Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, December 28, 2010

Samantha..

Kenalkan, namaku Samantha....umurku 12, sudah 76 tahun aku berada dalam tubuhku yang tetap saja berumur 12. Entah sudah berapa banyak wanita atau laki laki atau bahkan binatang binatang yang lahir dan mati di depan kedua mataku. Betapa beruntungnya jika aku bisa berinteraksi dengan mereka secara nyata, aku rela melakukan apapun agar bisa sedikiit saja berbicara dengan mahkluk hidup..benar-benar hidup secara nyata.

Jika dibandingkan anak-anak keturunan yang lain, wajahku ini kurang menarik...sifatku pun mengikuti ketidakmenarikan wajahku. Semasa hidupku rasanya sama saja, tidak begitu menyenangkan. Satu satunya mahkluk yang kuingat semasa hidupku adalah burung pipit sahabatku bernama irene, yang kutemukan tergeletak dibawah pohon halaman rumah. Kaki irene patah sebelah, karenanya dia tidak bisa kembali terbang. Aku yakin, irene mau tak mau terpaksa menghabiskan waktunya denganku...seandainya dia bisa terbang, mungkin akan pergi meninggalkanku..sama seperti yang lainnya.

Jika kau tanya apakah aku punya ayah ibu? akan kujawab iya. Jika kau menanyakan keberadaan mereka? akan kujawab "mana kutahu". Setahun sebelum aku mati, mereka memanggilku ke ruang kerja papa.....disana mereka berkata kepadaku "Samantha, kami akan pergi sebentar ke netherland.....hanya mengurus beberapa tanah opa yang akan dijual, tidak akan lama...hanya satu bulan". Dan...ya, begitulah kalimat terakhir yang kudengar dari mulut mereka...selanjutnya, tidak kuterima satupun kabar sampai akhirnya aku harus mati tanpa mereka disampingku.

Aku tinggal di sebuah perkebunan milik papa yang sangat luas di daerah yang kini dikenal dengan nama jawa barat, tepatnya di daerah ciater. Papa adalah orang Belanda yang cukup dikenal saat itu, tanahnya cukup luas dan dia memiliki banyak sekali budak yang bekerja untuknya. Mamaku adalah wanita belanda yang sangat elegan....wajahnya cantik dan sangat mengutamakan penampilan. Aku yakin, wajahku tidak mirip dengannya...wajahku lebih mirip papa, dan harus kuakui kalau papa tidak begitu tampan untuk sosok yang cocok mendampingi mama. Orangtuaku jarang terlihat berbicara satu sama lain, jangan mengharapkan keromantisan terjadi di rumah ini. Jangankan mengurusku, menanyakan bagaimana keadaanku setiap hari pun enggan keluar dari mulut mereka...

Sahabatku hanya irene si burung pipit, temanku yang lainnya hanyalah guru privat seorang pemuda lokal bernama pak asep yang papa tunjuk untuk mengajariku berbagai macam ilmu yang dia pelajari. Pa asep terlalu kaku untuk dijadikan teman, dia terlalu takut untuk mengajakku bermain....mungkin karena takut oleh papa yang memang selalu menekankan jarak antara keluarganya dengan orang-orang lokal. Seharusnya aku bersekolah bersama anak anak sebangsaku. Tapi ada pertimbangan lain yang membuatku harus selalu berada di rumah.

Ya, aku mengidap penyakit aneh....di beberapa bagian tubuhku terdapat sesuatu yang membentuk gunung yang semakin lama semakin membesar, kalau mengutip kata kata manusia jaman sekarang...itu adalah benjolan. Semakin lama semakin sakit, dan dokter yang merupakan sahabat papa bercerita kepada orangtuaku bahwa aku mengidap penyakit mematikan. Resepnya hanya beristirahat setiap hari dan makan makanan bergizi...aku tidak merasakan betapa berbahayanya penyakitku sampai perlahan kudapati helai rambutku berjatuhan sampai terlihat aga botak, berat badanku menurun drastis, dan daya tahan tubuhku menjadi semakin melemah. Entah apa penyakit yang telah merusak tubuhku ini...

Semakin hari kondisi tubuhku semakin menyedihkan.....dan semakin menyedihkan pula perlakuan papa mama padaku. Mereka menugaskan seorang wanita lokal untuk mengurusi kebutuhanku, namanya rumi. Rumi cukup baik, tapi aku masih sangat mematuhi ajaran papa...yang tidak mengijinkan orang sebangsaku untuk bergaul dengan orang lokal. Rumi tak pernah kuajak berbicara, tapi dia terus melayaniku dengan baik...bahkan lebih baik daripada orangtuaku yang semakin lama semakin jarang kulihat, padahal aku adalah satu satunya putri mereka yang sedang sakit dan membutuhkan uluran kasih sayang mereka.

Aku mati setahun setelah papa dan mama pergi ke netherland. Aku mati dalam keadaan tak berambut dan badan kurus dipenuhi lebam yang entah darimana asalnya. Aku mati dipelukan Rumi, wanita yang selama ini tidak pernah ku perlakukan dengan baik. Aku mati menunggu papa dan mama pulang......orangtuaku yang tak kunjung kembali dari netherland. Aku mati bukan ditangan nipon....bukan seperti teman teman sebangsaku lainnya yang tinggal di negara ini, tapi aku mati ditangan orangtua yang tidak mau menganggapku anak karena penyakit ini.

Aku tinggal diatas bukit saat ini, di sebuah perkebunan teh ciater yang disulap menjadi perumahan mewah. Diatas bukit itu ada sebuah pondok istirahat tempat orang orang yang naik keatas bukit beristirahat. Disekitar pondokku terpasang huruf huruf begitu besar di sepanjang bukit. Aku diam disitu....menanti kapan aku bisa pulang dengan tenang, tanpa dendam kepada kedua orangtuaku. Walau aku marah mengakuinya, tapi aku tetap menunggu mereka..datang menjemputklu disini.

Kadang aku bermain main bersama anak kecil yang sering ikut orangtuanya bertamasya di bukitku...ada yang melihat ada yang tidak, tapi biasanya hanya anak balita yang bisa melihatku..selebihnya tidak. Suatu malam aku pernah menangis...ya...aku teringat kedua orangtuaku dan segala kesedihan semasa hidupku. Di dekatku ada beberapa tenda berdiri, bentuknya bulat berwarna biru...aku mendekati tenda itu karena warnanya yang bagus...tapi ,masih dalam keadaan tetap menangis. Dari dalam tenda kudengar suara anak perempuan berbisik, "Hey....kamu kenapa?". Aku sedikit kaget, kubenamkan kepalaku menembus tenda untuk melihat sumber suara itu...didepanku tampak seorang anak perempuan lokal seusiaku, berambut pendek menatap wajahku sambil tersenyum.. "Hey jangan menangis, sini main sama aku yuk...". Aku mulai berhenti menangis karena kaget dan bahagia akhirnya ada yg bisa mendengar dan berinteraksi denganku, kuusap air mataku dan tersenyum ke arahnya sambil kuulurkan tanganku dan berkata "Halo aku samantha...siapa namamu?", dan gadis itu menjawab "Hai Samantha...kenalkan, aku risa."

29 comments:

  1. teteh banyak bgt kenalan hantu ya...,
    kenalin satu buat aku, yg cantik ada nggak teteh?

    ReplyDelete
  2. waduh, merinding nih bacanya..
    itu beneran gak sih???

    ReplyDelete
  3. teh risa,,
    itu camping di ciaternya pas malam apa??
    keknya enak tuh tempat,, :D

    ReplyDelete
  4. This is very interesting story. Could the writer please continue the story. It would be a shame if the story stops half-way.

    ReplyDelete
  5. merinding teteh,,tp bener2 cerita keren

    ReplyDelete
  6. wahh.....
    kayaknya asik juga bisa ngilangin kesepian mereka2 yang tidak terlihat oleh mata orang normal...
    tapi terkadang terasa takut juga...
    salam ya buat tmn2nya risa yg disana..
    hehehehe,,,

    ReplyDelete
  7. THIS IS MASTERPIECE! THE BEST LAH! Oiya, sekali lagi THIS IS MASTERPIECE!!!

    ReplyDelete
  8. itu keren bgt ceritanya...haha...bisa aja Teh Risa berteman sama banyak arwah...

    ReplyDelete
  9. mistis bgt teh risa, ciater sebelah mananya teh?

    ReplyDelete
  10. mau ihh kaya teteh :D
    teteh jadi inspirasi saya hehehe

    ReplyDelete
  11. keren banget teh, ini yang ada dibuku kan? ijin share ya..

    ReplyDelete
  12. Setelah di bukuin. Lanjutnya di film in ya teh.

    ReplyDelete
  13. kak boleh copy paste gak buat tugas sekolah :D
    gak boleh juga gpp kok kak :)

    ReplyDelete
  14. Paham banget gimana bahagianya samantha, terharu bacanya :)

    ReplyDelete
  15. Terharu dan merinding jadi satu Kak :3

    ReplyDelete
  16. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  17. Teh risa apa benar tidak apa-apa kalau bersahabat sama makhlut tak kasat mata. Saya pernah mencoba berinteraksi dengan mereka dan berhasil. Setelah itu saya konsultasikan ke guru agama di sekolah. Kata guru agama di sekolah, meskipun mereka baik tapi mereka tidak bisa benar benar jadi teman. Tapi bukankah teman manusia kadang lebih bahaya ya teh, apalagi kalo suka nusuk di belakang. Kan serasa punya musuh dalam selimbut.. Hehe

    ReplyDelete
  18. Aneh'a si tth ini gk bisa bhs belanda ������ mungkin 70 % ini vix khayalan dia imajenasinya hehehe jelas2 si samantha ortu asli belanda dan jarang berinteraksi dgn lokal pasti ttp lah dia lebih memakai bhs ibu nya. Hehehe itu sih pendapat saya

    ReplyDelete
  19. Aneh'a si tth ini gk bisa bhs belanda ������ mungkin 70 % ini vix khayalan dia imajenasinya hehehe jelas2 si samantha ortu asli belanda dan jarang berinteraksi dgn lokal pasti ttp lah dia lebih memakai bhs ibu nya. Hehehe itu sih pendapat saya

    ReplyDelete