Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Thursday, June 23, 2011

Rindu..


Kita terlahir dari rahim wanita yang sama, wanita yang sama sama kita berdua kagumi. aku lahir lebih cepat darimu, sempat merasakan betapa menyenangkannya hidup menjadi anak tunggal  6 tahun lamanya. Kamu seharusnya tahu bagaimana tak sabarnya aku menunggu kau hadir menjadi bagian dari mama, papa, dan aku. Berdua aku dan papa memandangi langit langit rumah kontrakan kita yang sederhana saat mama tertidur lelap dan letih menanggung beban tubuh mungilmu diperutnya, berdua kami memikirkan nama yang indah untuk kamu. Hingga akhirnya kami sepakat menamaimu seperti namamu kini, berterimakasihlah padaku karena beberapa kali papa sempat menyebutkan nama yang menurutku kau akan membencinya jika dinamai dengan nama itu.

Akhirnya kamu datang juga, menghangatkan keluarga kecil kita yang biasanya hanya berisi teriakan mama yang memarahiku dan tangis menyebalkanku yang marah pada papa karena tidak menggubris apa yang aku mau. Kini hadir kamu, bayi sangat cantik ditengah-tengah kami. Begitu bersinarnya kamu kala itu hingga kadang terlalu silau jika dibandingkan aku, kehadiranmu begitu sering membuatku marah dan cemburu. Entah berapa ratus kali pertempuran kita terjadi hanya karena memperebutkan perhatian mama dan papa, aku selalu disalahkan…wajar, usiaku 6 tahun lebih tua darimu.. tapi masih saja ingin diperlakukan seperti seumurmu. Kita berdua tumbuh menjadi 2 karakter manusia yang jauh berbeda, semakin lama semakin bisa kita baca, kamu lebih menyerupai karakter papa…dan aku lebih menyerupai karakter mama. Mungkin tuhan mentakdirkan kita begitu, aku dilahirkan untuk menjadi jembatan yang bisa mengerti bagaimana mama ingin di mengerti, sementara kau terlahir untuk menjembatani kami dengan papa.

Waktu terus berjalan, usia terus bertambah, kesadaran kita tentang arti persaudaraan semakin bisa kita mengerti. Pertempuran pertempuran saudara antara kita berdua mulai berkurang, kita menjadi lebih banyak berbicara, aku tidak sungkan untuk bercerita… bahkan menceritakan hal-hal yang seharusnya kamu tak usah tahu. Yang kusuka saat bercerita padamu, kamu menanggapi semua cerita-ceritaku dengan santai dan dengan khas gaya bicaramu yang cuek disertai tatapan dingin dan lurus khas dirimu, semuanya membuat semua masalah yang kuanggap berat menjadi terasa lebih ringan. Kadang aku merasa sedang berbicara dengan papa saat menceritakan semua masalahku padamu. Kamu tahu kan, aku jarang berbicara dengan papa jika dibandingkan kamu.. dan dengan segala gerak gerikmu, mengingatkanku pada papa, mungkin apa yang akan keluar dari mulut papa saat mendengar cerita-ceritaku kurang lebih sama dengan apa yang kau ucapkan padaku.

Kamu semakin sibuk, aku semakin sibuk. Kita berdua menjalani banyak hal yang membuat intensitas, pertemuan kita semakin berjarak. Aku menemukan kehidupanku sendiri, begipula kamu. Pertemuan kita selalu singkat, sepatah atau dua patah kata basa basi menjadi bumbu pertemuan kita. Tidak ada lag isms dariku  yang seringnya berisi, “Dimanaa? Ketemu yu, aku pengen cerita :’(“. Atau sms darimu yang berisi, “shit, ujiannya susah banget!!!! Ketemu yu aing pengen santai.”  Kamu menikmati duniamu, begitupula aku. Saat kita senang, kita benar-benar lupa satu sama lain. Saat kita sedang sama-sama bingung dan terjatuh, aku yakin kita sama-sama saling mengingat…ingin bertemu bercerita atau mungkin bahkan menangis bersama, tapi aku tahu.. kita sama sama memiliki harga diri yang terlalu tinggi yang terlalu sulit  untuk kita leburkan demi mengembalikan suasana seperti dulu lagi.

Terlalu takut bagiku menunjukkan batang hidungku di pikiran dan perasaanmu lagi, terlalu banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang aku. Aku takut jika kamu tahu segalanya, kamu akan enggan menganggapku saudara lagi meski aku yakin itu tidak akan pernah terjadi. Ingin sekali aku meraihmu, memeluk dan menceritakan semuanya dan berkata “Hidupku tak semulus harapanku, tapi akan baik baik saja jika kita berdua bisa kembali seperti dulu lagi, saling terbuka dan bercerita…”, sayang lidahku terlalu kaku untuk berbicara seperti itu, egoku terlalu sulit untuk diruntuhkan.

Hal yang aku tak suka kini adalah, mencaritahu apa yang sekarang kamu lakukan, dengan siapa kamu sekarang menghabiskan hari harimu…. Pada orang orang yang kulihat cukup dekat denganmu kini. Aku tidak tahu akan sampai kapan ini akan terjadi. Ingin rasanya mendengar semua cerita hari-harimu langsung darimu. Ingin rasanya mengetahui perasaanmu kini langsung dari hatimu. Ingin rasanya memelukmu dan berkata, “Kita akan baik baik saja, aku akan selalu melindungi kamu…”

Pernah suatu kali kulihat kamu dengan wajah sembab, muka bersedih…dan hanya mengurung diri di dalam kamar. Namun entah kenapa begitu angkuh diriku untuk peduli dan mencari tahu apa sedang terjadi langsung kepadamu. Aku kebingungan, mencari tahu apa yang terjadi padamu pada orang lain.  Pernah disaat lain, aku mendengar kabar tak mengenakkan tentangmu, yang bisa kulakukan hanyalah marah padamu tanpa mencari tahu padamu apa yang sedang terjadi… dan salah satu yang paling kusesali adalah, aku lebih mendengarkan perkataan orang lain daripada mendengarkanmu. Aku merasa sangat buruk…. Terlalu buruk untuk menjadi seorang kakak.

Terlalu sulit mengungkapkan semuanya dengan mulutku hingga hanya bisa kuungkapkan dengan tulisan ini. Mungkin jika kita bertemu, aku masih tetap seperti seorang kakak yang tidak peduli padamu, asik dengan kehidupanku sendiri, hanya bisa berbicara basa-basi, bahkan tak jarang memarahimu karena hal-hal yang tidak penting. Aku tidak ingin seperti ini… jauh dilubuk hatiku aku berkata tidak ingin berada di situasi ini karena aku begitu menyayangi kamu, adik satu satunya yang memiliki hubungan darah paling dekat denganku bahkan lebih dekat daripada darah mama dan papa.

Jika tak sengaja membaca tulisan ini, tolong berpura-puralah tidak pernah membacanya… tolong jangan marah padaku… yang aku takutkan hanyalah jauh darimu, lebih dari apapun itu.


5 comments:

  1. saat saya sedang searching tentang materi fisika, saya tdk sengaja menemukan blog Anda, sya sangat terharu karena kisah Anda mirip sekali dgn sya :')

    ReplyDelete
  2. this story.... seperti menyindir saya. hhhhhh...

    ReplyDelete
  3. jadi pingin punya adik...

    mungkin ga ya kakak2 saya berpikiran kayak anda...

    ReplyDelete
  4. sepertinya itulah yang dirasakan setiap kakak yang pernah memiliki waktu yang indah bersama adiknya.
    cerita di atas, benar-benar sama persis seperti yang terjadi antara aku dan adikku.
    hanya saja, ego tidak sanggup mengalahkan cinta persaudaraan kami.

    ReplyDelete