Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, November 8, 2011

Jika dia menjadi dewasa..

Jika dia menjadi dewasa.. mungkin dia akan menuliskan kata-kata yang kini kutulis…

Untuk kedua orangtuaku..

Ibu, apa kabar? Kau berada dimana kini bu? Banyak yang bilang padaku, katanya mataku ini sungguh mirip dengan ibu, senyumku mengingatkan orang-orang pada senyum ibu. Mereka bilang ibu cantik, dan aku cukup beruntung mewarisi kecantikan ibu. Ibu pasti ingat, beberapa belas tahun yang lalu saat umurku masih 4 tahun, ibu memutuskan untuk meninggalkan aku dan Ayah entah karena apa. Ibu tahu tidak? selama itupula aku tumbuh bagai seorang pengemis yang mengharap belas kasihan dari siapapun yang pernah mengenal Ibu. Aku tidak meminta apa-apa bu dari mereka, tapi mereka selalu saja terharu melihatku sendirian meracau tanpa beban didepan mereka… aku bernyanyi.. aku bercerita…seolah aku dibesarkan oleh seorang wanita pintar yang selalu ada disisiku memantau pertumbuhan putri satu-satunya, mereka memberiku pakaian, susu, makanan, mainan, hingga kasih sayang berlimpah yang tak pernah kudapat sebelumnya darimu. Ibu, diatas segala tanggung jawab yang kau abaikan untukku… aku masih sangat mencintai ibu, sosok ibu begitu suci dibenakku. Aku yakin ibu akan kembali pulang mengembalikan beberapa tahun hidupku yang hilang tanpa keberadaanmu..

Ayah, mataku selalu berkaca-kaca setiap melihat wajahmu yang terlihat semakin dipenuhi beban. Ingin rasanya memelukmu setiap saat mengatakan “kau tidak usah khawatir ayah, ada aku disini yang menemanimu saat kau mulai kehilangan arah..”. Kepergian Ibu yang begitu mendadak memukulmu begitu keras, apalagi saat kau tahu bahwa aku ditinggalkan oleh ibu untuk dibesarkan olehmu saja sendirian. Kau memang jarang sekali meluangkan waktumu untukku, saat Ibu masih ada pun kau selalu pulang larut mengais rejeki untuk menghidupi keluarga kecilmu, tapi kau adalah orang yang sangat menyenangkan karena disisa waktu sibukmu kau selalu menyempatkan diri untuk mengajakku bermain dan jalan-jalan ke tempat yang selalu saja bisa membuatku tertawa dengan begitu bahagia. Kepergian ibu merubahmu menjadi orang yang sangat berbeda, Ayah tahu tidak? Aku masih ingat bagaimana kumenangis histeris berteriak memanggil namamu saat kau menitipkanku pada saudaramu untuk menjaga dan membesarkanku, rasanya luka hatiku masih menganga karena kehilangan ibu, dan semakin menganga karena ternyata satu-satunya harapanku untuk bergantung tak juga menginginkan aku.

Ibu… Ayah? Aku ingin menanyakan satu hal kepada kalian berdua, sebenarnya terbuat dari apakah aku? Sepertinya aku pernah melihat sesuatu yang mereka bilang “cinta” dimata kalian, aku pernah yakin pada diriku bahwa kalian membuatku atas dasar sebuah cinta yang mendambakan kesempurnaan dengan mendatangkanku ke dunia. Namun kini aku tak terlalu yakin…. Mungkin aku hanyalah pengganggu di hidup kalian, aku hanyalah putri yang tak terlalu tega untuk kalian enyahkan, mungkin  aku adalah penghancur kesempurnaan yang sebelumnya pernah kalian ciptakan. Ibu, ayah… saat ini perasaanku berkata bahwa ini sama saja, rasanya seperti anak yang tak pernah kalian harapkan, rasanya sama seperti dienyahkan.

Ibu, kau tak hanya meninggalkan tanggungjawab atas diriku yang seharusnya kau penuhi, namun kau juga meninggalkan beban yang kini harus kutanggung. Mereka yang tak begitu mengenalku berkata, “dasar anak pelacur”. Sebenarnya apa maksud mereka bu? Ingin sekali aku marah dan berteriak membela ibuku yang mereka sebut pelacur, namun aku tak mengenal ibu sehingga aku takut mereka benar. Kuabaikan semua perkataan miring tentang ibu, aku tak peduli dan tetap merindukan sosokmu mesti hatiku selalu sakit setiap mendengar mereka mulai menjelekkanku karena terlahir dari rahimmu, aku bisa melewatinya bu… aku bisa melanjutkan hidupku meski telingaku sakit mendengar banyak cacian yang keluar dari mulut mereka. Bu, aku bertemu seorang laki-laki baik hati yang mengaku sangat mencintaiku hingga ingin menjadikanku pendamping hidupnya, aku begitu mencintainya. Ingin sekali kukenalkan dia yang sangat kucintai kepada ibu, dia mendatangkan banyak sekali kebahagian didalam hidupku, berterimakasihlah padanya bu, karena dia mampu membuatku mensyukuri hidupku yang ternyata indah meski tanpa kehadiran Ibu… dan Ayah. Tapi kebahagiaanku lagi-lagi hanya sekejap kurasakan, karena orangtua kekasihku tak menyetujui hubungan kami berdua, wajahku yang sangat mirip denganmu membuat mereka bertanya-tanya anak siapakah aku? Mengejutkan, mereka mengenalmu bu.. dan dimata mereka, ibu sama buruknya seperti yang orang lain bilang. Bu, sebenarnya kau ini siapa? Kenapa harus aku yang menanggung beban ini? Kenapa kau tak datang saja sesaat padaku dan ceritakan tentang siapa dirimu, sehingga aku tak kebingungan atas beban yang tak pernah kumengerti.

Ayah, kau tak pernah kembali…. Kau dan ibu sama saja, padahal sempat kuberharap banyak padamu. Kau melewatkan banyak sekali momen penting yang mungkin akan membuatmu bangga telah menjadi ayahku, kau wariskan kecerdasanmu hingga aku tak usah bersusah payah banting tulang membiayai pendidikanku karena kudapatkan beasiswa pemerintah untuk memenuhi pendidikan sampai tingkat sarjana. Kudengar kabarangin katanya kau sudah memiliki keluarga baru jauh diluar pulau, mengapa tak kaukenalkan mereka padaku Ayah? Aku ingin sekali memiliki adik, aku janji akan menyayangi adik dan ibu baruku seandainya kau mengijinkanku untuk menjadi bagian dari hidup barumu. Jangankan mengajakku hidup denganmu, mengabariku saja sepertinya tak terbersit di kepalamu. Ayah tahukah kau kalau dulu aku kehilangan arah mencari dimana dirimu? Aku adalah anak perempuan yang selayaknya menikah dibawah restumu, kau wajib menjadi saksi pernikahanku, dan aku tak tahu keberadaanmu… aku mencarimu kemanapun namun tak menemukan suatu titik cerah. Akhirnya kutemukan kabar tentangmu, namun kabar itu beriringan dengan putusnya tali cintaku karena hubungan kami tak direstui orangtua kekasihku. Aku tidak perlu lagi mencarimu, begitu sakit hati ini atas kehilangan cinta yang sempat membuatku merasa hidup.. dan kini kuputuskan, aku memang tak layak bahagia, aku tak layak memiliki keluarga, selamanya harus seperti itu.  Terimakasih Ayah, akhirnya kau tanamkan kebencian di diriku, begitu dalam padamu.

Ibu… Ayah…
Terimakasih telah menghadirkanku kedunia yang begitu pelik, terimakasih telah menceburkanku ke dalam prahara hidup kalian berdua, bagaimanapun buruknya kalian dimataku… aku tetap darah daging kalian. Dimanapun kalian berada, kuyakin kini kalian sudah mulai renta dan menua, jaga kondisi kesehatan kalian, ijinkan aku meminta maaf pada kalian karena aku bukan anak baik yang bisa menjaga kalian.


Entah kalian masih ingat nama ini atau tidak…

-Erika-


Surat ini kutulis sendiri, bukan Erika yang menuliskannya untuk kalian baca. Aku hanya membayangkan bagaimana kelak jika dia berhasil tumbuh dewasa. Mungkin Erika memang anak yang baik, tapi aku yakin suatu saat dia akan mempertanyakan keberadaan orang tuanya yang sampai detik ini pun masih saja menghilang tak datang ataupun berusaha mencari kabar tentangnya. Erika yang cantik, periang, dan begitu pintar untuk anak seusiany tak sempat menjadi dewasa. Satu tahun setelah kepergian ayahnya, Erika yang diasuh oleh saudara sang ayah harus pergi dengan cara yang sangat menyedihkan. Erika yang masih balita meninggal karena kelalaian pengasuhnya yang tak sengaja membuat dia jatuh tenggelam ke dalam sumur dibelakang rumah. Erika tak pernah dewasa, dan kedua orangtuanya tak pernah tahu itu.. Jika surat ini kulayangkan kepangkuan kedua orangtuanya, mereka akan mengira bahwa surat ini benar-benar ditulis oleh Erika.

Entah apa yang membuatnya menjadi seperti ini, sepertinya dia belum mengerti tentang kematian. Erika yang kini hidup dalam dunia berbeda masih saja periang, merasa hidup, mengejar orang-orang yang dia lihat mirip kedua orangtuanya, menarik baju mereka, menampakkan wujudnya dan bertanya.. “Kamu Ibuku? Kamu Ayahku?”

14 comments:

  1. Ya Allah Alhamdulilah saya masih punya kedua orang tua dan mereka dekat di hati ini, Erika :'(

    ReplyDelete
  2. terimakasih teman-teman sudah menyimak tulisan saya di blog ini, senang sekali :)

    ReplyDelete
  3. kiss n hug for Erika, wish her a happy "life" there :)

    ReplyDelete
  4. jika saya ditodong sebuah pertanyaan, saat dewasa nanti saya mau jadi apa , saya akan menjawab , saya ingin seperti mba risa sarasvati .

    ReplyDelete