Siapkan bantal..guling...selimut...dan doa

mungkin ini adalah tulisan paling membosankan yang akan kamu baca...tapi tetap membuatmu penasaran untuk tetap membacanya. sebelum semuanya terlambat, siapkan mentalmu kawan untuk menelusuri apa yang ada di dalam dunia saya..

Tuesday, August 31, 2010

"agak serius..tapi santai ya.."


Suatu sore menjelang buka puasa, lidah saya merasa rindu dengan masakan pedas yang membakar perut. Di daerah kota ada sebuah foodcourt yang didalamnya menyediakan beragam masakan asia termasuk masakan indonesia. Saya memutuskan untuk berbuka puasa di restoran Indonesia tersebut, karena mereka menyediakan masakan masakan pedass (saya pesan sapi balado dan corn fritters a.k.a perkedel jagung...zzzzzzzzz maaf seharusnya bagian ini memang tidak usah dibahas).

Sampai disana, menjelang pukul 6, masih sekitar 10 menit lagi menuju buka puasa. Biasanya kursi di depan masakan indonesia ini kosong tapi sore itu sangat ramai dengan wajah-wajah yang saya rasa ini adalah orang-orang indonesia. Saya memilih duduk di kursi yang masih kosong disebelah mereka, lalu secara otomatis mendengar logat bicara mereka dan lalu saya tahu mereka bukan orang indonesia,melainkan mereka adalah orang orang dari negeri jiran (malaysia). Mereka tengah berbuka puasa seperti halnya saya, dan mereka memesan masakan indonesia sama seperti saya. Senang rasanya saat itu melihat wajah satu rumpun yang sama-sama bertujuan berbuka puasa kali itu, tidak saling mengenal...tapi saat waktu berbuka puasa datang...mereka dan saya sama-sama saling meyakinkan "ini sudah saatnya ya?" dan lalu kemudian salah satu dari mereka mulai membacakan doa berbuka puasa secara kerasa-keras, otomatis saya pun ikut menunggu dia selesai memimpin doa sebelum akhirnya makan dan minum makanan yang sudah ada di depan mata. Saat buka puasa hari itu, rasanya seperti ada di "rumah", jarang sekali melihat suasana puasa di tempat umum seperti kali itu. Rasanya seperti sedang berbuka bersama saudara-saudara yang ada di tanah air.

Sesampainya di rumah setelah itu, saya membuka acc twitter saya dan melihat banyak sekali tweet orang-orang di timeline saya yang saya tidak mengerti, tentang TV ONE lah, perang lah...apa apa-an ini? Lalu saya baca satu persatu dan mulai mengerti, astaga...lagi-lagi tentang Indonesia-Malaysia. Baru saja saya merasakan adanya toleransi antar bangsa, tiba tiba dikejutkan oleh pemberitaan seperti ini. Selain tweet teman-teman yang melawan adanya "peperangan" antara dua negara ini, ternyata banyak sekali komentar dari teman-teman di twitter yang sebenarnya merasa harga diri negara Indonesia sangat terinjak injak oleh Malaysia. Lalu saya melihat ada sebuah link yang dikirimkan seorang teman di twitter mengenai sebuah blog yang dibuat oleh orang malaysia yang isinya menjelek-jelekan bangsa Indonesia. Saya membuka dan membaca isi blog tersebut.

Ya, isinya memang menjelek-jelekan bangsa indonesia. Mungkin orang yang emosian bakal langsung tersulut amarahnya dan berkeinginan mengobrak ngabrik orang yang menulis blog tersebut termasuk tempat dia tinggal bahkan negara tempat dia berada. Hey, saya sudah baca blog itu jauuuh jauuuh hariii....bahkan jauh sebelum kali ini saya membuka linknya lagi. Entahlah, buat saya...itu bukan sesuatu yang mampu menyulut emosi saya, (terakhir tersulut emosi terhadap malaysia..saat manohara disiksa pangeran kelantan...dan eeeeee ternyata rekayasa...zzzzzzzzzz ---> biasalah, ibu-ibu korban infotainment). Bagaimana kalau satu diantara berjuta orang indonesia menulis sebuah blog yang isinya menjelek-jelekan negara.....mmmmh coba kita pilih....singapura (misalnya), orang singapura marah besar kepada kita dan memutuskan perang terhadap Indonesia setelah membaca blog yang menjelek-jelekan negaranya...Padahal yang menjelek-jelekan hanya satu orang, padahal kita orang indonesia lainnya tidak punya masalah dengan singapura, padahal sebagian dari orang indonesia punya kegiatan bisnis dengan singapura yang jika dihentikan akan membuat keadaan perekonomian keluarganya menjadi amburadul. Lihat, betapa banyak kerugian yang ditimbulkan oleh sesuatu yang disulut oleh "emosi". Begitu juga dengan malaysia, tidak semua orang malaysia menganggap rendah negara kita, saya yakin...orang-orang malaysia yang tempo hari berbuka puasa dengan saya tahu tentang berita gejolak yang terjadi antara negaranya dan negara saya..tapi sedikitpun mereka tidak galak atau judes terhadap saya, mereka sangat baik ramah dan membuat saya merasa sedang berada di "rumah".

Kalau kita marah karena merasa di rendahkan, coba pikirkan....apa yang membuat kita dianggap rendah? Mungkin pembuktian bahwa kita tidak rendah adalah hal yang paling benar yang bisa kita lakukan. Tapi kawan, perang bukan jawabannya....hal itu membuat kita semakin terlihat rendah dihadapan bangsa bangsa lainya.

No comments:

Post a Comment