mataku terus berkeliling mencari tahu asal suara itu.

Didepan mataku, kulihat banyak tentara Nippon bergerak menuju perkampungan tempat aku tinggal. Entahlah, saat itu airmataku kembali menetes… dalam pikiran positifku, aku merasa Bapa sedang melindungiku dengan caranya, dia mengusirku pergi meninggalkan rumah, untuk melindungi keluarganya… termasuk diriku. Jika aku masih terlelap tidur di rumah, mungkin mereka akan menemukanku, tak hanya membunuhku… tapi juga akan membunuh seluruh keluargaku karena dianggap menyembunyikan seorang Netherland. Aku yakin Bapa tahu tentang kabar kedatangan orang-orang Nippon ini…

Setitik rasa bahagia muncul ditengah kalut yang terus membayangiku… bapa punya cara sendiri untuk peduli padaku… aku yakin Bapa sebenarnya menyayangiku seperti menyayangi adik-adikku yang lain.

Tiba-tiba saja aku teringat buntelan kain yang Bapa lempar ke arahku, rasa penasaran muncul setelah pikiran baik tentang Bapa kepadaku melintas, aku ingin tahu apa saja yang ada didalamnya…

Air mataku kembali berurai ditengah kebisuan pepohonan malam ini, suara derap kaki tentara-tentara itu sudah tak terdengar… yang tersisa hanya isak tangis haruku. Didalam buntelan ini, kutemukan beberapa potong pakaianku yang sudah terlipat rapi, sejumlah uang logam, singkong rebus berbungkus daun pisang, serta seperangkat alat shalat berupa mukena. Aku tak pernah merasakan kasih sayang seorang Ayah, sampai akhirnya detik ini… Tiba-tiba saja kurasakan kasih sayang itu, benar adanya… Bapa menyayangiku.

Kugenggam pasir yang ada disekitarku, menggunakannya untuk mensucikan diri sebelum sembahyang malam. Entahlah, dalam resah ini aku hanya ingin beribadah dengan menggunakan mukena yang Bapa bekalkan buatku. Kupakai mukena itu untuk berdoa kepada-Nya semoga aku terlindungi dari segala perbuatan kejam mahkluk ciptaannya. Aku berharap agar tetap bisa hidup, aku hanya ingin kembali ke pangkuan keluargaku…

Saat mengakhiri sembahyang malam, mengucap salam dan mengarahkan wajahku ke sebelah kiri, tepat disampingku kulihat seorang laki-laki berkulit kuning kecoklatan, bermata sipit, dengan pakaian menyerupai tentara tengah duduk memperhatikanku yang cukup lama bersembahyang. Mataku terbelalak hebat, walau belum pernah bertemu Nippon, aku tahu betul laki-laki ini adalah salah satu diantara mereka. Aku yakin, dia akan membunuhku, aku yakin… hidupku tak akan lama lagi berakhir.

Mulutku menganga siap berteriak, namun tangannya tiba-tiba saja membekap mulutku. Dia berbisik dengan bahasa asing yang tak pernah kudengar sebelumnya. Aku tidak mengerti, tapi sepertinya jika dilihat dari gerak geriknya, dia ingin agar aku tetap diam.

Tangannya membekap mulutku lebih dari 1 jam, dan tubuhku masih duduk berbalutkan mukena. Dia tak berkata-kata lagi, namun sepertinya tangannya tak bisa lepas dari mulutku yang kini mulai terasa pegal, sepertinya dia takut aku akan berteriak kencang… aku masih belum yakin akan perlakuannya, apakah dia sedang melindungiku? Entahlah, dalam keadaan ini… aku hanya bisa pasrah.

Malam semakin gelap… hanya suara serangga yang kudengar, dan suara nafasnya yang terdengar sangat teratur, sepertinya laki-laki ini sangat tenang… dan aku mulai merasa bahwa dia bukanlah laki-laki yang jahat.

Dia melepaskan dekapan tangannya dimulutku, berdiri sambil tak henti memantau keadaan disekitar kami, tangannya meraih pergelangan tangan kiriku, aku sempat menolaknya… namun kepalanya mengangguk sedikit, seolah memberi tahu bahwa aku akan baik-baik saja. Dituntunnya tanganku dalam kegelapan, ternyata laki-laki ini bertubuh lebih tinggi dariku… dia tidak pendek seperti yang lainnya yang tadi sempat kulihat sebelumnya. Kami sama-sama membisu, malam itu rasa takut tiba-tiba sirna dariku, hatiku berkata “Laki-laki ini akan melindungiku”.


Bersambung… 

12 comments:

  1. Kak Risa, ceritanya bagus. Ditunggu kelanjutannya.

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Saya tadi sebelumnya kasih comment teh. Tapi error uploading maaf. Pokoknya cerita nya bagus teh!Ditunggu lanjutannya ya. Sukses teruss

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. teteh saya tunggu ya part 2 nya ;)

    ReplyDelete
  6. teh risa secepatnya yak part 2 :D

    ReplyDelete
  7. wah penasaran bgt nih sama cerita lanjutannya

    ReplyDelete
  8. bagus ceritanya..penasaran niy...
    di tgu ya kelanjutannya..:)

    ReplyDelete
  9. wah crita nya seru ka...
    ditunggu ya crita selanjutnya..
    penasaran bgt... :)

    ReplyDelete
  10. nihon jin no atama ga kousou nanda !!
    nihon jin konayarou !!

    ReplyDelete