Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, December 6, 2011

Hadi (Part 1)


Kutatap mata adikku dengan tatapan begitu dalam… sangat cantik untuk ukuran wajah-wajah perempuan di desa kami. Kulitnya putih bersih, hidung mancung, dan rambut hitam lurus terurai hingga bahu. Entah mewarisi kecantikan siapa karena wajah Ibu dan wajahku sangat tidak mirip dengannya. Mungkin Bapa kami tampan, entahlah… seumur hidup aku dan Hanna belum pernah melihat perwujudannya, bahkan cerita tentangnyapun tak pernah keluar dari mulut Ibu. Aku dan Hanna bukan anak-anak cerewet yang ingin tahu bagaimana silsilah keluarga dan asal-muasal kami, sudahlah… biarkan masa lalu jauh berada dibelakang kami, kami harus tumbuh menjadi anak-anak yang lebih baik daripada Bapak.. bahkan Ibu.

Umurku 17 Tahun, seharusnya duduk dibangku SMA. Namun apa daya, sekolahku berakhir dikelas 3 SD tepat setelah Ibu meninggalkan aku dan Hanna tanpa sebab di rumah yang diwariskan Almarhum Kakek untuk Nenek dan Ibu. Aku, Hanna, dan nenek tinggal bertiga setelah kepergian Ibu. Menurut desas-desus yang kudengar, Ibu pergi keluar pulau untuk kemudian menikah dengan lelaki kaya yang tak suka menghadapi kenyataan bahwa Ibu mempunyai 2 anak yang harus diasuhnya. Nenek kami sudah renta, bahkan untuk melangkah satu meterpun beliau sudah begitu kelelahan, aku mencari cara untuk membiayai hidup kami bertiga dan akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang kuli di rumah-rumah tetangga, hasilnya lumayan.. bisa membiayai makan kami bertiga.  Namun nenek tak bertahan lama untuk hidup dan menyaksikan dua cucunya tumbuh dewasa, nenek meninggalkan kami semua 3 tahun setelah Ibu pergi, lagi-lagi harus kuhadapi perpisahan dengan keluarga terdekatku.

Hanna kini duduk di bangku sekolah dasar, kelas 5. Semenjak ditinggal ibu, sedikitpun tak pernah dia rewel menanyakan keberadaan Ibu, dengan usianya yang begitu belia.. dia cukup dewasa menghadapi segala kondisi yang mau tak mau harus dihadapi olehnya. Pekerjaanku sebagai kuli ternyata cukup membantuku menyekolahkan Hanna hingga kini, namun aku tak tahu sampai kapan bisa membantunya sekolah, aku ingin Hanna tumbuh menjadi orang mandiri yang bisa membuat orang-orang sadar bahwa kami tak pantas dilecehkan.

Kuusap kepala Hanna yang kini tertidur sambil memeluk pinggangku, rupanya dia kelelahan setelah lama menangis mengadu kepadaku, siang tadi beberapa teman sekolahnya lagi-lagi menghina Hanna yang berbaju kumal dan bersepatu bolong, mereka menyebutnya “Gembel”. Aku belum mampu membelikannya seragam baru, seragam yang kubeli saat dia naik ke kelas 3 adalah satu-satunya seragam yang kini dia punya. Sepatu yang dia kenakan sebenarnya memang sudah tak layak pakai, lubang disana sini membuat kakinya selalu kedinginan saat air hujan atau genangan air merembes masuk kedalam sepatu, namun mau bagaimana lagi… uangku pas-pasan, seringkali kami tidak makan selama beberapa hari karena lebih mementingkan uang untuk membayar biaya sekolah Hanna. Aku harus menjadi sosok yang dibutuhkan Hanna, saat dia menangis seperti ini… aku menjadi seorang Ibu yang berusaha menenangkannya.

Daging adalah hal yang sangat mewah bagiku dan Hanna, lebaran Idul Adha adalah hari yang sangat kami nantikan melebihi lebaran Idul Fitri. Di hari itu kami bisa menerima setidaknya setengah kilo daging entah itu Sapi ataupun Kambing, sementara pada hari raya Idul Fitri kami tak bisa menerima THR dari siapapun.. karena benar-benar tidak ada lagi sanak saudara yang kami punya. Sebagai kakak laki-laki yang ingin membahagiakan adik satu-satunya, biasanya kusisihkan sedikit saja uang untuk Hanna, biasanya dia belikan celana atau kaos untuk dia kenakan pada saat shalat ied. Tidak ada sedikitpun pikiran tentang cinta bagiku, aku terlalu sibuk mengais rejeki untuk kehidupan kami sehari-hari walau Hanna seringkali menggodaku dengan berkata “Kak Hadi, Hanna ingin sekali punya kakak perempuan”, aku menjawabnya dengan senyuman dan usapan tanganku dikepalanya.

Pernah suatu kali pekerjaanku sebagai kuli sangat mandeg, sama sekali tidak ada proyek yang bisa kukerjakan. Aku kebingungan karena tak bisa mencari kerja lain selain pekerjaan-pekerjaan kasar, maklum.. aku lupa cara menulis dan membaca, sebenarnya aku bisa mengendarai motor karena seorang temanku sesama kuli pernah mengajariku mengendarainya.. seharusnya aku bisa menjadi tukang ojeg, namun sayang aku tak punya modal untuk membeli atau menyicil sebuah motor. Selama 3 hari aku dan Hanna  tak makan kala itu, tak ada sedikitpun uang yang bisa kubelikan beras, awalnya kami baik-baik saja karena “kelaparan” memang sudah menjadi makanan sehari-hari kami. Setiap merasa lapar, kuberi Hanna segelas air putih untuk diminumnya, biasanya itu bisa mengatasi rasa lapar. Hanna menurut saja apa kataku, namun pada hari ke 4 tubuhnya mulai menggigil, wajahnya pucat dan terus menerus berkata “kak Hadi.. Hanna lapar kak… Hanna sudah tak kuat lagi kak..”. Aku kebingungan melihatnya semakin melemah, sementara aku tak tahu harus mencari makanan kemana… sebenarnya bisa saja kupinjam beras ke tetangga sebelah, tapi seperti yang sudah-sudah, mereka selalu enggan membantu kami, mereka bilang kami adalah anak pelacur yang tidak pantas untuk ditolong, “Entah apa yang engkau lakukan bu sehingga Aku dan Hanna harus menerima semua cacian orang akibat ulahmu”. Aku yang kebingungan akhirnya teringat pada seseorang yang mungkin mau membantuku, dia adalah wali kelas Hanna bernama Pak Samsudin. Umurnya sekitar 25 tahun, belum menikah dan sangat baikhati terhadap murid-muridnya, aku ingat… beberapa bulan yang lalu pak Sam memberikan sejumlah uang untuk membantuku melunasi biaya SPP Hanna yang sudah hampir 5 bulan belum bisa kubayar, jika bukan karena bantuannya.. mungkin Hanna sekarang sudah menjadi pengangguran karena diberhentikan dari sekolah. Dulu aku tak sempat diajar olehnya, namun saat masih bersekolah di sekolah yang sama dengan Hanna.. aku sering melihatnya mondar-mandir memantau seluruh murid. Aku berlari begitu kencang menuju rumah pak Sam yang cukup jauh dari tempat tinggal kami, hatiku tak karuan mengingat kondisi Hanna. “Pak Sam…pak Sam assallamualaikum!! Pak lekas buka pintunya…ini Hadi pak, kakaknya Hanna”, begitu panik kuketuk pintu rumah Pak Sam. “Ada apa Hadi?”, pak Sam tampak begitu kaget melihatku terengah lelah dan panik. “Hanna pak… Hanna sakit, sudah 4 hari dia tak makan, aku tak punya uang untuk membelikannya makanan..”, tak terasa air mata menetes dari mataku tenggelam dalam perasaan malu dan bersalah didepan Pak Sam. Beliau yang memang sangat baik hati bergegas berlari ke dapurnya, membekaliku nasi, lauk pauk, dan satu kantong beras untuk segera kubawa pulang, “Lekas segera pulang beri adikmu makan, kau juga harus makan ya! Agar badanmu tak kering kerontang seperti ini!”. Aku berlari pulang dan segera memberi Hanna makan, akhirnya bisa kulihat lagi adikku tersenyum setelah melahap sepiring nasi dan sepotong ayam goreng pemberian Pak Sam, kupeluk tubuhnya erat sambil tak henti bibirku mengucap syukur atas karunia Tuhan yang masih melindungi kami dengan mendatangkan orang baik hati seperti Pak Sam.

Rupanya Tuhan masih berbaik hati kepadaku, seorang teman sesama kuli meminjamkan motornya untuk kupakai ngojek, hasilnya jauh lebih besar daripada pekerjaanku sebagai kuli bangunan… meski harus kusisihkan beberapa puluh ribu untuk ongkos menyewa motor. Beberapakali Hanna melarangku ngojek, dia bilang “Hanna khawatir kakak jatuh dari motor”, dia masih terlalu kecil untuk memahami seberapa besar keinginanku untuk membuatnya tumbuh sebagai seorang terpelajar, tidak sepertiku.

Hari itu aku pulang cepat, agak kurang enak badan karena sudah sedari subuh aku berangkat ngojeg, terlalu banyak angin yang masuk ke tubuhku. Rupanya Hanna juga pulang cepat, dia tengah berada di dapur sibuk melakukan sesuatu saat kupulang, bau masakan tercium menyengat dihidungku. “Hanna, kau sedang apa?”, Hanna terlihat sedikit kaget.. “Eh kakak, aku memasak semur daging sapi”. “Daging sapi? Kau dapat daging dari mana?”, aku mulai curiga padanya. “ini…ini daging pemberian pak Sam, ya.. pemberian pak Sam kak..”, jawaban Hanna terdengar ragu dan membuatku sedikit marah kepadanya. Hanna tahu aku sangat benci pencuri, berulangkali kuingatkan padanya untuk tak mencuri apapun dari orang lain meskipun hidup kami serba kekurangan. “Hanna, kau mencuri ya? Jawab jujur padaku!”, emosiku mulai tersulut. Hanna menggeleng gugup dan mulai menangis, “Tidak kak, aku tidak mencuri… sungguh”. Kecurigaanku memuncak, “Dengar Hanna, aku tak percaya padamu. Sekarang aku akan pergi menemui Pak Sam dirumahnya, jika kamu berbohong… aku tak akan pernah bisa memaafkanmu, ingat itu!”.

Aku bergegas pergi meninggalkan rumah mengendarai motor menuju rumah Pak Sam, kulihat ari kejauhan Pak Sam tengah membaca Koran di halaman depan rumahnya, wajahnya tersenyum saat melihatku memarkirkan motor. “Hai Hadi, ada apa tiba-tiba datang ke rumah bapak?”, seperti biasa pak Sam selalu ramah menyambutku. “Pak Sam, apa benar bapak memberi daging sapi kepada Hanna hari ini?”, aku bertanya sopan berharap memang benar apa yang dikatakan oleh Hanna. Pak Sam tampak terlihat bingung, “Mmmh daging sapi? Tidak, kebetulan hari ini saya tidak bertemu Hanna di sekolah, justru saya ingin tahu keadaan Hanna karena hari ini dia tidak masuk sekolah, dan tak ada berita atau surat sakit yang menjelaskan keabsenan Hanna hari ini”.

Jika harus membandingkan kemarahan saat ditinggalkan oleh Ibu, kemarahanku hari itu jauh lebih besar, emosiku tak bisa kukendalikan, terlalu marah bagiku mengetahui adik yang kudidik untuk menjadi ‘seseorang’ ternyata menipuku…dan lebih buruknya lagi ternyata dia menjadi seorang pencuri. Kuabaikan tangan pak Sam yang berusaha menahanku pergi saat dia melihat kemarahan yang berkobar dimata, aku tahu dia pasti akan berusaha melindungi Hanna, kuhempaskan tangan pak Sam, memacu motorku untuk segera pulang dan sepertinya akan menghukum Hanna untuk kali pertama. Aku marah…sangat marah! Kupacu sepeda motor sangat kencang…. Hingga tak sadar kulihat seorang anak kecil melintas menyebrangi jalan tepat didepanku, aku tersentak kaget… kubantingkan stir motor kemana saja asal tak menabrak anak kecil itu, semuanya hitam….. melebur dengan kemarahanku terhadap Hanna.


No comments:

Post a Comment