Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, December 6, 2011

Hanna (part2)


Kupandangi nisan bertuliskan nama kakakku, Hadi saja tanpa nama belakang ataupun nama depan, sama sepertiku yang hanya bernama Hanna. Umurku kini 23 Tahun, mahasiswi semester akhir disebuah perguruan tinggi di bidang pendidikan. Hadi kakak satu-satunya yang kumiliki seharusnya bisa melihat bagaimana perjuangannya tempo hari telah berhasil mengangkatku menjadi ‘seseorang’ yang bisa membuatnya bangga. Hampir setiap ulangtahunnya kusempatkan untuk menengok rumah tempat jasadnya beristirahat, meski harus menempuh jarak yang cukup jauh karena kini aku tinggal di kota bersama suami dan seorang anak yang  juga kuberi nama Hadi.

Aku dan kak Hadi hanya satu dari sebagian banyak anak di Negara ini yang terlantar akibat orang tua yang tidak bertanggung jawab, mati-matian kami berdua merangkak menghidupi diri kami agar bisa terus bernafas seperti anak-anak lainnya. Entahlah kemana ibuku pergi, bahkan saat kak Hadi menghembuskan nafas terakhirnyapun dia tak juga menampakkan batang hidungnya, ibu macam apa itu? Kemarahanku saat ini hanya tertuju pada ibu… dan pada diriku sendiri, meski seringkali kemarahan ini membuat suamiku kesal, dia bilang “jangan menyalahkan siapapun..ini adalah jalan Hidup yang Tuhan beri untukmu, untuk kita”.  Satu-satunya hal yang kusesali terhadap diriku adalah karena harus berbohong terhadap kak Hadi saat itu, saat dia menuduhku sebagai seorang pencuri daging Sapi yang akan kumasak untuknya… “kenapa kakak harus emosi kak? Kenapa menuduhku sebagai pencuri?”. Namun lantas kubertanya pada diriku sendiri, “Hanna, kenapa tak kau jelaskan saja semuanya secara jujur? Kenapa harus kau berbohong pada kakakmu? Kenapa?”. Aku hanya takut…

Walau tinggal di desa kecil yang mayoritas ditinggali oleh keluarga-keluarga yang tidak terlalu berada, tapi keberadaan aku dan kak Hadi tetap saja menjadi cibiran warga desa, mungkin kami satu-satunya anak yg ditinggalkan oleh kedua orangtua kami tanpa sebab, beredar gossip bahwa ibu kami adalah seorang pekerja seks komersil, sementara ayah kami adalah pelanggan Ibu yang tentu saja tak mau bertanggung jawab atas kami. Untuk anak seumurku, terlalu sakit mengetahui hal-hal seperti itu… apalagi konon aku dan kak Hadi adalah anak-anak Ibu dengan bapak yang berbeda. Beruntung kakakku adalah seorang anak laki-laki kuat yang tak lantas kecewa dan melakukan hal hal bodoh atas semua ini, dia bangkit dan membantuku untuk ikut bangkit bersamanya menjadi seseorang yang layak mereka sebut ‘manusia’.

Kak Hadi bekerja keras banting tulang untuk membiayai sekolahku, dia rela putus sekolah hanya agar adiknya bisa mengecap pendidikan setinggi mungkin. Sebisa mungkin kulakukan yang terbaik untuk membuatnya bahagia, meski seringkali cemooh dan cacian teman-teman sekolah membuatku marah dan tak kerasan berada disana. Pernah suatu kali beberapa anak kelas 6 meneriakiku dengan sebutan “Anak Haram”, aku yang saat itu msih duduk di kelas 5 hanya bisa tertunduk malu dipojok lapangan sekolah, masih bisa kutahan air mata yang hampir pecah. Lalu mereka mulai kesal karena tak mampu membuatku menangis, cacian dan hinaan kini berlari pada kakakku, mereka berteriak “Kakakmu yang bernama Hadi itu juga anak haram kan?! Lebih haram karena malas sekolah dan tak bisa menulis juga membaca, dia sih sudah Haram, Bodoh pula hahahaha”, aku mulai marah karena mereka sudah berani mengejek kakak yang kusayangi, airmataku pecah… padahal memang itu yang mereka harapkan, aku menangis menjerit sakit hati atas perlakuan mereka, hanya bisa begitu tidak lebih. Kak Hadi yang melihatku pulang dengan mata sembab  terlihat begitu sedih, aku hanya memeluknya sambil berkata “mereka bilang Hanna gembel kak..”, dia hanya tersenyum sambil berkata “kita memang gembel, dan sekarang aku sedang berusaha untuk keluar dari semua ini, jangan sedih adikku.. kamu adalah gembel paling cantik yang ada dimuka bumi ini..”. Kakakku ini lebih dari sekedar saudara, dia adalah malaikat pelindungku yang bisa meneduhkan hatiku agar tetap tenang dan tersenyum.

Selain kak Hadi, aku punya malaikat pelindung disekolah. Beliau adalah wali kelasku, namanya pak Samsudin yang biasa kupanggil pak Sam. Beliau begitu baik hati karena sering membelaku dari hinaan-hinaan teman sekolah, beliau juga yang sering meloloskanku dari ancaman putus sekolah karena beberapa kali kak Hadi terlambat membayar biaya sekolahku. Hubungan kak Hadi dengan pak Sam cukup baik, sempat beberapa kali kak Hadi main ke rumahnya dan tak sungkan memohon pertolongan. Dengan adanya mereka, hidupku begitu lengkap meski tanpa Ibu dan Ayah yang mendampingiku tumbuh dewasa..

Pernah suatu kali kulihat kak Hadi sembahyang magrib, aku mengintipnya dari celah lubang bilik rumah kami, kak Hadi menangis menengadahkan kedua tangannya… kudengar dia berkata “Ya Allah, berikan aku kesempatan untuk mencari rejeki lebih agar bisa kusekolahkan adikku hingga dia menjadi seseorang yang mampu mengangkat harkat  detajat dan martabat kami, berikan aku kesehatan agar bisa terus bekerja untuk memberinya makan”, aku terdiam menitikkan air mata.. aku tak boleh tinggal diam, aku harus membantunya bekerja meski jelas dia tak akan memberikan ijin. Aku mulai mencari pekerjaan, terpaksa harus mencarinya di desa tetangga karena warga desa ini sudah terlalu membenci kami berdua meski kami tak tahu apa kesalahan kami. Akhirnya kudapatkan pekerjaan sebagai buruh cuci pakaian, jadwal kerjaku adalah hari rabu dan sabtu, mau tak mau pada hari hari itu aku terpaksa bolos sekolah karena tempatku bekerja lumayan jauh, aku harus berjalan beberapa kilometer ke desa sebelah dan mencuci pakaian hingga sore hari. Kesalahan fatalku adalah tak menceritakan semua ini pada kak Hadi, gaji pertama yang sengaja kubelikan daging sapi telah membawa petaka.. dia menuduhku sebagai pencuri, sementara aku berbohong bahwa daging yang sedang kumasak waktu itu adalah daging pemberian Pak Sam. “Kak, aku menyesal…seharusnya aku tak berbuat seperti itu…”

Kakak kesayanganku pergi dengan sepeda motor pinjaman yang biasa dia pakai untuk mengojek, suara deru motor terdengar lebih kencang daripada biasanya, dia marah dan melaju dengan sangat cepat memastikan perkataanku kepada pak Sam… aku bergetar ketakutan sendiri menantinya pulang, sudah bisa kubayangkan wajah marahnya saat dia tahu pak Sam tak pernah memberikan daging Sapi kepadaku. Ditengah rasa takut menantinya pulang, bukan dia yang datang ke rumah..bukan Hadi kakakku, melainkan beberapa tukang ojeg yang menggotong jasad kakunya, dia pergi untuk selamanya.. ditengah amarah yang menguasai pikirannya… dan aku yang sebatang kara menangisi kepergiannya, menyesali perbuatan bodohku. Aku mohon ampun atas kesalahanku ini kak…. Seharusnya kau tak pergi secepat itu, seharusnya kau masih disini menyaksikan aku tumbuh menjadi seorang sarjana, istri, dan Ibu bagi keluarga kecilku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, tak terasa sudah satu jam aku bersimpuh dihadapan nisan kakakku, sebuah tangan kecil menarik bajuku dari belakang.. “Mama Hanna..mama..pulang yuk, Hadi kepanasan… Hadi haus”, kulihat anak sematawayangku yang baru belajar berjalan dan berbicara sudah berkeringat letih menunggui ibunya yang sudah satu jam melamun di depan makam. Wajahku menunduk menatap nisan, “Kak, harusnya kamu masih ada disini menggendong keponakanmu dan mengajarinya bagaimana tumbuh menjadi lelaki tangguh sepertimu..” kubisikan kata-kata itu sambil beranjak meninggalkan pemakaman. Kurangkul Hadi kecilku, memintanya melambaikan tangan kearah nisan sambil berteriak “Dadah paman… Hadi pulang dulu ya..”, aku yakin kau bisa mendengarnya kak…dan sangat yakin sekarang kau sedang tersenyum menatap kami melangkah meninggalkanmu..

Dari kejauhan kulihat suamiku sedang tersenyum menanti kami untuk kembali pulang ke kota, anakku berteriak girang melihatnya dari kejauhan.. “Papa Sam Papa Sam aku dataang!!!”, aku tertawa bahagia mendengar celoteh bawel anakku…

“Kak Hadi, hidupku bahagia kini, sebentar lagi aku menjadi sarjana dan kelak menjadi seorang Guru, aku ingin menjadi malaikat pelindung untuk anak-anak seperti kita.. sama seperti suamiku ‘pak Sam’ yang dulu menjadi malaikat bagi kita berdua”.

4 comments:

  1. Bukan hanya hana yang pecah air matanya, Begitupun aku!!
    haha (lebay)

    ReplyDelete
  2. hmmm,,,, banyak makna yg bisa kita jadikan pelajaran..

    ReplyDelete
  3. hana nikah sama pak sam, pas hana dewasa pak sam umur berapa tuh? -_- tapi selepas dari itu ceritanya bagus2 teh bikin saya lebih bersyukur :)

    ReplyDelete