Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Wednesday, May 4, 2011

Surat untuk kekasihku..

Teruntuk Ahmad, kekasihku.... 

sesuatu tentang apa yang pernah kulalui dan aku rasakan yang sepertinya memang harus kamu ketahui dengan benar
 

Aku terbang, aku melayang, aku hinggap di ranting yang sekalipun rapuh namun aku tetap bisa berpijak diatasnya. Sesekali kupandangi potretmu, satu satunya barang yang pernah kau sematkan di ranting tempat biasa kumemandangimu, kau pikir mungkin dengan melihatnya bisa sedikit mengobati kerinduan hatiku kepadamu? Kamu salah Ahmad, bahkan tanpa lembaran potret ini pun aku masih saja bisa mengingat garis mukamu, aku bisa saja mewujudkan bentuk dirimu sekalipun itu didalam kegelapan yang teramat pekat.

Umurmu masih 5 saat kakimu menginjak rumah yang juga aku tinggali, sebut saja itu rumahku karena sudah hampir seperempat abad kutinggali. Keluargamu hidup berdampingan dengan keluargaku semenjak itu, ya...sebut saja mereka keluargaku, karena juga hampir seperempat abad mereka membantuku melupakan luka dimasa lalu dan mengajakku tinggal bersama di rumah ini...yang juga rumah milik keluargamu. 

Ahmad, dari awal aku melihatmu..aku sudah merasakan sesuatu yang berbeda tentang kamu. Kau berbeda dari saudara-saudarimu yang lain, wajahmu tampak tak asing bagiku dan bagi keluargaku. Rambutmu pirang, sama sepertiku. Kulitmu terlalu pucat untuk menjadi bagian dari keluarga besarmu, kau tampak berbeda Ahmad. Sikapmu amat pemberani dan selalu ingin tahu apa yang ada di setiap penjuru rumah ini, kau tak kenal rasa takut...kau menjadi pelindung adik dan kakakmu yang pemalu dan penakut. Aku memperhatikanmu tumbuh..tumbuh...tumbuh hingga menjadi sosok laki-laki yang dikagumi oleh wanita wanita seumurmu. Bahkan kau menarik perhatianku, wanita yang mungkin memang terpaut beberapa tahun usia denganmu. Tapi aku akan menunggu hingga usiamu mencapai usiaku...aku menunggu saat saat itu.

Beberapa wanita cantik pernah menjadi teman kencanmu, tapi masih kurang cantik jika dibandingkan aku. Ya, aku mengakui bahwa diriku adalah gadis netherland yang cukup diminati, aku cantik....ramah...periang, hanya saja kurang beruntung dalam masalah percintaan. Ahmad, taukah kamu kalau aku sering sekali menakuti wanita-wanita yang berkencan denganmu, mereka datang ke rumah ini..berusaha tampil semenarik mungkin untuk menggodamu. Kadang aku kesal dengan tingkah laku mereka, kulakukan apapun agar mereka segera pergi meninggalkanmu. Maaf Ahmad, tapi kurasa hanya aku satu-satunya wanita yang pantas bersanding denganmu.

Mungkin kamu lupa, saat sedang bersedih...kamu selalu memainkan piano yang ada ditengah rumah. sengaja kamu redupkan cahaya ruangan itu, lalu kamu pejamkan mata dan mulai  memainkan nada nada menyedihkan dari permainan tanganmu diatas piano. Kamu pandai menutupi kesedihanmu, tapi tidak pandai menutupinya dariku. Lantas aku mulai mendekatimu, pelan pelan aku mengendap didekatmu, kupeluk dirimu dari belakang.....kadang kau terkejut hingga matamu terbuka sesaat, tapi mungkin kala itu kamu merasakan kenyamanan berada dipelukanku..dan kembali kamu lanjutkan permainan pianomu bersama aku yang terus memelukmu.

Usiamu hendak menginjak 24, sama dengan umurku. Hari yang sangat aku nantikan...tak sabar rasanya untuk mulai mencintaimu...walau sebenarnya sudah aku kurasakan cinta itu datang sejak kamu mulai terlihat begitu cemerlang dimataku. Tapi setidaknya, kini umur kita sama. Kita bisa saling mencintai dengan cara yang mungkin lebih dewasa. Tak sabar rasanya untuk segera mengisi hari-harimu, muncul di setiap mimpimu. Atau bahkan mewujudkan pikiran tergilaku, mengajakmu pergi bersamaku.

Kamu muncul malam itu di ruang tamu, satu hari menjelang hari ulangtahun ke-24mu.... bersama seorang wanita cukup cantik yang duduk manis tersipu disampingmu. Kamu panggil orangtuamu, kakakmu, juga adik adikmu, kau mengeluarkan sebuah kalimat yang sukses menampar seluruh perasaanku, " Bu, Pa, Teh, Adik-adik....Ahmad mantap hendak menikahi wanita ini, wanita yang Ahmad pikir akan sangat ideal untuk menjadi Ibu dari anak-anak Ahmad kelak".

Aku pernah mati satu kali, tragis dan tak pernah ingin aku kenang lagi. Tapi kali ini aku merasakan mati untuk kedua kalinya, cara kematian yang lebih tragis bagiku...bahkan mati diperkosa oleh para tentara jepang pun tak ada apa-apanya dibanding kematianku kali ini. Aku tersungkur, menjerit tanpa mengeluarkan air mata, wajahku yang cantik berubah menjadi tua dan keriput. Keluargaku melihat itu, ada Teddy dan Ana yang kontan menghampiriku dan memelukku penuh rasa iba. Lalu adik adik kecilku Peter Hans Will Yanshen dan Hendrick ikut berteriak "Elizabeth.....hey kenapa kamu?!" mereka ikut menangis melihatku berteriak histeris. Lalu opa Hans, orang paling tua dikeluargaku ini datang dan mengumpat dengan bahasa Belanda, dia marah dan kesal dan menanyakan padaku tentang mahkluk apa yang membuatku menderita dan histeris seperti kala itu. Kami semua berpelukan, aku tidak perlu menceritakan rasa sakitku kepada mereka yang kuanggap seperti keluargaku, saudaraku, teman-temanku. Cukup hanya dengan berpelukan, rasa sakitku bisa terbagi pada mereka.

5 Tahun berlalu setelah pernikahanmu, pernikahan yang juga kau lakukan di rumah ini, rumahku...rumahmu. Selama itu pula aku masih saja tidak bisa menahan perasaan ini, perih rasanya melihatmu tertawa..bahagia..dan menimang seorang anak laki-laki hasil perkawinanmu. Aku hanya bisa memandangimu diatas ranting tempat biasa aku berdiam dan termenung menyaksikan segala-galanya, ya...segala-galanya.

9 Tahun pernikahanmu, aku masih saja murung. Sekali-kali kudatangi ruang piano tempat biasa kamu memainkan nada-nada sendu, yang kuanggap saja lagu-lagu itu memang kaupersembahkan untukku. Malam itu hatiku tergelitik untuk mendatangi ruang piano, hanya untuk sekedar mengingat kembali masa-masa dimana aku bisa memelukmu tanpa terbakar rasa cemburu, tanpa adanya suara rengekan anak kecil yang minta ditidurkan olehmu saat kau mulai menyentuh tuts tuts piano. Aku duduk diatas kursi piano, jemariku ingin coba menyentuhnya...tapi opa Hans bisa saja memarahiku jika aku membuat kegaduhan yang pasti menggemparkan seisi rumah ini. Kupejamkan mataku coba mencium kenangan tentang kamu...satu satunya laki-laki yang bisa memainkan piano di rumah ini, satu satunya laki-laki yang biasa menduduki kursi tempat ini. Aku bisa merasakan wangimu! Aku mulai girang dan terus memejamkan mataku... ya, aku bisa menciumnya...wangi seorang Ahmad yang selama ini aku cintai...Ahmad yang tak lagi muda, Ahmad yang kini menjadi pria dewasa berumur 33 Tahun.

"treng..teng..teng...ting..." Betapa kagetnya aku diiringi mataku yang mulai terbelalak, kudengar piano berbunyi dan kulihat kamu sudah ada disampingku. Memandangku dari sudut kiri matamu. Lalu sepintas kulihat sedikit sungging senyum di bibirmu seolah berkata "Halo". Kamu terus memainkan piano, sebuah nada baru yang belum pernah kudengar sebelumnya. Indah sekali, kali ini aku ingin menangis..tapi bukan tangis histeris seperti saat itu. Aku bahagia, aku merasa hidup! Lalu sesuatu yang lebih mengagetkan meluncur dari mulutmu, "Selamat malam Elizabeth..." Seandainya masih bisa kulakukan, mungkin aku akan pingsan karena bahagia. Kamu memanggil namaku? kau yang selama ini selalu kucintai ternyata mengetahui namaku dan keberadaanku malam itu!

Semenjak malam itu, rutinitas aku dan kamu adalah bertemu di ruang piano pada pukul 11 malam. Disaat semua orang tertidur, kami bertemu. Rupanya kamu menyembunyikan sesuatu dariku, sejak kecil kau mengetahui keberadaanku. Sesuatu membuat penglihatanmu aga istimewa daripada manusia pada umumnya. Kamu tahu segalanya termasuk jeritanku saat mengetahui dirimu akan menikah dengan wanita yang kini menjadi istrimu. "Kamu tau segalanya tentang aku Ahmad...sama seperti aku yang tahu tentang kamu..segalanya".

Kita saling terbuai oleh percintaan 2 dunia ini, aku dan kamu bisa saja menipu seluruh isi rumah ini...aku menipu keluarga hantuku, dan kamu menipu keluarga manusiamu. Terkadang kita terlalu lupa diri hingga berhari hari kita bepergian kesuatu tempat dimana hanya ada aku dan kamu yang saling mencintai dan memadu kasih dengan cara yang aneh. Sebagai seorang wanita yang pernah hidup sepertimu, aku masih memiliki hasrat untuk memilikimu seutuhnya. Mungkin tidak semua orang bisa merasakan cinta seperti kita, bahkan akupun kadang tidak tahan dengan keadaan ini..ingin seutuhnya bisa menganggapmu kekasihku atau bahkan menyebutmu sebagai suamiku. Terus menerus aku mendesakmu, terkadang kamu yakin tapi seringkali kamu bimbang. Kulakukan berbagaimacam cara untuk merayumu ikut bersamaku, anakmu selalu menjadi penggagalnya. Katamu, "Aku ingin melihatnya tumbuh dewasa.."
Waktu terus berjalan, usiamu hampir 40. Bukan hanya satu anak yang kau pedulikan, kau kini punya seorang bidadari yang setidaknya bisa mengalihkan rasa pedulimu padaku. Aku cemburu Ahmad, hingga ingin kucelakai istrimu. Tapi Ahmad kamu salah, secuilpun aku tidak pernah punya keinginan untuk mencelakai anak-anakmu. Ada kamu didalam diri mereka yang membuatku luluh saat menatap mata mereka.

Pada suatu hari anakmu menangis dan merasa disakiti oleh sesuatu yang dia sebut ganjil seperti hantu, dihari lainnya anakmu yang lain menangis tersakiti karena didatangi oleh makhluk menyerupai wanita yang juga mereka sebut sebagai hantu. Matamu terlihat marah, sangat marah dan kecewa. Aku masih belum menyadari kemana arah amarah itu tertuju, hingga akhirnya kau berkata..bahwa semua ini adalah ulahku, bahkan untuk pertama kalinya kau bilang bahwa aku memang hantu penggoda yang tidak ada bedanya dengan hantu yang kau sebut kuntilanak. Aku diam....tak bisa berkata apa-apa, hancur dengan sendirinya oleh kata kata yang sudah kau tuduhkan kepadaku.

Kata-kata itu masih terngiang saat kamu mulai mengemasi barang-barang yang kamu dan keluargamu miliki, hatiku masih menganga sakit saat kamu mulai mengajak seluruh keluarga besarmu meninggalkan rumah ini. Mungkin aku bukan satu-satunya alasan kepindahanmu dari sini, tapi semenjak hari kemarahanmu...sepatah katapun tak pernah lagi keluar dari mulutmu. Bahkan penglihatanmu seolah kembali normal, tak lagi bisa mengetahui keberadaanku...sama seperti manusia lainnya. Aku dan keluargaku memandang dengan tatapan sedih saat satu persatu keluargamu meninggalkan rumah ini, hanya kami yang tersisa disini....menunggu keluarga baru datang dan memulai semuanya kembali dari nol. Aku yang paling diam kala itu, tertunduk dan merasakan ketidak adilan paling dalam yang pernah kurasakan. Aku mengutuk Tuhan saat itu, kapan keadilan itu datang Tuhan? Kematianku masih bisa kumaafkan...tapi salahkah aku merasakan kebahagiaan setelah aku mati? Seperti kemarin saat Ahmad masih mempedulikanku?

Aku  melayang, aku terbang, hinggap di ranting tempat biasa aku berpijak..termenung dan memikirkanmu. Sekilas kulihat selembar potret, digambarnya tergambar wajahmu...sedang tersenyum menatap ramah kepadaku. Kubalik potret itu, tertulis dengan bahasa Belanda sebuah tulisan yang isinya "Tidak usah mencariku, jika kamu merindukan aku...tatap saja foto ini seolah semuanya memang baik-baik saja seperti dulu". Ingin kusobek potret ini tapi ini satu satunya benda yang kamu tinggalkan untukku.

Mungkin yang aku lakukan saat ini adalah menunggu kematianmu walau itupun sebenarnya belum tentu bisa mempertemukan kita, aku tahu dilubuk hati terdalammu..kamu masih saja mencintaiku. Manusia lain sepertimu boleh saja menangisi tentang perbedaan, tapi perbedaan bagiku dan kamu terlalu luas hingga Tuhanpun tak akan memberikan peluang untuk mempersatukan kita.

Aku hanya menunggu....menunggu....seandainya keadilan itu memang masih bisa diberikan kepadaku...


                                                                                                                               
Kekasihmu, 
Elizabeth

8 comments:

  1. keren bgt teteh,

    bisa masuk di album baru kaya nya niiiih. yap yap yap, sukses ya teteh ..!

    ReplyDelete
  2. keren teh
    sukses selalu ya teteh hehe

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. absolutely coolest and makes me cringe of course...!!!
    Mugia sukses teras ya Teh...aammiin YRA..
    *Lapyupulll*

    ReplyDelete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. bagus banget itu...
    kasihan si elizabethnya... :(

    ReplyDelete
  7. bete lah teteh risa
    nenek aku beli rumah dari pa ahmad tapi udah tua sih , tapi masih ada piano di dalemnya -_-
    tapi udah diambil si sereeeem sereem ah

    ReplyDelete