Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, June 21, 2011

" Yakin masih mau bunuh diri?"

Suatu malam disaat sedang terlelap tidur, entah malam apa itu tepatnya yang pasti hari itu lumayan lelah melakukan rutinitas yang berhubungan dengan skripsi  ( waktu itu masih muda langsing mencintai R41N “my name is rain..” dan sangat gemar nangkring di kampus untuk menjadi macan..rrrraaarrr ). Tidur aga larut, dalam hitungan menit sudah langsung terkapar tak ingat waktu tak ganti baju tak gosok gigi tak cuci kaki. Tiba-tiba mendengar suara seperti tangisan menyedihkan suara perempuan, suaranya aga keras di telinga…lumayan mengganggu lelapnya tidur saya malam itu.

Bulukuduk berdiri, mata yang tadi sudah sangat rapat sontak terbuka membelalak kaget. Setahu saya, pintu kamar sudah terkunci rapat semenjak tadi saya memutuskan untuk tidur. Suara tangisan perempuan masih terdengar cukup jelas dan waktu kala itu menunjukkan pukul 1 malam, rasanya tidak mungkin orang rumah yang malam itu menangis, suaranya tidak terdengar seperti suara nenek tante atau bahkan sepupu perempuan saya. Lambat laun suaranya terdengar semakin melemah dan menyayup. Tiba tiba saja saya ingat, jika kita menganggap itu suara tangisan kuntilanak (hantu) dan suaranya terdengar keras…berarti dia sedang berada cukup jauh dari kita, namun jika terdengar sayup dan lemah.. berarti sosok hantu itu berada sangat dekat dengan kita. Mata saya lantas melotot hampir keluar… mmmh berarti, dia sedang ada disebelah saya ya sekarang?

Rasanya mata saya masih hampir keluar, saat tiba-tiba suatu sentuhan dingin di punggung saya terasa sangat nyata, membuat suasana kamar malam itu bagai di neraka ( saya ga tau sih neraka seperti apa… amit amitttt, tapi suasana malam itu terasa cukup menyiksa saya ). Posisi badan saya memang sudah diset untuk menghadap tembok saat tertidur tadi, mata kembali saya tutup rapat karena aga ngeri membayangkan apa yang ada dibalik punggung saya. Sesuatu menyerupai tangan masih menempel di punggung, walau menyentuh punggung yang berbalut kaos..tapi dinginnya masih bisa saya rasakan seperti langsung menempel di kulit punggung.

“Neng…neng….bangun….neng…tolong saya…”, suara yang cukup parau berhasil membuat mata saya merem melek…hmmmmpht saya bisa jamin, wahana halilintar kalah menegangkan jika dibandingkan suara parau yang memanggil manggil saya saat itu. “Saya tau kamu ngga tidur, saya bukan mengganggu…”, kembali saya dengar suara tangisan sedih setelah itu. Dengan perasaan tak karuan dan berat hati, pelan saya balikkan badan menghadap kearah suara tersebut.

Dibelakang saya, berdiri seorang perempuan kurus memakai daster putih penuh tanah, kulitnya pucat merata seperti memakain foundation putih sebadan badan, hanya saja ada beberapa tetesan darah di bagian mata hidung dan mulut yang menurut saya sih disitulah bagian yang cukup mengerikannya. Mulut saya menganga menatap sosok asing yang sekarang berada tepat di depan mata saya. Mulut semakin menganga melihat seutas tambang melingkar di lehernya, terlihat terikat dengan sangat kencang… mungkin inilah penyebab suaranya menjadi parau dan lemah. Reflex saya berkata, “Kamu siapa? Mau kamu apa?” dengan mata sedikit berkaca-kaca saking kaget bercampur takut.

Dia menjawab, “ tidak perlu tahu siapa saya, saya minta tolong neng siapa tau neng bisa bantu saya, sesak neng…. Saya sulit bernafas”, sambil tangannya mencengkram tambang yang melilit di leher . suara tangisannya mulai terdengar lagi, kali ini perasaan takut saya berubah menjadi perasaan iba dan sedikit kasihan sekaligus bingung, saya tidak mengerti apa yang bisa saya bantu untuk menolong dia. Saya coba untuk meraih tambang itu, perasaan takut yang tadi sempat aga menggila sekejap sirna. Namun apa daya samasekali saya tidak bisa menyentuh seperti ada sesuatu hal yang menghalangi. Dengan berat saya menggelengkan kepala, “maaf…saya tidak bisa bantu..teh…maaf”. kembali saya dengar suara terisak dengan suara yang parau keluar dari mulutnya.

Posisi dia sekarang duduk hampir seperti bersujud, dengan suara tangisan yang kini sudah tidak mengisak lagi, kini lebih terdengar seperti meraung. Singkat cerita, malam itu akhirnya saya memiliki teman baru, karena walau saya tidak bisa membantunya, tp malam itu kami habiskan dengan duduk berdua dan berbincang. Dengan hanya memanggil “teteh” dan dia memanggil saya dengan sebutan “neng” kami bahkan tidak saling mengetahui nama kami satu sama lain.

Kisahnya memang aga tragis, akhir hidupnya  dilalui dengan kisah yang pilu. Bekerja sebagai pembantu rumahtangga sebuah keluarga yang dulunya tinggal tak jauh dari rumah yang saya tinggali pada umur belasan tahun. Kemudian berpacaran dengan seorang laki-laki yang sering mengunjungi rumah majikannya. Hingga tak sadar akhirnya kisah cinta mereka menghasilkan benih yang mereka tak harapkan. Si lelaki kabur, tinggalah dia janin dan rasa malu untuk pulang yang tersisa. Bunuh diri adalah jalan yang dipilihnya, dia bercerita bahwa saat itu dia pikir semuanya akan tuntas dengan “Mati”. Ternyata pikirannya salah, dia yg telah membunuh anak yang ada di kandungannya juga membunuh dirinya sendiri….kini menyesal atas keputusannya.

“ teteh pikir, dengan kematian..semua masalah teteh akan tuntas dan teteh tidak perlu memikirkan hal yang membuat teteh tertekan ..ternyata teteh salah, sekarang jauh lebih menderita…sendiri, dingin, sesak, dan  tidak ada sesuatupun yang bisa membantu teteh..”

Deg! Jantung saya berdebar cepat mendengar pengakuannya. Betapa tidak, beberapa kali sempat saya terpikir untuk mengakhiri hidup. Mungkin kalian pernah mendengar cerita saya, dulu peter cs sempat beberapakali mengajak saya untuk “ikut” mereka. Padahal kalau itu saya lakukan, mungkin di alam sana pun saya tidak akan bertemu Peter dan teman-teman yg lain. Mungkin saya akan merasakan apa yang dirasakan oleh wanita malang yang sekarang tengah menangis pilu di hadapan saya. Dia juga bilang, “rasanya seperti tidak diterima dimana-mana, di alam manusia sudah jelas tidak mungkin bisa kembali… di alam setelah mati pun tidak”.

Coba pikirkan beribukali jika diantara kalian ada yang berpikiran untuk mengakhiri hidup dengan sengaja, hal-hal yang menurut kalian sangat berat dihadapi kali ini hanya setitik saja dari penderitaan yang akan kalian rasakan nanti disana. Masalah, penderitaan, dan segala kesedihan itu adalah sesuatu yang harus dihadapi, bukan dihindari. Mungkin gampang buat saya menulis hal seperti ini seolah saya adalah manusia yang sangat optimis dalam menghadapi segala permasalahan, tapi dengan menyaksikan sendiri pengakuan seorang teman dari dunia lain, percayalah…. Kisahnya membuat permasalahan terasa menjadi lebih ringan. Semoga cerita yang saya bagi untuk kalian bisa membuat kalian yang sedang merasa tertekan menjadi lebih hati-hati dalam mengambil langkah.









13 comments:

  1. ini yang teteh critain dulu di twit kan? pernah denger sih teh..

    ReplyDelete
  2. Ceritanya bagus teh, :)

    Sebetulnya saya sendiri agak takut mati, belum cukup amalan ibadahnya *jadi curcol hehehe*. Tapi juga takut hidup, karna masalah" di dunia yang rumit. Sudah bosan menghadapi manusia" bermuka dua, yang dimana mereka hanya datang ke kita saat ada maunya saja.

    ReplyDelete
  3. teh q ijin nge share di blog q ,boleh ya.teh q ijin nge share di blog q ,boleh ya.

    ReplyDelete
  4. Ijin share ya teh, Sumber masih tetep ditulis kok nanti, teh :)

    ReplyDelete
  5. huwaa.. hebat.. jadi temen curhatnya~ :D

    ReplyDelete
  6. nih gini yang pikasebeleun...gimana gak takut kalo tiba2 jengjeeeeng....muncul dengan rupa yg aduhay...

    ReplyDelete
  7. Thanks alot for sharing! I'm so in love with your words!
    Keep growing! And keep writing because im waiting for ur upcoming words!

    This post somehow tells me that suicide isn't the right way.

    ReplyDelete
  8. Aku bacanya tengok kanan tengok kiri..... takut ada yg temenin baca jga.

    ReplyDelete