Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, March 15, 2012

Pengkhianatan Terakhir. (Part 4 - Tamat)


“Brengsek!! Rupanya orang kampung itu telah menipu kita! Berarti kita gagal mendapatkan seorang wanita pirang!”, kapten terus berkoar-koar marah karena kesal merasa tertipu oleh bangsa bodoh ini. Seharusnya kami sudah memboyong seorang wanita pirang kali ini. seperti yang mereka janjikan sebelumnya. Kami rela berjalan beberapa kilometer memasuki hutan demi wanita itu, tapi nihil… wanita itu tidak ada, entah kabur entah memang hanya bualan. Nama kapten pasukanku adalah Yato, konon dia adalah yang terkejam diantara pemimpin-pemimpin pasukan lainnya. Buktina, baru saja kami membunuh 11 orang sekaligus hanya karena emosinya yang meluap saat tak berhasil menemukan perempuan pirang yang kami cari. Yato tak kenal ampun, wanita, nenek-nenek, bahkan anak-anak kecil bisa dengan mudah mati ditangannya. Sebenarnya aku cukup kagum terhadap Yato, dia adalah pemimpin yang sangat tegas dan sangat disegani prajuritnya. Dan aku adalah orang yang cukup dekat dengannya, Yato selalu memperhatikanku, mungkin karena aku adalah prajurit yang tak kenal lelah dan selalu setia mengikuti segala instruksinya.

Namaku Tsuya. Aku adalah anak sebatang kara, aku tak pernah ingat siapa orangtuaku. Yang aku tahu, aku harus berjuang keras bertahan hidup di negeriku, entah sudah berapa banyak terpaan dan cacian yang kuterima selama aku hidup membuatku tak lagi mengenal kasih sayang. Saat pemerintah membutuhkan sukarelawan untuk maju ke medan perang, aku yang pertama berdiri menawarkan diriku tanpa beban. Aku rela mati, aku rela berjuang tanpa henti, toh sebenarnya di negeri ini pun aku selalu berjuang melawan kelaparan, melawan cacian, berjuang melawan segalanya…


Hari sudah malam, lelah menggerogoti kaki ini. sudah sekitar 5 jam kami berjalan menerobos hutan demi sebuah hasil yang nihil, kulihat semuanya terbaring lelah dengan perasaan kesal. Yato masih terdengar kesal saat terakhirkali kuajak dia berbicara, pintu dibantingkan begitu kerasnya saat meninggalkan barak pasukannya. Aku adalah orang yang dipercaya untuk mengabsen seluruh prajurit didalam barak, menghitung satu persatu memastikan semuanya lengkap. Kukeluarkan catatan dari dalam lemari kayu tempat segala berkas dengan rapi tersusun, kupanggil satu persatu prajurit yang juga merupakan teman-temanku, semua lengkap… kecuali dia, Taka Matsuda, orang menyebalkan yang paling dibenci Yato. Prajurit tak berguna itu lagi-lagi hilang. Terakhir saat hilang, dia ditemukan tengah melukis batu di dalam hutan. Yato benar-benar marah padanya, tapi dia tak punya kuasa untuk menghabisi nyawa Taka. Sebenarnya jika Yato memerintahkanku untuk menghabisinya, dengan senang hati akan kulakukan, laki-laki sok suci itu memang pantas mati.


Mau tak mau harus aku sendiri yang turun tangan untuk mencari Taka, kalian bisa bayangkan bukan bagaimana sakitnya kakiku ini setelah berjalan jauh tanpa hasil? Dan sekarang harus mencari si Taka yang entah kemana. Kupakai kembali sepatu boots yang sudah sangat bau keringat, hampir 3 bulan bertugas disini aku tak pernah menggantinya. Kulangkahkan kaki ini keluar barak, menapaki tanah yang tadi kulewati, aku sih sangat berharap kali ini yang kutemukan adalah jasad Taka, ya! Dia lebih baik mati saja lah. Belum 10 menit aku berjalan, kulihat sosoknya setengah berlari mendekatiku, rupanya itu si Taka, muncul begitu saja dari tengah hutan.


“Tsuya! Tsuya! Maafkan aku! Yato marahkah? Perutku sakit sekali, setiap berdiri pasti langsung sakit lagi dan lagi, aku buang air terus Tsuya!”, keringat bercucuran dari pelipisnya. Aku tahu dia sangat khawatir, kupikir… hmmm rupanya dia masih takut pada Yato, padahal selama ini kami anggap dia batu. “Seharusnya kau bilang padaku, untung saja aku tidak melaporkanmu pada Yato! Dia sedang kesal, jangan sampai kekesalannya dia tumpahkan padamu!”. “Hah? Kesal kenapa dia?”, wajah Taka tampak bodoh dengan pertanyaan itu. “Astaga, jadi kau tidak ikut kami ke desa itu?”, emosiku kali ini tak bisa tertahan… apalagi kepala Taka menggeleng cepat menjawab pertanyaanku. “Aku diam di hutan itu sejak beberapa jam yang lalu, kalian meninggalkanku saat buang air, sepertinya tadi kalian sangat terburu-buru”, Taka berusaha membela dirinya, dan aku sudah tidak tahan lagi mendengar penjelasannya. “Sudah-sudah simpan saja omong kosongmu itu, aku hanya ingin tidur sekarang, ayo pulang sebelum Yato menghajarmu!”.


Malam-malam selanjutnya lagi-lagi Taka menjadi orang yang sangat hobi menghilang, dan lagi-lagi aku yang pergi mencari keberadaannya, amarahku sudah tak mampu dibendung lagi, aku muak dengan semua alasan-alasannya. Suatu malam, diam-diam kuikuti Taka pergi, rasa penasaranku sudah benar-benar memuncak, aku tahu ada sesuatu yang dia sembunyikan dariku. Sekitar 200 meter dia berjalan didepanku, kepalanya gelisah bergerak kekanan dan kekiri, aku mengendap-endap menjaga gerakan kakiku agar dia tidak mengetahui keberadaanku. “Wah jauh juga yah si Taka ini berjalan, sebenarnya dia mau kemana ya?”, pikiran itu terus bergulir di atas kepalaku. Setelah hampir 1 jam berjalan kaki, akhirnya kulihat dia menepi di sebuah mulut goa di tepi hutan, aku berhenti sekitar 100 meter dibelakangnya, berlindung dibalik sebatang pohon besar yang berhasil menutupi seluruh tubuhku.


Kudengar dari kejauhan, Taka mengeluarkan bebunyian seperti suara burung… aku tahu ini adalah sebuah isyarat untuk memanggil seseorang, hatiku berdegup kencang… awalnya kupikir dia akan berhenti untuk melakukan hal-hal konyol yang biasa dia lakukan seperti contohnya melukis batu, namun kali ini lain… Taka hendak menemui seseorang. Tanpa harus menunggu lama, kudengar siulan lain berasal dari dalam gua, kulihat tangan Taka mulai mengeluarkan barang barang dari balik bajunya, mataku melotot melihat banyak makanan yang dia sembunyikan dari balik bajunya itu. “Oh kena kau Taka, sekarang kau berani mencuri makanan ya, akan kuadukan ini pada Yato!”, aku tersenyum-senyum sendirian penuh rasa penasaran menunggu untuk siapa sebenarnya makanan makanan itu.


Sebuah tangan berwarna pucat muncul dr dalam gua, mengambili satu persatu makanan yang dibawa Taka tanpa memperlihatkan badan dan wajahnya, membuatku begitu penasaran dengan wujud aslinya. Kulihat Taka selesai memindahkan semua makanan yang ada di balik bajunya, dengan bahasa kami dia berteriak “Makanlah, semoga cukup sampai lusa, besok aku tidak bisa kesini. Ya?”. Setelahnya, kudengar sebuah suara muncul dari dalam gua mengucap kata-kata dengan bahasa yang tak kukenal, sepertinya sih bahasa tanah jajahan kami ini. Taka beranjak mundur dan berbalik pergi, aku mulai memundurkan badanku berbalik menghindari tatapan Taka, sebaiknya dia tidak melihatku, sebaiknya aku segera kembali ke barak, biarlah besok lusa saja kuikuti si Taka lagi.


Masih dengan posisi membelakangi pohon, masih menunggu Taka terlebih dulu pulang, kudengar suara dari dalam goa itu kembali terdengar berteriak memanggil nama Taka, refleks kubalikan badan dan wajah ini saat teriakan itu terdengar. Tubuhku lemas seketika melihat wujud dari suara itu…

Kulihat seorang wanita pirang muda tengah memeluk Taka dari belakang, wanita ini pastilah keturunan bangsa Netherland, bangsa yang merupakan musuh kami. Dan Taka, anak bangsaku… yang kulihat kini sedang menggenggami tangan wanita itu telah menjadi seorang pengkhianat. Dia harus mati.


Aku berlarian menuju pos, tempat pasukanku dan Yato kini tengah beristirahat, meski lelah.. aku harus segera menyampaikan berita ini, sebelum akhirnya Taka kembali pulang.


Yato begitu marah, murka, begitupula dengan seluruh prajurit, semuanya menganggap Taka adalah seorang pengkhianat. Sebuah langkah pintar telah kami susun, Yato memang seorang pemimpin yang cerdas… dia tak langsung membunuh Taka hari itu juga seperti yang kubayangkan. Selama 2 hari kami memendam perasaan marah, Taka tak tahu bahwa kami semua tahu dia adalah seorang pengkhianat.


Hari yang kami tunggu telah tiba, kami semua berkumpul sesaat setelah Taka kembali mengendap ke dalam hutan. Aku hafal betul rutenya, kupimpin pasukanku, sementara Yato diam dibelakangku mempercayakan semuanya padaku. Sebuah semangat terlihat dimata Yato, aku tahu dia begitu senang karena akan ada seorang wanita di barak kami, meski kami marah karena seorang prajurit bangsa kami telah menjadi pengkhianat karena wanita itu.


Taka tengah memberikan makanan yang dia ambil dari bajunya saat kami datang, kali ini wanita pirang itu terlihat begitu jelas karena dia tersenyum mengambilinya diluar Goa, rupanya dia sudah mulai berani keluar dari tempat persembunyiannya. Kami semua menyebar mengelilingi mereka, menunggu waktu yang tepat untuk menyergap keduanya. Aku sudah tak sabar untuk segera membombardir mereka… dengan apapun asal mereka tersiksa. Aku sudah lama menunggu saat ini datang…


Mereka berpelukan, berbicara dengan bahasa yang berbeda, keduanya tampak tersenyum sambil saling memeluk, cih! Banci! Aku benci pemandangan seperti ini. Kulihat mata Yato menyala merah penuh marah disampingku, aku tahu diapun begitu jijik melihat semua ini. segera kuangkat komando tanda saatnya menyergap Taka tiba.


Aku berteriak dengan begitu lantang, “Majuu!!”. Pasukanku yang terdiri dari sekitar 30 orang menyergap Taka dan wanita pirang itu, memisahkan pelukan menjijikkan yang tak sadar telah menjadi tontonan bagi kami, bangsanya yang merasa terkhianati oleh seorang Taka. Aku bisa lihat bagaimana paniknya mereka, Taka masih saja berusaha melindungi wanita itu dengan tangan kosongnya… dia memang bodoh, mungkin Yato masih bisa memaafkannya jika memang dia bisa berlaku benar, Fatal betul tindakannya. Yato terlihat sangat geram oleh tindakan Taka yang sangat bodoh ini. Aku sendiri merasa takut melihat tatapan Yato malam itu, rupanya kekesalannya akan tumpah malam ini, aku tahu betul itu…


Bagai seorang pejuang yang begitu gagah dan hebat dimataku, Yato berinisiatif maju mendekati mereka berdua, tangannya yang sudah sejak tadi mengacung-acungkan pedang ke arah mereka terlihat bergetar hebat, semua emosinya tertumpu pada sebilah pedang yang kini mulai diacungkan ke arah Taka.

Dugaanku salah… pedang itu diarahkan Yato pada wanita pirang yang ada disamping Taka, kupikir Yato akan menyisakan wanita itu untuk memuaskan hasratnya, namun lagi-lagi dugaanku salah karena kemarahan Yato pada pengkhianatan Taka terhadap dirinya dan bangsa kami terpusat pada wanita pirang ini. Aku yakin, Yato berpikir bahwa Taka menjadi pengkhianat karena wanita sialan ini. Ujung pedang sudah bersiap mendekati tubuh wanita itu, jika tepat sasaran, akan menghujam jantungnya… ya, tepat di jantungnya.

Namun lagi-lagi untuk yang terakhirkalinya Taka berbuat bodoh, tangannya secepat kilat mendorong wanita pirang yang kini diteriakinya dengan panggilan “Ruth”. Sambil berteriak dia berbuat layaknya seorang pahlawan kesiangan, menggantikan posisi wanita itu hingga akhirnya pedang Yato sukses menghujam jantungnya. Untuk sesaat kami semua terdiam melihat darah berhamburan dari tubuh Taka, disusul melemahnya kondisi tubuhnya setelah beberapakali sempat mengejang.

Teriakan wanita pirang itu membuyarkan keterkejutan kami semua, dia berteriak-teriak mengucapkan bahasa-bahasa aneh, seperti menyebut bahasa baru yang mmmh… terdengar seperti bahasa orang-orang timur tengah, sambil menangis dia terus berbicara dengan bahasa aneh itu, wanita ini gila. Kami semua terpana melihat pemandangan wanita sakit jiwa ini, jangankan ingin menyentuhnya… berada di dekatnya saja kami mulai merasa takut, aku berpikir jangan-jangan dia ini penyihir… Atau entahlah, kami semua belum tahu sebenarnya budaya bangsa Netherland ditanah ini, kami heran dengan tindakan wanita ini, dia seorang Netherland yang berkelakuan agak aneh.

Yato cepat tersadar, dia berteriak kepadaku untuk segera mendekati wanita yang terus menerus memeluki jasad Taka yang kini mulai kaku sambil berteriak “Allah Allah Allah..”, Yato lantas ikut menarik jasad Taka untuk segera disingkirkan dari wanita itu. Kami semua mulai sadar, dan harus segera menangani wanita ini…

Namun apa yang terjadi berikutnya tak pernah kuduga…

Wanita ini tiba-tiba mencabut pedang yang tercancap di tubuh Taka saat kami hanya berjarak beberapa inchi darinya, Yato yang berada paling depan tak jauh dariku rupanya kurang tanggap atas tindakan wanita itu. Wanita itu berteriak dengan keras sebelum akhirnya pedang yang kini ada di tangannya dia tusukkan ke badan Yato, lagi-lagi tepat dibagian dada.

Waktu seakan berhenti, kami semua diam memandangi pemandangan gila ini! dan tak sadar bahwa wanita itu  kembali mencabut pedang yang sudah membuat Yato terkulai…

Lalu pedang itu dihujamkan olehnya sendiri ke arah perutnya… dia menjerit, memekik, melotot, mengeluarkan darah segar dari mulutnya… sambil lagi lagi mengucap kata “Allah… Allah…”

Aku dan prajurit lain hanya diam tak berkedip menyaksikan pemandangan ini… malam ini malam yang sangat gila. Orang yang kubenci telah mati, orang yang kukagumi juga telah mati… seorang wanita pirang penyebab semua ini juga mati sebelum kami sendiri yang membunuhnya…

Kami semua terdiam… terus menerus terdiam… pengkhianatan ini harus terbalaskan, entah lah aku sendiri tidak pernah tahu bagaimana cara membalasnya. Yang sekarang terpikirkan olehku adalah, memimpin pasukan ini menggantkan Yato, mencari orang-orang berambut pirang yang tersisa di tanah ini, lalu membunuh mereka tanpa ampun…


Tamat.

17 comments:

  1. Oh tidaaakkk....#berharap tak begini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. assalamualaikum we.wb,saya. IBU ENDANG WULANDARI Dri jawah timur tapi sekarang merantahu di teiwan bekerja sebagai pembantu ingin mengucapakan banyak terimah kasih kepada KI KANJENG DEMANG atas bantuan AKI. Kini impian saya selama ini semaunya sudah tercapai kenyataan dan berkat bantuan KI KANJENG DEMANG pula yang telah memberikan Angka gaib hasil ritual beliau kepada saya yaitu 4D. Dan alhamdulillah berasil tembus. Dan rencana saya ingin Mau pulang ke kampung kumpul kembali degang keluarga saya sekali lagi makasih yaa KI karna waktu itu saya cuma bermodalkan uang cuma 400rb Dan akhirnya saya menang. berkat angka gaib hasil ritual AKI KANJENG DEMANG saya sudah buka usaha warung makan Dan suami saya peternakan. Kini kehidupan keluarga saya jauh lebih baik dari sebelumnya, Dan saya ATAS Nama IBU ENDANG WULANDARI sekali lagi saya betul betul sagat berterima kasih kepada AKI Dan saya minta Maaf kalau Nama AKI saya tulis di internet itu semua saya lakukan karna saya Mau ada orang yang meminta bantuan Sama AKI agar seperti saya sudah sukses. Dan membatu orang orang yang kesusaan. bagi anda yang ingin seperti saya silahkan HUB / KI KANJENG DEMANG di Nomor INI: 081 / 234 / 666 / 039 / insya allah AKI akan membantu anda karna ramalan KI KANJENG DEMANG memiliki ramalan GAIB yang bagus Dan dijamain tembus

      Delete
  2. Apakah ini cerita dari hantu??
    *heran*

    ReplyDelete
  3. oh ruth....
    nipon-nipon ,kelakuan anda dimasa lalu itu benar-benar ...

    ReplyDelete
  4. ini cerita beneran bukan teh?

    ReplyDelete
  5. banyak kisah menyayat hati yang tak kita ketahui di balik masa lalu,,, *bingung harus bgaimana*

    ReplyDelete
  6. subhanallah teteh kereeennn ceritanya beneran ga ketebak

    ReplyDelete
  7. ore ga okashiku natta,
    kondo ore nihon de okane tameterunda..

    koko de hataraite mo kono kuni heta !

    ReplyDelete
  8. hemm...ummm...aaaarrgggghhhhh.... *speechless*

    ReplyDelete
  9. teeehh... berasa lagi di jaman nippon.. hheheee

    ReplyDelete
  10. Duh teh risaaa. Tulisannya keren banget. Berasa masuk bgt ke ceritanya. Ahh :')

    ReplyDelete
  11. Rasanya ingin terus mencari tahu kisah-kisah rahasia seperti ini pada masa lalu

    ReplyDelete
  12. Beruntung Ruth g di perkosa dulu...klo smpe diperkosa hadeuh kasian...

    ReplyDelete