Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Monday, September 13, 2010

Sekedar Wancana...

Saya adalah orang yang sejak kecil tidak pernah bisa mempunyai gigi bagus dan rapih, saat balita...kebiasaan memakan cokelat dan permen terbawa sampai saat memakan nasi, selalu saya anggap nasi itu adalah makanan manis yang dinikmati dengan cara melumerkannya di dalam lidah. Makan pun bisa berjam-jam, mau tidak mau membuat gigi menjadi aduhai indahnya hitam dan keropos.Pertumbuhan gigi yang kurang baik berlanjut hingga dewasa, cabut satu..tumbuh dua ditempat tempat yang sangat ajaib...seperti gusi bagian atas...atau gusi bagian bawah dimana tidak seharusnya sebuah gigi tumbuh disitu. Secara tidak langsung mungkin ini pengaruh dari mengemut makanan yang menjadi kebiasaan saya yang sangat adiktif terhadap cokelat dan permen.

Ada beberapa foto balita saya yang menunjukan wajah cemberut lalu berlanjut menangis....lalu berhenti menangis sambil memegang sebatang cokelat, dan berakhir tersenyum sambil bergaya ceria sambil memegangi coklat yang sudah tidak utuh lagi. Ayah saya mengabadikan momen itu dalam sebuah album yang membuat saya menghernyitkan kening....dan teringat kembali pada kegilaan saya terhadap dua makanan yang menjadi musuh berat gigi sehat.

Hampir semua jenis cokelat saya suka, tapi...diantara beribu banyaknya jenis permen di dunia ini...hanya satu yang menjadi favorit saya dari masa kecil sampai saat ini. Saat ini pun masih banyak ditemui di pasar swalayan...tapi seringkali saya tidak menemukan rasa yang sesuai dengan kesukaan saya. Permen yang sangat saya suka adalah ini.

Jangan tertawa, saya benar-benar mencintai permen yang satu ini. Saya menggilai permen jenis ini khususnya  yang berwarna hijau. Sewaktu kecil, dimana ada permen ini....saya selalu membelinya. Sampai jenis sachet di warung-warungpun saya beli. Secara tidak sadar, kegilaan saya terhadap permen berwarna hijau ini menjadikan saya manusia yang juga sangat mencintai warna hijau. Berawal dari sebuah permen rasa apel berwarna hijau lalu menjadikan saya adiktif terhadap benda-benda berwarna hijau lainnya. Jika disodorkan beberapa pilihan warna untuk sebuah benda yang harus saya beli, secara tidak sadar tangan saya akan mengarah kepada pilihan yang berwana hijau. Ini memang aneh, dari sebuah kebiasaan kecil...kecintaan terhadap sesuatu bisa meluas kepada hal-hal yang lain. Lumayan tidak terlalu buruk sih kebiasaan kecil saya ini...menurut saya hijau bukan suatu warna yang buruk untuk dicintai. Bahkan setelah beberapa kali membaca karakteristik orang-orang penyuka warna hijau, saya merasa karakter yang digambarkan lumayan mirip dengan saya. Semuanya berawal dari sebuah permen pagoda rasa apel.

Ada satu hal yang membuat orangtua saya menjadi kesal (terutama ibu), saat saya mulai menggilai permen yang satu ini. Silahkan tanya anak anak yang ada di seluruh dunia, tanyakan apa cita cita mereka saat besar nanti. Saya yakin jawaban mereka pasti "Dokter", "insinyur", "arsitek", "musisi", "aktris", dan lain lain. Dan coba tanya ibu saya saat beliau menanyakan kepada saya waktu dulu apa cita-cita saya suatu saat nanti, saya menjawabnya "Pegawai Pabrik Pagoda".  Maksudnya hanya agar saya bisa leluasa memasuk-masukan permen ke dalam tempatnya sambil sesekali memasukkan ke dalam mulut. Saat itu ibu saya kesal, dan berkata..."coba lebih tinggi lagi dong cita-citanya". Saya tetap menjawab "Pegawai pabrik pagoda". Ibu saya lebih kesal lagi.... "Ya sudah, jadi pemilik pabriknya saja ya". Saya tetap menjawab, "Tidak mau, yang punya pabrik pasti jarang masuk ke pabrik, dan saya ga punya uang buat beli pabrik pagoda". Akhirnya ibu saya yang lelah..berkata, "Ya sudah, sudah besar nanti kawin saja sama yang punya pabrik pagoda". 

Saya merasa tidak ada yang salah dengan cita-cita kecil saya itu...menjadi pegawai pabrik dari makanan yang sangat saya suka. Sampai akhirnya saya tahu bahwa pegawai pabrik pun tidak bisa seenaknya mencomot makanan yang diproduksi oleh tempat dia bekerja. Ya tak apa lah, bukan cita cita yang buruk ko...eh, atau memang buruk ya? Tapi saya masih penasaran loh bagaimana rasanya menjadi pegawai pabrik permen pagoda. Di kepala saya sih tergambar seperti film charlie and the chocolate factory...semoga memang seperti itu.....agar imajinasi saya mengenai pabrik pagoda tetap bagus...dan tidak merasa menyesal memiliki cita-cita seperti itu.

6 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. wkwkwkwkkw wah mba risa ceritanya lucu ditanya cita2nya malah dijawab "pegawai pabrik pagoda", tapi menurut saya jawaban seorang mba risa sebagai anak kecil pada masa itu bisa dibilang jawaban seorang anak yang polos apa adanya, mungkin kalau ditanya sekarang jawaban nya bisa lain, wkwkkwkwkwkwkwkwwk sepertinya mba risa punya bakat yang terpendam yaitu mampu menulis narasi spontan dan bisa membawa pembacanya tercebur ke dalam fantasi ataupun realitas dalam certia yang mba risa tulis, sepetinya mba risa cocok jadi kolomnis karena berbakat
    (hanya sebatas wacana argumentasi saja, kalau tidak berkenan komentar saya monggo silakan dihapus,)
    oh iya saya juga sempat meriview albumnya mba risa diblog pribadi saya -http://patraabsurd.blogspot.com/2010_09_01_archive.html
    terima kasih

    ReplyDelete
  3. saya masih hutang Pagoda hijau ya teh :)
    kalau sempat nanti saya kirim ke Bandung.

    sukses yaa teh :) *goyang karawang dulu*

    ReplyDelete
  4. hahahahahaha...
    dibalik kisah2nya yg mistis ternyata ada yanglucu juga...
    hehehehehe...

    ReplyDelete
  5. teh rada d expost ya ma saya, d blog saya.
    soalnya bru bikin :D

    ReplyDelete