Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, December 6, 2011

Ampuni Aku.. (Part 3 - finish)


Dari kejauhan kulihat kalian tumbuh menjadi anak-anak yang kuat… aku melayang mencari tahu apa yang bisa kulakuan saat ini untuk melindungi malaikat-malaikat kecilku yang menderita akibat perbuatanku..

Kalian pantas membenciku, kalian pantas berhenti memanggilku ibu… aku terima semua ini karena memang begitulah aku, wanita brengsek yang tega meninggalkan kedua anaknya dalam kesendirian.. kalian terlalu polos untuk menerima semua derita akibat perbuatanku, kalian terlalu suci untuk disakiti. Tapi aku tak bisa berbuat apapun untuk kalian… Tuhan menghukumku dalam penderitaan tanpa akhir ini, entah sampai kapan.. tak mengapa asal masih bisa kulihat kalian..

Aku tak pernah bisa memaafkan diriku, beruntung kalian tidak mewarisi hal-hal buruk yang kumiliki. Aku ingin bebas dari kekangan kakek kalian, aku ingin lepas dari kebodohan desa ingi, kulawan semua aturan hingga akhirnya membuat kakek kalian meninggal tenggelam dalam kekecewaan terhadap aku anak sematawayang miliknya. Tertatih kumengais rejeki di ibukota hingga akhirnya terjerumus dalam perbudakan wanita hingga kalian berdua terlahir kedunia, kalian tahu? Aku memang tidak tahu siapa ayah kalian, mataku hanya bisa berkaca-kaca saat kala itu kau Hadi bertanya padaku “Bu, bapa dimana?” betapa perihnya hati ini memikirkan jawaban apa yang harus kuberikan padamu,  bukan berat untuk menjawab melainkan karena aku tak tahu harus menjawab apa… aku tak tahu siapa bapakmu aku tak tahu siapa bapak Hanna.

Aku masih sempat mengantarmu ke sekolah saat kali pertamanya kau bersekolah, kau melompat kegirangan dengan seragam baru pemberianku. Semalaman kau tidak tidur memikirkan bagaimana harus kau bersikap di sekolah, Hadi… kau sungguh menggemaskan.  Dan kau Hanna, masih ada digendonganku saat sama-sama kita mengantar Hadi bersekolah, itu adalah saat-saat terindah yang tak pernah bisa kuraih kembali. Semakin lama kondisi tubuhku semakin tak karuan, sementara perhatian yang kalian butuhkan dariku semakin banyak… aku lelah dan tak sadar sesuatu mematikan menggerogoti tubuhku, perasaanku sudah mengatakan ada yang tak beres dengan kondisi kesehatanku, namun sebelum memastikan tubuhku sakit, kuperiksakan kalian berdua terlebih dahulu, syukurlah kalian berdua sehat. Dan benar saja perkiraanku, setelah akhirnya kuperiksakan tubuhku.. akhirnya aku tahu penyakit HIV tengah bersarang didalamnya. Ini adalah hukuman bagiku, aku harus mengikhlaskan ini…

Hanna kala itu kau sudah bisa berjalan dan mulai memanggilku Ibu, Hadi kau tengah mempersiapkan ujian untuk naik ke kelas 4, kuputuskan untuk meninggalkan kalian berdua bersama nenek yang sudah lama mengetahui penyakit yang kuderita, nenek kalian tahu semua tentangku dan memastikan padaku bahwa kalian akan baik-baik saja ditangannya. Hadi, kau sedang asik menjawab ujian dibangku kelasmu, aku mengamatimu dari luar kelas sambil mengisak sedih.. hatiku sakit melihat anak sekecil itu harus kutinggalkan selamanya, namun hatiku akan lebih sakit jika penyakit yang kuderita ternyata menularimu. Kubelai tubuhmu dari kejauhan, lewat kaca jendela kelasmu…

Saat itulah seorang anak muda berkulit hitam berbadan tegap berseragam guru menghampiriku, menyentuh pundakku sambil berkata “Ibu baik baik saja?”, pemuda itu bernama Samsudin, entah mengapa tiba-tiba kututurkan semua deritaku saat itu padanya… kurangkul tangannya sambil berkata “Samsudin, bisakah kau membantuku menjaga Hadi dan Hanna?”, dia yang memang sangat santun dan baik hati menganggukkan kepalanya kepadaku tanda menyetujui permintaanku. Entah kenapa keyakinanku begitu kuat pada pemuda ini, hingga akhirnya bebanku sedikit berkurang saat tahu dirinya mau membantuku menjaga kalian. Aku memohon kepadanya untuk merahasiakan segala yang pernah kuceritakan padanya, sampai kapanpun rahasia ini harus terjaga.. jika memang harus mereka tahu apa yang sebenarnya terjadi, hanya mulutku yang boleh bercerita… hanya aku yang boleh mengungkapkan segalanya. Dia mengangguk dan berkata, “mereka akan baik-baik saja…saya akan bantu menjaga mereka. Sekarang Ibu jaga kondisi kesehatan ibu, dan saya harap suatu saat Ibu bisa kembali hadir disisi mereka.. mengembalikan kasih sayang seorang Ibu yang pernah hilang dalam hidup mereka”.

Saat kalian tertatih menata hidup yang hancur sepeninggalanku, mungkin saat itu aku sedang sendirian didalam kamar kos yang kusewa untuk menghabiskan sisa-sisa terakhir hidupku, sakit rasanya menanggung semua beban yang kelak akan kuterima… kalian, masa lalu yang kelam.. semuanya berenang dikepalaku bagai mencemooh aku yang kalut dan merasa ditelanjangi karma terhadap ayah. Terlalu lemah bagiku menanggung semua beban ini, seharusnya aku tak begini… tapi aku malu menghadapi semua kelemahan yang Tuhan berikan kepadaku. Kuputuskan untuk mengakhiri hidupku lebih cepat, keputusan yang seharusnya tak pernah terlintas dikepala… seharusnya waktu yang tersisa bagiku kugunakan untuk memapah kalian yang masih sangat membutuhkanku…maaf aku tak pernah kembali lagi untuk mengembalikan kasih sayang seorang Ibu yang kurenggut dari hidup kalian..

Hadi, kau adalah anak yang sangat bertanggungjawab. Aku bangga menjadi ibumu, kau sangat bertanggung jawab terhadap Hanna adikmu… kau rela mengorbankan dirimu demi Hanna. Seharusnya kau tak seperti itu, karena kaupun layak mendapatkan semua… kau layak tumbuh menjadi ‘seseorang’, maafkan aku anakku karena membuyarkan semuanya. Kau pergi untuk selamanya…aku melihatmu terjatuh dari kendaraan yang kau kendarai, kulihat darah berhamburan dari kepalamu, kulihat kau pergi meninggalkan jasadmu yang terpental jauh saat kau terjatuh…  kupikir kau akan menemuiku… namun hingga detik ini tak pernah bisa kutemui kamu… entah dimana kau kini anakku… ingin sekali kusampaikan penyesalan ini… ingin sekali kuceritakan sebenarnya apa yang telah terjadi… aku yakin, tempatmu kini jauh lebih baik dibandingkan tempatku… aku yakin itu.

Hanna malaikatku, kau tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat mengagumkan. Aku selalu bersujud bersyukur karena kau tumbuh tidak menjadi sepertiku, kau kini adalah sosok yang sejak dulu kucita-citakan… kemarahanmu padaku bisa kurasakan hingga seringkali menohok sanubari ini, sakit sekali… tapi ini adalah hal yang memang harus kuterima, aku menerima itu Hanna… aku menerima segala kemarahanmu. Seandainya aku ada disisimu, ingin rasanya kurangkul Hadi kecilmu dan berbisik padanya “Cucuku, kau beruntung memiliki Ibu dan Ayah yang sangat mencintaimu…”

Dari sekian banyak penyesalanku, aku lega telah melakukan hal benar dalam satu hal… firasatku tentang Samsudin ternyata benar, laki-laki yang kuberi kepercayaan itu telah menjadi seseorang yang bisa menjaga anak-anakku menggantikan aku. Bahkan kini dia telah menjadi malaikat pelindung anak bungsu dan cucuku. Waktu tak bisa kuputar kembali, wujud tak bisa kubangun kembali…

Kini aku hanya melayang menengok cucuku dari kejauhan dan mengintip Hanna yang tumbuh dewasa, menjadi istri yang baik, sibuk belajar menuntut ilmu dan mengasuh cucuku yang sangat tampan…

Melayang kini kucari Hadi anakku yang tak pernah berhasil kutemui

Melayang kini kumencari ampun darimu Tuhan..

Melayang kini kumencari cara untuk menebus segala kesalahan yang kuperbuat terhadap kedua orangtuaku..

Melayang kini kumenunggu ampun yang muncul dari hati anak-anakku atas segala perbuatan yang telah kuperbuat…

Maafkan aku Tuhan… maafkan aku Bapak… Ibu… Hadi.. Hanna

5 comments:

  1. selalu suka dengan cerita" teteh :)

    ReplyDelete
  2. sesungguhnya tuhan mengampunimu... dan tuhan maha pengampun dan penerima taubat :)

    ReplyDelete
  3. tetaplah semangat meski tak sanggup lgi...
    mungkin tuhan mengujimu........

    ReplyDelete
  4. Cerita yang sangat Seru mbak, entah siapa yang engkau ceritakan namun itu adalah sepenggal cerita yang pernah dialami seseorang tentunya. Lika liku dunia hitam, kehidupan malam semakin kelam. Semoga ini menjadi pelajaran untuk kita semua.

    ReplyDelete
  5. aaaa bagus sekaliii :') sukses terus tehh

    ReplyDelete