Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Wednesday, June 15, 2011

Ina Rosliana

Waktu telah berjalan sangat panjang, kulihat banyak yang telah terjadi di kota ini. Sebuah kota di daerah jawa barat. Lahan yang dulu kosong kini dipenuhi banyak bangunan yang entah bagaimana caranya mereka berdiri dengan sangat cepat dan menjulang drastis. Rumahku terjepit diantara sekian banyak bangunan menjulang itu, hanya sepetak rumah satu kamar yang dihuni oleh ayah, ibu dan aku saja. Ayah masih saja tahan dengan pekerjaannya sebagai buruh bangunan yang penghasilannya tidak seberapa, sementara Ibuku membantunya dengan menjadi seorang pembantu rumah tangga yang bekerja setengah hari, walau membutuhkan uang lebih untuk membantu menopang perekonomian keluarga, ibu tidak mau kehilangan momen melihatku tumbuh dan berkembang, oleh karenanya.. memang sengaja Ibu memilih untuk menjadi pembantu rumah tangga paruh hari.

Ayahku adalah seorang pria yang memiliki sejarah latar belakang keluarga yang sedikit keras, semasa kecilnya ayah adalah anak yang mengalami banyak penyiksaan dari kedua orangtuanya sehingga akhirnya ayah kabur dan hidup bersama saudara jauhnya yang ternyata bersedia menampung ayah hanya untuk mengambil tenaganya, ayah diperlakukan layaknya budak belian. Kondisi psikis ayah aga mengkhawatirkan, emosinya kadang tak terkontrol… sempat satu kali kulihat ayah begitu marahnya terhadap Ibu hingga berani mengacungkan sebilah pisau ke arah Ibu, aku menangis meraung begitupula ibu.. dan saat melihatku, mata ayah yang berapi tiba-tiba meredup.. mengeluarkan air mata dan bersujud memohon maaf kepada aku dan ibu. Aku mengerti kenapa ayah seperti itu, aku yakin latar belakang hidup ayah lah pennyebab utamanya. Tapi aku juga sangat yakin, dibalik sikapnya yang temperamen, ayah mempunyai sisi yang sangat lembut dan penyayang. Aku tahu ayah begitu menyayangi ibu dan aku… satu satunya keluarga yang tersisa untuk ayah.

Ibu adalah perempuan desa yang sangat polos dan baik hati, wajahnya biasa saja…badannya kurus kering dan berkulit coklat. Ibuku tidak pernah mengecap bangku sekolah…sama seperti ayah. Mereka berdua merupakan sosok nyata dari kebanyakan rakyat Indonesia. Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk membaca dan menulis. Olehkarenanya, mati-matian mereka mengais rejeki untuk berusaha membuatku menjadi manusia dengan kualitas yang lebih baik daripada mereka. Ibu pernah bilang, “Emak (panggilanku untuk ibu) mah leuwih milih teu dahar sangu tibatan maneh teu sakola neng..” (ibu lebih memilih untuk tidak makan nasi daripada melihatku tidak sekolah). Ibu adalah wanita yang sangat kuat dan tegar dimataku, kasih sayangnya yang membuatku selalu bersyukur atas apa yang kuterima dihidup ini, meski mungkin kehidupanku prihatin jika dibanding anak-anak lain seumurku…

Umurku 8 tahun saat tiba-tiba harus kehilangan ibu yang ternyata selama ini mengidap penyakit TBC. Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Ibu mengidap penyakit itu, karena bahkan sekalipun Ibu tidak pernah memeriksakan sakit batuk parahnya ke dokter, kami menganggap itu hanya penyakit batuk biasa. Sebelum meninggal, ibu berpesan padaku, “neng, jagaan si bapa nya..eneng kudu jadi budak nu bageur jeung solehah ” ( neng, jaga bapa ya..neng harus jadi anak baik dan shalehah ). Aku sangat terpukul karenanya, terlebih lagi Ayah yang terlihat sangat stress sepeninggalan ibu. Istri yang bertahun-tahun menemaninya dan bisa mengerti semua keburukan sifat ayah. Hampir setiap hari ayah mengunjungi makam ibu yang tak jauh dari rumah kami. Ayah menjadi orang yang sangat tertutup, sekali kali saja dia berbicara kepadaku.. “neng geus dahar?” (neng sudah makan?) “neng tong poho solat!” (neng jangan lupa shalat!) atau “Neng awas tong teu sakola..” (neng awas jangan sampai tidak sekolah). Aku menjadi anak yang begitu kesepian…dan merasakan dua kehilangan sekaligus di hidupku kali ini, kehilangan Ibu…dan juga kehilangan sosok seorang ayah.

Suatu ketika, sepulang dari sekolah.. aku bertemu dengan majikan Ibu. Dia tengah mencari alamat rumah kami siang itu, karena terlihat sedang kebingungan di daerah yang tak jauh dari rumahku berada. Begitu melihat wajahku, wajahnya terlihat lega. Inti kedatangannya adalah untuk menyampaikan bela sungkawa dan memberikan sedikit rejeki yang katanya sih untuk membantuku membiayai uang bulanan sekolahku. Mereka baik sekali kepada keluargaku, selama ini memang cukup banyak membantu kami. Seringkali ibu membawa makanan enak yang diberi oleh majikannya. Entah apa yang ada di kepalaku, aku yang saat itu masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 3 bertanya pada majikan ibu, “Bu..Pa, kenging teu abdi damel di bumi ibu sauwih sakola?” ( bu..pa, boleh tidak saya bekerja di rumah ibu sepulang sekolah?). mereka sedikit terkejut, tapi membalas pertanyaanku dengan senyuman dan anggukan kepala tanda setuju. Tanpa persetujuan ayah, aku berniat membantu perekonomian keluarga dengan bekerja menggantikan alm. Ibu.

Aku masih ingat hari itu adalah hari jumat dimana sekolah pulang lebih cepat daripada hari hari sebelumnya. Aku masih mengenakan seragam sekolahku saat pulang ke rumah. Kulihat ayah duduk di kursi dapur dalam keadaan melamun, rupanya hari ini dia sedang libur. Kucium tangannya seperti biasa saat pergi dan pulang sekolah, lantas bergegas aku berganti pakaian. Siang itu aku mengenakan kaus putih dan celana pendek berwarna hita,. Begitu antusiasnya hatiku, hari ini adalah hari pertama aku bekerja menggantikan Ibu di rumah majikan ibu dulu bekerja.  Masih takut aku menceritakan hal ini kepada ayah karena aku tahu dia akan marah besar dan melarangku melakukan hal itu. Aku berpamitan pergi dengan alasan main ke rumah tetangga, ayah bertanya “Geus solat maneh neng? Tong poho dahar heula tadi bapa masak endog ceplok” ( sudah shalat kamu neng? Jangan lupa makan dulu, tadi bapak memasak telur mata sapi ). Namun aku pergi sangat tergesa dan bilang kalau sarapan tadi pagi sebelum sekolah masih membuat perutku kenyang.

Rumah majikan ibu sangat luas, jauh jika dibandingkan rumah yang kutinggali. Dia mempunyai anak perempuan seumurku bernama Nina. Hampir mirip dengan namaku, Ina. Tugasku di rumah itu ternyata tidak berat, padahal aku sudah siap melakukan semua pekerjaan yang biasa Ibuku lakukan disana. Ternyata aku hanya diminta untuk menemani Nina bermain dan belajar. Nina bukan anak orang kaya yang sombong, sama seperti kedua orangtuanya yang santun terhadap orang lain.. nina begitu baik menyambutku. Kami langsung akrab seperti sudah saling mengenal bertahun tahun, hari itu kulewatkan dengan sangat menyenangkan dan penuh tawa. Dalam hatiku berkata, oh..begini rasanya menjadi orang kaya dan bahagia, aku tersenyum sendiri.. walau tidak secara langsung menjadi bagian sebenarnya dari kehidupan mereka, tapi aku bahagia hari itu bisa merasakan hal yang jarang kudapat di rumah, apalagi semenjak kematian ibu.

Tak terasa waktu berjalan sangat cepat, adzan magrib berkumandang… aku tak pernah pergi meninggalkan rumah sampai selarut ini, aku tahu ayah akan marah. Sebelum pulang, aku diberi uang jajan sebagai upahku bekerja hari itu menemani Nina.

Langkah kupercepat hampir berlari menuju rumah, begitu gundah hatiku kala itu saat membayangkan wajah khas ayah saat marah. Kuketuk pintu depan rumah, “Assallamuallaikum bapaa…bapaaa…ieu eneng uih pa….” ( Assallamuallaikum bapaa….bapaaa…ini neng pulang pa.. ). Tidak ada suara yang kudengar dari dalam rumah, saat gagang pintu kupegang..ternyata pintu tidak terkunci. Aku mengendap masuk, mungkin bapa sedang pergi ke mesjid pikirku. Kaki ku langkahkan menuju sumur di belakang rumah berniat untuk mengambil wudlu hendak melaksanakan shalat magrib yang sudah hampir lewat. Kulihat ayahku berdiri di depan sumur, tepat di depannya. Menatapku penuh amarah, terakhir kulihat tatapan itu adalah saat dulu ayah mengacungkan sebilah pisau ke arah ibu. Tubuhku bergetar hebat karena takut.

Tanpa sempat mengucapkan maaf dan semua penjelasan tentang kemana aku pergi sampai selarut itu, tangan ayah yang dibekali sebilah kayu begitu membabi buta mendarat di tubuhku. Aku menjerit, begitu pula ayah terus berteriak mengucapkan banyak kalimat kekecewaan betapa nakalnya aku. Awalnya teriakan itu masih kudengar dengan jelas, sejelas rasa sakit dan darah yang banyak keluar dari hidung dan pelipis wajahku saat tak hentinya kayu yang ayah pegang mendarat ditubuh dan kepalaku. Lambat laun teriakan ayah semakin sayup, rasa sakit ditubuhku pun seolah mulai menghilang. Rasanya seperti melayang…. Aku sudah berdiri di atas tubuhku yang lebam dan terbujur lunglay dihadapan ayah yang kini terlihat mulai menangis, masih berteriak… namun kini berteriak memanggil manggil namaku. “Bapa… Bapa….” Aku ikut berteriak, namun ayah tak mendengar. Aku menangis, ikut memeluk ayah yang juga sedang memeluk tubuhku yang lain.

Ayah yang menangis menyesal dan terus berteriak memanggil namaku tiba-tiba mengangkat ragaku yang kini mulai kaku, terus berjalan mengangkat tubuh kakuku…. Berhenti disebuah sungai yang berada tak jauh dari rumah tempat kami tinggal. Sambil berteriak memanggil manggil namaku… ayah melemparkan ragaku kedalamnya. Jiwaku masih bersama ayah, menangis memeluknya dari belakang..

Jasadku ditemukan 4 hari sesudah hari itu, aku tak peduli itu. masih saja kudekap ayah yang kioni terlihat lebih tertekan daripada saat kehilangan ibu waktu itu. Ayah duduk didalam ruangan sempit dibalik terali besi, ayah menyerahkan diri kepada polisi setelah melempar ragaku ke dalam sungai. Ayah terlihat sangat terluka…. Begitu pula aku, yang ikut terluka melihat keadaan ayah. Akan kutemani ayah, terus kutemani ayah.. meski aku tahu dia tidak pernah bisa melihat kehadiranku atau bahkan merasakan kehadiranku disisinya.

13 Tahun sudah berlalu, ayah semakin renta… aku masih saja mendatanginya yang masih berada dibalik terali besi. Tak selalu berada disisinya, seringkali aku berjalan mencari seseorang yang mungkin bisa membantuku menyampaikan begitu aku menyayangi ayah, selama ini selalu berada disisinya menemani, dan kejadian di hari jumat itu tidak mampu membuatku berubah membenci ayah.  Jika memang tak bisa seperti itu, aku akan menunggu ayah… menunggunya pulang dan menjadi sepertiku saat ini.

Aku masih mendatangi dan memeluk ayah setiap malam…. Menemani dan menjaganya, seperti apa yang ibu pernah minta padaku.. untuk selalu menemani ayah… dan menjadi anak yang baik…




15 comments:

  1. habis baca ini saya menarik nafas panjang. ceritanya bagus teh...:-)

    ReplyDelete
  2. sediiihhh ....
    ina ngga sempat besar dan menjadi ank yg berbakti , padahal dia br aja mulai belajar menjadi ank yg di harapkan oleh setiap org tua di dunia ini ...

    sedihhh bgt teh .. :((

    ReplyDelete
  3. ini si eneng yang kemarin teteh ceritain di twitter ya?,

    sedih bgt ceritanya teh. matasaya berkaca-kacabaca kisahnya si neng ini

    ReplyDelete
  4. ini yang di twit kemaren ya..?
    sedih :'(

    ReplyDelete
  5. (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩). اِنّا لِلّهِ وَاِنّا اِلَيْهِ رَجِعُوْنَ

    ReplyDelete
  6. Ina ini yg waktu itu ketemu sama teteh bukan?
    yang ditanyain 'bareng2' via twitter?

    sedih ceritanya >.<

    ReplyDelete
  7. Astagfirullah aku nangis teh sediiiiiiih ....
    Pgn ketemu ayahnya deh pgn bilang kalo ina itu baik bgt (-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩___-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩).

    ReplyDelete
  8. menangis setelah baca ini T,T (maaf, main nimbrung)

    ReplyDelete
  9. apa si ina ketemu sama arwah ibunya setelah meninggal ?

    ReplyDelete
  10. tetehh.. aku copy cerita ini ya, buad copy di blog aku :D

    ReplyDelete
  11. Mohon maaf sebelumnya.
    saya permisi yaa teh dan permisi juga untuk neng ina rosliananya.
    boleh saya mengadopsi cerita ini untuk cerita perdana di blog saya??
    sebenernya cerita ini barusan sudah saya posting, tapi klo memang tidak di izinkan, saya akan menghapusnya kembali.
    nuhun teh..

    ReplyDelete