Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, November 15, 2011

Peluh.


Terlalu mudah bagimu merencanakan sesuatu yang kau anggap baik untuk hidupku, katanya ini cocok untukku, katanya ini sempurna bagiku. Aku mengerti posisiku dan bagaimana kuharus menempatkannya, aku tahu betul bagaimana sikapku dan kapasitas egoku yang tak bisa seenaknya kuhamburkan terburai menyeka semua lantai-lantai harapanmu, tapi ini adalah hidupku… yang kelak harus kujalani dengan langkah tegap meski berakhir dengan kesendirian.

Kau adalah tempatku bergantung saat langkah mulai goyah, kau juga banyak mengajarkan sikap yang harus kuambil saat dihadapkan pada sebuah hal yang tak kuinginkan, seperti halnya yang pernah terjadi padamu. Dalam satu kondisi, kau terlukis begitu bijaksana hingga tak bisa kusangkal betapa aku mengagumimu. Tapi disudut sisi yang lain, kau terlukis bagai anak manusia berumur belasan yang harus kumengerti dan mengerti hingga melunak hatimu terhadapku. Aku lelah… peluhku membasah membanjiri tubuh yang mulai tak sanggup lagi berdiri dibelakangmu… mengikutimu yang tak pernah luput menuntunku..

Banyak orang berbisik ditelingaku, “kamu begitu mirip dengannya..” ujar mereka sekilas menatapmu lantas menatapku, kuakui itu… lalu kutanyakan apa kemiripan kita pada mereka, mereka menjawab “wajah dan sifat kalian cukup mirip..”. Jika memang benar seperti itu, aku ingin merubah kemiripan sifat kita…sangat ingin.

Jika memang aku harus mengikutimu, bisakah kau biarkan ku melangkah lebih lambat sedikit saja hingga bisa kunikmati semua ini dengan caraku? Mungkinkah itu? Kau sudah melewatkan banyak fase dalam hidupku yang tak pernah kau campuri dengan segala sesuatu yang kau anggap baik untukku, dan kini kau hadir menjadi sosok baru yang tiba-tiba saja sudah membuatkan daftar panjang jalanan yang harus kulalui. Jika memang harus begitu, mengapa tak kau lakukan sejak dulu? Saat kumeraba jalanan luas dimana hanya ada aku sendirian yang mau tak mau harus tetap melangkahkan kaki ini untuk hidup menjadi seseorang yang bisa melebur dengan dunia. Tahukah kau sebenarnya aku sudah memiliki daftar jalanan yang ingin kulalui? Tahukah kau aku sudah melalui beberapa diantaranya? Pasti kau tidak tahu, kau hanya melihat semuanya dengan mata dan pendengaranmu, bukan hatimu.

Mereka bilang, banyak hal buruk yang akan terjadi padaku jika kumelangkah menentukan jalanku sendirian tanpa pedulikan teriakkanmu, benarkah itu? Tanpa harus mendengar ucapan mereka pun sesungguhnya lenganku sudah terikat kuat oleh sebuah temali yang terhubung dengan lenganmu, dan kutundukkan kepala ini untuk menurunkan ego yang sebenarnya sudah begitu ingin menengadah dan menjauh darimu. Bagai dua sisi mata uang, isi kepala dan suara hatiku selalu berkelahi mempertentang sikap apa yang harus kulakukan. Didepanmu kuingin terlihat bagai seorang dewasa yang suka akan jalan yang telah kaupilih untukku, dibelakangmu kumenangis teriris menikmati khayalan tentang akhir bahagia atas jalan yang kupilih…hanya khayalan…hanya ada di dalam kepalaku.

Aku ingin bersenandung, melompat kecil, tak perlu tertawa riang namun kau bisa melihat tak ada lagi satupun hal yang kusembunyikan darimu, dan tak ada lagi umpatan hati untukmu. Lelah rasanya hidup dalam kepura-puraan, seperti bersembunyi dibalik cangkang kelomang  kubiarkan kau menebak apa yang ada didalam cangkangku…. Dan kau keliru, tebakanmu seringkali tidak tidak tepat.

Mereka bilang aku mirip denganmu…

Tapi aku bukan kamu…

Satu detik saja ijinkan aku berkhayal tentang harapan..

Satu kesempatan saja ijinkan aku mewujudkannya..

Jika memang langkahku salah… biarkan aku menikmatinya..

Karena aku bukan kamu..



1 comment:

  1. salut sama cerita ini.. ikut terhanyut karna ada kemiripan cerita disini.

    ReplyDelete