Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Monday, July 18, 2011

sebuah keluhan di kepala saya..


Magrib tadi saya menyempatkan mencari makan di sebuah tempat kaki lima pinggiran alun alun kota karawang, disana terdapat sebuah mesjid besar yang biasa disebut mesjid agung kota karawang. Menjelang magrib memang lumrah dikumandangkan lantunan ayat-ayat suci al-Quran beserta saritilawahnya. Satu ayat dibacakan, lalu diartikan melalui suara merdu seorang wanita. Sambil melahap makanan, diam-diam telinga saya mendengarkan dengan seksama isi dari terjemahan ayat suci al-Quran yang dilantunkan kala itu. jika sekilas didengarkan, bahasanya memang agak sulit untuk dimengerti. Perlu beberapa kali mencerna, bahkan saya sendiri sih dipikirkan sampai jungkir balik juga tetap saja kurang bisa mencerna apa arti dari ayat tersebut. Ga heran kalau banyak ulama-ulama Indonesia berguru ke negeri tempat dimana kesehariannya menggunakan bahasa arab guna mampu menafsirkan arti dari ayat-ayat suci al-Quran.

Kepala saya melayang pada beberapa tahun silam, dimana saat itu saya begitu tertarik untuk mendalami arti dari ayat suci al-Quran.  Awalnya karena obrolan-obrolan santai dengan beberapa kerabat yang mengaku banyak mendapatkan pencerahan dari tempat pengajian yang dia ikuti. Saya dijelaskan segala macam hal yang membuat dahi saya berkerut lalu tercengang dan semakin tertarik untuk mengikuti kerabat saya menyelami makna ayat suci  melalui pengajian itu. Dia menjelaskan sesuatu yang sebenarnya kepala saya bertanya-tanya “Apakah ini benar yah?”, mengenai satu hal yang saya tidak akan jelaskan disini hehehe. Kemudian saat saya terlihat bingung, dia ambilkan buku tafsir al-Quran yang berhubungan dengan apa yang barusan dia jelaskan. Saya mulai mengangguk mengerti. Memang jika dihubungkan antara pembicaraan kami dengan ayat yang dia tunjukan terdapat korelasi yang mungkin saja maksudnya kesitu.  Saya menelan saja mentah mentah apa yang dia yakini berdasarkan ayat tersebut.

Di lain waktu, tiba-tiba saya bertemu dengan kerabat lainnya yang juga tengah mendalami tafsir Quran di sebuah tempat pengajian yang berbeda. Saat bertemu dia, saya mengalami situasi yang sama dimana dia menceritakan sebuah fakta fakta dibalik tafsiran al-Quran yang cukup mencengangkan. Lagi-lagi saya dibuat menelan mentah-mentah semuanya karena memang pada dasarnya saya kurang mendalami hal tersebut. Walau agak ganjil, tapi saya tidak punya teori yang cukup kuat untuk mempertahankan pendapat saya. Lalu saya tunjuk ayat yang saat itu ditunjukan oleh kerabat saya terdahulu mengenai  makna ayat tersebut, kerabat saya yg kali ini menjelaskan….tapi maknanya 180 derajat berbeda dari kerabat sebelumnya.

Saya mengalami kejadian ini sebanyak 3 kali, melalui 3 kerabat, mengenai satu ayat, dan penalaran yang berbeda-beda. Hal ini membuat saya bingung, bagaimana bisa sebuah ayat yang menjadi panutan semua umat muslim bisa memberikan 3 persepsi yang berbeda pada 3 orang kerabat saya. Coba bayangkan jika komunitas masing-masing kerabat saya ini diminati banyak pengikut, mungkin akan menjadikan pengkotak-kotakan bahkan perpecahan. Yang sangat disayangkan memang sudah terjadi saat ini.

Kepala saya terus berputar sore tadi, walau sambil melahap makanan tapi didalam kepala memikirkan hal yang mungkin aga serius buat saya. Bahasa ayat suci begitu indah, begitu pula terjemahannya. Kebanyakn orang Indonesia menganggap bahasa sulit adalah bahasa yang indah meski tidak tahu makna dibaliknya. Saya pun seperti itu kok, setiap mendengar kata rancu…saya berpikir kalau ini adalah sastra.

Begitu banyak hal yang bisa menyulut perpecahan umat manusia, dari hal yang paling kecil seperti  contohnya penerjemahan  makna bahasa. Disaat beribu orang dianggap pintar karena menguasai banyak bahasa asing, disaat itu pula penalaran dan ketertarikan orang terhadap sastra bahasa negaranya sendiri menjadi terabaikan. Orang Indonesia banyak menganggap dirinya pintar dalam berbahasa indonesia, menelan bulat bulat… menciptakan penalaran baru….menjadikan sebuah keyakinan baru melalui arti dari sastra dan bahasa yang mereka baca…hingga akhirnya menjadikan pengkotak-kotakan manusia bahkan perpecahan.
 Saya mungkin termasuk orang yang seperti itu, yang menganggap “bahasa Indonesia” saya sudah cukup bagus. Rasanya seperti ditampar bolak-balik setelah memikirkan hal-hal seperti diatas. Memang bukan kebiasaan saya juga sebenarnya mencoba mengartikan sebuah kalimat indah dari sebuah karya sastra. Namun sangat disayangkan bagi saya jika ada orang-orang yang sebenarnya tidak benar-benar faham lantas menciptakan terjemahan terjemahan menurut versinya sendiri. Orang orang di Negara ini banyak didominasi oleh orang-orang pintar, lihat saja secara perkembangan teknologinya yg begitu pesat. Jika memang ada sebuah kesempatan, ingin rasanya bertemu dengan orang yang mengerti betul tafsir dari al-Quran dan menjelaskan apa isinya hingga membuat saya dan mungkin beberapa generasi seumur saya bisa mengerti dan pada akhirnya memiliki teori yang tak lagi membuat jidat kami bertekuk.

Maaf kalau tulisan ini aga serius, saya hanya mengeluarkan isi kepala magrib tadi. Dan bolehkah saya berkata, “apakah tidak sebaiknya mempelajari dengan benar dulu sastra bahasa Indonesia? Daripada harus menelanjangi  berdasarkan kata per kata dari sebuah kalimat sastra dan menjadikan beberapa makna yang berbeda beda?”


6 comments:

  1. teh risa, bahas nya sekarang serius...he he

    ReplyDelete
  2. klo boleh tau bahas ayat yang mana ya teh? hehe

    ReplyDelete
  3. Memang, segala sesuatu musti dengan ilmu, dan ilmu juga perlu guru untuk membimbingnya. Tapi setidaknya, kalau aku sich take it easy aja, daripada tersesat/

    Salam kenal yach....

    ReplyDelete
  4. Halo :D

    Berdasarkan pengalaman pribadi, mempelajari sesuatu itu jika tidak dinikmati tidak akan terasa manfaatnya. Seperti mata pelajaran di sekolah, jika tidak dinikmati, maka semua pelajaran akan terasa kurang sedap dan pupus oleh waktu. Sedangkan pelajaran yang dinikmati, pasti tidak lekang dimakan waktu. Begitu juga dalam ber-Agama. Menurut saya ber-Agama itu adalah belajar menikmati hidup... termasuk belajar menikmati semua kewajiban yang harus dikerjakan selama kita hidup di dunia, karena apapun yang kita lakukan di dunia ini akan kita tuai hasilnya setelah kita mati. Saya seorang mualaf, untuk belajar menikmati hidup secara Islam maka saya mencari seorang Guru yang sudah duluan belajar dan sedang menikmati hidupnya sekarang hehehe... Enaknya punya Guru, semua tanggung jawab dipikul sama Guru... kalo kita sampai tersasar, ya Guru yang tanggung jawab :D

    Kesimpulannya, mempelajari sesuatu itu akan terasa manfaatnya jika dinikmati... seperti si eneng yang menikmati sastra... karena menurut saya dan mengutip perkataan Guru saya, "Apapun yang disampaikan dengan rasa maka akan sampai dengan rasa."

    Mudah-mudahan Allah selalu melimpahkan Keberkahan dan memberikan Petunjuk kepada kita semua. Semoga selalu berbahagia. Amiin. :D

    Love,
    Dewi

    ReplyDelete
  5. Bahasa memang mengkotakan manusia. Bahasa adalah penjara yang kita buat sendiri.

    ReplyDelete
  6. Semangat menuntut ilmu,menjadi jawaban dari pertanyaan kita.jadi teruslah menggali ilmu agar kita bisa menjawab teka teki dibalik kebingungan yang kita alamj

    ReplyDelete