Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, November 17, 2011

Aku Benci Pengeluh.


Terlalu banyak keluhan yang kalian ungkap, tentang derita, tentang pengkhianatan, tentang kekecewaan terhadap sesuatu yang kalian tidak pernah capai, tentang perbedaan, tentang ketidakadilan. Aku adalah salah satu dari sekian banyak orang yang tidak pernah sedikitpun mengeluhkan kehidupanku yang menurutku baik-baik saja. Aku terlahir tanpa penglihatan dan tanpa jari jemari, tak ada hal yang lebih penting dari sebuah kesempurnaan fisik bagi orang-orang yang selama ini kukenal. Segala keluhan tentang ketidaksempurnaan selalu menjadi sebuah kesedihan yang bisa memporak porandakan mental mereka. Sementara aku, berjuang melakukan segalanya dengan keterbatasan fisik yang kumiliki.

Kedua orangtua dan 3 orang kakak laki-laki yang kupunya memperlakukanku layaknya harta berharga yang harus mereka jaga, aku bersyukur atas keberadaanku disini… tak pernah kumenghujat Tuhan untuk kondisiku yang mungkin menurut kalian sangat mengkhawatirkan. Aku selalu percaya, semua cobaan yang Tuhan beri kepadaku adalah jalan terbaik bagi hidupku, hidup Bapa, hidup Ibu, dan ketiga kakak laki-lakiku. Tuhan membawaku ke dalam sebuah keluarga sempurna tanpa cacat, keluarga terpandang dengan harta yang bisa kubilang berlimpah. Jika kudengar dari getaran suara mereka, orang-orang dikeluargaku adalah orang-orang berwajah rupawan dengan pendidikan yang cukup tinggi. Gaya bicara Bapa sangat berwibawa menunjukkan betapa bijaksana dan cerdasnya dia, ibu sangat lembut dan penuh tatakrama, ketiga kakak laki-lakiku bukan anak-anak pemberontak… mereka begitu menghargai setiap manusia yang mereka kenal, aku bahagia bisa menjadi salah satu bagian dalam kesempurnaan mereka. Aku adalah cobaan bagi keluargaku, aku satu-satunya orang tidak sempurna yang mau tak mau harus mereka terima, aku tak bisa menjalani pendidikan dan kehidupan normal layaknya mereka, aku adalah cacat yang mencoreng keluargaku yang sudah sangat sempurna sebelum aku datang. Namun mereka menepis semua perkiraanku, aku adalah anak bungsu keluarga mereka yang harus mereka jaga dan cintai, aku adalah manusia normal yang membutuhkan banyak hal seperti yang mereka butuhkan, aku adalah anugerah yang Tuhan titip pada mereka. Sekali lagi, aku mensyukuri segala yang datang di hidupku.
Kukerahkan segala yang bisa kupelajari agar bisa bertahan hidup seperti manusia normal lainnya, kupelajari segalanya tanpa penglihatan dan jari jemari. Jangan mengasihani aku karena ternyata aku bisa melakukan semuanya sama seperti kalian. Jangan meremehkan aku yang ternyata bisa memenuhi kebutuhan pendidikan hingga mampu kuselesaikan kuliah meski tak bersekolah di tempat yang normal seperti sekolah-sekolah kalian. Satu-satunya kekuatan yang kumiliki adalah semangat, dan satu-satunya hal yang kubanggakan dari perjuangan hidupku sejauh ini adalah “aku tidak pernah mengeluh”.

Tuhan menuliskan sebuah cerita untukku, dimana cerita itu kutulis sendiri entah tentang kesedihan entah tentang kebahagiaan. Namun kuputuskan untuk memilih cerita mengenai kebahagiaan, karena tak pernah terpatri di dalam kepalaku untuk hidup dalam kesedihan. Kuwujudkan cerita hidupku dalam rangkaian cerita bahagia yang kurangkai bersama keluargaku. Kalian terlalu banyak mengeluh tentang cinta, mengeluh tentang ketidakadilan, mengeluh tentang perbedaan, namun tak pernah kalian ceritakan bagaimana kalian bisa melaluinya. Jika kalian bersedih, kalian biarkan seisi jagad raya mengetahuinya…. Namun saat kalian temukan kebahagiaan dibalik segala kesedihan yang menimpa, kalian tak menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang bisa kalian sebut “bahagia”. Tertutupkah mata kalian untuk itu? Begitu sukakah kalian mengelu-elukan kesedihan seolah hanya kalian manusia kurang beruntung yang ada dimuka bumi ini? Kalian bisa memilih cerita yang ingin kalian tulis di hidup kalian, Tuhan itu adil… kita hanya tinggal memilihnya.

Aku merangkai cerita hidupku, namun tetap Tuhan yang memberikan tema, dan  ternyata tema yang Tuhan berikan padaku memang begitu melankolis, ditengah perjuanganku menjadi manusia normal, kutemukan fakta bahwa sebuah penyakit mematikan telah menggerogoti tubuhku… aku divonis mengidap penyakit kanker kulit. Tak ada yang tahu apa penyebabnya, namun inilah tema cerita yang Tuhan berikan padaku. Dalam rintihan kesakitan yang semakin lama semakin menyiksa, segala daya dan usaha kubuat agar tak membuat keluargaku risau. Aku masih tetap mencoba bertahan dari keluhan, kunikmati rasa sakitku dalam kegelapan… aku kuat.. aku yakin kuat… aku bisa membuat sebuah cerita yang tetap indah.. tetap indah meski tema dalam hidupku nanti berakhir dengan kematian.

Dokter mengatakan bahwa kanker yang hinggap ditubuhku kini menjalari organ-organ tubuhku yang lain, menurutnya.. hidupku tak akan bertahan. Sempat kuteteskan air mata saat kudengar suara Ibu mulai bergetar memeluk diriku yang berusaha tabah mendengar apapun yang dokter vonis untukku, tapi kuulaskan sebersit senyum untuk meyakinkan bahwa diriku baik-baik saja. Kulalui hari-hari menyakitkan namun tetap kubertahan dari segala keluhan yang bisa saja membludak dari bibirku. Kuberikan kasih sayang terbaik yang bisa kuberikan pada seluruh anggota keluargaku, aku tak suka bersedih dan sangat tidak suka melihat orang lain bersedih. Sempat suatu kali kudengar ibu mengeluh tentang ketidakadilan Tuhan pada diriku.. anak bungsu yang sangat disayanginya, namun kurangkul tubuhnya dengan lengan tanpa jemariku dan berkata “Ibu, Aku menerima semua yang Tuhan berikan untuk Aku. Dengan segala kekurangan yang Aku punya, Ibu Bapa Adit Arfan dan Adnan telah membuat Aku merasa sangat sempurna. Tuhan tau yang terbaik untukku, biarkan Dia menunjukkan jalan untuk kita Bu…. Aku ikhlas dan bahagia..”

Aku masih tersenyum dalam kegelapan dan kesakitan akibat sakit yang kuderita, menunggu waktu itu akan datang padaku… aku bahagia dengan hidupku meski lahir dalam kondisi tak normal dan divonis akan segera pergi meninggalkan segalanya. Bisakah kalian mengerti mengapa aku benci orang-orang yang suka mengeluh dan larut dalam kesedihan? Aku tak seberuntung kalian karena tak memiliki waktu yang cukup untuk melakukan lebih banyak lagi hal yang ingin kuraih, sementara kalian masih bisa menulis cerita cerita baru untuk hidup yang lebih menyenangkan sesuai dengan yang kalian mau…

Aku tak mau berandai-andai… aku tak akan meminta keajaiban apapun dari-Nya, hingga detik ini aku berhasil merangkai cerita bahagia hidupku… selamanya harus tetap bahagia, jika aku pergi nanti… aku mau semuanya tetap bahagia….


4 comments:

  1. Jika kalian bersedih, kalian biarkan seisi jagad raya mengetahuinya…. Namun saat kalian temukan kebahagiaan dibalik segala kesedihan yang menimpa, kalian tak menganggap bahwa itu adalah sesuatu yang bisa kalian sebut “bahagia”. << Best part tulisan kali ini. Anyway, well written, teh :)

    ReplyDelete
  2. LOVE the story...ga bisa ga nangis ni Teh bacanya.
    thanks for sharing this wonderful story ;p

    ReplyDelete
  3. Nice.. Nahan-nahan ga sedih.. tapi tetep sedih...... Keren!!!!

    ReplyDelete