Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, March 22, 2012

Sesak.





Baju hitam paling indah kupakai hari ini, untuk melepas kepergianmu yang bertahun-tahun selalu ada di dalam hidupku, entahlah… mungkin sekitar 10 tahun lamanya. Sekilas sesak kurasakan didalam dada, entah apa ini namanya… sebab sekalipun aku tak pernah merasakan jatuh cinta kepadamu. Mungkin aku hanya terbiasa denganmu, dan aku harus siap tak lagi terbiasa dengan keberadaanmu mulai kini. Air mata terus berjatuhan, kau tahu sendiri bukan? Aku memang wanita cengeng yang kau bilang  “Penuh drama”. Aku harap kau tak menganggapku sedang bersandiwara dan memainkan sebuah watak kini, karena dada ini terus merasa sesak… saat semua orang menghampiriku, mengelus punggungku, bersimpati kepadaku, sambil terus menerus berkata “Sabar ya Atira, ikhlaskan dia… Allah akan menjaga seorang laki-laki baikhati sepertinya, tempatnya akan mulia diatas sana…”

Kau selalu sempurna dimata orang lain, dimata orangtuaku, dimata sahabat-sahabatku, tapi maaf… tidak dimataku.

Kita hanya bertemu beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk bersama, kau pikir sudah saatnya mengikatku dengan sebuah tali yang akan membuatku selamanya berada didalam genggamanmu. Tubuhku ada disini, ditengah ruang keluarga yang sudah penuh sesak dengan orang-orang yang peduli padamu, didepan jenazahmu yang terbujur kaku aku hanya diam mengisak dengan kepala dan pikiran yang melayang kemana-mana. Aku hanya mencoba mengingat hal-hal indah yang pernah kita jalani saat kau masih bernafas… mmmmh, kenapa begitu sulit ya? Sedikitpun ingatan indah tentangmu, tentang kita berdua, tak juga bisa kugali. Kemana mereka semua?

“Atira!! Kemari!!”, setengah berbisik suara itu mengagetkanku dari lamunan tentang suamiku yang baru saja meninggalkan dunia untuk selamanya akibat serangan jantung yang menderanya pagi tadi. Rupanya ada Ardo, adik iparku yang sejak tadi mencoba memanggilku untuk mendekatinya yang kini sedang berdiri di dapur, tepat dibelakangku. Kudekati Ardo yang sepertinya tidak sabar menungguku mendekatinya, “Ada  apa Do?”.

“Ini, kutemukan dilemari Arka saat tadi hendak mengambil foto-fotonya, maaf kalau aku tak sengaja membaca isinya”, suara Ardo sedikit bergetar sambil terus menerus menatapku dengan tatapan aneh. “Buku apa ini Do? Aku tak pernah melihatnya…”, aku mulai penasaran dengan buku merah menyerupai jurnal harian berbahan kulit yang kini sudah ada digenggaman tangan kiriku. “Baca sajalah, aku tak perlu menjelaskan apa isinya. O iya, kau urus sendiri saja acara tahlil nanti setelah magrib, aku banyak kerjaan… maaf tidak bisa membantumu”, dengan ketus Ardo mulai membalikan tubuhnya dan pergi meninggalkanku yang masih bingung atas sikapnya. “Loh, gimana sih Do? Terus siapa lagi yang mau bantu aku kalau bukan kamu? Keluargaku baru datang nanti malam! Tak ada lagi yang bisa kuandalkan Do!”, aku mulai resah atas sikap Ardo yang mendadak jadi menyebalkan. “Kau bayar saja orang lain untuk membantumu, atau mungkin kau bisa minta tolong pada pacarmu untuk mengurus semuanya”, sekilas saja Ardo membalikan wajahnya ke arahku, setengah berteriak dia berkata seperti itu kepadaku, bisa kupastikan… beberapa tamu mulai saling berbisik bereaksi atas ucapan Ardo, sementara aku… hanya diam mematung entah harus mengucap apa.

Kutinggalkan semua orang yang mulai tak lagi bergunjing atas kelakuan Ardo, memasuki sebuah ruang kerja tempat Arka biasa mengerjakan semua pekerjaannya, buku berwarna merah masih saja kugenggam,, tak sabar untuk menelusuri isinya. Mungkin ada sebuah jawaban atas sikap Ardo kepadaku…

Bandung 1 Mei 2008
Sebenarnya aku tak begitu suka menulis, namun buku bersampul kulit ini begitu mencuri perhatianku. Jika kubeli, seharusnya kugunakan juga untuk suatu hal yang mungkin bisa berguna untukku. Aku tidak tahu harus menulis apa diatasnya, toh aku sebenarnya lebih suka menyimpan segala sesuatunya dalam kepalaku, otakku cukup pintar untuk mencerna dan menyimpan segala memori, tentang apapun.
Tapi tak apalah, suatu saat kepalaku tak akan lagi mampu menampung segalanya, mungkin kau akan berguna untukku. Salam kenal, mulai saat ini kita berteman ya…
O iya, kau ingin tahu kenapa aku tertarik untuk membelimu? Karena warnamu, warna yang tidak lumrah, merah yang tak terlalu tua, namun tak terlalu muda. Merah yang membuat mataku sejuk jika memandangnya, merah yang sangat disukai istriku… Atira.

Bandung, 25 Februari 2009
Sudah satu tahun tak menyentuhmu. Sepertinya aku mulai membutuhkanmu… terlalu banyak hal yang tak bisa kuungkapkan kepada manusia-manusia sepertiku. Aku membutuhkanmu, tak untuk mengharap pembicaraan 2 arah, tapi untuk mengingat hal-hal yang terjadi didalam hidupku…
Ada apa dengan hidupku sekarang ini? semua kacau balau, tak sesuai dengan harapan-harapan yang selama ini kurangkai…

Bandung 28 Maret 2009
Sudah 8 tahun aku dan Atira terikat dalam hubungan pernikahan, tak satu tahunpun mampu membuatnya bersikap baik kepadaku, aku tak berharap banyak pada cintanya. Tapi aku mulai muak dengan sikapnya kepadaku. Jika memang aku tak mampu menaklukan hatinya, setidaknya aku berharap dia berpura-pura mencintaiku saja. Aku lelah dengan semua ini, ingin rasanya pergi meninggalkan semua ini…

Mataku melotot kaget membaca bagian dari tulisan Arka barusan, astaga… selama ini aku mengira dia tak pernah lelah terhadapku yang memang selalu memancing kemarahannya, aku ingin berpisah dengannya tapi aku ingin dia yang meninggalkanku. Oh, bagus Arka… ternyata kau memang lelah juga ya? Kenapa harus kau tulis di buku sialan ini sih? Kenapa tak kau ucapkan saja langsung kepadaku? Mungkin kita akan merasa sama-sama bahagia kan? Tak usah membuang waktu!

Tulisan ini membosankan, tapi aku belum menemukan jawaban dari sikap Ardo tadi.


Bandung, 23 September 2009
aku jengah dengan ucapan Atira tentang Ibuku, seburuk apapun Ibuku… dia begitu berjasa bagiku. Wajar jika Ibuku mengungkapkan kerinduannya pada sosok seorang cucu yang berasal dari darah daging kami, kenapa kau harus marah Atira? Kau bisa pura-pura bilang bahwa kita berdua telah berusaha semaksimal mungkin, tak usah malah mendebat dan mencerca Ibuku dengan kata-kata kasarmu. Demi Tuhan Atira untuk satu kali ini saja jika memang tak bisa bersikap baik terhadapku tolong bersikap baiklah kepada Ibuku.


Bandung, 1 Desember 2009
Kulihat Atira menangis hari ini, setelah lama berbicara dengan seseorang ditelepon. Ingin rasanya memeluknya dan berusaha menghiburnya, tapi aku tak kuasa untuk melakukannya, bagaimanapun aku adalah laki-laki yg mencintainya, terlalu sakit bagiku membayangkan kau menangis karena laki-laki lain yang telah menyakitimu. Aku tahu semua tentangmu Atira, aku tahu siapa yang telah membuatmu menangis… biarlah kau begitu, bahagia dengan caramu. Ternyata aku terlalu mencintaimu Tira, sedikitpun tak bisa kuungkapkan amarah padamu…

Bisa kurasakan bagaimana kini wajahku berdenyut-denyut, ada sebuah perasaan aneh yang membuat wajahku tiba-tiba terasa panas. Tulisan di bulan desember 2009 ini membuatku tersadar… Arka tidak bodoh, dia tak sepolos yang kubayangkan. Wajahku mulai tertunduk, entah malu atau apa ini…


Bandung, 13 Februari 2010
Dokter mendeteksi adanya penyakit Jantung dalam diriku, rupanya almarhum Bapa menurunkannya kepadaku. Semoga tidak terjadi hal serius akibat penyakit ini.

Bandung, 16 Maret 2010
Lagi-lagi Atira lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami, selamat ulangtahun pernikahan kita yang ke- 9 istriku Atira… semoga suatu saat kita bisa menemukan kebahagiaan, jika kamu bahagia, aku akan merasakan hal yang sama… dengan siapapun kau merasakan bahagia itu. Semoga malam ini kamu bisa pulang ke rumah, aku menunggumu… belum terlambat untukmu mengingat tanggal ini.

Bandung, 27 Agustus 2010
Alhamdulillah, akhirnya dana yang kukumpulkan selama ini sudah bisa kupakai untuk mewujudkan salah satu cita-cita terbesarku, membangun sebuah panti asuhan. Walau belum terlalu besar, aku cukup bersyukur. Sebuah panti asuhan dengan nama “At-Tira” kupersembahkan untuk istriku…

Pelipisku kini terasa berdenyut, bukan wajah saja yang merasa panas… mataku kini ikut juga merasa panas. Sedikit air mata hampir menetes darinya, banyak hal yang Arka sembunyikan dariku. Baru kusadari ternyata dia adalah laki-laki yang tulus mencintaiku Arka, selama ini selalu saja kuanggap dia patung yang kosong tak punya perasaan apa-apa terhadapku. Aku tak sanggup melihat hal-hal indah yang ternyata telah banyak Arka lakukan tanpa harus kutahu… aku tak pernah tahu suamiku mempunyai sebuah panti asuhan, aku tak pernah tahu dia hapal tanggal pernikahan kami, dan yang lebih parah… aku tak tahu bahwa sebenarnya kau sudah tahu bahwa kau sakit. Kenapa kau tak pernah bicara Arka?? Kenapaa? Kulewat lembar-lembar selanjutnya, aku ingin tahu tulisan-tulisan terakhir yang dia ungkapkan di buku ini. Kubuka lembar terakhir buku ini.. tertanda tanggal 17 Desember 2011, tepat 1 bulan sebelum hari ini, hari kematiannya.


Bandung, 24 Desember 2011
Dada ini terasa sangat sakit, Tuhan kuatkanlah ragaku… aku masih mau hidup, aku masih ingin membahagiakan keluargaku, terlebih membahagiakan istriku… Atira. Seberapa burukpun dia, aku selalu menganggap semua ini terjadi karenaku yang tak becus menjadi seorang suami yang baik untuknya. Keinginan terbesarku kini adalah membuatnya jatuh cinta kepadaku… tak ada kata terlambat bagiku, ini adalah pernikahan kami, sekali untuk selamanya.

“Tidak Arka, kau adalah suami yang baik!!! Bukan kamu yang tidak becus!!! Aku wanita sundal tak tahu diri, aku tak pernah berkaca !! aku yang tidak becus Arka!!!”, aku mulai berteriak sendiri didalam ruang kerja Arka, airmata sudah tak bisa kubendung. Rasa sakit mulai terasa begitu menusuk hati. Kubuka lagi lembar sebelumnya…


Bandung, 11 November 2011
Tuhan, berikan aku kekuatan… kenapa hati ini terasa perih sekali mengingat semua hal yang terjadi di hidupku belakangan ini?

Bandung, 8 November 2011
Atira, tolong jangan menangis lagi… ingin rasanya kubunuh laki-laki itu!! Tolong jangan sampai membuatku meledak marah, bukan marah terhadapmu… tapi terhadapnya yang telah tega membuat seorang wanita cantik sepertimu begitu terluka. Kemarahanku hanya akan membuatnya semakin membenciku, aku bukan suami yang baik… karena tak mampu membuatnya bahagia.

Bandung, 3 november 2011
Kulihat lagi-lagi Atira menangis… kau kehilangan dia ya? Aku jadi ingin tahu bagaimana sikapmu jika aku menghilang dari hidupmu… astagfirullah tak seharusnya aku berpikiran seperti itu…

Bandung, 1 november 2011
Kondisi Atira membaik, dia menjadi wanita yang begitu pendiam dan tak bersemangat, saat kutanyakan keadaannya… dia hanya bilang bahwa dia terlalu lelah beraktivitas. Ayolah Atira, jangan lagi-lagi kau membohongiku… berbicaralah kepadaku… aku ingin mendengar semuanya.

Bandung,  30 Oktober 2011
Kulihat Atira tergeletak diatas kasur kami, disebelahnya kulihat banyak obat-obatan penenang, mulutnya berbusa, sekujur tubuhnya terasa begitu dingin. OH TUHAN APA YANG TERJADI PADANYA? Kubawa dia ke rumahsakit malam tadi, hatiku tak karuan begitu mencemaskannya. Dadaku terasa sakit, tapi aku masih cukup kuat mengatasinya. Syukurlah Atira baik-baik saja… aku melihatnya dari kejauhan, dia tak tahu bahwa aku sudah pulang dari Taiwan. Seharusnya aku pulang lusa, namun entah kenapa hatiku begitu tak tenang untuk segera pulang. Kupercepat kepulanganku, dan benar saja… Atira membutuhkanku…

Bandung, 20 Oktober 2011
Malam ini kulihat Atira menangis tanpa henti… biasanya dia selalu tersenyum bahagia walau bukan bahagia karena aku, Atira… aku suka melihatmu seperti itu, aku ingin bertanya kepada laki-laki itu sebelumnya, bagaimana cara membuatmu bahagia? Tapi kini kau selalu menangis Atira… dia menyakitimu? Benar begitu?

Bandung, 15 Oktober 2011
Tuhan tolong maafkan semua kesalahan istriku, kesalahanku juga… karena tak mampu menjaganya, tak mampu membuatnya bahagia. Kuatkan  pernikahan kami berdua…

Bandung, 30 September 2011
Setiap dia pergi keluar rumah dengan begitu anggunnya, aku hanya bisa mengepalkan tanganku… kutahan semua emosi yang kupendam entah sampai kapan. Asal kau bahagia Atira… asal kau tak pergi meninggalkanku..

Bandung, 29 September 2011
Atira… aku ingin sekali marah padamu… tapi kenapa sulit sekali??

Bandung, 28 September 2011
Kuikuti Atira pergi hari ini, mobilnya terparkir didepan sebuah rumah… aku melihat seorang laki-laki keluar dari rumah itu. Yang kulihat selanjutnya adalah… pemandangan paling menjijikan seumur hidupku, kulihat Atira turun, memeluk dan menciumi laki-laki itu… kulihat untuk pertama kalinya tira tertawa tulus. Tuhan, hatiku sakit sekali…

Tak tahan untuk terus membaca isinya, aku menangis meraung sekeras-kerasnya. 10 tahun bersamanya, sudah ada 3 orang laki-laki lain yang mengisi hidupku dan hatikuyang kuanggap selalu berhasil disembunyikah darinya, dan… dan ternyata… ternyata dia yang tahu semua kebusukanku… dan dan… dan dia selalu diam. Cinta yang selama ini kucari, kebahagiaan yang selama ini kudamba ternyata tak pernah jauh dariku. Arka, kenapa baru sekarang Arka? Kenapa tak kau tunjukkan saja sedikiit saja perhatianmu sejak dulu? Aku hanya tak tahu bahwa betapa engkau mencintaiku… aku tak tahu siapa dirimu, aku tak tahu betapa baiknya kamu terhadapku.

Suara ketukan kudengar begitu keras dari arah luar, disusul oleh suara yang bertanya, “Atira, kau baik-baik saja? Keluarlah Atira berkumpul bersama kami! Jangan memendam kesedihan seorang diri!”, suara itu milik kakakku… yang terdengar begitu khawatir di luar sana. Aku terus menerus menjerit dan kini berteriak menyebut nama Arka, “Kenapa Arka kenapa baru sekarang??? Kenapaaaaaa Arkaaa????” aku terus berteriak. Sementara itu suara orang-orang yang mengkhawatirkan keadaanku dari luar pintu ruang kerja yang sejak tadi kukunci kini terdengar semakin ramai. Kututup kedua telingaku sambil terus menjerit meneriakan nama Arka…

Suara orang-orang itu semakin menggangguku, teriakan khawatir mereka membuatku semakin kesal dan ingin terus menerus menjerit. Aku tak butuh perhatian mereka! Aku hanya butuh sendirian!!! Mencaci maki diriku yang begitu hina…. Kuangkat tubuhku sambil terus mengisak, kuambil remote CD player milik Arka, disana ada CD yang biasa diputarnya, sepertinya ini CD yang sedang disukainya karena hanya dia yang memakai CD player ini, CD yang masih berada didalamnya adalah CD yang sering diputarnya, itu yang aku tahu. Kunyalakan keras-keras, aku hanya ingin menenggelamkan diriku dalam kenangan tentang Arka. Sebuah intro lagu terputar dengan volume sangat keras, meredam semua teriakan orang-orang diluar ruangan ini yang masih saja berteriak…

Kudengarkan lirik demi lirik yang mengalun dari lagu itu…


Lelahmu jadi lelahku juga
Bahagia bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati..


kata demi kata merasuk kedalam diriku yang masih saja menangis tak kuasa untuk menahan air mata, sedua mataku mengeluarkan mereka layaknya air terjun. Hatiku masih saja sakit mengingat tentang Arka, semua kenangan indah tentang dia tiba-tiba datang menyerangku… walau tak pernah benar-benar nyata kurasakan, mungkin selama ini mereka tertutup kebutaanku terhadap Arka.


Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri…


Mulutku menganga mendengar penggalan lirik yang baru saja mengalun, lagu ini berjudul “malaikat juga tahu” milik seorang penyanyi bernama Dewi Lestari. Entahlah, saat mendengar penggalan itu… aku merasa Arka sedang menyanyikannya untukku.. air mata tak terelakan, semuanya semakin saja deras. Aku tak sanggup menahannya, menahan segala perasaan yang bergumpal menjadi satu perasaan teramat bersalah terhadap suamiku yang kini telah pergi…

Lagu itu terus mengalun, dan berhasil membuatku semakin rapuh. Bagaikan Arka sedang terus menerus berbicara kepadaku, mengungkapkan apa yang dia rasakan selama ini. Tuhan aku tak sanggup lagi mendengarnya, tolong berikan aku sebuah kesempatan lagi, untuk membuka mata untuk Arka… membuka hatiku untuk cintanya… tolong Tuhan bantu aku… aku ingin Arka kembali lagi…

Jeritanku semakin menjadi, aku malu pada Tuhan… aku malu pada Ardo… Aku malu pada kedua orangtua malu pada mertuaku, dan aku sangat malu pada Arka… “Arkaaaaaaaa!!!!!!!! Tolong kembalilah Arkaaaa aku mohoooooooonnn!!!!!”.

Suara ketukan pintu diluar ruangan ini kini semakin berlomba dengan volume lagu yang masih terus berputar, tangisan dan teriakanku tenggelam diantaranya…










43 comments:

  1. Replies
    1. cerita paling menyentuh :') sedihnya ....

      Delete
    2. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. apakah teh risa masih ingat soal teman masa kecil Anda?, coba lah post di sini please :)

    ReplyDelete
  3. dengerin lagu aja bisa jadi cerita...
    luas skali imajinasimu teh risa

    ReplyDelete
  4. teh risa aku ga sabar baca cerita yang teh risa buat selanjutnya

    ReplyDelete
  5. to be continued kah???
    lanjutin dong Teh,,, :(

    ReplyDelete
  6. baru baca dab sediiiih banget neh bacaan

    ReplyDelete
  7. aku bacanya merinding sendiri, brrr

    ReplyDelete
  8. nice story, pelajaran bagi siapapun yg memiliki hubungan..

    ReplyDelete
  9. Ijinkan saya berkomentar,, bahwa cerita ini sangat lah dalam,,

    ReplyDelete
  10. Hidup memberikan pelajaran dalam setiap detiknya, betapa apa yang kita lihat dan dengar belum tentu apa adanya. Manusia adalah mahluk sosial, dimana komunikasi adalah hal yang penting. Masing-masing individu adalah unik, tetapi unik tidaklah unik bila disimpan untuk diri sendiri. Somehow, i can feel the energy within this story. Good job, keep on writing Risa.

    ReplyDelete
  11. Suka banget sama gaya penulisan ka Risa. entah kenapa :')

    ReplyDelete
  12. Allowed me to comment(s) once more. For me this is still your best writing, read it over and over again, love the energy inside, regards

    ReplyDelete
  13. pelajaran berharga untuk seorang wanita. seandainya dia bisa membaca ini... hemmh :)

    ReplyDelete
  14. kak risa ada lagu baru gak nih...
    saya suka banget ma lagu story of peter n bilur

    ReplyDelete
  15. http://gembelberantem.blogspot.com/..dibaca ya ka blog nya..:D

    ReplyDelete
  16. Cerita2 teh Risa sgt mempengaruhi saya. Serius.

    ReplyDelete
  17. keren! bisa buat yang membacanya larut kedalam seakan menyaksikan di depan mata.. tersentuh. :')

    ReplyDelete
  18. saya suka,suka sekali :) http://kertasmasihputih.blogspot.com/

    ReplyDelete
  19. nangisssss nangiss deh gue.... hikss

    ReplyDelete
  20. teh yang ini ijin repost juga wwkkw

    ReplyDelete
  21. Teh, aku nangiiiis banjir bandang...sekarang, aku tau kenapa Ardo marah-marah.Atira Atira...setiap manusia akan nyadar tepat setelah siapapun yang dicintai pergi, termasuk si Arka ini buat Atira...

    ReplyDelete
  22. Dari semua yg aku baca baru cerita yg ini sampai ngeluarin air mata 😭😭😭😭

    ReplyDelete