Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, November 24, 2011

Jimbar... (part 3)



Aku masih terpaku melihat kedua orangtuaku kebingungan menggeledah seisi rumah yang mendadak terlihat sangat rapi tak seperti biasanya. Kami curiga jangan-jangan ada pencuri yang menyusup ke dalam rumah yang seharian ini kosong kami tinggalkan, tapi pikirku.. mana mungkin pencuri seniat ini membereskan seisi rumah tanpa terkecuali? Sebagai anak laki-laki paling besar dikeluarga ini, harusnya aku bisa memecahkan teka-teki siapa orang yang ada dibalik kebingungan kami semua hari ini.

Layung adik perempuan pertamaku pergi untuk selamanya hari ini, keluargaku tengah terluka dan berduka. Aku harus bersikap tegar, meski tak jarang kupalingkan wajah untuk mengusap setitik air mata yang jatuh dipipi. Aku tak mau membuat Antik, Ibu, dan Ayah lebih terluka jika melihat aku juga terluka atas perginya Layung…

Kurangkul tubuh ibu yang lelah mencari tahu siapa orang yang menyusup masuk ke dalam rumah yang seharian ini kami tinggalkan saat mengantar jenazah Layung ke kota Bogor sebagai kota peristirahatan terakhirnya. “Bu, sudah yah… siapapun orang itu, sepertinya dia baik karena mau membereskan seisi rumah tanpa mengambil satu barangpun dari rumah ini..” ayah mengangguk tanda setuju sambil perlahan menggantikkanku merangkul Ibu yang tampak lelah dengan tatapan mata kosongnya.

Sebelum hari ini datang, rumah ini selalu penuh dengan warna, semua orang yang tinggal di rumah ini memiliki karakter manusia yang berbeda-beda. Ibu seorang seniman dibidang teater, ayah seorang dokter, aku seorang akuntan, Layung seorang mahasiswi yang memilih untuk bergelut dibidang teknik sipil, dan si kecil Antik masih bersekolah dan berencana untuk melebarkan sayapnya menjadi seorang pelukis. Dengan perbedaan hobi, sifat kamipun berbeda. Ibu sangat kreatif dan eksentrik, ayah sangat pintar dan logis, aku lebih memilih menjadi seorang pria ramah dan penyayang, Layung cukup tomboy dan baik hati, sesuai dengan namanya… Antik yang terkecil juga memiliki karakter yang cukup unik, dia eksentrik namun logis, perpaduan antara Ibu dan Ayah. Kami tertaut dalam satu ikatan darah, aku bahagia menjadi bagian dari keanekaragaman ini.

Layung hanya terpaut 4 tahun denganku, hubungannya denganku sangatlah dekat… jika ada sebutan untuk sebuah hubungan lebih daripada saudara kandung namun bukan kekasih maka itulah kami. Layung yang cantik, cuek dan ceria selalu membuat hari-hariku berwarna, pernah satu kali saat kami masih kecil, gerombolan anak-anak laki-laki di komplek hampir mengeroyokku dengan alasan kurang jelas, mereka bilang aku angkuh dan sombong. Aku yang hanya sendirian merasa sangat ketakutan berhadapan dengan mereka, tiba-tiba Layung yang jauh lebih mungil dari kami semua muncul dengan tatapan galak membelaku sambil memukuli mereka satu-persatu hingga membuat mereka kabur. Layung begitu santun terhadapku, orangtua kami, bahkan pada Antik adik bungsu kami. Meski tomboy, Layung adalah seorang perempuan yang sangat ahli dalam memasak. Masakan Layung cukup populer ditengah keluarga besarku, dia tak keberatan jika saudara jauh keluargaku memesan ini itu darinya untuk dimasak, Layung adalah kesayangan semua orang.

Layung sering mengeluhkan sakit kepalanya, kami tidak pernah tahu seserius apa sakit kepalanya. Layung selalu saja tersenyum meski kesakitan, hal itu yang membuat kami yakin bahwa dia baik-baik saja. Layung tak pernah meminta memeriksakan penyakitnya, meski Ayah kami memaksanya. Ayah seorang dokter, dia tahu ada sesuatu tak beres menyangkut kesehatan Layung, namun Layung tak pernah mau ditangani Ayah, selalu saja dia berkata “Aku baik-baik saja kok yah!”

Malam tadi dia tertidur sepulang kuliah di kamar Ibu, lagi-lagi dia keluhkan sakit kepalanya. Tak ada pertanda apapun bahwa dirinya akan pergi dari kami semua, Layung pergi meninggalkan kami dalam keadaan tertidur, di tempat tidur Ibu. Tak ada hujan, kepergian layung bagai halilintar yang menyambar tepat ke hati kami semua, termasuk hatiku yang begitu menyayanginya. Tak pernah keluarga kami merasakan kepedihan sedalam ini. Semua datang secara tiba-tiba, keluargaku yang terbiasa dibuai oleh kebahagiaan dalam sekejap berubah menjadi keluarga murung yang dirundung duka mendalam.

Antik menjerit dengan hebatnya berteriak memanggil Ayah yang masih merangkul Ibu, suaranya terdengar dari arah dapur yang bersebelahan dengan ruang makan. “Ayaaaaah Ibuuuuuu Jimbaaaaar lihat ini!!!”, Antik kembali berteriak namun kini dengan getaran seolah dia hendak menangis. Matanya membelalak hebat, mukanya pucat pasi, tangannya menunjuk ke arah meja. Mataku mengarah pada benda dalam piring besar yang tersaji diatas meja makan, arah yang ditunjuk oleh telunjuk antik yang kini menangis memeluk ayah yang mulai berteriak meneriakkan asma Allah. Diatas meja makan kulihat sepiring masakan yang terlihat tak asing bagi keluargaku,  sepiring oseng-oseng lidah sapi saus tiram, makanan kesukaan Antik yang hanya bisa dibuat oleh Layung. Layung yang menciptakan masakan ini, oleh karena itu aku yakin hanya Layung yang bisa membuatnya. “Allahuakbar..” aku berteriak ikut menjerit melihatnya, disusul tangisan Ibu yang mungkin baru menyadari pemandangan haru yang sedang kami lihat. Ibu, Antik, Ayah dan aku sama-sama mencicipi oseng-oseng itu, rasanya sangat mirip masakan Layung. Kami berempat berpelukan, aku tak tahan menahan air mata yang seharian ini sudah berhasil kutahan. Antik berteriak memanggil nama Layung, “Layuuuuung…. Layuuuung… terimakasih…terimakasih..”. Aku tak kuasa lagi menahan rasa sedih, kudekap kepala Antik berharap dia berhenti berteriak karena hanya akan membuat hati semua orang semakin terluka atas kepergian Layung.

Layung meski kau pergipun kau masih saja baikhati mempedulikan kami semua… terimakasih untuk masakanmu yang kuyakin kau buat sendiri untuk Antik.

Ibu seperti terperanjat kaget sambil mendadak berlarian ke lantai atas rumah, dia masuk ke dalam kamarnya dengan sangat cepat dan lagi-lagi kudengar teriakannya, kali ini dia berteriak memanggil kami semua. Kamar ibu yang terakhir kali kami lihat begitu berantakan kini terlihat sangat rapi. Kasur tempat pembaringannya untuk yang terakhir kali kini sudah tak kusut lagi. Baju yang berserakan kini sudah berada di tempatnya masing-masing, kami yakin hanya Layung yang tahu letak dimana barang-barang bergeletakkan itu seharusnya berada. Saat semuanya masih terpaku penuh haru, aku mengomando semuanya untuk masuk ke dalam kamar Layung, sekedar ingin tahu apa yang terjadi di dalam kamarnya jika memang dia yang melakukan semua ini. Semua sudah masuk ke dalam kamar Layung, suara tangis kembali memecah rasa kaget kami….

Tempat tidur Layung yang terakhir kali terlihat berantakan dengan sprey berwarna Hijau Tosca kini berganti menjadi sprey berwarna putih dengan corak bunga rose berwarna putih. Layung pernah berkata didepan kami semua, “Jika kalian ingin tahu suasana hati aku, lihat saja sprey kamarku! Kalau berwarna hijau, berarti aku sedang pusing entah pusing kuliah atau apapun itu. Kalau warnanya putih, berarti aku lagi senang dan bahagia!”. Diatas tempat tidurnya kulihat sajadah dan mukena terlipat yang sepertinya habis dipakai shalat oleh seseorang, Ibu meraih mukena itu dan menciuminya… kembali kudengar Ibu menangis menyebut nama Layung. Kuambil mukena itu untuk melakukan hal sama seperti yang Ibu lakukan. Air mata semakin membanjiri wajahku, mukena yang sedang kuciumi begitu identik dengan wangi parfum Layung, baunya seperti bau adikku.

Kami berpelukan, aku tahu kaupun ikut berpelukan bersama kami disini… Layung, kau adik yang sangat baik, aku yakin Tuhan akan memperlakukanmu dengan baik juga disana….


3 comments: