Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, March 8, 2012

Taka Matsuda (part 2)


Namaku Taka Matsuda, mereka biasa memanggilku Taka. Sebenarnya beberapa diantara mereka memanggilku dengan sebutan  Ishi  yang berarti Batu. Konon menurut mereka, aku adalah orang yang tak pernah memiliki ekspresi, sama seperti sebuah batu. Mereka hanya tak benar-benar mengenalku, aku akan diam seperti ini jika tidak suka melakukan apa yang sedang kulakukan. Aku benci perang, namun Ayahku memaksaku sebagai anak laki-laki pertamanya untuk pergi ke medan perang membela negara kami. Ayah sudah tak punya taring untuk kembali berjuang, badannya yang lemah tak lagi bisa diandalkan, namun tabiatnya yang keras dan galak masih saja dia pertahankan. Aku tak begitu suka diperintah, sama halnya seperti dia. Jika bukan karena Ibuku, aku lebih memilih diam di negeriku melakukan apa yang kusuka untuk hidupku, yaitu melukis. Ibuku wanita Jepang yang sangat lemah, berulangkali aku coba meyakinkannya bahwa kami akan baik-baik saja tanpa Ayah, tapi dia bersikukuh untuk terus mengabdikan hidupnya untuk Ayahku yang ringan tangan. Aku pergi ke medan perang dalam keadaan Marah, aku benci Ayahku yang semena-mena, aku benci Ibuku yang lemah.

Tugas pertamaku adalah membantu negaraku berjuang menguasai sebuah negara bernama Indonesia, yang sudah terlebih dulu dikuasai oleh bangsa Netherland. Aku lelah memikirkan harus menjadi seorang bangsa yang kejam dan dengan seenaknya membunuh semua Netherland yang kami temui disana, dalam hatiku bertekad… jika yang lainnya mampu berbuat seperti itu, akulah satu-satunya orang yang tidak akan menjadi seorang pembunuh, aku tak suka membayangkan bagaimana jadinya nanti masa tuaku jika terus-menerus dihantui perasaan berdosa. Bangsaku terkenal dengan bangsa yang gigih, mereka tak pantang menyerah untuk terus berjuang menjadi penguasa, itu bagus… tapi sisi buruknya, mereka melakukan segala hal untuk mencapainya, termasuk hal-hal licik yang tak kusukai. Mereka merayu bangsa lugu ini dengan menawarkan segala sesuatu yang menggiurkan, lalu menghasut agar mereka membenci bangsa Netherland, membantu membumihanguskan bangsa Netherland, lalu kemudian menikam bangsa lugu ini saat mereka mulai menagih semua janji yang kami berikan. Aku hanya bisa berdiam diri dan kadang menutup mataku saat melihat anak-anak kecil, wanita, laki-laki tua berambut pirang menjerit kesakitan tak berdaya dibantai habis oleh bangsaku. Semua teman-temanku menganggapku banci, lemah, dan kini berakhir dengan sebutan batu, karena sejelek apapun mereka menganggapku… aku hanya bisa terdiam dan fokus pada tekadku, tak akan pernah menyakiti atau membunuh lawan bangsaku.

Suatu hari, ketua pasukanku mengumumkan, ada seorang wanita Netherland di sebuah desa terpencil tak jauh dari posko kami tinggal disana. Seorang warga setempat memberikan informasi itu kepada kami. Tak ada kaum wanita diantara kami, semua temanku melompat girang saat mengetahui ada seorang wanita Netherland muda hidup di desa itu… itu artinya, rasa haus mereka terhadap wanita bisa segera terpuaskan. Sebagian dari mereka merasa iri pada pasukan lain yang berhasil menculik banyak wanita Netherland di daerah lain, wanita-wanita itu digunakan sebagai pelampiasan nafsu mereka sebelum akhirnya mereka enyahkan dari muka bumi. Miris aku mendengarnya, kenapa bangsa yang kubela tak punya berprikemanusiaan? Aku lebih baik diam, berdoa semoga malam ini saat kami menyergapnya, wanita Netherland itu dapat melarikan diri.

Malam mulai datang, pasukanku bergerak menuju desa itu dengan begitu semangat, bisa kulihat ekspresi gembira dari wajah mereka yang tak sabar untuk segera menculik wanita Netherland itu. Aku berjalan lunglai dibelakang, tak siap membayangkan bagaimana nanti saat mereka menyiksanya. Yang lain bergerak cepat, lebih cepat dari bisanya didepanku. Kami melewati hutan gelap untuk mencapai desa itu, cukup jauh… dan baru kali ini kami datangi. Dalam perjalanan, aku tak kuat menahan rasa sakit perutku untuk buang air besar. Setelah meminta ijin kepada ketua pasukan, akhirnya kubelokkan langkahku ke arah semak-semak didalam hutan, kubiarkan semua temanku pergi meninggalkanku, lagipula… sebenarnya aku berniat untuk berdiam diri disini saja menunggu mereka kembali. “Ah lega sekali…”, pikirku dalam hati setelah berhasil menghalau rasa sakit perutku. Entah sudah pukul berapa kini, yang pasti malam ini begitu gelap, yang kudengar hanyalah suara jangkrik, hembusan angin, kicauan burung hantu… dan… dan… isak tangis? Badanku terlonjak kaget mendengar isak tangis wanita tiba-tiba muncul diantara banyaknya suara binatang yang kudengar malam ini. Kucari darimana asalnya suara itu, sepertinya tidak terlalu jauh dari tempatku kini berdiri. Aku terus berjalan perlahan mencari tahu, sampai akhirnya kutemukan sebuah sosok dengan jubah putih menutupi badannya sedang duduk menangis tersedu sambil menengadahkan tangannya keatas, sepertinya dia sedang berdoa. Wanita muda ini adalah seorang keturunan Netherland, sepertinya sih begitu jika melihat dari kulit putih pucat dengan alis coklat dan bintik-bintik coklat disekitar wajahnya. Sebenarnya Wanita ini berasal dari mana? Apakah dia wanita yang dicari oleh teman-temanku?

Dia masih saja duduk sambil tersedu membacakan bahasa yang benar-benar tak kupahami, dia usapkan kedua tangannya ke muka, lalu menoleh ke kanan dan ke kiri. Mata kami bertabrakan, aku merasa tersentak kaget, begitupula yang terjadi padanya?

Sepertinya untuk beberapa saat kami hanya mematung kaget sambil saling bertatapan, entah apa yang akan kuucapkan padanya karena aku tahu kami tak akan paham dengan bahasa kami. Tiba-tiba kudengar bunyi langkah kaki yang berasal dari banyak kaki manusia bersepatu, sepertinya rombongan pasukanku sudah kembali dari desa itu. Mata wanita itu seperti kaget mendengarnya, kepalanya berputar ke kanan dan ke kiri gelisah, hampir saja dia berteriak kaget sambil terus melotot menatapku, tangan kananku refleks menutup mulutnya yang hampir berteriak, sementara tangan kiriku mengangkat telunjuk yang mengarah ke bibirku sambil memberi isyarat bahwa “aku tidak akan menyakitimu”.

Tanganku masih saja memegangi mulutnya. Sial! Ternyata memang benar mereka adalah pasukanku, dan lebih sialnya lagi… mereka berhenti tak jauh dari lokasi kami berada. Samar kudengar mereka marah karena wanita yang mereka cari ternyata telah melarikan diri sebelum mereka datang, aku semakin yakin bahwa wanita yang ada disampingku ini adalah wanita yang mereka cari. Intuisiku berkata, “aku ingin menyelamatkan wanita ini”.

Kami harus menunggu 1 jam lamanya disana, masih dalam posisi yang sama seperti tadi, tapi wajahnya kulihat sudah mulai bersahabat meski tangan kananku masih mendekap mulutnya. Akhirnya pasukanku beranjak pergi, aku tak peduli mereka mencariku atau tidak. Tangan ini kulepaskan dari mulutnya, berdiri, dan entah kenapa lalu mulai mengulurkan tangan lainnya untuk menuntunnya pergi dari tempat ini… kemana saja… asal dia aman dan tak terjamah oleh pasukanku. Aku tak peduli pada perbedaan kami, pada asal usulnya, pada bahasa yang sama-sama tak kami mengerti… aku hanya ingin menyelamatkannya…

Aku, Taka Matsuda, seorang Jepang yang kini sedang berusaha menyelamatkan seorang wanita Netherland. Entah kemana aku akan membawanya, baru kali ini kuinjakkan kaki di hutan dan wilayah ini…

Kemana sajalah… aku tak peduli, karena sepertinya wanita ini juga benar-benar tak berdaya, dan mulai bersedia mengikutiku yang tak mungkin akan menyakitinya.


Bersambung…

9 comments:

  1. mba ini ada rencana dibukukan gak?atau udah jadi buku ya???

    ReplyDelete
  2. saya menunggu sambungannya teh ica... huaaa.. keren sekalii...
    \(T.T)/

    ReplyDelete
  3. penasaran buat baca lanjutan ceritanya teh risa...

    ReplyDelete
  4. D.tunggu kelanjutan'a teteh risa :)

    ReplyDelete
  5. segera dilanjutkan teh risaaaa....ga sabaar. huhuhu

    ReplyDelete
  6. ah teteh mah..bikin panasaran wae..lanjutan nya mana teh??

    ReplyDelete
  7. Ceritanya nyambung dengan cerita yg 'Tentang Ruth'.
    Keren.

    ReplyDelete