Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Wednesday, May 18, 2011

Berbicara tentangmu..

Kamu adalah laki-laki paling tampan yang pernah kukagumi. 


Bermandikan peluh kau naiki begitu banyak bukit dan pegunungan... banyak ilmu yang kamu dapatkan dari tanah, pepohonan, angin, dan dedaunan yang hijau...menguning..lantas berguguran. Separuh hidupmu kau habiskan dengan mengerahkan isi kepala dan menggunakannya dengan sangat baik dan bijaksana, kamu mampu mengendalikan dan meredam amarahmu, kamu juga mengajari banyak keluarga dan teman-temanmu soal kerja keras juga kesabaran. Apa yang harus orang ragukan tentang semua sifat baikmu? Tak pernah ada yang menyangkalnya. Kamu memang sosok laki-laki yang dibutuhkan setiap wanita yang membutuhkan sebuah hidup yang penuh dengan kedamaian.


Dari setiap potret yang memperlihatkan sosokmu, tidak pernah kulihat keabsenan sebuah gitar klasik yang selalu kamu bawa kemanapun kamu pergi. Kau begitu mencintai musik, salah satu hal yang membuatku semakin mengagumi sosokmu. Jika aku bertanya darimana kamu mempelajari semua ini, kamu selalu berkata "Semua kupelajari dari alam...". Kamu rangkai begitu banyak lirik yang menyuarakan tentang karunia Tuhan, lagi lagi....alam...pegunungan. Sekali waktu, aku pernah melihat seorang teman dekatmu menangis terharu....kau buatkan dia sebuah lagu dengan lirik jenaka mengenai kebiasaannya mengejar bis kota saat hendak kuliah. Terkadang kamu begitu romantis...sikapmu misterius, tidak pernah ada yang bisa menduganya.


Kamu bukanlah sosok orang yang mudah terbuka kepada orang baru...bahkan juga bagiku, terkadang begitu takut bagiku untuk menebak apa yang sedang kamu pikirkan saat ini. Terlalu takut bagiku untuk hanya bertanya "Apa kabarmu hari ini?" atau begitu takut bagiku saat ini untuk berkata "Aku sedang tidak baik baik saja.... apakah kamu tahu itu?" Kita sama sama diam...menyimpan beribu pertanyaan di dalam benak dan entah kapan akan kita keluarkan. Atau mungkin, hanya aku saja yang berpikir seperti itu? atau mungkin hanya aku yang memendam begitu banyak pertanyaan yang takut untuk kutanyakan padamu? Entahlah aku tidak pernah meyakininya.


Tapi ada begitu banyak masa-masa indah yang pernah kita lalui bersama. Apakah kamu ingat itu? Begitu banyak medan alam yang kita lalui bersama...kita menjelajah bersama... tertawa bersama... mengagumi keindahannya bersama, tapi itu dulu... dulu sekali. Begitu banyak lagu yang kamu ajarkan kepadaku, nyanyian orang-orang hebat yang kau tanam ditelingaku. Kamu yang selalu memaksaku untuk bernyanyi, menyanyikan lagu-lagu yang kau sukai hingga mau tak mau aku menyukai semua lagu lagumu. Kamu  juga mengajariku begitu banyak hal penting tentang arti menghargai. Begitu baiknya kamu memperlakukan orang-orang yang ada disekitarmu hingga kadang kamu tak pernah memikirkan keinginanmu.. kepentinganmu. Aku suka itu, dan kuikuti semuanya... sama sepertimu. Tapi kamu lupa mengajariku sampai batas mana aku harus berbuat baik tanpa memikirkan keinginanku, hingga seringkali akhirnya aku menderita karena itu. 


kamu lupa mengajariku cara berbicara hati ke hati denganmu...


Begitu banyak ungkapan hati yang ingin kusampaikan padamu, atau sekedar pendapatku tentang jalan atau tindakan yang kamu pilih. Tapi aku tahu, kamu melakukan semuanya dengan benar dan sesuai dengan kata hatimu. Kamu sangat mempercayai intuisi dan pendapatmu. Mungkin juga kamu sangat mempercayaiku, hingga semua pilihanku selalu kuputuskan sendiri saja... akupun percaya, aku bisa menentukan semuanya berdasarkan intuisi dan keinginanku. Tapi kita tak sama, intuisiku tak sebagus punyamu, seringkali aku terjatuh. Saat jatuh, aku tidak takut dengan sesuatu yang disebut "Hancur". Satu-satunya yang kutakutkan adalah dirimu, dirimu yang ikut hancur atas pilihan-pilihan hidupku yang salah..


Kamu tetap seperti itu...aku tetap seperti ini, entah sampai kapan...


Kerut diwajahmu sudah mulai tampak, matamu yang lelah kini lebih sering kutatap.... ingin sekali aku berkata "Sebaiknya hari ini kamu istirahat saja tidak usah lagi-lagi memikirkan orang lain..." Tapi kau memang seperti itu, sosok laki-laki pekerja keras berpendirian kuat dan tidak pernah bisa dicegah untuk melakukan apapun. Kamu tetap menjelajah di akhir minggu, mungkin itu satu-satunya yang bisa menenangkan kerutan dan lelah matamu, mungkin itu satu-satunya cara agar bisa begitu sabar menghadapi kehidupan, mungkin itu satu-satunya tempatmu bercerita.... Aku tak pernah tahu isi hatimu, tapi aku yakin.... pepohonan... alam.... tanah.... gunung... dan alam yang kau jelajah tahu itu.


Walau tak banyak saling bicara, aku tahu kita saling menyayangi...
Walau tak banyak waktu bersama, aku tahu kita saling peduli....

Walau tak saling tahu, aku tahu alam adalah perantara kita untuk saling bertaut...

Pernah suatu kali ku tak sengaja melihat secarik kertas berisi tulisan tanganmu tentang aku. Kau menulis "Jangan berharap semuanya akan tumbuh dengan cepat, biarkan dia menjalaninya sesuai dengan apa yang dia inginkan...." disebelah carikan kertas itu kulihat potretku, mungil... tersenyum... berumur satu tahun, karena kulihat tanggal disampingnya tertera "bandung 24 feb 86". Memang begitu adanya... kamu tidak pernah main main dengan ucapanmu, bahkan dengan tulisan di sebuah carikan kertas.. "Biarkan dia menjalaninya sesuai dengan apa yang dia inginkan.."


Kamu adalah laki-laki yang kusebut Ayah selama 26 tahun aku bernafas di dunia ini. Tidak pernah ada kata menyesal dalam hidupku telah dilahirkan menjadi anak perempuan pertamamu. Begitu banyak hal ingin kutiru darimu... semuanya membutuhkan proses yang panjang bagiku untuk bisa menjadi sepertimu. Suatu saat, aku akan mengikuti jejakmu... bercerita kepada alam tentang semuanya tentang hidupku tentang kekagumanku padamu tentang begitu aku sangat mencintai hidup ini... tentang rasa sakitku dan tentang bagaimana caraku untuk menghadapinya. Mungkin dengan cara itu kita bisa saling bercerita, mungkin dengan cara itu alam akan berbicara menjadi perantara aku dan ayah....


Jika engkau membaca tulisan ini, tidak usah berubah.. Ayah. Tetaplah seperti itu.. Dengan sosokmu sekarang pun kau tetap laki-laki yang sangat kukagumi. Biarlah kita tetap menjadi diri kita.... aku yakin, suatu saat kita akan menemukan cara untuk berbicara...


9 comments:

  1. saya sangat menyayangi ayah saya, tanpa harus saya ucapkan.
    saya berharap ayah saya merasakan semua itu :')

    ReplyDelete
  2. tak hentinya tulisan teteh membuat pembaca jadi terbawa oleh kisah yang teteh ceritakan

    ReplyDelete
  3. saya sangat menyayangi papa saya..walaupun hidup jauh dari papa n tidak berkomunikasi tiap hari,tp saya berharap papa saya bisa merasakannya..tulisan teh risa selalu membwa saya masuk kedalamnya.. saya suka sekali.. :)

    ReplyDelete
  4. kamu jauh lebih beruntung dari aku. be grateful..my dad wont write somethin like that fe me. not even once. but i do love him :)

    ReplyDelete
  5. apakah engkau dapat merasakannya ?
    walau tak ku katakan dengan jelas ?
    aku lupa bagaimana caranya kita untuk berbicara dari hati ke hati
    bahkan engjau tidak mengajarinya kepadaku
    tetapi sungguh, aku menyayangimu ayah :')
    dapatkah engkau rasakan ? tanpa ku katakan dengan jelas ? :)

    ReplyDelete
  6. Jika engkau membaca tulisan ini, tidak usah berubah.. Ayah. Tetaplah seperti itu.. Dengan sosokmu sekarang pun kau tetap laki-laki yang sangat kukagumi. Biarlah kita tetap menjadi diri kita.... aku yakin, suatu saat kita akan menemukan cara untuk berbicara...

    ;')

    ReplyDelete
  7. ya ampuunn tth :") IZIN SHARE KATA" Indah ini ya

    ReplyDelete